My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)

My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)
15. Pasrah


__ADS_3

Tuan Noah memeluk kekasihnya itu dengan erat. Ibu Cinta menangis histeris dalam pelukan Tuan Noah. Bukan hanya rasa kehilangannya ayahnya saja yang menyebabkan dirinya terguncang, namun permintaan sang ayahlah yang membuat hatinya makin remuk di saat asmaranya baru bersemi.


"Noah! Bawa aku pergi dari sini! selamatkan hidupku karena aku tidak ingin menikah dengan orang lain selain kamu." Pinta ibu Cinta sambil terisak.


Tuan Noah mengernyitkan dahinya karena bingung dengan perkataan ibu Cinta kepadanya.


"Apa yang terjadi sayang?"


Cinta kembali terdiam dengan Isak tangisnya yang tak bisa ia redakan. Sulit rasanya ia mengatakan kepada Tuan Noah tentang kemelut hidupnya pada sang kekasih.


"Ya Tuhan, uang tiga miliar bukan jumlah yang sedikit. Mana mungkin aku harus melibatkan Noah dengan hutang ayah sebanyak itu untuk mendapatkan kembali sertifikat tanah. Aaaa! Ini membuat aku gila ya Allah." Tangisnya makin meraung bersama dengan hujan yang makin deras dengan petir yang menyambar kian kemari di tengah pemakaman.


Tuan Noah mengajak pulang ibu Cinta agar kembali lagi ke rumahnya karena cuaca sudah tidak lagi bersahabat. Ibu Cinta berjalan sambil berpelukan dengan Tuan Noah dibawah payung yang cukup lebar itu untuk melindungi tubuh mereka dari percikan air hujan yang makin ganas.


Setelah berada di dalam mobil, Tuan Noah segera meninggalkan pemakaman.


"Apakah kamu sudah makan sayang?" Tanya Tuan Noah.


Ibu Cinta menggeleng lemah dengan suara yang terdengar masih sesenggukan.


"Kita cari tempat makan ya!"


"Aku tidak lapar."


"Jangan seperti itu, sayang! Aku tahu kamu sedih, tapi pikirkan juga kesehatanmu. Jalan hidupmu masih sangat panjang, kamu tidak boleh terpuruk begitu dalam atas kepergian ayahmu."


"Rasanya aku ingin mati bersama ayah. Kalau bisa aku saja yang mati bukan ayah." Keluhnya terdengar putus asa.


"Cintaaaa!"


Sentak Tuan Noah yang tidak nyaman mendengar perkataan kekasihnya.


"Kamu masih punya ibu, kenapa kamu malah merasa frustasi seperti itu?"


"Aku ingin kita ke hotel. Aku ingin bicara banyak padamu. Aku tidak bisa berpikir sambil makan di restoran atau ditempat terbuka. Aku ingin cerita padamu di tempat yang cukup aman." Pinta Cinta sedikit mendesak Tuan Noah yang masih belum paham atas masalah yang dihadapi oleh kekasihnya.

__ADS_1


"Baiklah. Kita akan ke hotel. Kamu pasti belum sempat tidur sampai pagi ini, bukan?"


Cinta mengangguk. Rasanya ia sudah berhasil membujuk Tuan Noah agar membawanya ke hotel. Ia merebahkan tubuhnya di jok mobil yang di renggangnya hingga ke belakang. Hujan deras di luar sana makin menggila. Jarak pandang yang sedikit berkabut membuat Tuan Noah lebih hati-hati menjalankan mobilnya.


Setibanya mereka di kamar hotel, Tuan Noah langsung memesan makanan untuk mereka, sementara Cinta langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tuan Noah menunggu kekasihnya itu di sofa sambil memainkan ponselnya. Tidak berapa lama, pesanan makanan mereka datang dan tuan Noah membukakan pintu untuk petugas hotel.


Tuan Noah memberikan tips pada petugas hotel itu dan duduk kembali di sofa sambil menunggu kekasihnya keluar dari kamar mandi.


Tubuh Cinta terlihat segar dengan rambut basah menebarkan harum wangi sampo beraroma floral. Cinta melilitkan tubuhnya dengan handuk putih hingga memperlihatkan bagian atas dadanya yang terbuka dan paha jenjang nan mulus.


Cinta membuka pintu kamar mandi itu dan keluar dengan penampilannya yang begitu memukau.


Tuan Noah yang melihat tubuh Cinta yang hanya terbalut handuk putih dengan rambut basah dibiarkan tergerai menambah kecantikan gadis itu.


"Cinta..?"


"Kau...!"


"Astaga, Cinta! Ada apa denganmu?"


"Bukankah kamu menginginkanku?" Tanya Cinta dengan sedikit menggoda dengan tatapan matanya yang terlihat terluka.


"Iya, aku menginginkanmu! Tapi, tidak dengan cara ini, Aku ingin melakukannya disaat kita sudah resmi menikah, bukan dengan cara ini. Aku sudah memesan baju untukmu semoga ukurannya sesuai dengan tubuhmu." Ucap Tuan Noah lalu membalikkan tubuhnya.


Ayah satu anak ini tidak mampu menahan syahwatnya melihat tubuh kekasihnya yang begitu menggiurkan pandangannya.


Alih-alih menuruti permintaan kekasihnya, Cinta malah memeluk tubuh kekar itu dari belakang.


"Aku ingin menjual kesucianku, Tuan Noah! Bayar aku tiga miliar." Pinta Cinta yang sudah kehilangan akal sehat agar terhindar dari pernikahan paksaan itu.


Degggg...


Kini handuknya malah di biarkan melorot hingga tubuh polosnya tetap memeluk punggung kekar Tuan Noah.

__ADS_1


Tuan Noah membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Cinta.


"Apakah kamu sedang menggodaku atau menjual dirimu, hah?" Bentak Tuan Noah sengit.


Tuan Noah merasa kecewa dengan Cinta karena dia tidak menemukan diri Cinta yang sesungguhnya.


"Aku sedang menggoda mu demi mendapatkan uang tiga miliar itu." Ucap Cinta berusaha mencium bibir Tuan Noah.


"Cinta. Sadar Cinta! Aku juga laki-laki normal, tapi aku bukan pria hidung belang yang memanfaatkan wanita demi kepuasan dengan rupiah." Ucap Tuan Noah sambil memeluk tubuh Cinta tanpa ingin melihat aset tubuh kekasihnya.


"Aku hanya punya tubuhku. Aku rela menyerahkan kesucianku padamu, asalkan aku bisa mendapatkan uang tiga miliar itu. Jika kamu tidak berani membayar ku aku harus menerima pernikahan yang diajukan oleh mendiang ayahku." Teriak Cinta murka.


Tuan Noah menggendong tubuh polos Cinta dan membaringkannya di atas tempat tidur. Ia menutupi tubuh mulus itu dengan selimut.


"Jika kamu tidak ingin memakai baju, setidaknya kenakan piyama tidur ini. Kalau tidak ingin pulang ke rumahmu, kita akan menginap di sini." Ucap Tuan Noah seraya menyerahkan piyama milik hotel untuk dipakai Cinta.


Walaupun Tuan Noah sangat menginginkan tubuh molek kekasihnya, namun akal sehatnya masih berfungsi. Status duda yang melekat padanya, yang sudah lama tidak menjamah tubuh wanita semenjak kematian istrinya, makin membuatnya tersiksa dengan ulah nekat Cinta.


Cinta mengenakan piyama tidur itu di hadapan Tuan Noah yang memandangnya dengan miris. Ia tidak ingin memanfaatkan momen kesedihan Cinta sebagai keuntungan baginya.


Ia masih bingung dengan permasalahan Cinta yang belum jelas ia telaah. Cinta merebahkan lagi tubuhnya dan membenamkan wajahnya di atas bantal empuk itu. Sialnya, paha mulus itu masih terekspos di hadapan Tuan Noah karena piyama tidur itu hanya sebatas pangkal paha hingga memperlihatkan sebagian paha dengan bokong indah yang tercetak menggemaskan di balik piyama tidur itu.


Tuan Noah meraih tubuh Cinta dan membawanya ke dalam pelukannya. Walaupun dia sendiri ingin mengetahui lebih dalam tentang masalah Cinta, namun melihat kondisi Cinta membuatnya enggan untuk bertanya lebih jauh.


"Kamu harus makan sayang. Makanan itu sudah mulai dingin."


"Aku tidak lapar."


"Aku suapi ya!"


Tuan Noah mengurai pelukannya pada cinta dan mengambil makanan itu, lalu menyuapkan pada Cinta yang terpaksa membuka mulutnya.


"Makanlah sayang, walaupun hanya beberapa suap. Menginaplah di sini denganku, jika kamu tidak bisa menemukan kedamaian di rumahmu." Ucap Tuan Noah.


Hanya lima suap yang bisa ditelan oleh Cinta. Selebihnya Tuan Noah yang menghabiskan makanannya Cinta.

__ADS_1


__ADS_2