My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)

My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)
49. Insiden


__ADS_3

Lea segera mengabarkan Keluarganya bahwa saat ini dirinya sedang hamil anak kembar.


"Apa...? Bagaimana bisa kamu hamil kembar Lea?"


"Kami sengaja mengikuti program bayi kembar kak Cinta dan ternyata berhasil." Ujar Lea.


"Alhamdulillah terimakasih ya Allah, akhirnya kamu dikaruniai bayi kembar setelah sekian lama menunggu. Tapi ada kabar baik juga dariku kalau saat ini aku juga sedang hamil Lea." Ujar Cinta tidak kalah bahagianya.


"Wah, selamat ya kak Cinta, semoga kita bisa lahiran bareng. Tapi rasanya aku akan melahirkan di sini kak karena dokter tidak mengijinkan aku pulang ke Indonesia." Ujar Lea sedih.


"Nggak apa sayang. Nikmatin saja proses kehamilannya." Ujar Cinta.


Keduanya ngobrol banyak macam dan juga menanyakan kabar Inggit yang sengaja dititipkan kepada Cinta selama ini setiap kali mereka weekend.


...----------------...


Sembilan bulan berlalu ada insiden salah tembak yang dilakukan sekelompok penjahat saat Lea dan suaminya sedang mengunjungi toko roti.


Lea segera dilarikan ke rumah sakit oleh suaminya. Beruntunglah hanya lengannya yang terluka hingga keadaan kandungannya tetap aman.


"Tolong bertahanlah sayang, sebentar lagi dokter akan mengeluarkan pelurunya dari lengan tangan kamu." Ucap Tuan Gunawan.


"Mas Gun! perutku juga terasa sangat sakit." Ucap Lea sambil meringis kesakitan.


Tuan Gunawan mengangkat gaun istrinya dan benar saja, Lea mengalami pendarahan.


"Bisakah lebih cepat ke rumah sakitnya?" Aku tidak mau kehilangan istri dan anak kembarku." Pinta Tuan Gunawan pada sopir pribadinya.


"Sayang tolong tetap buka matamu, jangan tidur!" Ucap Tuan Gunawan agar Lea tetap dalam keadaan terjaga.


Tuan Gunawan menggenggam tangan Lea yang sudah mulai melemah.


"Mas Gun! kenapa pandanganku tiba-tiba kabur?" Tanya Lea lirih.


"Sayang, dokter akan menyelamatkan kamu dan bayi kita." Tuan Gunawan ikutan panik.


Wajahnya makin mengeras, ia kembali mengingat detik penembakan ketika ia mencium istrinya.


Ada seorang wanita yang mengeluarkan pistol kecil dan mengarahkan pistol itu pada istrinya dalam jarak dekat.


"Clara!" Yah, dia yang lebih dekat dengan Lea ketika aku mencium istriku.


Mobil milik Tuan Gunawan sudah memasuki area rumah sakit langsung menuju ruang IGD.


Lea dijemput oleh dua orang suster dan juga seorang dokter yang langsung memompa jantungnya karena jantung Lea yang makin melemah.


Dokter lainnya berusaha menyuntikkan obat untuk menghentikan pendarahan hebat pada kandungan Lea. Lengan Lea segera dioperasi setelah mendapatkan persetujuan dari walinya.


Ketika istrinya sudah ditangani oleh tim medis, tuan Kenzo meminta asistennya untuk mengamankan beberapa perampok sebagai tersangka utama dalam kasus penembakan pada istrinya.


"Apakah kamu sudah mendapatkan informasi siapa pelaku penembakan itu?"


"Aku sudah memeriksa semua CCTV tapi belum bisa menemukan pelaku utamanya tuan." Ucap asistennya.


"Tolong amankan bajingan yang bertato tengkorak itu karena dia lebih dekat posisinya dengan istriku tadi.


Aku sangat mencurigai dirinya karena dia yang memiliki motif yang kuat untuk menghabisi nyawa istriku karena melihat sedang merampok toko roti itu" Ucap Tuan Gunawan.


"Baik Tuan aku akan melacak keberadaannya karena saat ini semua pengunjung toko roti dilarang keluar dari toko tersebut sebelum digeledah oleh polisi."


"Pasti dia sudah membuang pistolnya. Amankan toilet laki-laki dan pastikan para pengunjung toko roti itu harus segera di geledah.

__ADS_1


"Tuan! Rupanya yang menembak istri anda jika di lihat dari CCTV ternyata dia adalah nyonya Clara.


Gadis yang pernah menyukai anda dan anda pernah menolaknya saat ia ingin tidur dengan anda Tuan.


"Apa..? Bagaimana bisa?"


"Itu karena dia sudah menyewa perampok untuk menjadikan tameng baginya agar tidak terkesan dia yang menembak istri anda Tuan Gunawan."


"Baiklah, kalau begitu cekal tuan Robert ayah dari Clara, dengan begitu Clara akan menyerah karena gadis manja itu tidak bisa apa-apa tanpa kekuatan ayahnya." Pinta Tuan Gunawan yang makin mempersempit wilayah pengamanan pada para pengunjung toko roti tersebut.


Asistennya sedang sibuk memperhatikan gerak gerik nona Clara dari mulai masuk room hotel sebagai tempat pesta hingga gadis itu mendekati pasangan yang sedang merayakan anniversary.


Letusan pistol itu benar berasal dari nona Clara yang berada di antara para pengunjung toko roti. Ia sangat pintar mengarahkan pistol itu dengan tetap berdiri di belakang para pembeli dengan tetap memegang dompet pistolnya.


Ketika tembakan itu sudah meletus mengenai lengan Lea karena arahan pistolnya yang berawal dari perut Lea mejadi sasarannya.


Ciuman itu yang menjadi momen yang tepat untuk melakukan aksi penembakan itu saat perhatian semua tamu tertuju pada Lea dan Tuan Gunawan.


Clara keluar dari tempat pesta namun tertahan oleh pihak keamanan.


Clara meletakkan pistolnya itu pada sebuah pot bunga yang ada di ruang tersebut sehingga ia bebas dari pemeriksaan.


"Kena, kau nona Clara, aku akan memburu mu sekarang." Ucap asistennya Tuan Gunawan.


Clara mempercepat langkahnya menuju boarding tiket untuk kabur keluar negeri. Dua orang polisi menahannya di bandara dengan memborgol tangannya.


"Selamat malam nona Clara!" Anda kami tahan atas tuduhan penembakan kepada nyonya Lea, istri dari Tuan Gunawan " Ucap salah satu polisi seraya memborgol tangan Clara.


"Mana buktinya kalau saya yang menembak nyonya Lea ?" Tanya Clara sambil berontak ketika dua polisi membawanya keluar dari bandara menuju mobil polisi yang siap membawanya ke kantor polisi.


Setibanya di kantor polisi, Clara di masukkan ke ruang pemeriksaan dengan memperlihatkan CCTV di room hotel, tempat pesta berlangsung.


Dari sekian tamu, hanya dia yang disorot oleh kamera CCTV yang sudah dilacak oleh kepolisian.


"Saya tidak tahu dan tidak mengenali pistol itu." Ujar Clara berusaha tenang.


"Bagaimana dengan gambar ini?" Apakah anda masih menyangkalnya?" Polisi mengarahkan rekaman CCTV ketika Clara membuang pistolnya di pot bunga yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Clara tidak bisa berkutik, ia tertunduk malu melihat gambar dirinya yang berusaha menghilangkan bukti kepemilikan senjata.


"Ada boleh didampingi oleh pengacara, tapi kasus anda sangat berat karena saat ini nyawa nyonya Lea sedang kritis."


"Saya berharap dia cepat mati bersama bayi kembarnya." Gumam Clara membatin.


Asistennya Tuan Gunawan menghubungi lagi suami dari Lea.


"Tuan Gunawan, nona Clara sudah diamankan oleh polisi. Dia dikenai pasal berlapis dan mungkin akan mendekam lama di penjara." Ucap asistennya Tuan Gunawan.


"Syukurlah, aku akan menemuinya nanti setelah istriku Lea sudah siuman." Ucap Tuan Gunawan.


"Bagaimana kondisinya saat ini Tuan Gunawan?"


"Pendarahannya sudah berhenti dan bayi kembar kami dapat diselamatkan.


Tim medis berhasil mengangkat peluru dari lengannya tapi dia belum siuman sampai saat ini." Jawab Tuan Gunawan.


"Syukurlah Tuan Gunawan, semoga istri anda cepat sehat dan pulih. Kalau begitu saya pulang dulu." Ucap asistennya yang sudah dua hari ini belum tidur sama sekali termasuk Tuan Gunawan yang belum memejamkan matanya selama belum memastikan sendiri penangkapan nona Clara yang menjadi tersangka utama dalam penembakan terhadap istrinya, Lea.


"Sayang, tolong cepat sadar sayang, kasihan bayi kembar kita yang saat ini tidak bisa mendapatkan asupan gizi secara langsung dari kamu sayang." Pinta Tuan Gunawan sambil menggenggam tangan istrinya.


Tuan Gunawan meminta suster untuk menjaga istrinya karena dia ingin menemui nona Clara yang saat ini masih di sel tahanan kepolisian.

__ADS_1


"Suster, apakah saya boleh minta tolong?" Tanya Tuan Gunawan.


"Silahkan tuan!"


"Bisakah anda menjaga istri saya karena saat ini saya ada urusan penting." Ucap Tuan Gunawan.


"Silahkan tuan, saya akan menjaga istri tuan selama tuan pergi, tapi bagaimana kalau istri anda sadar tapi anda tidak ada di sini?" Tanya suster.


"Katakan saja, aku sedang menemui kolega perusahaan ku" Ucap Tuan Gunawan.


"Baik Tuan!"


Tuan Gunawan mencium bibir istrinya lalu membisikkan sesuatu kepada Lea . Ia juga mencium perut besar Lea lalu segera keluar dari kamar inap istrinya.


Tuan Gunawan mendatangi kantor polisi di mana saat ini nona Clara masih di proses sampai berkas perkaranya dilimpahkan ke pengadilan.


Tuan Gunawan melaporkan diri pada polisi untuk meminta ijin bertemu dengan nona Clara.


Setelah melakukan pemeriksaan terhadap Tuan Gunawan sebagai suami korban, Tuan Gunawan di perbolehkan menemui nona Clara.


"Silahkan Tuan Gunawan !" Ucap seorang polisi yang mengantarkan Tuan Gunawan ke tempat Clara.


Ingin rasanya Clara melarikan diri dari Tuan Gunawan yang saat ini mendatanginya langsung. Namun kaki tangannya tetap dalam keadaan di borgol membuat ia sulit untuk menghindar.


Nona Clara hanya menundukkan wajahnya menatap lantai .


"Selamat siang Clara!" Apakah kamu siap untuk menjalani sisa hidupmu di penjara?" Tanya Tuan Gunawan dengan nada mengejek.


"Apakah istri dan anakmu sudah tewas?" Balas Clara yang tidak ingin direndahkan oleh Tuan Gunawan.


Tuan Gunawan mengepalkan kedua tangannya sambil menarik nafas menahan emosinya.


"Aku hanya takut, kematian kamu yang sangat dekat ketika kamu sudah berada di balik jeruji besi." Ucap Tuan Gunawan sinis.


"Sial!" Apakah dia akan menyuruh orang lain membunuhku di dalam penjara?" Gumam Clara membatin.


"Aku akan memastikan keluargamu tidak akan bertahan hidup lebih lama dan semua aset dan perusahaan milikmu akan aku ambil semuanya karena apa yang kalian miliki semuanya atas pemberian dariku karena pengabdian ayahmu pada keluargaku saat masih muda.


Sayangnya putrinya yang tidak tahu diri ini menghancurkan hidup keluargaku karena cintanya yang tak terbalas. Kau bukan tipeku nona Clara walaupun kamu sangat cantik dan berkelas tapi aku tidak pernah menyukai wanita yang sudah tidur dengan banyak lelaki.


Kau sangat menjijikkan Clara." Ucap Tuan Gunawan lalu meninggalkan ruang pertemuan itu, meninggalkan Clara yang masih termangu mendengar ancaman dari Tuan Gunawan untuk keluarganya.


"Mommy, Daddy!" Maafkan Clara karena sudah menghancurkan semuanya."Tangis Clara pecah setelah kepergian Tuan Gunawan.


Tidak lama dokter menghubungi Tuan Gunawan. Suami dari Lea ini mendapat telepon dari rumah sakit.


Tuan Kenzo buru-buru menerima panggilan dari rumah sakit.


"Hallo selamat siang Tuan Gunawan!"


"Selamat siang!"


"Saya adalah dokter Caroline!"


Apakah anda bisa segera datang ke rumah sakit?"


"Ada apa dengan istri saya dokter?" Tanya Tuan Gunawan dengan suara bergetar.


"Sepertinya istri anda tidak bisa bertahan Tuan Gunawan, jantungnya makin melemah dan denyut nadinya juga tidak stabil.


Sebaiknya anda mendampinginya saat ini sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir." Ucap dokter Caroline membuat nyawa Tuan Gunawan ikut tercabut dari raganya saat ini.

__ADS_1


"Lea !"


__ADS_2