
Usai makan malam bersama keluarganya Honey, Inggit dan Honey kembali ke kamarnya Honey.
Inggit merasakan kehangatan keluarga Honey yang tidak membedakan dirinya dengan Honey.
"Honey!"
"Iya Inggit!"
"Keluargamu sangat asyik. Pasti kamu sangat bahagia, apa lagi miliki adik bayi yang sangat lucu. Aku jadi iri padamu Honey.
"Rumah ini baru mulai hidup sejak kehadirannya ibu Cinta dan nenek Endang. Di tambah lagi adik bayiku Davin." Ucap Honey berbinar.
"Aku ikut senang mendengarnya Honey. Entah kapan aku bisa merasakan kebahagiaan yang sama sepertimu?" Inggit kembali merengut.
"Setiap kesedihan pasti Allah ganti dengan keceriaan. Bersabar dan berdoa adalah kuncinya Inggit."
"Insya Allah Honey. Aku yakin Allah akan menghibur aku dan ayahku dengan caraNya. Kami hanya butuh kesabaran saja saat ini." Ujar Inggit.
"Nah gitu dong! Kamu harus optimis dan jadi penghibur ayahmu. Jadilah kekuatan untuknya. Jika kamu semangat, Insya Allah, ayahmu akan lebih semangat lagi." Ujar Honey.
"Honey! Maafkan aku pernah memusuhi mu. Aku baru tahu kamu sangat baik. Bagku saat melihatmu tidak punya ibu, aku pikir kamu akan tumbuh menjadi gadis nakal, ternyata aku salah. Kamu sangat baik." Ujar Inggit.
"Lupakanlah yang pernah terjadi Inggit. Aku tidak pernah dendam kepadamu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kita adalah dua orang yang saat ini saling membutuhkan karena berada pada posisi yang sama.
Aku pernah kehilangan ibu dan juga dirimu. Aku merasakan apa yang kamu rasakan, jadi aku rasa kita berdua bisa menjadi sahabat yang baik." Ujar Honey sambil tersenyum.
Keduanya saling berpelukan. Inggit mengeluarkan biolanya dan ingin bermain sebentar untuk Honey. Honey menikmati permainan biola Inggit yang sangat menyentuh hatinya.
Tanpa disadari keduanya, Keluarga Honey yang ada diluar kamar ikut menikmati alunan musik itu. Nyanyian untuk seorang ibu dari lagunya Melly Goeslow dengan judul Bunda.
Baik Cinta, Lea dan ibu Endang menitikkan air mata mereka mendengar alunan musik biola itu. Saat ini Inggit lebih menghayati permainannya.
Gadis ini menggesek biolanya sambil membayangkan kenangannya bersama sang mami. Senyum ibunya, sakit ibunya dan juga tawa renyah sang ibu saat keduanya sedang bercanda mampu menyelam ke dasar jiwa Inggit yang membuat gadis itu bisa terhibur dari sekeping kenangan yang belum panjang kisah yang akan ia ukir, di saat usianya masih sangat kecil.
Tante Lea yang tidak kuat mendengar alunan biola itu membuatnya buru-buru masuk ke kamarnya dan menangis sesenggukan di dalam kamar karena mengenang sang ibu yang sudah meninggal saat dirinya baru duduk di kelas delapan.
Ia harus meneruskan pendidikannya ditemani oleh seorang kakak karena ayah mereka sudah meninggal lebih dulu daripada sang ibu.
"Apakah Inggit sangat jago bermain biola?" Tanya ibu Endang penasaran.
"Iya mama! Inggit termasuk gadis istimewa karena ia mengusai berapa alat musik berupa piano, gitar, harmonika dan biola itu sendiri." Ujar Cinta.
"Tapi saat ini, kesedihan anak itu membuat permainannya sangat indah seakan menyatu dengan musik itu sendiri.
Ibu sangat tahu perasaan Inggit. Ibu yang ditinggal ayahmu tidak bisa melupakan kesedihan itu sampai saat ini, apa lagi dia yang masih kecil yang baru merasakan kasih sayang ibunya baru sesaat, itu sangat sulit untuk melewatinya." Ujar ibu Endang.
"Itulah sebabnya Honey mengajak Inggit untuk menginap di sini agar Inggit tidak begitu sedih. Kasihan rumah sebesar itu hanya ada dia dan ayahnya saja.
Walaupun ada pelayan, tidak sama dengan keluarga sendiri. Sementara ayahnya sibuk dengan dunianya hingga tidak memperhatikan lagi putrinya, Inggit."
__ADS_1
"Sekarang, ibu baru merasakan kesepian Honey saat kamu belum menjadi ibunya Cinta. Dia pasti merasakan bagaimana rasa sedihnya ditinggalkan ibu walaupun ia masih sangat kecil." Ujar ibu Endang yang sempat melarang putrinya menikahi duda beranak satu.
"Itulah bedanya antara duda cerai hidup dan duda cerai mati. Kalau cerai saat hidup, anak bisa ketemu ibu atau ayahnya saat ia kangen, tapi kalau cerai mati rasanya dunia seakan tidak lagi ada untuk mereka." Ujar Cinta sambil menarik nafas berat.
Untuk sesat, di kamar Honey kembali hening. Kedua sahabat itu mulai lagi berbincang. Mereka sedang merencanakan apa yang akan mereka lakukan besok pagi.
Obrolan keduanya merambah ke mana saja, seakan mereka ingin menghabiskan malam hingga rasa ngantuk menyapa keduanya.
Tidak lama kedengaran rintik hujan ditandai angin kencang dan gemuruh menyapa dengan suara yang sangat keras.
Keduanya saling bertatapan dan segera beranjak menuju balkon kamar.
"Wah! Malam ini akan terjadi badai dan hujan deras. Ini sangat asyik bisa menikmati hujan deras bersama kamu Inggit." Ujar Honey girang.
"Apakah kamu senang melihat hujan Honey?"
"Iya Inggit. Air hujan itu membawa banyak berkah, selain membasahi bumi agar kehidupan tanaman dan hewan mendapatkan lagi asupan makanan yang tersedia di bumi, hujan juga sebagai waktu ijabahnya doa. Saat hujan deras mintalah hal terbaik pada Allah dan insya Allah doamu akan terkabul." Ucap Honey serius.
"Kalau begitu aku ingin berdoa Honey."
"Hmm!"
Honey mengangguk dan ia juga berdoa. Keduanya mengangkat tangan mereka sambil mendongakkan wajah mereka ke atas langit. Memohon dengan tulus apa yang mereka inginkan.
Inggit menyelesaikan doanya. Kilat menyambar dengan Guntur menggelegar memekikkan telinga. Keduanya saling berpelukan tanpa ada suara.
Inggit yang awalnya takut dengan suara petir mulai berani menikmati suara itu.
"Bagaimana aku takut dengan suara gledek itu jika orang yang ingin aku peluk untuk meredakan kekuatanku tidak ada.
Setiap kali pulang ke rumah kadang tidak ada Tante Lea karena dia sibuk dengan urusan kuliahnya sementara ayahku sibuk dengan urusannya.
Lama kelamaan aku menjadikan suara langit itu menjadi hiburan untukku. Itulah sebabnya aku menjadi sangat mencintai hujan. Aku merasakan kedamaian saat airnya yang deras menyentuh bumi dengan kicauan alam menggiring tetesannya." Ujar Honey seperti seorang filsuf.
Inggit menatap lagi hujan merasakan kehadiran air dari langit itu." Honey! Apakah kamu juga merindukan ibumu saat hujan turun?"
"Tentu saja Inggit. Hujan datang untuk menyejukkan bumi, bermanfaat bagi material lain. Meskipun hujan kadang tidak datang, tetapi kedatangan hujan sangat penting.
Hujan turun untuk memberikan kesejukan bagi kehidupan manusia di bumi. Sebaiknya kita belajar seperti hujan yang datang dan muncul untuk membawa dan berbagi rasa senang." Imbuh Honey.
"Seperti kamu saat ini Honey. Kamu sudah membagikan rasa senang padaku karena kamu sudah memahami makna hujan itu sendiri.
Tapi bagaimana hujan yang membawa petaka bagi manusia di dunia?"
"Itu karena ulah manusia itu sendiri yang merusak bumi hingga petaka menimpa mereka dengan banjir yang datang melanda." Ungkap Honey.
Honey melihat jam digital yang ada di atas nakas. Ia mengajak Inggit tidur karena sudah pukul sepuluh malam.
"Inggit sebaiknya kita tidur karena besok kita harus bangun subuh dan siap-siap berolahraga seperti rencana kita tadi."
__ADS_1
"Baiklah. Sepertinya tidur kita akan semakin nyenyak karena ditemani hujan deras." Ujar Inggit.
Keduanya naik ke tempat dan menarik selimut bersama. Doa tidur dipanjatkan oleh keduanya dan mulai memejamkan matanya untuk menanti mimpi indah yang akan Allah kirimkan kepada mereka berdua.
Persahabatan akan terjalin dengan musuhmu ketika sang musuh tidak berdaya dalam hal apapun dan kamu langsung hadir menjadi pahlawan untuknya dan itu sangat berarti baginya.
Mindset nya berubah padamu bahwa kamu adalah orang yang terbaik yang ingin ia miliki dalam sisa hidupnya.
Hujan makin menggila di luar sana keduanya saling berpelukan melewati malam yang makin beranjak larut menyisakan sepi dengan suara yang terdengar di luar sana adalah hujan.
...---------------- ...
Keesokan paginya, Honey dan Inggit tidak bisa melakukan joging pagi karena hujan masih saja turun. Cinta mendekati keduanya yang sedang menatap hujan dengan pakaian yang sudah rapi.
"Apakah kalian ingin berolahraga?"
"Iya bunda! kirain hujan sudah berhenti nggak tahunya malah makin deras." Keluh Honey sedih.
"Ayo anak-anak! Kita senam zumba yuk!" Ajak Tante Lea yang mengusai gerakan senam zumba.
Honey dan Inggit tertarik untuk mengikuti senam orang dewasa itu. Walaupun begitu, Tante Lea mengajarkan gerakan dasarnya saja pada Honey dan Inggit.
Anak-anak melupakan kesedihannya dan mengikuti gerakan Tante Lea sesuai alunan musik yang sangat cepat ritmenya. Tidak lama Cinta dan ibunya ikut dalam gerakan senam itu membuat Inggit dan Honey makin semangat.
Tuan Noah hadir sebagai penonton sambil menggendong putranya. " Senam itu hanya untuk wanita, kita sebagai laki-laki cukup menonton mereka saja." Ujar Tuan Noah pada putranya yang masih bayi.
Puas berolahraga zumba, Keluarga itu beristirahat sambil menikmati teh hangat dan camilan berupa roti panggang coklat yang ditaburi keju parut.
Inggit makin betah berada di rumah Honey karena keluarga itu tidak membedakan dirinya dengan Honey.
"Setelah keringatnya sudah menghilang, langsung pada mandi pagi ya. Setelah itu Tante Lea akan ajak kalian bermain games." Ujar Lea
"Benarkah? horeee, terimakasih Tante Lea." Ujar Honey dan Inggit.
Keduanya kembali ke kamar Honey untuk bersiap membersihkan diri.
"Honey! Tante Lea orangnya sangat menyenangkan ya."
"Iya Inggit. Dia adalah ibu keduaku saat bunda Cinta belum hadir untukku."
"Apakah Tante Lea sudah punya pacar?" Selidik Inggit.
"Dulu pernah punya saat usiaku masih tiga tahun. Tapi mereka akhirnya putus karena Tante Lea lebih sibuk mengurusku ketimbang memenuhi ajakan pacarnya untuk berkencan." Ujar Honey yang mengetahui baru-baru ini saat bunda Cinta menanyakan perihal yang sama pada ayahnya tentang tantenya.
"Apakah Tante Lea kecewa dengan sikap pacarnya yang egois itu?"
"Tante Lea menganggapnya biasa saja karena dia tidak suka dengan lelaki egois." Ujar Honey.
"Setelah putus, Tante Lea tidak mau pacaran lagi?"
__ADS_1
"Selama ini yang aku lihat Tante Lea sibuk mempersiapkan sidang tesisnya. Sekarang ia hanya menunggu wisudanya saja." Ujar Honey.
"Weh, hebat Tante Lea." Puji Inggit.