
Ibu Cinta tidak ingin kisah hidupnya diketahui oleh Tuan Noah karena mereka baru saja dekat dan tidak etis menceritakan hal yang paling pribadi pada Tuan Noah.
Ketika tiba di villa, ibu Cinta menemui kepala sekolah dan menceritakan keadaannya bahwa saat ini ayahnya dalam keadaan Anfal.
Ketika pukul sebelas malam, ibu Cinta langsung berangkat ke Bandung menemui orangtuanya yang sekarang sudah berada di rumah. Hati gadis ini begitu sakit mengetahui perjuangannya untuk membuat ayahnya sehat kembali tidaklah mudah. Pada akhirnya ia harus menerima kenyataan bahwa ayahnya akan meninggalkan dirinya juga.
Kini ia hanya berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Kebetulan ibu Cinta adalah anak tunggal yang harus melakukan apapun untuk keluarganya sendirian.
Tuan Noah yang sulit tidur, malam itu menghubungi ponsel ibu Cinta, namun tidak di angkat juga oleh gadis itu. Akhirnya ia hanya bisa memandang kamar ibu Cinta yang sudah gelap yang menandakan gadis itu sudah tidur.
"Astaga! kenapa perasaanku sangat gelisah seperti ini." Lirihnya sambil melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul satu pagi.
Tuan Noah berusaha untuk memejamkan matanya, akhirnya ia berhasil terlelap juga.
Keesokan paginya, ketika melakukan sholat subuh berjamaah, Tuan Noah berniat menunggu putrinya dan ibu Cinta. Honey menghampiri ayahnya dengan senyum khasnya.
"Apakah ayah sedang mencari ibu Cinta?" Tanya Honey dengan berbisik lembut.
"Iya sayang, apakah kamu melihat ibu Cinta?"
"Tadi saat Honey bangun tidur, tempat tidur ibu Cinta masih rapi dan selimutnya masih tertata rapi seakan belum digunakan untuk tidur." Ujar Honey yang merasa heran ke mana perginya ibu Cinta.
"Apakah ibu Cinta tidur di kamar yang lain, sayang?" Tanya Tuan Noah belum puas dengan jawaban putrinya.
"Tidak mungkin ayah, karena semuanya sudah ditentukan sesuai dengan kelompok siswa yang didampingi dua guru, kalau ayah masih penasaran, lebih baik tanya saja kepala sekolah, tuh kepala sekolahnya sedang menuju ke mari." Ucap Honey membuat Tuan Noah menengok ke arah ibu Cintya.
Tuan Noah segera bangkit menghampiri kepala sekolah.
"Ibu Cintya, maaf apakah ibu Cinta sakit? Dari tadi saya tidak melihatnya."
"Maaf Tuan Noah, ibu Cinta semalam bertolak ke Bandung karena keadaan ayahnya sedang anfal."
Degggg...
"Apa...?" Maksudnya...?" Tuan Noah tersentak karena tidak mengetahui kondisi ayah kandung kekasihnya itu.
"Iya, Tuan Noah! Ayahnya ibu Cinta sebenarnya sudah lama sakit, beliau menderita gagal jantung. Sepertinya hidupnya tidak lama lagi.
__ADS_1
Ibu Cinta semalam langsung pulang usai bertemu dengan anda Tuan Noah." Ucap kepala sekolah terlihat sedih.
"Bu Chintya tolong kirim alamatnya di Bandung! biar aku susul ibu Cinta ke sana." Ucap Tuan Noah tidak sabar.
"Tapi, Tuan Noah! Sekarang lagi hujan deras dan kabut tebal terjadi di area puncak yang akan menghalangi pandangan mata untuk bisa bawa mobil sampai ke Bandung." Ucap ibu Cintya ragu.
"Insya Allah, aku bisa hati-hati. Saya titip Honey ya Bu." Ucap Tuan Noah langsung keluar menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan dompetnya.
Dalam sekejap, Tuan Noah sudah membawa mobilnya membelah hujan deras dengan jarak pandang sedikit tertutup kabut tebal dengan jalan licin lagi curam. Jika tidak hati-hati, maka kendaraan akan mudah tergelincir.
"Kenapa dia berani merahasiakan kehidupan pribadinya kepadaku, bukankah semalam kami sudah mengukuhkan cinta kami, apakah itu tidak cukup untuknya agar lebih percaya kepadaku dan bisa berbagi apa saja masalahnya denganku. Cinta, kamu sangat unik tapi juga sangat membuatku kesal." Gerutu Tuan Noah.
Sementara di Bandung, ibu Cinta sudah bersama keluarganya. Cinta mendekati ayahnya yang terlihat lemah sambil menatapnya penuh dengan rasa iba.
Kedatangan putrinya seakan memberikan kekuatan baginya untuk mengatakan banyak hal, agar putrinya mau memenuhi permintaan terakhirnya dan bisa jadi mengucapkan salam perpisahan.
"Cinta! Putriku, Alhamdulillah kamu sudah datang, nak. Waktu ayah, tidak lama lagi, ayah ingin kamu harus lakukan satu hal untuk ayah." Ucap pak Rahmat terbata-bata.
"Apa yang ingin ayah sampaikan kepadaku?" Tanya ibu Cinta dengan santun.
"Emang berapa luas tanah itu ayah?"
"Seratus hektar."
"Berapa uang yang ayah pinjam?"
"Dua milyar dan uang itu di rampok. Hanya kamu yang bisa mendapatkan kembali sertifikat tanah itu nak. Asalkan kamu mau menikah dengan putranya Tuan Teguh.
"Apaaa...? Ayah, aku sudah punya kekasih ayah."
"Tolonglah nak! Selamatkan tanah itu!
Lama kelamaan nafas pak Rahmat mulai melemah dan satu kata yang terdengar dari lisan yang sudah tak fasih lagi dalam penyebutan kalimat takbir itu.
Allahu Akbar !" Tangan renta itu akhirnya terkulai dari genggaman tangan putrinya bersama dengan hembusan nafas terakhirnya.
"Ayah...ayah... Ayahhhh!!" Pekik ibu Cinta kala raga kurus itu sudah tak memiliki lagi jiwanya.
__ADS_1
Ibu Endang hanya menangis pilu disamping suaminya yang sudah dua puluh lima tahun mendampingi hidupnya.
Ibu Cinta memeluk ibunya yang terlihat lebih kurus karena selalu mencurahkan waktunya untuk ayahnya.
"Ibu! Ayah sudah pergi Bu." Keluh Cinta di saat orang yang paling ia cintai kini telah tiada, namun meninggalkan banyak hutang yang harus ia tebus dengan jiwa raganya.
"Cinta! kamu harus mengabulkan permohonan terakhir ayahmu nak, atau kita akan kehilangan segalanya." Ucap ibu Endang mengingatkan putrinya.
Cinta tidak ingin menjawab ibunya karena ia harus mengurus jenasah ayahnya terlebih dahulu untuk di makamkan secara layak.
Para warga berdatangan dengan bahu membahu membantu keluarga ibu Cinta dalam prosesi pemakaman untuk pak Rahmat. Wajah Ibu Cinta terlihat pucat dengan mata sembab sedari tadi tak berhenti menangis.
Saat jenazah hendak di antarkan ke pemakaman, hujan kembali turun namun tidak begitu deras hingga proses pemakaman di lakukan dengan cepat. Tidak lama kemudian, mobil Tuan Noah sudah tiba di rumah duka, namun ia di antar ke pemakaman oleh tetangganya Cinta.
Sayangnya, setibanya dia di sana, pemakaman sudah selesai. Tinggal Cinta dan beberapa kerabat lainnya yang masih bertahan di bawah tenda menunggu hujan reda.
Tuan Noah menyayangkan dirinya yang telah melewatkan proses pemakaman itu hingga ia tidak sempat bertemu dengan calon mertua.
Satu persatu, kerabat ibu Cinta meninggalkan pemakaman itu, dan sekarang tersisa ibu Cinta yang masih bertahan di atas pusara ayahnya.
"Ayah! Kenapa aku harus menanggung semua beban hutang ayah? saat aku ingin meraih kebahagiaanku sendiri.
Apakah selama ini, ayah tidak puas menyiksaku dengan beban hidup hingga aku tidak bisa menikmati masa mudaku seperti gadis lainnya." Ucap Cinta sambil terisak.
Tuan Noah lebih mendekatkan dirinya pada Cinta dan mendengarkan semua keluhan gadis ini. Cinta tidak menyadari bahwa kekasihnya sudah berada di balik punggungnya dan ikut merasakan kepedihan ibu Cinta.
Hampir sepuluh menit, Cinta bicara seorang diri di pemakaman itu di tengah derasnya hujan. Kepalanya masih tertunduk dengan sebagian kerudung menutupi wajahnya.
"Cinta...!" Lirih Tuan Noah.
Cinta segera berbalik dan mendongakkan wajahnya melihat wajah tampan kekasihnya.
"Noah..! ibu Cinta segera menghamburkan pelukannya ke dalam dada bidang itu.
Tangisnya makin menjadi karena kehilangan ayahnya dan beban hidup yang akan ditanggungnya.
Tuan Noah memeluk erat tubuh ramping itu sambil mengusap kepala kekasihnya untuk menenangkan ibu Cinta yang saat ini dalam keadaan berduka.
__ADS_1