
Honey yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibu Cinta, tidak ingin mencium tangannya. Gadis kecil ini berlari meninggalkan ayahnya dan membiarkan koper pakaiannya di mobil.
Tuan Noah yang masih sakit hati kepada ibu Cinta, meminta asistennya Aldo mengantarkan koper milik putrinya ke asrama.
"Ibu Cinta! assalamualaikum!" sapa Honey lalu memeluk ibu Cinta yang sedang menunggunya di depan pintu kelas.
"Hallo sayang! Apakah Honey sudah sembuh?"
"Honey sudah sehat ibu Cinta. Honey kangen dengan ibu Cinta!" Honey memeluk lagi leher ibu Cinta yang berjongkok menyambut kedatangannya.
"Ibu Cinta juga kangen dengan Honey. Apakah itu berarti Honey sudah siap belajar bersama teman-teman?" Tanya ibu Cinta sambil menggendong siswa kesayangannya itu.
Tuan Noah melihat adegan mesra antara putrinya dan ibu Cinta, namun hatinya sendiri belum tersentuh karena masih tertutup oleh amarahnya sendiri.
"Siapa yang mengantarmu ke sekolah sayang?"
Ibu Cinta mendudukkan Honey di kursinya lalu mengambil bangku untuk dirinya sendiri agar dekat dengan Honey.
"Ayah sendiri yang mengantarkan aku, hanya saja ayah terlihat sedang banyak masalah dan aku tidak ingin menganggunya ibu Cinta." Tukas Honey agar ibu Cinta tidak tersinggung dengan sikap ayahnya.
Ibu Cinta tersenyum getir, namun ia tidak mempermasalahkan sikap Tuan Noah yang dianggapnya sangat egois.
Tuan Noah kembali ke perusahaannya dan ibu Cinta mulai dengan aktivitas belajar mengajarnya.
Dalam sekejap kelas sudah mulai aktif dengan berbagai celoteh anak-anak yang sedang menyimak pelajaran yang diberikan oleh ibu guru Cinta.
Honey dan Inggit duduk berjauhan agar tidak mendengarkan ocehan bullying dari gadis ceriwis itu. Hingga pelajaran usai, kelas tetap dalam keadaan aman dan terkendali.
Kali ini, ibu Cinta tidak mau lagi teledor dalam mengawasi Honey. Walaupun perhatiannya terlihat biasa saja pada semua siswanya, namun ia lebih prioritaskan perhatiannya pada Honey.
Inggit yang merasa perhatian ibu Cinta, pada Honey berlebihan, ia malah mengadukan hal itu kepada kepala sekolah.
"Ibu kepala sekolah!"
"Ada apa Inggit?"
"Apakah seorang guru boleh memberikan perhatian lebih pada salah satu siswanya?"
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan bertanya seperti itu Inggit? apakah kamu merasakan perbedaan itu?"
"Tentu saja ibu Cintya. Ki di sini membayar sekolah dengan jumlah yang sama, mengikuti setiap peraturan sekolah ini dengan sebaik mungkin, tapi mengapa kami justru tidak mendapatkan perlakuan istimewa dari guru tertentu?"
"Sebutkan nama guru siapa yang kamu maksud dan siapa siswa yang telah merebut perhatian guru itu?"
"Tentunya dialah Honey dan ibu Cinta, keduanya terlihat akrab dan saling menyayangi, apakah itu pantas?"
Ibu Cintya memahami apa yang dikatakan Inggit padanya. Kepala sekolah hanya menanggap dingin perkataan gadis kecil ini.
"Inggit, kalau ayah Honey bisa menuntut orangtuamu karena kenakalan mu di kepolisian setempat, mungkin orangtuamu atau kamu sendiri yang akan di tahan oleh kepolisian.
Tapi, ayahnya Honey masih mau memaafkan kamu. Kamu tahu apa yang kamu lakukan pada Honey hampir membuat gadis itu kehilangan nyawanya, guru-guru di salahkan oleh Tuan Noah dan lebih parahnya sekolah ini akan ditutup karena Tuan Noah sangat berpengaruh di negeri ini.
Jika ibu Cinta memberikan perhatian lebih pada Honey itu karena sekolah ini sudah membuat perjanjian dengan Tuan Noah agar lebih ekstra memperhatikan Honey karena harus menyelamatkannya dari teman yang nakal sepertimu."
Degggg...
Alih-alih dibela oleh kepala sekolah, justru ancaman kembali berbalik kepadanya membuat bulu kuduk Inggit meremang. Lagi pula orangtuanya belum di panggil oleh kepala sekolah atas permohonannya. Jika ketahuan oleh kedua orangtuanya, ia pasti akan dihukum.
Ibu Cintya hanya tersenyum samar pada Inggit yang merasa aduannya tidak direspon baik oleh ibu Cynthia.
"Dasar gadis nakal! sekecil ini dia sudah bisa mengadu domba orang dewasa, bagaimana nanti kalau sudah dewasa." Ucap ibu Cintya lirih.
"Sialan tu nenek-nenek!" Aku kira apa yang aku adukan bisa memberikan efek jera pada Honey dan ibu Cinta karena terlihat akrab, justru aku dihadapkan dengan ocehan yang tidak berguna dari sisi nenek lampir itu." Umpat Inggit menahan geram.
Ia kembali ke asrama dengan wajah tertekuk. Kedua temannya Hera dan Nabil menanyakan keadaan Inggit, namun mereka malah mendapatkan tatapan tajam dari Inggit yang sedang dikuasai amarahnya.
"Kenapa Inggit?"
"Mungkin lagi kurang kasih sayang kali." Ucap Nabil lalu terkekeh bersama Hera.
Sementara itu, ibu Cinta menemani Honey untuk tidur siang, karena gadis itu masih dalam masa pemulihan. Ibu Cinta sengaja membaringkan Honey dikamar pribadinya agar tidak terganggu oleh siswa yang lain. Honey meneguk obatnya sebelum tidur dan mendengarkan ibu Cinta sedang membacakan buku dongeng untuknya.
...----------------...
Dua bulan berlalu, sekolah Honey akan memasuki penghujung akhir semester. Sekolah ingin mengadakan jalan-jalan ke luar kota di mana mereka akan menginap dua malam di villa.
__ADS_1
Kedua orangtua mereka harus ikut di acara tersebut sebagai ajang silaturahmi sesama para wali.
"Anak-anak ujian sekolah sudah selesai, sekolah ini akan membagi raport di tempat yang sangat menyenangkan. Kita akan berekreasi selama dua malam di villa puncak." Ucap kepala sekolah usai upacara bersama.
"Horeee...!" Sambut anak-anak antusias.
"Tapi, kegiatan kita ini tidak dilakukan sendiri karena kalian harus didampingi oleh kedua orangtuanya selama kegiatan itu berlangsung.
Tapi, kalian tetap tidur terpisah dengan kedua orangtua kecuali ada kegiatan yang melibatkan kedua orangtua dengan kalian." Ucap kepala sekolah.
"Kapan acaranya ibu kepala?" Tanya salah satu siswa.
"Dua Minggu lagi. Jika ada pertanyaan, sampaikan nanti kepada wali kelas kalian masing-masing. Setelah acara itu selesai kita akan libur selama dua Minggu jadi kalian akan tinggal bersama dengan kedua orangtuanya." Imbuh ibu Cynthia.
Honey menarik nafas berat. Dua pekan libur di rumah sangat membosankan karena ayahnya pasti sibuk dengan urusan perusahaannya di luar negeri.
Diantara anak-anak yang lain pasti sangat gembira karena liburan akhir tahun mereka akan berkeliling Eropa dan bermain salju bersama keluarga mereka.
Ketika sudah berada di kelas, Honey yang tidak terlalu gembira dengan kegiatan itu karena ia yakin ayahnya belum tentu menemaninya di villa nanti.
"Sayang!" Sapa ibu Cinta hangat.
"Iya ibu Cinta!"
"Apakah kamu tidak akan mendapatkan kesempatan yang sama dengan teman-temanmu yang akan ditemani kedua orangtua mereka?"
"Ibu Honey sudah mengetahui jawabannya, dan aku tidak begitu berharap akan kehadiran ayah."
"Kenapa tidak dicoba dulu untuk membujuk ayahmu untuk ikut kegiatan ini, mungkin saja kali ini ayahmu akan menemanimu." Ucap ibu Cinta menghibur Honey yang sedang galau.
"Baiklah, akan aku coba ibu Cinta." Ucap Honey sendu.
Ibu Cinta segera memberikan ponselnya pada Honey agar gadis ini menghubungi ayahnya.
"Ibu Cinta, sebaiknya aku menggunakan ponsel kepala sekolah karena ayah tidak akan mengangkat panggilan dari ibu Cinta walaupun itu untuk kepentinganku." Ucap Honey membuat ibu Cinta tersentak.
Deggggg.....
__ADS_1