
Tuan Noah mengajak istrinya pulang. Di dalam mobil, Tuan Noah memberikan buket bunga dan hadiah perhiasan berupa kalung berlian untuk istrinya sebagai ungkapan terimakasih dan rasa syukurnya karena Cinta telah memberikan seorang anak untuknya.
"Sayang, terimakasih sudah mengandung keturunanku. Selamat menjadi seorang ibu!" Ucap Tuan Noah seraya memberikan bunga dan perhiasan.
"Ya Allah sayang, kenapa perhatianmu sangat berlebihan seperti ini?"
Cinta merasa sangat terharu atas perhatian suaminya.
"Kamu pantas mendapatkannya sayang. Maaf baru bisa kasih ini saja."
"Emang ada lagi yang lebih berharga selain perhatian kamu padaku?"
"Aku tidak akan bisa tenang jika belum mempersembahkan apa yang bakal bisa membuat kamu bahagia, sayang."
"Kebahagiaanku adalah cinta, perhatian dan kasih sayang darimu. Hanya itu saja sayang." Ujar Cinta haru.
"Tidak, aku hanya ingin melihatmu lebih bahagia lagi dengan menikmati hasil kerja kerasku." Timpal Tuan Noah.
"Sayang, apakah kamu lupa, bahwa Honey mendapatkan segalanya dari fasilitas yang kamu berikan, tapi hati putrimu sangat kesepian." Ujar Cinta memperingatkan suaminya arti dari cinta itu sendiri.
Tuan Noah merasa sangat malu, ia kemudian berjanji untuk selalu ada di sisi keluarganya dan mengurangi kegilaannya akan kerja.
"Baiklah, aku berjanji di depan calon bayiku, jika aku selalu ada untuk kalian."
"Nah, gitu dong! Itu baru namanya ayah tauladan untuk keluarganya. Kalau punya segalanya tapi tidak ada cinta di dalamnya bagaimana keluarga itu bisa bertahan?" Tukas Cinta tegas.
"Tapi akan lebih parah lagi kalau tidak punya uang dalam hidup kita bagaimana caranya memupuk cinta dan kasih sayang dalam keluarga, bukankah itu akan menimbulkan masalah baru dalam rumah tangga?" Timpal Tuan Noah tidak mau kalah.
"Setidaknya keduanya harus imbang, jadi lebih terlihat harmonis." Ujar Cinta.
Keduanya saling terkekeh sambil menyatukan dahi mereka.
"Aku sangat mencintaimu suamiku!"
"Aku lebih dari kata sakral itu, sayangkuh." Ucap Tuan Noah lalu mengecup bibir sensual itu sekilas.
Tuan Noah juga beralih mencium perut rata Cinta dan mendoakan atas keselamatan janin dan istrinya.
"Semoga kamu tumbuh sehat di dalam sana dan segera menemui ayah dan kakakmu Honey. Ayah sangat mencintaimu sayang." Gumam Tuan Noah lirih dalam doanya.
"Ayo sayang, kita pulang!" Ajak Cinta yang sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah.
Keduanya memutuskan pulang ke mansion untuk mengabarkan kabar gembira ini pada ibu Endang dan Lea. Tuan Noah mencoba menawarkan berbagai makanan lezat yang mungkin disukai Cinta, namun gadis itu malah menolaknya. Hal yang paling membahagiakannya saat ini adalah kehamilannya yang menjadi dirinya semangat untuk melawan penyakitnya.
"Jangan pernah menyerah Cinta! Kau bisa menyelamatkan bayimu dengan kemampuanmu sebagai seorang ibu." Bisik Cinta pada dirinya sendiri.
Tuan Noah melirik wajah cantik istrinya yang terlihat muram seakan menyimpan sesuatu tapi tidak ingin berbagi dengannya. Tuan Noah menggenggam tangan istrinya dengan satu tangannya sedangkan tangan lainnya memegang kemudi.
"Apakah semua baik-baik saja sayang?" Tanya Tuan Noah.
"Sayang, apakah kita tidak bisa menunda kabar kehamilan aku ini, menunggu saat Honey pulang ke rumah?"
"Berarti kita harus menunggu dua hari lagi untuk mengumumkan kehamilan kamu?"
"Iya sayang, aku maunya begitu kalau semuanya sudah pada kumpul. Apa lagi Honey itu mudah marah kalau ia mengetahuinya belakangan."
"baiklah sayang. Kalau begitu biar kabar ini kita sampaikan saat kita mengajak mereka makan di luar, bagaimana?"
__ADS_1
"Itu ide yang sangat bagus, sayang." Tawa kecil Cinta menutupi kegundahan hatinya saat ini.
"Selama kamu hamil, jangan lagi mengajar, lebih baik kamu fokus dengan kandungan mu dan aku. Apa lagi ini adalah pengalaman pertamamu menjadi seorang ibu."
"Iya sayang, itu yang aku inginkan. Besok aku akan mengirim surat pengunduran diriku pada ibu Cintya sekaligus menyampaikan kabar gembira ini pada beliau dan teman guru lainnya."
"Kenapa nggak tunda dulu sampai Honey pulang ke rumah. Nanti saat Honey balik ke asrama baru kamu bisa sampaikan kepada ibu kepala sekolah." Usul Tuan Noah.
"Ya Allah aku hampir lupa dengan rencana semula sayang. Maafkan aku." Ujar Cinta terlihat kurang fokus saat ini.
"Hmmm!"
Tuan Noah memaklumi sikap istrinya yang mungkin saat ini terlalu bersemangat karena baru mengetahui dirinya hamil.
"Noah, andai saja kamu tahu bahwa aku akan mati jika bisa melahirkan bayi ini untukmu, mungkin kamu tidak akan membiarkan aku melahirkan bayi ini untukmu." Batin Cinta.
Mobil mewah itu terparkir sempurna di depan mansion milik nya. Cinta turun dengan wajah rona bahagia. Ia lalu menggandeng tangan suaminya sambil berdendang.
Sementara ibunya saat ini sedang membaca Alquran di dalam kamarnya.
"Sebaiknya jangan ganggu mama!"
Ucap Tuan Noah ketika mendengar lantunan ayat suci Alquran terdengar oleh mereka dari kamar ibu mertuanya itu.
"Iya sayang. Lagi pula aku juga ingin istirahat." Ucap Cinta yang terlihat kelelahan.
"Tapi kamu belum makan siang sejak tadi, ingat sayang saat ini kamu sedang hamil muda, perlu asupan gizi yang imbang dalam tubuhmu." Ucap Tuan Noah.
"Tolong bilang pelayan untuk membawa makan siang kita ke kamar!" Pinta Cinta terdengar manja.
Cinta terlihat senang karena suaminya lebih protektif terhadap dirinya. Keduanya langsung menuju ke lantai atas dengan melangkah perlahan menaiki anak tangga.
...----------------...
Saat kelurga sudah berkumpul semuanya terutama Honey yang akan menjadi orang yang paling bahagia ketika mendengar kabar gembira ini.
Keluarga itu di ajak ke pantai Anyer untuk refreshing di sana. Sebenarnya Cinta agak keberatan tempat yang dipilih suaminya terlalu jauh menurutnya hanya untuk sekedar berbagi kebahagiaan dengan keluarganya atas kehamilannya.
Namun Tuan Noah ingin sekalian berlibur ke pantai Anyer agar keluarganya memiliki semangat baru saat mulai aktifitas nanti.
"Apakah kita akan menginap di hotel yang ada di tepi pantai ayah?" Tanya Honey yang duduk berdampingan dengan kedua orangtuanya.
"Tentu saja sayang!" Ujar Tuan Noah.
"Kita akan mandi di laut ya ayah?"
"Tidak sayang! Laut terlalu berbahaya untukmu. Mandinya tetap di kolam renang saja." Ujar Cinta.
"Apakah ayah dan bunda akan menemani Honey berenang?"
"Ayah saja yang akan menemani kamu berenang." Ujar Tuan Noah.
"Ya ayah, Honey kepingin bunda juga ikut berenang dengan Honey ayah." Keluh Honey kesal.
"Masalahnya bunda kamu itu tidak boleh berenang sama dokter." Ujar Tuan Noah.
"Emangnya bunda sakit saat ini ayah?"
__ADS_1
"Iya, bunda tidak boleh banyak gerak dan harus siap mengikuti semua saran dokter agar....?"
Kata-kata Tuan Noah terhenti karena belum saatnya ia mengumumkan kabar bahagia itu.
"Agar apa ayah..? Apakah bunda lagi sakit parah saat ini..? Apakah bunda akan bernasib sama seperti ibu kandungnya Honey?" Tanya Honey membuat Cinta terkesiap.
Deggggg....
"Hussst! Nggak boleh ngomong begitu!" Ujar Tante Lea pada keponakannya.
"Habis, ayah dan bunda dari tadi main rahasia-rahasian dengan Honey." Gerutu Honey kesal.
"Tunggu saja dulu sayang, bahkan ayah akan memberi kejutan besar untuk kamu."
"Benarkah? Ayah mau kasih Honey hadiah?" Tanya Honey kegirangan.
"Anggap saja seperti itu sayang." Ujar Tuan Noah.
Mobil mereka akhirnya tiba juga di hotel Marbella Anyer Banten. Hotel yang berada di pinggir pantai ini menawarkan pemandangan indah di pesisir pantai.
Tidak perlu jauh-jauh harus turun ke pantai. Cukup duduk di balkon hotel sambil memandang laut lepas sejauh mata memandang.
Honey dan nenek Endang tidur satu kamar yang connecting langsung dengan kamarnya Tante Lea. Sementara Tuan Noah dan istrinya menyewa kamar Presidential suite room.
Saat tiba makan siang, keluarga itu sudah berkumpul di restoran hotel. Di saat hidangan makan siang berupa jenis seafood dilengkapi sayur dan menu lainnya sudah tersaji di atas meja mereka, Tuan Noah mulai menyampaikan kabar gembira itu kepada keluarganya.
"Mama, Lea dan Honey, kami sengaja mengajak kalian ke sini hanya untuk menyampaikan kabar gembira bahwa saat ini kita akan kedatangan tamu baru di dalam rahimnya istriku, Cinta." Ujar Tuan Noah dengan ekspresi ceria.
"Apaaa..?"
Sentak ketiganya sambil menatap satu sama lain seolah tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Masya Allah, tabarakallah, Cinta akhirnya kamu hamil juga sayang. Selamat nak," ujar ibu Endang lalu bangkit dari duduknya menghampiri sang putri yang merasa terharu saat sudah menyampaikan kabar bahagia darinya.
Begitu pula Lea dan Honey bergantian memeluk ibu sambungnya itu dengan senang hati.
"Terimakasih bunda, sudah memberikan adik untuk Honey. Pasti Honey tidak akan kesepian lagi setelah kedatangan sang adik nanti." Ucap Honey lalu memberikan kecupan sayangnya kepada ibu sambungnya itu.
"Terimakasih Honey, mama dan Lea untuk ucapannya, mohon doanya agar bayi ini lahir dengan selamat." Ujar Cinta dengan senyum dipaksakan.
"Pasti kamu bisa sayang karena mama dulu sangat semangat saat ingin melahirkan kamu." Ucap ibu Endang meyakinkan putrinya.
"Ya Allah, bagaimana nasib mamaku jika aku meninggal nanti?" Batin Cinta yang mulai memikirkan nasib ibu kandungnya yang akan tinggal seorang diri.
Rasanya saat ini, ia ingin menangis meraung untuk melepaskan kekesalannya atas dirinya yang baru merasakan menjadi seorang ibu.
"Baiklah. Sekarang kita makan untuk menyambut kedatangan seorang pewaris." Ucap Tuan Noah tersenyum manis pada sang istri yang ada di sampingnya.
Keluarga itu membaca doa lalu menyantap makan siang mereka sambil memuji sang chef hotel.
Honey tenggelam dengan khayalannya sendiri. Ia sedang membayangkan bisa bermain dengan sang adik jika adiknya itu sudah mulai besar.
Usai menyantap makan siang, Cinta mengajak suaminya agar lebih dekat menghampiri pantai untuk melihat ombak laut. Namun niatnya itu dilarang keras oleh ibunya.
"Cinta, di laut banyak jin nya, kamu sedang hamil sayang jadi jangan ke sana," Titah ibu Endang.
Cinta terlihat kecewa, tapi ia sangat mengerti ibunya itu memang ingin terbaik untuk dirinya. Akhirnya keduanya memilih untuk kembali ke kamar mereka. Honey yang masih kangen dengan ibunya itu, ikut kedua orangtuanya ke kamar mereka.
__ADS_1