
Tuan Noah mempersiapkan segalanya dalam waktu tiga jam untuk bisa menikah dengan Cinta. Syarat rukun nikah sudah dipenuhinya dan kini keduanya sudah berada di kantor agama Bandung.
Dalam waktu satu jam keduanya sudah sah menjadi suami istri. Kini keduanya harus menghadap ibunya Cinta yang saat ini sedang menanti putrinya dengan perasaan cemas.
Begitu mobil mewah berwarna hitam pekat nan mengkilap itu terparkir dengan rapi di depan halaman rumah ibu Endang yang cukup luas itu, Tuan Noah turun duluan lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya Cinta.
Keduanya sengaja menunda bulan madu mereka demi menyelesaikan masalah hutang piutang dengan keluarga tuan Teguh.
Tuan Noah tidak mau menyerahkan uang tiga miliar begitu saja pada Tuan Teguh, hingga ia harus melibatkan pengacaranya untuk menyelesaikan kasus keluarganya ibu Cinta, untuk berjaga-jaga agar Tuan Teguh tidak melakukan penipuan pada keluarga istrinya.
Ibu Endang keluar menyambut putrinya." Ya Allah, neng! Kamu ke mana saja? dari kemarin ibu tungguin kamu tidak pulang-pulang.
Dihubungi susah, di cari nggak tahu harus ke mana? Dasar anak nakal, bikin cemas orangtua saja." Omel ibu Endang sambil memukul-mukul lengan putrinya.
Tuan Noah yang tidak suka melihat istrinya diperlakukan seperti itu, akhirnya menarik tubuh Cinta agar berlindung di belakangnya.
Ibu Endang baru menyadari bahwa, putrinya tidak datang sendirian. Ia menatap wajah tampan nan gagah di depannya sambil menyipitkan mata tuanya.
"Siapa kamu anak muda?"
"Namaku Noah, aku suami putrimu." Ujar Tuan Noah tegas.
Degggg...
Manik hitam legam itu mendelik menatap lebih tajam pada putrinya Cinta sambil mengguncang kedua lengan putrinya.
"Cinta! Katakan itu tidak benar!" Kamu sudah di pinang seseorang dan kamu harus menebus hutang ayahmu....?"
"Biar aku yang menebusnya tanpa perlu mengorbankan Cinta untuk menikah dengan lelaki yang tidak ia sukai." Ucap Tuan Noah lagi-lagi membuat debar jantung Bu Endang makin tak beraturan.
"Mengapa kamu tega menikahi putriku tanpa sepengetahuan aku Cinta? jelaskan ini pada mama!"
__ADS_1
"Aku yang memintanya untuk tidak melibatkan mama dalam pernikahan dadakan ini. Jika mama dilibatkan, maka akan banyak drama untuk menghalangi pernikahan kami." Ucap Tuan Noah.
"Mama, maafkan Cinta mama! Cinta hanya ingin masalah kita cepat selesai."
"Dengar Cinta! Mama sangat kecewa kepadamu karena kamu tega mengambil keputusan sendiri tanpa meminta izin kepada mama. Dan dia, siapa dia sehingga kamu mau menyerahkan dirimu kepadanya."
"Mama! Dia adalah ayah dari siswaku."
Deggg...
"Jadi, dia adalah suami orang dan kamu ingin merebut dia dari istrinya? Kamu adalah wanita tidak tahu malu dan sangat terhina. Kamu mengambil jalan pintas untuk melunasi hutang ayahmu dengan menjadi seorang pelakor.
Dasar anak tidak tahu diri!" Teriak ibu Endang histeris sambil mencari celah untuk memukul putrinya yang sedang berlindung di balik tubuh Tuan Noah.
"Putrimu bukan pelakor mama mertua. Karena aku adalah seorang duda yang memiliki anak satu yang saat ini menjadi salah satu siswa dari putrimu Cinta."
Glekkkk....
"Astaga! Kamu seorang gadis tulen, mau-maunya menikah dengan seorang duda satu anak, padahal Danis seorang perjaka yang bisa membahagiakan kamu dan kalian bisa memiliki anak sendiri tanpa harus repot-repot mengurus anak orang lain." Sindir ibu Endang sinis kepada Tuan Noah yang masih berdiri melindungi istrinya dari serangan ibu Endang.
Mau tidak mau, ibu Endang harus menerima keputusan putrinya yang saat ini sudah menjadi istri sah dari Tuan Noah. Untuk mengakhiri penderitaannya, ibu Endang segera menghubungi Tuan Teguh dan meminta pria paruh baya itu membawa sertifikat tanah milik suaminya.
"Tuan Teguh, saya ingin melunasi hutang anda sekarang juga, apakah anda bisa ke rumah saya sekarang dengan membawa sertifikat tanah milik suami saya?"
"Apa...?"
Mana mungkin dalam semalam nyonya Endang sudah mendapatkan uang tiga miliar secepat itu?" Ledek tuan teguh yang memang merasa sangsi dengan pengakuan nyonya Endang.
"Saya tidak main-main Tuan Teguh. Saya memang memiliki uangnya dan anda harus membawa sertifikat tanah milik suami saya sekarang juga, biar urusan hutang kita selesai secepatnya." Timpal ibu Endang berusaha meyakinkan Tuan teguh.
Tuan Teguh terdengar gusar. Uang tiga miliar menurutnya tidak sebanding dengan luasnya tanah milik mendiang pak Rahmat yang yang di taksir mencapai triliunan rupiah.
__ADS_1
Itulah sebabnya ia sengaja memanfaatkan kebangkrutan usaha pak Rahmat karena ia mengetahui pak Rahmat memiliki tanah warisan yang cukup luas.
Di tambah lagi, agar bisa mendapatkan tanah itu cuma-cuma, ia harus bekerjasama dengan perampok untuk merampok uang milik pak Rahmat saat pak Rahmat usai melakukan transaksi di bank bersamanya.
Dan bodohnya pak Rahmat, uang itu di ambil secara Cess dan di bawa ke dalam mobilnya tanpa ada pengawalan dari pihak tertentu untuk mengamankan uang itu hingga tiba di rumahnya.
Ditengah jalan, sesuai petunjuk Tuan Teguh, para perampok itu mencegah mobil pak Rahmat di tempat yang sepi dan mengambil uang itu begitu saja, hingga pak Rahmat mengalami serangan jantung.
"Sial! Bagaimana ini?" Apakah aku bawa kabur saja sertifikat tanah ini? Atau Nyonya Endang sedang menipuku untuk melihat sertifikat tanah ini masih ada padaku atau tidak?" Gumam tuan Teguh lirih.
Tidak lama kemudian, ponselnya berdering lagi dan ibu Endang memaksa tuan Teguh untuk membawa sertifikat tanah milik suaminya atau dia akan berurusan dengan hukum.
Dengan berat hati, Tuan Teguh buru-buru berangkat ke rumah ibu Endang dengan membawa sertifikat tanah itu pada ibu Endang. Ia juga penasaran kepada ibu Endang, dari mana bisa mendapatkan uang tiga miliar dalam waktu semalam.
"Apakah putrinya sudah menjual dirinya, hingga dalam semalam ia bisa mendapatkan uang tiga miliar itu?" Tuan Teguh menarik sudut bibirnya sambil mencibir putri teman bisnisnya itu.
Mobilnya makin lama makin cepat menuju kediaman ibu Endang. Hatinya makin gusar antara rela nggak rela mengembalikan sertifikat tanah milik mendiang pak Rahmat.
"Aku kira, jika kamu cepat meninggal aku bisa mengusai keluargamu, tapi aku salah ternyata putrimu lebih hebat dari prasangka ku selama ini.
Baiklah, kalau begitu aku akan mengembalikan sertifikat ini." Gerutu tuan Teguh sepanjang jalan.
Setibanya di depan halaman rumah nyonya Endang, perasaan tuan Teguh makin tidak tenang. Ia melihat ada dua mobil mewah bahkan lebih mewah daripada mobilnya sendiri.
Ia pun mengamati sesaat mobil itu yang harganya miliaran rupiah. Dengan memberi salam terlebih dahulu, ia melihat ada dua orang lelaki duduk bersama ibu Endang dan Cinta.
"Silahkan duduk Tuan Teguh!" Ucap ibu Endang santun.
"Maaf Nyonya Endang! Siapa mereka berdua ini?" Tanya Tuan Teguh penasaran.
Tuan Noah bangkit dan memperkenalkan dirinya pada tuan teguh.
__ADS_1
"Perkenalkan, nama saya Noah dan saya adalah suami dari Cinta." Ucap Tuan Noah sambil mengulurkan tangannya pada tuan teguh yang tersentak kaget.
Degggg...