
Sopir pribadi Tuan Noah sudah menunggu ibu Cinta dan ibu Dea di depan asrama siswi TK Harapan Cinta.
Tidak lama kemudian, kedua gadis itu keluar saling cekikikan, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Pak Dwi membuka pintu mobil untuk keduanya dan tidak lupa menyapa mereka.
Mobil mewah kembali meluncur ke kediaman Tuan Noah yang saat ini sedang menunggu dengan pakaian yang cukup rapi untuk menyambut bidadari nya.
"Ayah! Siapa yang ayah undang untuk malam bersama kita?" Tanya Honey yang terlihat sudah lapar.
"Sebentar lagi sayang, ini kejutan ayah untukmu."
"Emangnya mas lagi mau kenalin kita pada calon ibu sambung Honey?" Tanya Lea ikut pemasaran.
"Iya kira-kira seperti itu." Ucap Tuan Noah sambil berjalan mondar mandir seperti gosokan.
Tidak lama kemudian, datanglah pelayan memberi tahu kalau tamu Tuan Noah sudah datang.
Tuan Noah menghampiri tamunya di depan. Ibu Cinta dan ibu Dea sibuk memperhatikan sekitarnya dengan penuh kekaguman melihat betapa hebatnya bangunan megah dengan segala hiasan ornamen di dalamnya.
"Astaga!" Apa Tuan Noah itu punya mesin pencetak uang?" Tanya ibu Dea tak berhenti memuji gaya desain interior rumah megah itu.
"Diam lah! Tuan rumahnya datang!" ucap ibu Cinta mengingatkan sahabatnya.
"Selamat malam ibu Cinta!" Sapa Tuan Noah sambil menjulurkan tangannya pada ibu Cinta dan ingin melakukan cipika-cipiki pada ibu Cinta, namun gadis itu mundur dua langkah untuk menolak perlakuan Tuan Noah yang sudah terbiasa di kalangan kelas elite.
Tuan Noah mengerti kalau ibu Cinta tidak pernah melakukan salaman itu pada lelaki. Penolakan dari ibu Cinta, tidak membuat Tuan Noah sakit hati, justru ia bangga bahwa pipi mulus gadis itu belum tersentuh oleh lelaki manapun.
"Silahkan ibu Cinta, ibu Dea! Kita langsung ke ruang makan karena Honey dan adikku Lea sudah menunggu." Ucap Tuan Noah sambil menggiring tamunya ke rumah makan.
"Hahh! Ibu Cintaaaa!" Panggil Honey saat melihat wajah cantik ibu Cinta yang merupakan tamu istimewa ayahnya.
Ibu Cinta langsung menggendong siswanya itu dengan senang hati. Sementara itu Honey juga mencium pipi ibu Dea.
"Ya ampun ayah! Jadi ini kejutannya untuk Honey?" Tanya Honey sedikit kesal pada ayahnya yang sudah merahasiakan tamu istimewa malam ini.
"Maaf sayang!" Namanya juga kejutan, yah harus dirahasiakan." Ucap Tuan Noah sambil menarik kursi untuk ibu Cinta dan kepala pelayan menarik kursi untuk ibu Dea.
"Silahkan kita menikmati hidangan makan malamnya!" Ucap Tuan Noah sambil membaca basmalah yang diikuti oleh semuanya.
Dalam acara makan malam itu, tidak ada yang ingin mulai bicara hingga Honey yang memecahkan kebisuan itu.
__ADS_1
"Ayah! Tadi Tante Lea nanya kepada ayah, apakah ayah menunggu tamu istimewa kita itu yang akan menjadi calon istrinya ayah, apakah dua adalah ibu Cinta, ayah?" Tanya Honey membuat ibu Cinta langsung tersedak.
Uhuk..uhuk...uhuk..!"
Tuan Noah langsung mengusap punggung ibu Cinta sambil memberikan gadis ini air putih.
"Apakah anda tidak apa ibu Cinta?" Tanya Tuan Noah cemas.
"Tidak apa Tuan Noah!" Ujar ibu Cinta usai meneguk airnya.
Honey dan tantenya Lea sambil menatap dan tersenyum simpul karena berhasil mengerjai ayahnya yang terlihat sangat kesal dengan ulah putrinya Honey.
Untuk memudahkan rencana ayahnya, honey mengajak ibu Dea ke kamarnya bersama Tante Lea. Kini ibu Cinta berduaan saja dengan Tuan Noah.
Tuan Noah mengajak ibu Cinta ngobrol di root up. Keduanya duduk di bangku sambil sibuk membuka ponsel milik mereka masing-masing.
"Ibu Cinta!"
"Iya tuan!"
"Mengapa anda tidak memakai gaun pemberianku? Apakah sangat sempit di tubuhmu atau ibu Cinta tidak suka dengan modelnya?"
"Ternyata selain cantik, anda memiliki sifat yang sangat peduli dengan sekitarmu. Kamu tidak ingi membuatnya cemburu kepadamu, hebat!" Puji Tuan Noah pada gadis. yang berusia 22 tahun ini.
"Pujian anda terlalu berlebihan tuan!" Ucap ibu Cinta malu hati.
"Ini faktanya ibu Cinta dan itu membuatku sangat mengagumi kamu." Tuan Noah mengambil tangannya ibu Cinta dan mengecup punggung tangan itu lembut membuat ibu Cinta memalingkan wajahnya karena malu.
"Maafkan saya Tuan! Jangan begini!" Ucap ibu Cinta sambil menarik tangannya dari genggaman Tuan Noah.
Tuan Noah menahan tangan itu lalu sambil menatap wajah cantik ibu Cinta yang sangat malu menatapnya.
"Apakah aku boleh memanggilmu namamu saja tanpa ada embel-embel ibu di dalamnya? sekarang kamu berada di luar sekolah dan sedang menikmati liburan, berarti tidak ada tanggungjawab mu sebagai guru di luar sekolah." Ujar Tuan Noah.
Ibu Cinta masih merasa risih dengan banyak permintaan Tuan Noah.
"Ya Tuhan! Apa ini? Kalau terlalu lama berada di hadapannya aku bisa mati mendadak. Rasanya aku ingin kabur. Tuan Noah terlalu hebat dan aku tidak pantas mengharapkan cinta darinya.
Kehidupanku saja sudah seperti bumi dan langit. Sekarang aku harus bagaimana, ya Allah?" Jerit ibu Cinta begitu takut akan masuk ke dalam dunia Tuan Noah.
"Tuan Noah!"
__ADS_1
"Hmm!"
"Saya harus pulang karena saya sudah janji kepada kepala sekolah kalau kami akan pulang jam sepuluh malam sudah tiba di asrama."
"Aku akan mengantarmu sendiri pulang ke asrama. Tidak usah kuatir! aku akan menghubungi ibu kepala sekolah." Ucap Tuan Noah yang ingin menahan ibu Cinta lebih lama dengannya.
"Tapi tuan, saya ..?"
"Aku masih merindukanmu Cinta!"
Deggggg....
"Lagi pula ini masih jam setengah sembilan. Sekitar satu jam lagi kita bisa bicara banyak hal."
"Bukan begitu, bodoh! Masalahnya, jantungku rasanya mau meledak menatap wajah tampanmu, mencium bau parfum
Clive Christian, tatapan mu yang meruntuhkan semua persendian ku, aku sudah tidak sanggup lagi bertahan lebih lama di sini, Tuan Noah." Batin ibu Cinta makin kalut.
Tuan Noah memperhatikan wajah ibu Cinta yang tidak ingin melihat wajahnya. Ia pun mengulum senyumnya karena ibu Cinta sangat grogi saat ini. Hal ini membuatnya makin gemas untuk mengerjai ibu Cinta.
Tuan Noah duduk di hadapan ibu Cinta tepat di bawah pangkuan gadis ini.
"Apakah kamu sangat malu kepadaku, Cinta?"
Degggg...
Dua tangan Tuan Noah berpegangan antara paha ibu Cinta. Wajahnya lebih condong mendekati wajah gadis itu yang sudah menutup matanya dengan rapat.
"Cinta!"
Aku mencintaimu...!
aku mencintaimu...!
aku mencintaimu....!"
Ucap Tuan Noah tepat di kuping ibu Cinta yang tersentak mendengar ungkapan hati seorang Tuan Noah kepadanya.
Rasanya saat ini dia ingin pingsan karena tubuhnya sudah gemetar parah saat wajah Tuan Noah makin rapat pada wajahnya.
Ibu Cinta tetap memejamkan matanya rapat karena begitu takut untuk berkata-kata.
__ADS_1