
Mengetahui kalau mertuanya dalam bahaya, Tuan Noah tidak bisa berpikir jernih karena ia tidak mungkin mengirim anak buahnya dari Jakarta menuju Bandung dalam waktu singkat.
Melihat kegelisahan suaminya yang baru kelar bicara dengan seseorang, Cinta menghampiri suaminya yang berdiri agak jauh dari mereka.
"Sayang!"
Cinta menyentuh bahu itu lembut membuat Tuan Noah seketika membalikkan tubuhnya menatap sang istri dengan wajah panik.
"Apakah ada masalah?"
"Iya Cinta. Sebaiknya kita bicara di kamar." Ucap Tuan Noah merangkul pundak istrinya langsung menaiki tangga dengan langkah buru-buru.
Pintu kamar di tutup dengan rapat . Tuan Noah menarik lengan istrinya dan mulai bicara serius di sisi tempat tidur.
"Jika yang akan ku katakan ini sangat membuatmu syok, sebaiknya kamu siapkan dirimu terlebih dahulu karena ini mengenai uang milik ayahmu yang pernah dirampok tiga tahun lalu." Ucap Tuan Noah.
"Astaga! Apakah kamu sudah menemukan perampoknya? siapa mereka?"
"Bukan hanya perampoknya sayang, tapi otak dari rencana perampokan itu sendiri." Tuan Noah menjedah perkataannya.
"Apa maksudmu, Noah? Tolong jelaskan kepadaku secara menyeluruh!" Desak Cinta tidak sabaran.
"Dia adalah sahabat ayahmu sendiri. Orang yang telah meminjamkan uang kepada almarhum ayahmu, Cinta." Ucap Tuan Noah sambil memegangi kedua sisi bahu istrinya.
Deggggg...
"Dasar bajingan! rupanya mereka ingin menyingkirkan ayahku setelah melihat sertifikat tanah ayah yang sangat luas." Geram Cinta sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Cinta! Sepertinya mamamu tidak aman tinggal sendiri karena sertifikat itu masih disimpan oleh mamamu, maka tidak menutup kemungkinan, tuan Teguh akan melakukan kekerasan lagi dengan menggunakan jasa para perampok itu untuk mengambil sertifikat tanah milik kalian." Ucap Tuan Noah membuat Cinta makin meradang.
"Apakah mereka memiliki niat seperti itu? kalau ini benar, nyawa mama dalam bahaya karena mama tinggal sendiri, di tambah lagi saat ini musim hujan yang akan membuat komplek perumahan di sekitar tempat tinggal ku sangat sepi." Ucap Cinta cemas.
"Sebaiknya kita hubungi mama untuk berjaga-jaga dari serangan musuh yang masih menginginkan sertifikat tanah itu." Ucap Tuan Noah.
Cinta langsung mengambil ponselnya yang saat ini sedang di isi baterai. Ia menekan nomor kontak ibunya.
__ADS_1
"Mama! Apakah saat ini mama sendirian di rumah?"
"Tidak sayang. Ada sepupumu Nadin yang menemani mama di rumah."
"Apakah Nadin akan menginap?"
"Entahlah!"
"Berikan ponsel mama padanya! aku ingin bicara Nadin." Pinta Cinta.
Ibu Endang memberikan ponselnya pada keponakannya Nadin.
"Hallo Cinta!"
"Nadine! aku mau minta tolong kepadamu, dalam satu Minggu ini, tolong temani mama karena saat ini posisi mama tidak aman."
"Kenapa tidak aman, Cinta?"
"Sertifikat tanah milik mendiang ayahku saat ini sesaat di incar oleh para perampok." Ucap Cinta laku menceritakan peristiwa perampokan uang yang terjadi kepada ayahnya."
"Aku mohon kamu ceritakan ini pada pak RT dan pak RW jika mereka bisa, tolong laporkan kepada polisi." Pinta Cinta.
"Iya teteh, nanti Nadine hubungi pengurus warga tentang kelakuan tuan Teguh." Ucap Nadine lalu mengakhiri pembicaraannya dengan Cinta.
"Alhamdulillah, sayang!" Saudaraku Nadine mau menginap agar bisa menemani mama malam ini." Ucap Cinta terlihat lega karena ibunya tidak sendirian di rumah besar itu.
Sementara itu di Bandung, ibu Endang sedang mengamankan sertifikat tanah miliknya kini di tempat yang lebih aman di dalam rumahnya itu.
...----------------...
Detektif yang mengumpulkan semua bukti kejahatan tuan Teguh yang akan diserahkan ke pengacara Tuan Noah untuk diproses secara hukum.
Tuan tidak bisa tenang, jika si rentenir itu belum bisa ditangkap oleh pihak berwajib, dia akan berusaha mencari celah untuk mendapatkan lagi sertifikat tanah itu.
Sementara Cinta tidak ingin mamanya tinggal sendirian dibandung jika nyawa mamanya sedang terancam saat ini.
__ADS_1
Sudah berulang kali Cinta merayu ibunya untuk tinggal bersama mereka di Jakarta, namun orangtua satu ini menolak mati-matian untuk tidak tinggal bersama Cinta karena tidak mau meninggalkan rumah peninggalan suaminya.
"Mama, ini demi kebaikan mama karena saat ini nyawa mama sedang terancam bahaya."
"Emang siapa yang ingin membunuhku?"
Tanya ibu Endang heran dengan perkataan putrinya.
"Ya Allah, apakah aku harus menjelaskan ini pada mamaku tentang perbuatan Tuan Teguh padanya?" Batin Cinta sambil mengigit bibir bawahnya.
"Sudahlah Cinta! Jangan membuat mama makin setress!" Ujar ibu Endang lalu mengakhiri pembicaraannya dengan Cinta.
"Astaga! kenapa mama tidak mau mendengarkan aku saat ini? Ini sangat membuatku kesal." Gerutu Cinta.
Tuan Noah menghampiri istrinya yang sedari tadi hanya wara-wiri di depannya seperti setrikaan.
"Sayang, tenangkan dirimu! jika mama tidak ingin tinggal bersama kita untuk sementara waktu, setidaknya kita bisa memintanya untuk selalu waspada saat beliau keluar rumah atau saat ingin mengerjakan apapun untuk selalu mengunci pintu utama agar tidak ada yang nekat masuk begitu saja." Ucap Tuan Noah.
"Kamu benar sayang. Tetap waspada itu penting. Tapi aku masih belum tenang, kalau tuan Teguh masih berkeliaran di luar sana dan belum tertangkap oleh pihak berwajib." Ujar Cinta lirih.
"Kita harus punya bukti otentik untuk bisa menangkapnya karena orang itu sangat licik untuk berkelit. Apa lagi hubungan Tuan teguh dengan keluarga kalian selama ini baik-baik saja walaupun ia menggunakan tangan orang lain untuk merampok uang milik ayahmu yang dipinjamkan olehnya." Ujar Tuan Noah.
"Ya Allah. Andai saja ayahku masih hidup dan mengetahui perbuatannya tuan Teguh pada dirinya, mungkin beliau tidak akan mengijinkan aku menikah dengan putranya bajingan itu." Ujar Cinta.
"Mungkin tuan Teguh memiliki rencana busuk sedari dulu dengan ayahmu, makannya dia bermain halus agar perbuatannya tidak terendus oleh ayahmu."
"Aku sangat beruntung karena Allah mempertemukan kita secepatnya dan kaku segera menikahi aku setelah mengetahui hutang piutang almarhum ayahku.
Jika tidak, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika aku hidup dilingkungan para rentenir itu dengan putranya Danish yang merupakan playboy kelas kakap." Umpat Cinta penuh sesal.
"Allah sudah mengatur semuanya agar kamu tidak terjerumus ke dalam lembah dosa karena rejeki yang dihasilkan oleh keluarga itu adalah hasil riba." Timpal Tuan Noah lalu menarik tangan istrinya agar lebih mendekatinya.
Cinta naik ke atas pangkuan suaminya dengan duduk berhadapan. Tuan Noah menenangkan istrinya dengan memberikan ciuman terbaiknya untuk sang istri.
Ciuman lembut itu berubah menjadi liar, kala keduanya tiba-tiba memiliki hasrat untuk melakukan lebih.
__ADS_1
Sambil berpagutan bibir keduanya saling melucuti baju yang melekat di tubuh mereka. Keduanya mulai beraksi dengan menjelajahi setiap centi untuk mencari kelemahan partner ranjang dalam menerima rangsangan.