
Minggu pagi, langit kembali cerah. Udara terasa sangat bersih setelah hari sabtu hingga malam Minggu kota Jakarta diguyur hujan lebat selama dua malam.
Pagi itu mereka Honey dan Inggit melakukan kegiatan berkebun dengan Tante Lea untuk menanam bunga dan buah.
Kebetulan Tante Lea sangat menyukai bunga. Ia rela merogoh kocek lebih dalam hanya untuk memuaskan hatinya dengan membeli bunga yang ada di luar negeri yang tidak tumbuh di Indonesia.
Bunga-bunga itu sudah tertata rapi di tempatnya. Kegiatan berkebun berakhir dengan makan-makan di gazebo yang di kelilingi oleh aneka buah dan bunga.
"Ayo kita makan dulu!" Titah Cinta yang sudah duduk bersama suami dan ibunya.
Adik bayinya Davin sedang tidur, jadi Cinta bisa menemani keluarganya makan sarapan bersama.
"Inggit mau langsung berangkat sekolah bareng Honey atau mau pulang dulu ke rumahnya?" Tanya Tante Lea.
"Inggit sudah bawa koper untuk di bawa ke asrama, kemungkinan tidak pulang lagi Tante Lea." Ujar Inggit.
"Apakah ayahnya sudah tahu kalau Inggit langsung berangkat ke sekolah besok bareng Honey?"
"Belum tahu. Kalau Inggit berangkat dari rumah, pasti nggak sekolah lagi. Kalau Inggit minta di anterin sopir, justru ayah tidak boleh Inggit ke luar rumah tanpanya. Jadi Inggit bingung." Ucap Inggit sedih.
"Kasihan! Kamu jadi tidak terurus kalau sikap ayahmu seperti itu." Ujar Lea prihatin.
"Lebih baik Inggit pulang lagi ke sini kalau masuk weekend sampai tuan Gunawan benar-benar bisa move on dari kesedihannya. Bagaimana ayah?" Tanya istrinya Cinta.
"Baiklah. Tidak apa, nanti aku bicarakan lagi dengan tuan Gunawan untuk mengijinkan Inggit tinggal di sini setiap weekend bersama Honey." Timpal Tuan Noah.
Honey begitu berbinar-binar mendengar penuturan kedua orangtuanya. Kedua sahabat itu saling tos sambil cekikikan.
"Apakah kalian senang?" Tanya Tuan Noah pada dua gadis kecil yang ada di hadapannya.
Keduanya mengangguk sambil menunjukkan dua jari bentuk hati ala Korea." Ihhh, so sweet banget kalian ya." Jerit Lea haru menyaksikan dua sahabat ini.
"Inggit, apakah kamu senang berada di sini?" Tanya Cinta ingin tahu.
"Tentu saja ibu Cinta. Kalian sangat baik padaku. Aku merasa kesedihanku agak berkurang karena cinta dan perhatian kalian telah tercurahkan padaku." Ujar Inggit apa adanya.
"Inggit! kamu bisa mengandalkan ibu Cinta dan pamanmu ini selama ayahmu belum move on dari kesedihannya." Ucap Tuan Noah.
Cinta mengangguk setuju.
"Tante Lea juga bisa mengurus Inggit dan Honey, jadi mulai sekarang, Inggit juga keponakan Tante Lea." Timpal Lea.
"Nenek juga." Ujar ibu Endang.
"Terimakasih semuanya." Ujar Inggit haru.
"Mumpung masih pagi Inggit, bagaimana kalau kita berenang!" ajak Honey.
"Boleh!" Ujar Inggit semangat.
Keduanya segera berlari ke kamar untuk mengganti baju renang. Honey mengambil bola kecil untuk bermain lempar bola di kolam renang. Tawa canda keduanya mulai terdengar ketika masuk ke dalam kolam renang.
Tante Lea juga tidak ingin ketinggalan. Gadis ini ikut berenang bersama kedua gadis kecil itu dan bermain lempar bola bersama mereka.
Permainan dari melempar bola hingga akhirnya mengejar bola untuk mendapatkan bola. Permainan makin seru hingga memasuki pukul sebelas siang.
"Honey sudah capek." Ucap Honey yang sudah bersandar di pinggir kolam renang begitu pula dengan Inggit.
Keduanya makan dan minum sebentar di pinggir kolam lalu membilas tubuh mereka di air pancuran yang ada di dekat kolam renang. Sementara Tante Lea masih ingin berenang.
"Tante Lea!"
"Iya sayang!"
"Kami duluan ya!" Ujar Inggit sambil melambaikan tangannya ke arah Lea.
__ADS_1
"Ok! Langsung istirahat ya!" Ujar Lea kepada keduanya.
Inggit dan Honey sudah masuk ke kamar mereka melalui tangga samping sehingga tidak terlihat oleh Tuan Noah dan istrinya yang duduk di ruang keluarga. Pasutri ini juga tidak tahu kalau Lea juga ikut berenang bersama Inggit dan Honey.
"Permisi Tuan!"
"Ada apa bibi?
"Ada tamu untuk Tuan."
"Siapa...?"
"Katanya tuan itu dia ayah dari nona Inggit." Ucap Bibi Lusy.
"Ok, suruh masuk aja bibi Lusy!" Titah Tuan Noah.
"Sayang! Aku mau lihat baby dulu." Ujar Cinta.
"Iya sayang."
"Silahkan masuk duduk tuan Gunawan!"
"Terimakasih Tuan Noah!"
"Bagaimana kabarnya?"
"Ya beginilah jadi duda baru." Canda tuan Gunawan terdengar hambar.
"Syukurlah! Anda bisa keluar rumah, aku sudah sangat senang di tambah penampilannya sudah lumayan baik." Puji Tuan Noah.
Saat ini tuan Gunawan tidak mencukur jambangnya dan rambutnya sedikit masih acak-acakan. Tapi pesona duda satu anak ini jangan di tanya ketampanannya. Levelnya sama seperti Tuan Noah. Sama-sama tampan dan sangat kharismatik.
"Maaf Tuan Noah! Aku baru bisa datang dan ingin menjemput Inggit. Maaf, kalau putriku sangat merepotkan kalian tiga hari ini." Ujar tuan Gunawan santun.
Tidak usah kuatir tuan Gunawan, keluargaku sangat senang dengan putrimu Inggit. Anaknya gampang di atur dan tidak memilih makanan saat di meja makan. Apa yang kami makan, ia juga memakannya." Ujar Tuan Noah.
"Alhamdulillah, putriku bisa menyesuaikan dirinya dengan keluarga tuan. Terimakasih untuk bentuk perhatiannya."
"Tadi pagi mereka membantu adikku Lea menanam bunga, terus sarapan pagi bersama di gazebo dan sekarang sedang berenang." Ujar Tuan Noah tanpa mengetahui di kolam renang hanya ada adiknya Lea.
"Aku tidak tahu cara membalas kebaikan Tuan Noah dan keluarga kecuali doa terbaik untuk kalian semoga selalu bahagia."
"Aamiin!"
Dreetttt...
Ponsel Tuan Noah berbunyi, ia melihat ada panggilan dari asistennya Aldo. Ingin rasanya ia menerima tapi tidak enak dengan tuan Gunawan.
"Silahkan Tuan Noah menerima panggilan itu!" Ujar tuan Gunawan.
"Maaf! Sebentar..ya!"
"Apakah aku boleh bertemu dengan Inggit?" Tanya tuan Gunawan yang tidak ingin mendengar percakapan Tuan Noah dengan si penelpon.
"Silahkan tuan Gunawan! Anak-anak masih berada di kolam renang. Jalan saja ke belakang." Ujar Tuan Noah tanpa ingin mengantar tamunya.
Tuan Gunawan berjalan ke belakang tanpa ragu karena ingin melihat keceriaan putrinya bersama dengan sahabatnya Honey.
Ketika hampir dekat dengan kolam renang, tuan Gunawan tertegun melihat seorang wanita dewasa dengan bikini renang sedang mengusap wajahnya dan berdiri menghadap ke arahnya.
Tubuhnya seketika bergetar hebat melihat tubuh molek sang wanita yang membuat jantungnya seakan ingin berhenti.
Bagaimanapun juga ia adalah lelaki normal yang sudah lama tidak menyentuh istrinya karena sakit hingga meninggal.
Melihat pemandangan indah di hadapannya, jantung lelaki dewasa mana yang tak akan berdegup. Bagai tersihir, tuan Gunawan hanya menikmati tubuh indahnya Lea tanpa berkedip.
__ADS_1
Lea yang sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuknya belum menyadari kehadiran tuan Gunawan. Ketika rambutnya sudah disibak ke belakang, Lea baru menyadari kehadiran seseorang di hadapannya.
Melihat wajah cantik Lea yang terkejut menatapnya membuat tuan Gunawan malah salah tingkah sendiri.
Lea spontan menyebutkan diri ke dalam kolam renang ketika melihat tuan Gunawan menatapnya.
"Maafkan saya!" Ucap tuan Gunawan lalu menjauh dari kolam renang.
Lea merasa sangat malu karena tubuhnya jadi bulan-bulanan matanya tuan Gunawan.
"Huff!" Akunya jadi basah lagi gara-gara si duda itu." Umpat Lea kesal.
Merasa keadaan sudah aman, Lea segera mengambil baju bathtub dan memakainya sambil ngedumel.
"Sepertinya aku harus lewat tangga belakang saja daripada harus bertemu lagi dengan si duda itu di ruang keluarga." Gumam Lea sambil menaiki anak tangga yang tadi di lewati oleh Honey dan Inggit.
"Tuan Gunawan! Apakah anda sudah bertemu dengan anak-anak?" Tanya Tuan Noah.
"Di kolam renang tidak ada anak-anak Tuan Noah. Sepertinya mereka sudah kembali ke kamar." Tebak tuan Gunawan asal.
"Baiklah saya akan ke kamar mereka. Mungkin tadi mereka melewati tangga belakang jadi tidak terlihat oleh saya." Ujar Tuan Noah.
Tuan Gunawan kembali duduk di ruang keluarga sambil menikmati kopi yang disiapkan pelayan untuknya. Pikirannya kembali terbuai pada tubuh se*si milik Lea.
"Astaga! Kenapa jadi tersimpan di memoriku." Batin tuan Gunawan namun hatinya merasa berbunga-bunga saat melihat wajah cantik Lea tanpa riasan.
Selama ini, tuan Gunawan sering melihat Lea beberapa kali setiap kali menjemput putrinya Inggit dan Lea menjemput Honey.
Saat itu, tuan Gunawan tidak begitu memperhatikan Lea karena dirinya sudah memiliki istri yang tidak kalah cantiknya.
Sikap tuan Gunawan yang sangat setia pada istrinya, membuat lelaki tampan ini tidak begitu peduli dengan gadis manapun yang ditemuinya walaupun itu adalah Lea.
Tapi hari ini, ia tidak bisa lagi menganggap Lea gadis biasa karena sekali melihatnya saja, jantungnya hampir melompat dari tempatnya. Apa lagi dengan tampilan Lea hanya menggunakan bikini renang, ini sangat menyiksa dirinya saat ini.
"Tuan Gunawan!" Panggil Tuan Noah menyadarkan lamunan lelaki satu anak ini.
"Maaf tuan Gunawan! Inggit dan Honey sedang tidur siang. Aku tidak tega membangunkannya." Ucap Tuan Noah.
"Baiklah. Tidak usah dibangunkan. Nanti malam saya akan menjemputnya karena besok harus sekolah."
"Tapi tuan Gunawan, Inggit ingin berangkat sekolah dari rumah ini bareng Honey." Ujar Tuan Noah.
"Tapi baju gantinya...?"
"Putrimu sudah menyiapkan semuanya karena ia takut anda tidak mau mengantarkannya ke sekolah." Ujar Tuan Noah buru-buru.
"Astaga! Anak itu...!" Geram tuan Gunawan.
"Tidak apa-apa Tuan Gunawan. Jangan terlalu dipikirkan." Ujar Tuan Noah.
"Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu! Permisi..!"
"Tuan Gunawan! Anda sudah berada di sini, sebaiknya makan siang saja bersama kami." Pinta Cinta yang baru turun usai menyusui bayinya.
"Tidak usah repot-repot!" Tolak tuan Gunawan.
"Tidak merepotkan ko. Di rumah tidak ada siapa-siapa. Nggak enak kalau makan sendiri. Sebaiknya makan bersama di sini. Kita sudah seperti keluarga." Ujar Tuan Noah.
"Benar apa kata ayahnya Honey." Timpal Cinta.
Tidak lama kemudian, Cinta memanggil Lea untuk makan siang bersama. Lea mengira tuan Gunawan sudah pulang. Ketika melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, gadis ini tersentak melihat lagi wajah tampan tuan Gunawan.
Deggggg...
"Astaga! Dia masih ada di sini." Lirih Lea salah tingkah sendiri.
__ADS_1