
Tidak terasa usia pernikahan ibu Cinta dan Tuan Noah sudah berjalan sembilan bulan. Keduanya sangat menikmati kebersamaan mereka.
Honey yang masih tinggal di asrama tidak lagi merasakan kesepian di tambah teman-temannya tidak lagi membully dirinya sejak ayahnya menikah dengan ibu Cinta.
Hanya saja kini gantian sahabatnya Inggit yang sedang mengalami duka mendalam sejak ibunya di vonis kangker hati. Usia ibunya yang di klaim dokter hanya bertahan tiga bulan membuat hari-hari Inggit tidak ceria lagi.
Gadis ini lebih banyak menyendiri di ruang musik dengan memainkan biola, alat musik kesukaannya. Inggit memang ahli dalam bermain alat musik gesek tersebut. Kesedihan yang saat ini mendera batinnya di tuangkan dalam musik untuk menyampaikan kepada dunia bahwa saat ini ia sedang mempersiapkan dirinya yang akan kehilangan seorang ibu yang sangat dicintainya.
Suara alunan biola itu terdengar indah sampai ke asrama. Ibu Cintya dengan guru-guru yang lain menikmati keindahan musik yang dihasilkan dari gesekan biola itu.
"Sepertinya Inggit sedang ada masalah Bu Chintya." Ucap ibu Dea yang merasa sangat tersentuh dengan permainan musik Inggit.
"Jika Inggit bermain musik dengan hatinya maka akan sampai ke hati setiap orang yang merasakan kesedihan gadis itu.
Selama ini, ia memang lihai memainkan biolanya dengan sangat indah, namun hanya sebatas kekaguman kita sampai ke pendengaran tidak dengan hati kita.
Tapi, kali ini rasanya berbeda karena dia sedang meluapkan kesedihannya melalui permainan biolanya." Timpal ibu Cintya.
"Tapi, kesedihan apa yang dirasakan gadis itu, ibu Cintya? selama ini yang kita tahu gadis itu selalu ceria seakan tidak ada beban dalam hidupnya."
"Mungkin kedua orangtuanya sedang mengalami masalah. Mana kita mengetahuinya roda kehidupan orang lain yang setiap saat bisa berubah kapan saja." Ujar ibu Cintya.
"Apakah kita perlu menanyakannya ibu Cynthia?"
"Coba saja ibu Dea! Kita berhak mengetahui apa yang terjadi dengan murid-murid kita agar kita bisa mengatasinya dengan cepat walaupun kita belum mengetahui kisah sebenarnya." Tukas ibu Cintya.
"Baiklah Bu, kalau begitu aku akan menemuinya di ruang musik." Ujar ibu Dea lalu meninggalkan ibu Cintya yang sedang duduk di taman dengannya.
Setibanya di ruang musik, Ibu Dea melihat Inggit masih serius memainkan biolanya sambil memejamkan matanya tapi air matanya gadis itu ikut banjir membasahi pipinya.
"Inggit!"
Sapa ibu Dea sambil mengusap bahu Inggit dengan lembut. Inggit menghentikan permainannya. Gadis itu memangku biolanya dengan wajah tertekuk.
"Permainannya sangat bagus Inggit. Ibu Dea sampai menangis. Belum pernah ibu Dea mendengar permainan biola yang dimainkan Inggit sesedih ini. Apakah Inggit saat ini sedang ada masalah?"
Alih-alih menjawab pertanyaan gurunya, Inggit malah meraung membuat ibu Dea kalang kabut.
"Inggit sayang, ada apa?"
Ibu Dea mengambil biola dari pangkuan Inggit lalu meletakkan di samping tempat duduknya. Ia memeluk gadis ini dengan erat. Ibu Dea tidak berani bertanya lagi karena takut Inggit menangis makin histeris. Ibu Dea membiarkan gadis kecil itu meluapkan perasaan kesedihannya.
Lama ibu Dea menunggu gadis ini menangis. Tidak lama kemudian, tangis Inggit mulai reda. Ia kemudian menatap wajah ibu Dea sambil sesenggukan. Ibu Dea hanya menunggu ada ucapan dari bibir mungil gadis kecil itu.
"Ibu Dea!"
"Iya sayang!"
"Dulu aku selalu membully Honey karena sudah tidak punya ibu. Dan sekarang Tuhan menghukum aku atas perbuatanku yang telah menyakiti hati Honey." Ucap Inggit lalu kembali terdiam karena tangisnya kembali pecah.
Ibu Dea makin tidak mengerti dengan ucapan gadis ini.
"Mengapa Tuhan harus menghukum kamu Inggit, kalau kamu sendiri sudah meminta maaf pada Honey dan menyesali perbuatanmu pada Honey?"
"Karena saat ini ibuku di vonis kangker hati dan usianya hanya bertahan tiga bulan lagi untuk menemani aku dan ayahku."
Degggg...
Honey menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis lagi.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuun."
__ADS_1
Ucap ibu Dea sambil membekap mulutnya tidak percaya dengan ucapan Inggit.
"Inggit, kamu tidak sedang berbohong bukan?"
"Untuk apa berbohong dengan nyawa ibuku sendiri, ibu Dea?" Balas Inggit kesal.
Ia langsung berlari keluar meninggalkan ibu Dea yang masih tercengang mendengar ucapan gadis malang itu.
"Ya Allah! Kenapa harus bergiliran nasib murid ku yang harus kehilangan ibu mereka." Lirih ibu Dea lalu menyusul Inggit.
...----------------...
Siang itu ibu Cinta merasakan tubuhnya mudah lelah dengan pandangan yang sering kabur membuat ia merasa keadaan tubuhnya tidak sangat terganggu saat ini. Ia mengira kalau ia sedang mengalami anemia ditambah lagi sudah dua bulan ini siklus haidnya tidak menentu.
Saat mobilnya sudah hampir tiba di mansion, Cinta berubah pikiran. Ia pun berinisiatif untuk mengunjungi rumah sakit. Ia ingin memeriksa keadaannya di rumah sakit agar mengetahui saat ini sedang menderita penyakit apa.
Cinta menanyakan kasusnya pada bagian pendaftaran dengan menyampaikan keluhannya. Bagian administrasi itu mengarahkan Cinta ke poli penyakit dalam. Cinta mengangguk lalu mendaftarkan poli spesialis penyakit dalam yang akan ia tuju.
Dari poli penyakit dalam, dokter merasakan bahwa Cinta saat ini sedang hamil. Cinta sangat senang mendengar kabar itu.
"Nona Cinta. Sebaiknya anda ke poli kandungan untuk mengetahui usia kandungan mu, untuk memastikan kejelasannya." Ucap Dokter Renita.
"Terimakasih dokter, saya akan ke sana sekarang." Ucap Cinta lalu membawa laporan medisnya ke dokter spesialis kandungan.
Setibanya di sana, ia harus antri lagi bersama pasien lainnya. Cinta yang tidak sabaran menunggu hasil selanjutnya, buru-buru mengirim kabar gembira itu pada suaminya Tuan Noah melalui pesan WA.
"Apakah kamu masih di rumah sakit, sayang?" Tanya Tuan Noah.
"Iya sayang."
"Kalau begitu, jangan ke mana-mana, aku akan menjemputmu sekarang." Ucap Tuan Noah antusias.
"Nanti biar Aldo yang mengantar aku ke rumah sakit dan aku akan pulang bareng denganmu. Aku yang akan membawa mobilmu.
Mulai saat ini kamu tidak boleh menyetir sendiri." Ucap Tuan Noah.
"Baiklah, aku tunggu sayang."
Cinta mengakhiri pembicaraannya. Tidak lama berselang namanya dipanggil dan ia pun segera masuk ke ruangan tersebut. Cinta memberikan surat laporan medis dari dokter Renita kepada dokter Rachel.
Dokter Rachel membaca laporan medis itu sedikit tersentak lalu iapun buru-buru mengusai perasaannya.
"Nona Cinta. Sekarang berbaringlah! Aku akan melakukan USG pada perut anda untuk mengetahui perkembangan janin dalam kandungan anda." Titah dokter Rachel lembut.
"Baik dokter."
Cinta naik ke atas brangkar itu dibantu oleh suster untuk mempersiapkan Cinta di periksa oleh dokter Rachel. Dokter itu mengoleskan jell pada permukaan perut Cinta dan mulai bermain dengan stik USG itu di kandungan Cinta.
Betapa kagetnya dokter Rachel ketika melihat ada benjolan sebesar bola pingpong bertengger juga di rahim Cinta bersama calon janinnya yang menempel di dinding rahim itu.
"Nona Cinta. Anda memang sedang hamil dua sepuluh Minggu, namun sayang ada tumor rahim yang juga bersarang bersamaan dengan janin anda.
Ini sangat tidak baik untuk kesehatan tubuh anda, sebaiknya anda harus melakukan operasi untuk mengangkat keduanya. Antara janin dan juga tumor rahim ini." Ucap dokter Rachel apa adanya.
"Apa...? maksud dokter aku harus melakukan aborsi pada janinku juga?"
"Iya nona Cinta. Karena jika anda mempertahankan kandungan anda maka nyawa anda tidak akan tertolong."
"Jika aku melakukan operasi pengangkatan tumor itu dengan mengorbankan bayiku, apakah aku masih punya kesempatan untuk hamil lagi?"
"Sayangnya, itu tidak bisa karena tumor rahim ini sangat ganas. dan rahim anda akan diangkat juga." Jelas dokter Rachel.
__ADS_1
Deggggg....
"Anda bukan Tuhan dokter. Anda hanya seorang dokter yang bisa memprediksi penyakit pasien berdasarkan medis. Aku tidak akan rela melakukan aborsi pada bayiku demi keselamatan ku.
Cinta begitu murka dengan pernyataan dokter Rachel. Ia segera meninggalkan ruang poli itu dengan membawa resep dokter.
Pikirannya berkecamuk dengan berbagai argumen yang saat ini sedang ia pikirkan.
"Lebih baik aku mati daripada harus mengorbankan bayiku. Aku sangat menginginkan bayiku. Mami tidak apa sayang, asalkan bisa mengandung mu itu sudah menjadi anugerah terindah untuk mami.
Aku tidak akan membuang mu. Jika Allah mengijinkanmu ada di rahimku, berarti Allah yang akan memelihara dirimu. Tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia di bumi ini kecuali tidak ada manfaatnya.
Kamu hadir di rahim mami atas kehendakNya. Dengan ijinNya kita berdua akan diselamatkan oleh Allah." Ucap Cinta lirih.
Cinta berjalan menuju farmasi untuk mengambil obat. Baru saja beberapa langkah berjalan, Tuan Noah memanggilnya dari kejauhan.
"Cinta!"
Degggg..
Sesaat Cinta terkejut namun ia buru-buru merubah ekspresi sedihnya menjadi berbinar agar tidak mengundang tanya suaminya.
"Sayang! Apakah sudah selesai pemeriksaannya?"
"Hmm!"
Cinta mengangguk dengan cepat.
"Yah, padahal aku ingin melihat dokter melakukan USG pada kandungan mu." Keluh Tuan Noah.
"Nanti saja kalau ada jadwal pemeriksaan lagi, kamu bisa ikut melihat perkembangan calon bayi kita." Ucap Cinta berusaha tersenyum sebaik mungkin.
"Kapan jadwalnya?"
"Dua bulan lagi."
"Itu sangat lama sayang."
"Nikmatin saja waktu berlalu, tidak akan terasa jika di isi dengan kesibukan yang bermanfaat." Ucap Cinta lirih.
"Apakah kamu ingin menebus obat? Sini biar aku yang menebusnya."
"Biar aku saja sayang. Aku malah mau minta tolong kepadamu untuk membelikan aku minum karena aku sangat haus."
"Baiklah. Kamu mau minum apa?"
" Air mineral saja."
"Tunggulah di depan farmasi walaupun kamu sudah selesai mengambil obat!" Titah Tuan Noah.
"Ok sayang. Terimakasih!"
Tuan Noah mencari kantin rumah sakit sementara Cinta menunggu obat yang akan di tebus nya.
Di resep itu ada obat untuk tumor juga yang harus di minum oleh Cinta, namun Cinta membuang obat itu agar suaminya tidak mengetahuinya. Ia hanya membawa pulang obat khusus untuk kehamilannya saja.
Tuan Noah kembali dengan membawa minuman dan makanan kecil untuk istrinya. Ia membuka tutup botol minuman itu dan menyerahkan kepada Cinta.
"Apakah obatnya sudah dapat?"
"Ini, sudah sayang. Ayo kita pulang." Ucap Cinta .
__ADS_1