
Tuan Noah dan Honey kembali ke mobil. Sepanjang jalan menuju villa, ibu Cinta tidak terlihat sama sekali, hingga mobil mereka tiba di depan kamar mewah untuk para wali.
Sebenarnya, ibu Cinta menumpang salah satu pegawai villa yang sedang melintas dengan kendaraan motornya. Merasa ibu Cinta adalah salah satu penghuni villa, membuat pegawai itu mau mengantar ibu Cinta hingga di depan villa.
"Ayah!" Apakah ayah ingin bertemu dengan ibu Cinta?"
"Ayah datang dari jauh, untuk menemanimu selama acara berlangsung, jadi ayah tidak punya waktu untuk memikirkan orang lain." Sinis Tuan Noah.
"Baiklah ayah! Kalau begitu kita langsung berkumpul dengan yang lainnya di aula villa." Ajak Honey.
Setibanya di dalam Aula, Tuan Noah melihat ibu Cinta sedang mengurus pembukaan kegiatan acara tersebut. Acara di mulai dengan nyanyian, tarian, dan masih banyak lagi acara lainnya untuk siswa yang sedang unjuk gigi sesuai dengan minat dan bakat mereka miliki.
Honey hanya menyanyikan sebuah lagu untuk ayah tercinta. Acara di tutup dengan nyanyi bersama. Ketika memasuki acara santai, keluarga besar taman kanak-kanak Harapan Cinta itu saling mengenal satu sama lain.
Ibu Cinta segera ke kamarnya karena saat ini sedang mengalami haid. Ia harus mengganti pembalut. Tuan Noah yang melihat ibu Cinta keluar dari Aula segera menghampiri ibu Cinta.
"Selamat malam ibu Cinta!" Sapa Tuan Noah membuat ibu Cinta tersentak.
"Malam Tuan Noah!"
"Bisa kita bicara berdua saja?"
"Boleh Tuan Noah, tapi saat ini saya ada urusan dengan tamu bulanan, apakah anda mau menunggu?"
"Baiklah. Silahkan ibu Cinta !"
Tuan Noah menuggu di depan kamar ibu Cinta sambil sesekali menggosokkan tangannya untuk menghalau rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya. Ia pun merapatkan lagi mantelnya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong mantel berwarna hitam itu.
Tidak lama kemudian ibu Cinta sudah keluar dengan mantel putih dan juga syal coklat yang melilit rapi di lehernya serta topi kupluk yang berwarna senada sudah menutupi mahkotanya.
Tuan Noah menatap wajah cantik ibu Cinta sesaat lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah saat mata keduanya bertemu.
"Apa yang ingin Tuan Noah bicarakan?"
"Apakah kita bisa ngobrol di tempat lain agar tidak menimbulkan gosip di kalangan wali murid?" Tanya Tuan Noah hati-hati.
"Tapi, kita tidak bisa pergi kalau...?"
"Aku sudah mengirim pesan pada ibu Cintya dan beliau mengijinkan kita pergi berdua dan urusan Honey, ada ibu Dea yang akan menanganinya." Ujar Tuan Noah yang tidak ingin membuat ibu Cinta cemas akan statusnya sebagai guru.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu kita bisa keluar dari area villa." Ucap ibu Cinta malu-malu.
Tuan Noah membuka pintu mobil untuk ibu Cinta dan keduanya segera meninggalkan area villa menuju salah satu kafe puncak untuk mencari minuman hangat sebagai teman minum kopi.
Keduanya memilih kafe yang agak sepi pengunjung. Keduanya memilih memesan susu wedang jahe untuk menghangatkan tubuh mereka dengan cemilan sebagai penemani ngobrol.
"Ibu Cinta!"
"Yeah Tuan Noah!"
"Aku..aku ingin minta maaf atas sikapku yang sangat membuatmu kecewa padaku. Saat itu aku hanya mengedepankan emosiku sehingga tidak memikirkan perasaanmu. Apakah kamu mau memaafkanku?"
"Kecewa itu pasti ada Tuan Noah, apa lagi aku seorang wanita jika diperlakukan seperti itu, jelas sangat tidak nyaman dan merusak mood aku setiap aku mulai membuka mata bahkan sulit tidur karena memikirkan kesalahan aku yang mana yang membuatmu begitu marah padaku." Ungkap ibu Cinta apa adanya.
"Iya ibu Cinta, aku sadar akan hal itu, kamu seorang guru bukan baby sitter yang harus fokus memperhatikan putriku. Berjalannya waktu, aku terus merenungi kesalahanku yang sudah keterlaluan kepadamu."
"Baiklah Tuan Noah. Aku akan memaafkanmu, berjanjilah, kalau lain kali anda tidak akan mendiamkan aku lagi seperti itu.
Lebih baik kamu marah dan memaki aku dari pada berkata ketus setelah itu tidak mengatakan apapun, itu sangat menyakitkan." Ujar ibu Cinta bijak.
Keduanya bersalaman dan sepakat untuk tidak mengulangi lagi perbuatan yang menyakitkan pasangan.
"Apakah kamu masih mau menjadi kekasihku?" Goda Tuan Noah sambil menggenggam tangan ibu Cinta erat.
Tuan Noah memberanikan diri merangkul tubuh ibu Cinta. Keduanya berpelukan sebagai bentuk ungkapan maaf mereka.
Ibu Cinta melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Tuan Noah! Sebaiknya kita pulang."
"Cinta!"
"Hmm!"
"Panggil saja namaku jika kamu menganggap aku kekasihmu."
"Tapi, aku...?"
"Belajarlah untuk memanggil namaku saja tanpa embel-embel tuan."
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan mengingatnya. Tapi kita harus segera pulang ke villa."
"Jangan dulu Cinta! Karena aku masih merindukanmu." Ujar Tuan Noah lalu mengajak ibu Cinta masuk ke dalam mobilnya.
"Emang kita mau keana lagi Noah."
"Aku ingin menghabiskan malam bersamamu."
Degggg...
"Apakah kamu sudah sinting?" Mengajak aku bercinta?" Tanya ibu Cinta yang tidak terima dengan ucapan Tuan Noah yang merendahkan harga dirinya.
"Apakah aku menyebut kata bercinta padamu Cinta, hmm?" Ledek Tuan Noah sambil mengulum senyumnya.
"Tidak sih, tapi kata-katamu sudah menjurus ke arah itu."
Tuan Noah lebih merapatkan duduknya pada tubuh ibu Cinta.
"Bagaimana kalau aku menginginkanmu, sayang?" Tanya Tuan Noah dengan nafas yang memburu.
Ibu Cinta menatap tajam wajah tampan Tuan Noah yang tidak lagi terkikis jarak antara mereka.
Matanya kembali terpejam dengan degup jantung tak lagi terkendali.
Ibu Cinta mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan Tuan Noah yang juga menatapnya saat ini. Entah dari mana keberanian itu datang, Tuan Noah ******** bibir sensual milik ibu Cinta yang membangkitkan gairah kelelakiannya saat ini.
Ketika Ibu Cinta ingin mengakhiri ciumannya, namun Tuan Noah menahan tengkuk gadis itu, agar tidak melepaskan pagutan bibir mereka, yang sedang mencari kehangatan di malam yang membuat tubuh mereka seakan membeku.
Ibu Cinta menyerah, lalu membuka mulutnya agar Tuan Noah membelit lidahnya lebih dalam dan keduanya menikmati kisah kasih mereka saat ini.
Ciuman ini, kehangatan ini lebih membuatnya menggila saat ini. Ibu Cinta makin berani membalas ciuman Tuan Noah kepadanya.
Suasana dingin yang awalnya seperti berada dalam bongkahan gunung es, kini berubah menjadi lebih hangat dan makin memanas.
Keduanya berhenti saat kehabisan nafas dan gairah yang kian memuncak yang mendesak mereka untuk berbuat lebih, namun keduanya mampu mengendalikan godaan itu.
"Sebaiknya kita segera pulang sayang atau aku akan menghabiskan waktuku
denganmu malam ini." Ucap Tuan Noah buru-buru menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
Di saat yang sama, ada pesan masuk dari ibunya Cinta. Gadis itu membuka pesan itu dan membacanya dengan seksama. Betapa kagetnya ibu Cinta membaca pesan itu yang membuatnya hampir pingsan.
"Ayahh..!" Lirihnya tapi tak mampu mengatakan kepada Tuan Noah tentang sakit ayahnya.