My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)

My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)
41. JATUH CINTA LAGI!


__ADS_3

"Lea, turunlah!" Titah Tuan Noah.


Mau tidak mau Lea turun sambil menundukkan wajahnya. Gadis itu duduk di bersama keluarganya dan harus duduk di hadapan tuan Gunawan.


"Apakah kamu sudah mengenal ayahnya Inggit?" Tanya Tuan Noah.


"Hanya tahu saja kalau tuan ini ayahnya Inggit." Ujar Lea gugup sambil membuang pandangannya ke sembarang tempat.


"Aku sering melihat tantenya Honey setiap kali antar dan jemput Honey setiap masuk weekend." Timpal tuan Gunawan dengan wajah tenang.


"Sial! kenapa aku bisa segugup ini?" batin tuan Gunawan.


"Silahkan menikmati makanannya!" Ujar Tuan Noah sambil memperhatikan adiknya dan juga tuan Gunawan yang tidak lagi memiliki hubungan biasa.


Hingga acara makan siang itu berakhir, baik tuan Gunawan maupun Lea sama-sama tidak membuka suara.


Tidak lama terdengar gledek di atas langit sana. Hujan pun segera menghempaskan airnya ke bumi dengan sangat derasnya. Gelap di luar sana seperti hari sudah menjelang malam.


"Wah, jangan-jangan hujan seperti kemarin malam lagi nih, nggak akan berhenti." Ujar Tuan Noah.


Tuan Noah mengajak tamunya untuk di depan, namun lagi-lagi panggilan masuk ke ponselnya mulai menghalangi dirinya untuk mengobrol.


Tuan Gunawan yang ingin pulang di cegah oleh tuan Noah, walaupun lelaki ini membawa mobil dan itu tidak masalah baginya, namun tetap saja Tuan Noah tidak ingin ayah Inggit merasa kesepian di rumahnya sendirian.


"Lea! Tolong temani tuan Gunawan!" Pinta Tuan Noah pada adiknya yang makin terlihat tercengang.


"Aku...?"


"Iya kamu..!" Ujar Tuan Noah.


Tuan Gunawan makin gemas dengan melihat wajah Lea yang sedang salah tingkah padanya.


"Iya kak!"


"Ayo tuan Gunawan, kita duduk di taman samping saja." Ajak Lea pada tuan Gunawan yang mengikuti langkahnya.


Lea menempati sofa tunggal dengan kaki yang di naikkan keatas sofa dan ditutupi dengan rok panjangnya karena hembusan angin dingin menerpa mereka.


Sementara tuan Gunawan duduk di sofa panjang dan meminta ijin pada Lea untuk merokok. Lea tidak keberatan dengan itu. Ia memperhatikan gaya duda satu anak ini saat mengisap rokoknya dan terlihat sangat cool.


Manik tajam tuan Gunawan di tambah visualnya yang terlihat tegas makin menunjukkan aura lelaki ini makin memikat hati Lea yang sejak tadi sedang kembang kempis menatapnya kagum.


Wajah itu tidak ditemukan lagi guratan kesedihan, melainkan rasa gelisah yang luar biasa saat bayangan tubuh Lea kembali menyapanya.


"Permisi nona Lea! ini ada teh dan kopi juga makanan kecil." Ujar bibik Lusy sambil meletakkan minuman ke duanya di atas meja.


"Terimakasih bibi." Ucap Lea dan tuan Gunawan secara bersamaan.


Keduanya melempar senyum dan Lea memalingkan wajahnya karena sulit bertatap muka dengan tuan Gunawan.


"Cih! Gayanya amburadul seperti ini, malah lebih terlihat tampan dari pada gaya formil yang biasa diperlihatkan oleh tuan Gunawan dengan jas lengkap dasi yang selalu menempel di tubuhnya." Batin Lea.

__ADS_1


Hari itu, tuan Gunawan mengenakan jins biru dan kaos oblong dengan gaya rambut acak-acakan. Hidungnya yang mancung dan bibir penuh terlihat sangat merah saat ia mengul*mnya sendiri.


Tatapan mata elangnya kembali menukik ke sosok gadis yang sudah membuat hatinya yang tidak lagi baik-baik saja.


"Lea masih kuliah atau sudah kerja?" Pertanyaan basa basi itu terlontar juga dari mulutnya ayah Inggit.


"Saya lagi nganggur, tadinya mau kerja di perusahaan kak Noah, hanya saja belum siap mental."


"Ngambil jurusan apa?"


"Manajemen bisnis."


"Hebat!"


"Sudah punya pacar?"


"Tidak!" Tegas Lea.


"Berarti aku punya peluang untuk kandidat pacar Lea."


Deggggg...


Lea menatap wajah tuan Gunawan yang sedang merayunya kini. Ia tidak menyangka duda yang lagi berkabung dan kini tiba-tiba merayunya.


Lea mengambil teko lalu menuangkan teh hijau ke dalam cangkir miliknya. Iapun menikmati teh hangat itu sedikit demi sedikit.


"Maaf nona Lea! Mungkin bagimu aku terlalu terburu-buru menyampaikan perasaanku padamu. Tapi aku tidak menapik saat aku melihat bentuk tubuhmu dan itu tidak baik untuk gadis sepertimu yang memberikan secara gratis pada kataku. Jika tidak keberatan, aku ingin menebus kesalahanku karena berani menikmati bentuk tubuhmu. Ijinkan aku menikahimu."


"Uhuk...uhuk..!"


"Anda tidak apa nona Lea? maaf aku terlalu berlebihan." Ujar tuan Gunawan dengan sikap tenang.


"Terimakasih tuan!"


"Panggil saja namaku atau embel-embel lainnya. Jangan menyebutku Tuan!"


"Terimakasih mas!"


"Lebih baik aku segera pulang daripada mengganggumu Lea." Ujar tuan Gunawan seraya bangkit dari duduknya.


"Tapi hujannya masih deras."


"Tidak masalah!"


"Baiklah hati-hati mas Gun!"


Lea mengantarkan ayahnya Inggit sampai ke mobil.


"Tuan! Di mana-mana banjir dan kendaraan sulit melewati banjir karena terendam. Banjirnya sudah tinggi dua meter." Ujar satpam mansion Tuan Noah yang baru survey jalanan.


Lea segera membuka ponselnya dan melihat berita yang baru masuk sore itu.

__ADS_1


"Mas Gun! Jangan pulang dulu! antrian kendaraan sangat macet di setiap lampu merah." Pinta Lea yang tidak tega pada lelaki yang sudah mencuri hatinya ini.


"Tapi, saya tidak enak menganggu keluarga kalian. Tidak apa lebih baik saya pulang." Ujar tuan Gunawan buru-buru masuk ke mobilnya.


Lea tidak mampu mencegahnya. Mobil itu mulai bergerak menembus hujan lebat dengan kegaduhan terdengar keras di atas langit sana.


"Hati-hati mas Gunawan!"


Ujar Lea lirih sambil menatap mobil itu menghilang melewati pintu pagar rumahnya.


Lea kembali ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya dan merasakan kesepian yang luar biasa yang melanda jiwanya.


Kata-kata Gunawan menguras lagi pikirannya untuk mempertimbangkan lamaran duda tampan itu padanya.


"Apakah aku harus menerima duda itu? Apakah kakakku setuju aku menikah dengan duda satu anak itu? akhk!! ini sangat membuatku bingung. Apakah aku sudah jatuh cinta padanya? Astaga, aku benar jatuh cinta padanya. Semoga kak Noah mau menerima pinangan mas Gunawan." Ujar Lea di tengah derasnya hujan.


Sementara itu di jalan raya, tuan Gunawan harus mengambil inisiatif untuk membelokkan mobilnya ke arah apartemen miliknya yang tidak jauh dari kediaman Tuan Noah untuk menghindari banjir yang menghadang di depan sana.


Setibanya di kamar apartemennya, tuan Gunawan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Walaupun kamar apartemennya terasa sepi, tapi hanya membayangi wajah cantik Lea saja seakan keceriaan memenuhi kamar apartemennya.


"Aku harus segera melamar Lea sebelum gadis itu ditaksir pemuda lain." Ujar tuan Gunawan yang saat ini mulai move on dari kesedihannya.


Sementara Lea masih sibuk dengan pertimbangkan lagi baik buruknya menerima pinangan tuan Gunawan kepadanya.


...----------------...


Keesokan harinya, seperti biasa tuan Tuan Noah mengantar lagi putrinya Honey dan Inggit ke asramanya. Di sekolah Inggit sudah ada ayahnya yang sedang menunggunya di pintu masuk asrama itu.


Inggit langsung menghampiri ayahnya begitu turun dari mobilnya Tuan Noah.


"Ayahhhh! panggil Inggit.


"Inggit!"


Tuan Gunawan membuka kedua tangannya menyambut putrinya.


"Maaf sayang! ayah kemarin sudah menjemputmu tapi kata Tuan Noah kalau kamu ingin berangkat bersama Honey ke sekolah."


"Iya ayah! Tapi ngomong-ngomong, hari ini ayah sangat tampan dan rapi seperti biasanya. Ayah sudah kembali menjadi diri ayah sendiri. Apakah ayah saat ini sedang jatuh cinta dengan seorang wanita cantik?" Tanya Inggit to the poin.


Deggggg...


Tuan Noah menghampiri ayah dan anak ini. Keduanya terlibat obrolan sebentar. Sementara Honey dan Inggit segera ke kamar mereka untuk menaruh koper mereka di kamar Dann segera kembali ke kelas karena sebentar lagi bel berbunyi.


"Tuan Noah!"


"Iya tuan Gunawan!"


"Begini Tuan Noah! Ada yang ingin saya sampaikan kepada anda."


"Silahkan!"

__ADS_1


"Mungkin ini terdengar terburu-buru tapi saya tidak bisa memendam ini begitu lama. Saya ingin melamar adik kandung anda yaitu nona Lea untuk menjadi ibu sambungnya Inggit."


Degggg...


__ADS_2