My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)

My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)
8. Aku mencintaimu!


__ADS_3

Tuan Noah berhasil mengerjai ibu Cinta yang sudah menahan nafasnya karena takut di cium oleh Tuan Noah.


Tuan Noah mengulum senyumnya lalu mundur dari hadapan ibu Cinta agar gadis ini merasa kembali aman dari serangannya, yang tidak tega mencium ibu Cinta yang belum siap untuk disentuhnya.


Ibu Cinta membuka matanya perlahan sambil mengintip sedikit melihat Tuan Noah yang sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum.


Ia begitu malu melihat Tuan Noah yang terlihat santai dengan tatapan mematikan menusuk jantungnya.


"Apakah kamu tidak ingin pulang?" Tanya Tuan Noah saat melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Iya saya mau pulang." Ucap ibu Cinta lalu berjalan terlebih dahulu.


"Ibu Cinta! Aku mencintaimu! apakah kamu tuh ingin membalas cintaku?"


Ibu Cinta menghentikan langkahnya dan tidak ingin berbalik melihat Tuan Noah lagi.


Ia berjalan dengan langkah seribu untuk menarik nafas lebih dalam karena perasaannya yang sudah membuatnya hampir mati karena cinta.


Tuan Noah bersikap wajar menuruni anak tangga menuju balkon lantai dua dan mengikuti langkah kaki ibu Cinta yang sudah mendahuluinya.


"Kenapa dia lincah sekali jalannya. Apakah dia kira aku akan memakannya?" Batin Tuan Noah sambil mengantongi tangannya di balik celana panjangnya.


Setibanya di lantai bawah, Tuan Noah meminta kunci mobil kepada sopirnya untuk mengantarkan kedua guru putrinya.


Ibu Cinta menanyakan keberadaan Honey dan Bu Dea yang tidak terlihat olehnya.


"Di mana ibu Dea?" Tanya ibu Cinta.


Tidak lama ibu Dea dan Tante Lea keluar dari kamar Honey.


"Di mana honey?" Tanya ibu Cinta.


"Dia sudah tidur saat dengar kami ngobrol." Ucap Tante Lea.


"Kami pulang dulu mbak Lea." Ucap ibu Cinta lalu cipika cipiki dengan adiknya Tuan Noah.

__ADS_1


"Lea! aku mau mengantar mereka pulang." Ujar Tuan Noah diangguki oleh Lea yang mengantar guru dari keponakannya Honey sampai depan pintu utama.


Mobil mewah milik Tuan Noah kembali meluncur menuju asrama Honey. Sepanjang jalan baik ibu Cinta dan ibu Dea hanya diam membisu. Ketiganya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Ibu Dea sangat senang diajak makan malam bersama dengan ibu Cinta. Ingin rasanya dia meluapkan kegembiraannya pada ibu Cinta, namun ia harus memendam itu semua saat melihat manusia di depannya sedang asyik dengan dunia mereka sendiri.


"Sepi amat kaya kuburan." Gumam Bu Dea lirih.


Tuan Noah menyalakan musik untuk menghibur ibu Dea yang sedang mengeluh.


"Kenapa harus memutar musik? Maksud aku, ngobrol bukan pada diam semuanya." Batin ibu Dea lalu menatap ke luar jendela di mana gedung-gedung pencakar langit berdiri kokoh di sepanjang jalan dengan banyaknya manusia yang melintas sepanjang jalan trotoar berjibaku dengan pedagang yang menawarkan berbagai barang dagangan mereka diantara lapak-lapak yang siap memancing pembeli.


Setibanya di asrama sekolah siswa taman kanak-kanak itu, ibu Dea segera turun. Ibu Cinta yang hendak membuka pintu mobil di cegah oleh Tuan Noah.


"Apakah tidak ada jawaban yang membuat aku bisa lelap malam ini?" Tanya Tuan Noah.


"Aku..aku...!" ibu Cinta bingung sendiri apa yang harus ia katakan kepada Tuan Noah.


"Apakah aku harus jujur saat ini?" Tapi kalau menyatakan perasaanku secepat ini, bukankah itu terkesan murahan dalam mengobral cinta. Tapi kalau suruh menunggu terlalu lama, bahaya kalau ada wanita lain yang mengambilnya dariku..akkhh! kesal." Gerutu ibu Cinta membatin.


Tuan Noah yang masih menunggu jawaban dari ibu Cinta masih memegang pergelangan tangannya ibu Cinta hanya untuk mendapatkan balasan.


"Nggak, tahun depan." Ucap Tuan Noah yang sudah gregetan dengan ibu Cinta yang sangat lamban membalas cintanya.


Ibu Cinta terdengar geli mendengar penuturan Tuan Noah dengan kekesalannya yang dirasakan oleh pria tampan itu padanya.


"Aku takut Tuan Noah hanya mempermainkan perasaanku. Aku takut jika suatu saat nanti aku hanya mendengar penolakan dari Tuan Noah karena mengetahui seluk beluk perbedaan status sosial kita."


"Tolong jangan mempersulit keadaan. Aku hanya memintamu untuk menjawab pertanyaanku bukan yang lainnya. Jadi, jawab saja ya atau tidak. Hanya itu." Ujar Tuan Noah gemas dengan gadis ini.


Ibu Cinta menghembuskan nafasnya lembut lalu memberanikan diri menatap wajah tampan Tuan Noah yang sedang gelisah menunggu jawaban darinya.


"Ibu Cinta!"


"Baik...aku..aku.. mencintaimu." ucap ibu Cinta langsung membuka pintu mobil itu dan kabur dari Tuan Noah.

__ADS_1


Tuan Noah keluar dari mobilnya dan berdiri di depan mobilnya sambil memperhatikan ibu Cinta yang sedang berjalan cepat menuju paviliunnya.


"Yes!"


Luapan kegembiraan itu tidak dapat terbendung lagi di hatinya yang kini sudah meledak ke permukaan wajahnya yang terlihat berbinar.


Ia segera pulang ke mansionnya dengan hati lega.


"Hanya mendapatkan balas cinta saja, butuh perjuangan yang cukup keras menunggu gadis itu mengungkapkan isi hatinya kepadaku." Gumam Tuan Noah lirih.


Mobil itu terparkir di depan halaman Mansion dengan posisi asal. Tuan Noah melempar kunci kontak mobilnya ke pelayan untuk memindahkan mobilnya di garasi mobil.


...---------------- ...


Hari Senin pagi, ada pelajaran membuat kue dan roti bersama. Para siswa perempuan dibagi atas beberapa kelompok dengan masing-masing guru pendamping.


Honey dengan keempat temannya sudah siap dengan ibu Cinta yang mendampingi mereka membuat kue.


Kepala sekolah melihat wajah para siswanya yang sangat antusias dengan kegiatan yang menyenangkan pagi itu.


"Selamat pagi anak-anak! Mungkin di rumah kalian tidak pernah membuat kue bersama dengan ibu kalian karena sudah ada pelayan yang menyiapkan semua untuk kalian atau ibu kalian sudah membeli kue yang sudah jadi di toko-toko kue."


"Tidak ibu Cinta! Aku selalu membuat kue dengan ibuku ketika beliau punya waktu senggang atas aku pulang ke rumah." Ujar Amanda.


"Aku juga."


"Aku juga."


Hampir semua siswa mengaku mereka membuat kue bersama ibu mereka.


Honey terlihat sedih mendengar celotehan teman-temannya yang memiliki ibu.


"Mungkin di sini yang tidak pernah merasakan buat kue bersama ibunya hanya Honey, iyakan Honey? Kamu kan nggak punya ibu." Ledek Inggit membuat honey mengepalkan kedua tangannya ingin menghajar Inggit.


"Sudah... sudah... sudah Semuanya diam!" Titah kepala sekolah membuat ruang dapur itu kembali hening.

__ADS_1


"Sekarang sudah ada bahan kue dan roti di hadapan kalian. Terserah kalian mau buat apa. Dalam dua jam ibu akan datang untuk menilai hasil buatan kalian dan semoga enak. Jika ada yang belum matang, nilainya akan di kurangi." Ucap ibu Cintya lalu meninggalkan dapur itu.


Sepeninggalnya kepala sekolah, anak-anak mulai diskusi kue atau roti apa yang akan mereka buat pagi itu.


__ADS_2