
Beruntunglah Cinta sudah memesan kebaya pengantin untuk Lea pada sahabatnya yang bekerja di dress wedding sehingga rencana pernikahan itu bisa berjalan dengan lancar.
Tuan Noah berusaha menerima pernikahan adiknya dengan berat hati. Mungkin karena banyak pertimbangan untuk Inggit yang memaksa dirinya menerima hubungan Lea dan tuan Gunawan.
Setelah mengucapkan ijab kabul, tuan Gunawan meminta maaf dan sekaligus berterimakasih kepada Tuan Noah yang sekarang resmi menjadi kakak iparnya.
Lea hanya bisa menangis sepanjang acara pernikahan dadakan itu. Walaupun tidak di hadiri Inggit dan Honey, namun tidak mengurangi acara sakral itu sendiri.
Tuan Noah masih memeluk Lea dan kedua kakak beradik ini hanya bisa menumpahkan air mata mereka tanpa kata. Baik Cinta , tuan Gunawan dan ibu Endang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu keduanya hingga keduanya merasa lega dengan tangis mereka.
"Gunawan! Tolong bahagiakan adikku dan jaga dia, seperti kamu menjaga dirimu. Aku hanya punya Lea. Dia sangat berharga untukku. " Ujar Tuan Noah.
"Kakak! Lea minta maaf atas sikap Lea tempo hari pada kakak!" Ujar Lea sambil sesenggukan.
"Kakak sudah memaafkanmu. Tapi ingat hari ini Lea, kamu sudah memilih jalanmu sendiri untuk bahagia. Jadi jangan pernah ada keluhan apapun yang kakak dengar di kemudian hari." Ujar Tuan Noah penuh penekanan pada kalimatnya.
"Insya Allah kak! Aku tidak akan melupakan nasehat kakak." Ujar Lea kembali memeluk kakaknya.
Kini keduanya beralih menyalami Cinta dan ibu Endang. Acara perpisahan haru biru berlangsung sangat singkat.
Tuan Gunawan segera membawa istrinya ke Bandara dan langsung menuju luar negeri dengan pesawat jet pribadi milik Tuan Gunawan.
"Kakak aku titip Inggit dulu pada kakak jika kami belum pulang dari bulan madu. Tolong jangan katakan kepada dua gadis itu kalau kami sekarang sudah menikah." Pinta Lea ketika hendak masuk ke mobil.
"Hati-hati Lea! semoga selamat sampai tujuan." Ujar Cinta lalu memeluk adik iparnya ini.
"Terimakasih kak Cinta, karena kakak aku bisa menikah dengan mas Gunawan!"
"Kamu pantas bahagia Lea!"
Ujar Cinta lalu menutup pintu mobil itu dan melambaikan tangannya pada Lea dan tuan Gunawan.
Setibanya di bandara, tuan Gunawan memberikan hadiah pertamanya untuk sang istri adalah janji kesetiaannya saat pesawat itu tinggal landas.
"Istriku Lea! proses pernikahan kita sangat cepat dan aku tidak bisa memberikan kamu banyak hadiah kecuali mas kawin seperangkat perhiasan berlian untukmu.
Tapi aku punya hadiah yang tidak ternilai untukmu yaitu hati dan jiwaku, juga janjiku untuk selalu setia padamu sampai kita menua bersama." Ujar Tuan Gunawan lembut.
"Aku juga berjanji tidak akan mengkhianati cinta kita dan siap melayanimu sebagai istrimu, melahirkan anak-anakmu dan menjaga Inggit sepenuh hatiku." Ujar Lea.
"Terimakasih Lea! sudah melepaskan status dudaku dan kembali menjadi seorang suami untuk Nyonya Lea."
__ADS_1
Keduanya saling berpelukan erat dan mulai melepaskan masa lajang dan duda mereka di atas pesawat yang sedang terbang menembus angkasa menuju negara Paris.
...----------------...
Dalam sekejap Tuan Gunawan sudah melempar semua pakaian yang melekat ditubuhnya. Dengan semangat ia menghampiri Lea yang sedang menggoda dirinya dengan pose yang menantang seakan saat ini, Lea sedang memperagakan gaun tidur diatas kasur empuk.
"Sayang! Kamu sangat cantik, imut dan menggemaskan. Aku tidak sabar untuk bercinta denganmu. Aku merasa ini seperti mimpi bagiku Lea."
Lea tersenyum malu, wajahnya bersemu merah dengan hati yang saat ini sudah memiliki satu taman bunga terindah yang sedang bermekaran.
Aroma wangi yang berasal dari tubuh Lea sangat merangsang suaminya untuk melakukan lebih.
Lea memiliki perawatan tersendiri untuk tubuhnya. Perawatan kecantikan yang dilakukan dari dalam dengan meminum jamu tradisional Indonesia yang dibuat dalam kemasan. Ini sudah di lakukan sejak dulu semasa dirinya masih remaja hingga tumbuh menjadi wanita dewasa.
Jadi aroma itu berpengaruh pada tempat sensitifnya hingga membuat suaminya tidak jenuh berada di bawah tubuhnya. Bukan hanya khasiat yang dihasilkan dari ramuan herbal itu yang menjadi masalahnya, rasa sempit dan cengkraman hingga sang suami merasa sangat beruntung mendapatkan gadis tulen ini. Dan rasanya tuan Gunawan makin mabuk kepayang saat mendapatkan kesuciannya Lea. Ia seakan tidak ingin berhenti bercinta dan terus meminta lebih pada sang istri untuk terus melakukan penyatuan tubuh mereka.
Tuan Gunawan mengatupkan rahangnya melihat ekspresi menggoda milik istrinya.
"Kamu akan aku lahap sayang." Ucap tuan Gunawan lalu melu**t bibir istrinya dengan sangat rakus.
Pagutan bibir itu menyusup masuk ke dalam rongga mulut istrinya. Kedua tangannya mengusap squishi yang sangat sekang lagi lembut yang terdapat di bawah punggung istrinya yang terlihat sangat indah dan bahenol.
Permainan panas itu berlangsung seru siang itu. Erangan dan lenguhan panjang terdengar bersama dengan gemuruh mesin pesawat yang sudah mengangkasa membawa keduanya ke langit biru.
"Kamu gila sayang, ucap tuan Gunawan, karena permainan panas siang itu lebih dikuasai oleh Lea. Kebahagiaannya terasa sempurna karena merayakan bulan madunya bersama sang istri dengan hadiah yang begitu hebat yaitu mendapatkan Lea yang masih suci.
Pelayanan yang di berikan Lea di luar dari ekspektasinya karena baru saja menjadi pengantin baru, gadis ini, sudah memberikannya kepuasan yang tiada Tara.
Sesi kedua dan ketiga sudah mereka lalui. Kini keduanya kembali beristirahat dengan tetap dalam keadaan tubuh yang masih polos kecuali selimut yang menutupi setengah tubuh mereka.
"Ternyata merayakan bulan madu diatas awan lebih nikmat ya, sayang." Ujar Tuan Gunawan dengan nafas tersengal.
"Karena kamu sudah berhasil menikahi aku makanya lebih berkesan sayang." Ujar Lea.
"So pasti cantik, kamu tak akan pernah tergantikan. Aku rela melakukan apapun asalkan tetap bersamamu sampai menjelang ajal ku." Ujar Tuan Gunawan penuh makna.
"Sayang! Aku sangat lelah, apakah aku boleh tidur?" Tanya Lea sambil menguap beberapa kali dengan mata yang tidak bisa lagi diajak kompromi.
"Astaga! maafkan aku sayang sudah membuatmu kelelahan. Sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu." Ujar Tuan Gunawan lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
Lea tidak mampu lagi menyahut perkataan suaminya karena ia ingin menikmati perjalanan pesawat menuju benua Eropa, di mana tempat mereka menghabiskan waktu untuk bulan madu.
__ADS_1
Walaupun istrinya sudah terlelap tidur, tuan Gunawan masih saja membenamkan wajahnya di dada sekang milik sang istri. Wangi segar bunga mawar yang terdapat di tubuh istrinya membuatnya makin betah berlama-lama di sana.
...---------------- ...
Dua hari beristirahat di dalam kamar hotel, membuat Lea mulai merasa sangat bosan dengan aktifitas bulan madunya. Gadis ini mulai merengek untuk jalan-jalan melihat kota Paris terutama menara Eiffel.
Tuan Gunawan mengerti dengan jiwa muda Lea yang masih ingin bersenang-senang. Ia harus membiasakan dirinya dengan kemauan Lea dan tidak ingin memaksakan kehendaknya.
Perbedaan usia sekitar tujuh tahun antara Lea dan tuan Gunawan, membuat lelaki ini harus siap menerima resiko menjadi lelaki pencemburu.
Menikah dengan gadis muda dan cantik menjadi tantangan tersendiri untuk tuan Gunawan. Seperti yang terjadi pagi ini.
"Mas Gun! Ayo kita jalan-jalan." Rengek Lea manja saat keduanya sudah menyelesaikan sarapan mereka.
"Baiklah sayang. Kita akan jalan-jalan hari ini. Sekarang bersiaplah, dalam sepuluh menit kita akan berangkat menuju ke menara Eiffel." Ujar tuan Gunawan sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa jalan-jalan keliling kota Paris." Ucap Lea kegirangan.
"Aku tunggu ya sayang, jangan pakai lama!" Pinta tuan Gunawan.
Lea memilih baju yang akan ia kenakan hari ini. Baju berwarna biru tua dan celana jins di padukan dengan Coat hitam merubah dirinya menjadi sangat elegan dengan rambut yang yang dicepok indah, hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Polesan makeup lembut makin mempercantik tampilan wajahnya yang sedikit lebih ceria hari ini.
Pintu kamar ganti dibuka lagi oleh tuan Gunawan untuk menjemput istrinya yang sudah siap dalam sepuluh menit sesuai dengan permintaan lelaki tampan ini.
Sesaat jantung tuan Gunawan hampir copot melihat wajah cantik Lea yang sudah bermake-up itu.
"Sial!" Kenapa dia berdandan sangat cantik hari ini?"
Tuan Gunawan tidak terlalu suka jika Lea tampil terlalu cantik di depan umum. Entah mengapa, hatinya merasa sangat cemburu jika ada lelaki lain yang akan menatap gadis ini nantinya.
Tuan Gunawan mendekati istrinya lalu melepaskan penjepit rambut milik Lea, hingga membuat rambut itu kembali tergerai.
"Apa yang mas Gun lakukan? Aku tidak suka rambutku dilepas dan akan diterpa angin ketika berada di atas menara Eiffel nanti." Omel Lea yang tidak terima perlakuan suaminya tatanan rambutnya yang sudah ia rapikan sejak tadi.
"Jika ingin jalan bersamaku jangan pernah menjadikan dirimu menjadi pusat perhatian orang lain." Timpal tuan Gunawan dengan wajah mengeras menahan amarah.
"Sayang! Apakah kamu tidak nyaman aku berdandan cantik untukmu hari ini?" Tanya Lea saat melihat perubahan ekspresi wajah suaminya berubah kecut.
"Aku mau kamu berdandan cantik untuk aku saja sayang. Kamu bisa melakukannya bukan?"
__ADS_1
"Apakah aku terlalu cantik hingga membuat sikapmu berubah posesif? Apakah mas Gunawan memperlakukan mendiang istri mas sama seperti mas memperlakukan aku hari ini?" Tanya Lea penuh selidik..
Deggggg..