
Untuk menangkap basah pak Teguh dan komplotannya karena telah melakukan kejahatan pada mendiang ayahanda ibu Cinta, Tuan Noah mengadakan diskusi intens dengan melaporkan Tuan Teguh dengan segala bukti kejahatannya yang sudah di selidiki oleh detektif yang dia sewa. Ia juga di dampingi oleh pengacaranya.
Polisi mau bekerjasama dengan Tuan Noah untuk membuat perangkap pada Tuan teguh dan komplotannya yang ingin berniat merampok rumahnya ibu Cinta.
Ibu Endang tidak diberitahu atas rencana yang sudah dibuat oleh menantunya Tuan Noah karena akan ketahuan oleh Tuan Teguh. Hanya saja Cinta sudah mengabari sepupunya Nadine untuk bisa menjebak tuan Teguh dengan komplotannya.
Nadine di minta untuk tidak usah menemani ibunya lagi karena ingin memastikan sendiri apakah tuan Teguh masih memiliki rencana untuk mengambil lagi sertifikat tanah milik mendiang pak Rahmat.
Tiap hari, polisi melakukan pengintaian di kediaman ibu Endang dengan penyamaran menggunakan pakaian preman.
Sehari, dua hari, hingga seminggu tidak ada pergerakan dari Tuan teguh atau komplotannya. Namun di hari kedelapan, putranya Danish bertandang ke rumah ibu Endang dengan berpura-pura menanyakan keadaan ibu Cinta, gadis yang selama ini ia taksir, namun sayangnya, jebakan yang dilakukan oleh ayahnya, justru membuat dirinya kehilangan gadis impiannya itu.
Sekedar diketahui, Cinta adalah adik kelas Danish saat masih duduk di bangku SMA. Danish yang terkenal playboy, membuat Cinta ogah untuk mengenal sosok pria tampan ini yang hanya mengandalkan tampang dan kekayaan orangtuanya untuk menggaet gadis-gadis cantik yang ia sukai.
Sementara saat itu, keluarga Cinta termasuk orang berada. Ayahnya yang merupakan seorang pengusaha hebat saat itu, yang merintis usahanya sendiri bersama temannya Tuan teguh.
Ketika usaha itu berhasil, ayahnya Cinta ingin memisahkan diri dari sahabatnya itu. Rupanya Tuan Teguh merasa sakit hati karena pak Rahmat lebih memilih pengusaha-pengusaha hebat yang sudah punya nama.
Berjalannya waktu, Tuan Teguh juga berhasil menjalankan bisnisnya sendiri. Tapi ia ingin sekali menjatuhkan pak Rahmat yang saat itu sudah dianggap sebagai lawannya, bukan lagi sebagai sahabatnya.
Tuan Teguh mengetahui semua kehidupan pak Rahmat, termasuk tanah warisan orangtuanya yang dua hektarnya pak Rahmat sudah jual untuk mulai bisnisnya bersama Tuan Teguh.
Berjalannya waktu tepat, di saat Cinta mulai masuk kuliah, tiba-tiba perusahaan ayahnya jatuh kolaps. Itu juga campur tangan Tuan Teguh karena ingin mendapatkan perhatian pak Rahmat agar sahabatnya itu kembali padanya.
Saat itu, pak Rahmat tidak ingin menyerah begitu saja. Semua asetnya dijual untuk kepentingan pendidikan putri satu-satunya Cinta agar bisa meraih cita-citanya.
Karena hanya mengandalkan aset dan tabungan yang tersisa, lama kelamaan, menipis juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hingga Cinta bisa meraih gelar sarjananya, pak Rahmat baru memikirkan untuk merintis usahanya dengan berjualan apa saja yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Awalnya berjalan lancar namun hanya bertahan dua tahun, ia kembali lagi bangkrut. Di saat terpuruk itulah, tuan Teguh membujuk pak Rahmat untuk mulai usaha lagi dengan jalan menggadaikan sertifikat tanahnya dengan meminjamkan uang untuk pak Rahmat sebesar tiga miliar.
Ayah dari Cinta ini akhirnya menerima juga tawaran sahabatnya karena dia sudah menganggap Tuan Teguh seperti saudaranya sendiri yang ia sudah kenal luar dalamnya.
Namun yang namanya sahabat tidak selamanya bisa dipercaya karena niat sahabat yang memiliki kedengkian dihatinya, akan membawa petaka bagi kita.
Jadi percayakan semuanya pada Allah atas segala urusan kita karena sahabat yang bisa amanah itu hanya ada di jaman Rosulullah dan orang-orang sholeh yang terjaga akhlaknya karena Allah bukan karena dunia.
...----------------...
Ibu Endang membuka pintu rumahnya dan ternyata, adalah Danish. Danish mengucapkan salam seraya mencium punggung tangan ibu Endang dengan takzim.
"Silahkan duduk nak, Danish!"
"Terimakasih Tante!"
"Apa kabar Danish!"
__ADS_1
"Tidak baik Tante!"
"Lho! kenapa?"
"Tante Endang sangat tega pada Danish karena sudah memberikan Cinta pada lelaki lain, padahal. Danish sangat mencintai Cinta, Tante." Ucap Danish dengan wajah murung.
"Maaf Danish! sepertinya kamu salah paham pada Tante. Cinta itu menikah dengan lelaki itu karena mereka sendiri sudah pacaran sebelum ayahnya Cinta meminta Cinta untuk menikah denganmu.
Tante juga syok, saat hari kedua kematian ayahnya, Cinta resmi sudah menikah dengan kekasihnya yang sebelumnya Tante tidak mengenal calon suaminya itu." Ujar ibu Endang membela diri.
"Apa..? Secepat itu mereka menikah di saat tanah kuburan om Rahmat belum juga kering." Danish terlihat kecewa.
"Cinta tidak ingin dirinya menjadikan obyek pertarungan hutang antara ayahnya dan ayahmu. Dia ingin menikah dengan orang yang ia cintai bukan sebagai penebus hutang."
"Aku juga mencintainya Tante. Dan aku sudah membujuk ayahku agar mengembalikan sertifikat tanah itu dan menghapus semua utang om pada ayah."
"Tapi, putriku tidak mencintaimu, nak Danish. Dia lebih memilih memenangkan perasaannya dengan meminta tolong kepada kekasihnya untuk melunasi hutang-hutang ayahnya."
"Tapi Tante, menurut informasi yang saya dengar Tuan Noah itu adalah seorang duda, kenapa Tante mau menikahkan putri Tante yang masih gadis itu dengan seorang duda? Kenapa tidak memilih saya saja yang masih bujang." Protes Danish kesal.
"Tante tidak bisa berbuat apa-apa ketika mereka datang ke rumah ini sudah menjadi suami istri, nak Danish." Ujar ibu Endang yang sudah jengah menjawab keluhan Danish si anak manja itu.
"Baiklah Tante! Saya sangat berharap suatu saat nanti Cinta akan merasa menyesal telah memilih duda itu daripada saya." Ujar Danish lalu berdiri dan hendak pamit pulang.
"Kalian hanya tidak berjodoh saja Danish. Lagi pula kamu masih muda dan tampan. Kapan saja kamu masih bisa mendapatkan gadis yang lebih baik daripada putri Tante, Cinta." Ucap ibu Endang bijak.
Ibu Endang melepas kepergian Danish malam itu di saat gerimis mulai turun. Pemuda tampan itu membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.
Ibu Endang segera mematikan lampu ruang tamu tanpa menutup pintu pagar rumah. Iapun belum bisa tidur karena belum merasa mengantuk.
Namun lampu kamarnya di matikan juga dan ibu Cinta memilih membaca Alquran yang ada di ponselnya untuk mengirim doa kepada almarhum suaminya.
Sekitar seratus ayat Al-Qur'an yang ia baca, tiba-tiba matanya mulai merasakan kelelahan. Ia milih tidur di tambah hujan di luar makin deras.
Baru saja, dia terpejam, ada suara aneh di luar yang membuat ia kembali terjaga. Dengan hati-hati, Bu Endang memasang rekaman video untuk melihat gerangan apa yang ada di luar sana melalui jendela kamarnya.
Betapa terkejutnya ibu Endang saat beberapa orang masuk ke halaman rumahnya di tengah hujan deras dengan menutupi wajah mereka sehingga tidak terlihat jelas oleh Ibu Endang.
Ibu Endang mundur perlahan dan memastikan lagi pintu utama rumahnya sudah di kunci dengan aman. Iapun menambah kunci grendel yang ada di rumah itu untuk melengkapi pengamanan rumahnya.
Sialnya ponselnya tiba-tiba mulai redup saat ia ingin menghubungi putrinya Cinta.
"Sial! Di saat aku butuh, kenapa ponsel ini malah mati." Gerutu ibu Cinta sambil bersembunyi.
Tiba-tiba petir dan guntur terdengar menggelar membuat, listrik tiba-tiba padam.
__ADS_1
Ibu Endang mulai ketakutan dengan keadaan ini. Ia mulai panik dengan tetap berdoa kepada Allah atas keselamatannya.
Kalau bisa memilih rasanya ia ingin segera pingsan atau mati saja daripada harus berhadapan dengan para penjahat yang sedang mencari jalan untuk merampok rumahnya.
Baru saja ia ingin mencari senter, tiba-tiba terdengar ada yang memecahkan kaca jendela rumahnya, membuat ia terperanjat.
"Astagfirullah!" Pekiknya sambil membekap mulutnya sendiri.
Jantungnya tidak tahu lagi seperti apa rasanya saat ini. Kedua dengkul tuanya seakan mau terlepas dari persendiannya.
Rasanya lidahnya sudah kelu. Otaknya tidak bisa lagi berpikir. Ia seakan pasrah jika para penjahat itu ingin mengambil apa saja harta yang tersisa di dalam rumahnya, itu tidak masalah baginya, yang penting penjahat itu tidak menyakiti dirinya.
"Ya Allah! Jika malam ini, ajal ku hanya sampai di sini, aku pasrahkan hidupku kepadaMu, ya Robby." Ucap ibu Endang dalam doanya.
Ibu Endang menumpuk barang apa saja yang ada di pintu kamarnya agar penjahat itu tidak mudah masuk ke kamarnya.
"Cari perempuan tua itu sampai ketemu!" Titah seorang lelaki yang bertubuh kekar yang merupakan bos dari penjahat itu.
"Bos! apakah kita harus mendobrak pintu kamar ini agar terbuka?"
"Dasar goblok! apakah semua tindakanmu harus meminta ijin dariku, hah!" Bentak bos penjahat itu pada anak buahnya sambil menjitak kepala anak buahnya.
"Baik bos! Kami akan mendobrak pintu ini."
"Kamu bantu Hendi mendobrak pintu kamar itu. Lakukan sampai berhasil dan cari sertifikat tanah itu. Cepat!" Bentak bosnya.
"Tapi bos, keadaan gelap seperti ini, mana mungkin bisa secepatnya menemukan barang yang bos maksud."
"Bukankah kamu punya senter?" Kenapa tidak digunakan, hah!"
"Ba..baik bos!" Jawab anak buahnya ketakutan.
Kedua anak buahnya masih terlihat bingung karena mereka takut, kalau ibu Endang menjerit, maka niat mereka untuk mencuri akan ketahuan ibu Endang.
"Bos! Apakah kita bunuh perempuan tua itu saja?"
"Maksudmu apa?"
"Jika aksi kita ketahuan, maka keberadaan kita akan ketahuan, maka dia akan melaporkan polisi." Ucap anak buahnya ragu-ragu.
"Jika kamu ragu untuk membunuhnya, maka kepalamu itu akan terpisah dari tubuhmu." Ancam bosnya kesal.
"Baik bos!"
Keduanya akhirnya, menyatukan tenaga mereka lalu mendobrak pintu kamar ibu Endang dengan sangat kencang. Berulang kali mereka mendobrak, tubuh ibu Endang tidak bisa lagi kuat menahan gejolak ketakutan dalam dirinya.
__ADS_1
Ia sendiri akhirnya pingsan di kamarnya sebelum penjahat itu berhasil masuk ke kamarnya. Setelah berulang kali di coba akhirnya, pintu itu terbuka juga dan mereka bisa mendorong dengan perlahan karena masih ada banyak ganjalan yang ada di balik pintu kamar di itu.