
Tuan Noah terhenyak mendengar penuturan tuan Gunawan yang spontan melamar adik kandungnya Lea.
Pun juga bagi seorang kakak yang sudah merawat adiknya seperti anak kandung sendiri, tentunya ingin memberikan yang terbaik untuk adik tercinta.
Memang tidak yang kurang dalam diri tuan Gunawan, hanya saja Tuan Noah merasa status duda sepertinya tidak pantas untuk adiknya yang masih perawan tulen.
Tapi ia juga tidak menampik, jika ia sendiri mendapatkan istrinya Cinta juga seorang perawan tulen.
"Ya Allah, apakah begini rasanya jika kita mendapatkan ujian kebahagiaan dengan seseorang yang tidak kita inginkan dia hadir dalam hidup kita?" Batin Tuan Noah.
"Bagaimana Tuan Noah? Apakah anda mau menerima pinangan ku pada adikmu Lea?"
Tuan Gunawan mengulangi lagi pertanyaannya.
"Maafkan saya Tuan Gunawan! Bukan hak saya untuk menerima pinangan anda pada Lea. Tapi hanya Lea yang bisa menentukan pilihan hidupnya karena dia yang akan menjalani rumah tangganya bukan aku.
Tugasku hanya menikahkan dirinya dengan lelaki yang disukainya." Ujar Tuan Noah seakan menolak halus pinangan tuan Gunawan.
"Baiklah. Aku akan meminta jawaban langsung dari adikmu Lea." Ujar tuan Gunawan tidak mau menyerah.
"Silahkan tuan Gunawan!"
Ujar Tuan Noah dengan berat hati.
Keduanya bersalaman dan berpisah untuk menuju perusahaan miliknya masing-masing. Tuan Noah langsung menghubungi adiknya Lea.
Lea yang sedang menggendong baby Davin menggambil ponsel di kantongnya. Ia menyerahkan keponakan pada ibu Endang yang sedang duduk bersamanya di taman.
"Sebentar Bu! Lea mau terima telepon dulu dari kak Noah." Ujar Lea seraya menyerahkan Baby Davin ke pangkuan ibu Endang.
Lea segera menjauh dan sambil mengucapkan salam kepada kakaknya Noah.
"Ada apa kak?"
"Lea! Dengarkan perkataan kakak baik-baik. Mungkin saat ini tuan Gunawan sedang menuju rumah kita atau akan menghubungi kamu langsung."
'Memangnya dia mau apa kak?"
"Dia tadi menemui ku di sekolah anak-anak kami dan tiba-tiba saja melamar kamu padaku."
"Lalu..?"
"Aku tidak bisa menjawab pinangannya karena aku tidak bisa menjawabnya begitu saja tanpa bertanya kepadamu terlebih dahulu."
"Bagaimana menurut kakak tentang tuan Gunawan? Apakah kakak menyukainya?"
"Mungkin hubungan ini hanya sekedar teman atau sahabat, aku tidak masalah. Tapi kalau hubungan ini berlanjut hingga tingkat keluarga dekat jelas aku keberatan Lea." Ujar Tuan Noah terus terang.
"Lho! Kenapa?"
"Aku tidak mau kamu menikah dengan seorang duda yang sudah memiliki anak!"
Duaaarrr..
"Bukankah kak Noah juga mendapatkan kak Cinta seorang gadis tulen? kenapa denganku kakak malah melarang aku menikah dengan tuan Gunawan yang berstatus sama dengan kak Noah?" Protes Lea sengit.
"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu Lea. Kaku bisa mendapatkan seorang lelaki bujang atau perjaka tanpa dibebani dengan seorang anak." Ujar Tuan Noah tegas.
"Apakah kak CINTA pernah menolak pinangan kakak dengan alasan yang sama seperti yang kak Noah utarakan kepadaku?"
"Tentu saja tidak LEA!"
"Lantas kenapa kakak menjadi egois seperti ini?"
"Turuti kemauan kakak atau jangan mengganggap aku kakakmu lagi!" Ancam Tuan Noah serius.
"Kakak!" Pekik Lea protes dengan kakaknya.
Tutttt..
Sambungan dimatikan secara sepihak oleh Tuan Noah.
"Akhhhhkkk!" Teriak Lea frustrasi.
Baru saja Lea ingin menaiki tangga, tiba-tiba tuan Gunawan sudah menyapanya. Tanpa pikir panjang, Lea menarik tangan tuan Gunawan keluar dari rumahnya.
"Mas Gun mau bicara denganku, bukan?"
"Iya Lea!"
"Lebih baik kita bicara di luar! Bawa aku ke mana saja yang tidak ngobrol di rumah ini." Ujar Lea terlihat membangkang permintaan kakaknya.
__ADS_1
"Baiklah."
Tuan Gunawan membuka pintu mobilnya dan membawa pergi Lea entah ke mana.
"Kita mau ngobrol di mana Lea?"
"Terserah mas Gun saja!" ujar Lea pasrah.
"Apakah ada masalah Lea?"
Lea menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Gadis ini akhirnya menangis juga.
Tuan Gunawan menepikan mobilnya di tepi jalan yang masih berada di dalam komplek perumahan milik Tuan Noah.
"Ada apa Lea?" Tanya tuan Gunawan yang belum mengerti dengan arti tangisnya Lea.
"Jalani lagi mobilnya mas! Jangan berhenti di sini!"
Pinta Lea makin gusar.
"Baiklah. Kamu sangat membuatku takut." Ujar tuan Gunawan cemas.
"Apakah aku boleh ke rumahmu?"
"Lebih baik kita ke apartemen aku saja. Apartemen aku lebih dekat dari sini. Sebentar lagi sampai, apakah kamu mau?"
"Hmm!"
Lea menarik nafas berat. Penolakan kakaknya Noah pada pinangan tuan Gunawan membuatnya merasa sangat tidak adil. Dan payahnya, dia juga sedang jatuh cinta pada tuan Gunawan. Ia tidak bisa mengingkari hatinya saat ini sekalipun semalaman dua sudah berusaha melawan perasaan sukanya dengan alasan-alasan yang cukup logis sebagai gadis perawan yang bisa mendapatkan lelaki singel.
Setibanya di kamar apartemen tuan Gunawan, Lea menghempaskan tubuhnya di sofa dan menangis di sana.
Tuan Gunawan mendekati gadis itu dengan hati-hati.
"Ada apa sebenarnya Lea?"
"Kenapa tingkah mu tiba-tiba aneh dan pergi begitu saja dari rumah tanpa pamit pada orang rumah?"
"Cukup pelayan yang tahu aku pergi dengan mas Gunawan."
"Ok, sekarang, kamu bisa jelaskan apa yang terjadi, hmm?" Tanya tuan Gunawan yang duduk bawah sofa panjang yang sudah tiduri Lea.
"Maksudmu..?"
"Dia tidak menyetujui hubungan kita?"
"Apakah karena status aku duda?"
Lea hanya mengangguk sedih.
"Bagaimana dengan perasaanmu sendiri padaku Lea?"
"Aku menyukaimu?" Ungkap Lea jujur.
"Lea!"
Tuan Gunawan meminta Lea untuk duduk supaya ia bisa mengungkapkan perasaannya.
"Aku juga sama sepertimu. Semalaman aku berpikir bagaimana caraku untuk melamarmu dan mendapatkanmu tanpa ada pertentangan keluarga karena perbedaan status kita.
Tapi, aku bisa menjamin hidupmu, kalau aku bisa membahagiakan kamu seperti pria bujangan. Aku tidak akan membedakan kamu dan Inggit.
Cintaku pada kalian sama nilainya. Aku harap kamu tidak meragukan perasaanku Lea, kalau aku saat ini sedang jatuh cinta padamu." Ungkap tuan Gunawan tulus.
"Apakah karena mas Gunawan sudah melihat tubuhku?"
"Itulah alasannya yang membuat jantungku berdetak kencang saat menyaksikan keberuntungan dalam hidupku melihat wanita baik-baik sepertimu dengan memakai bikini dan kamu terlihat sangat se*si." Ucap tuan Gunawan sambil mengulum senyumnya.
"Cih! Kamu hampir membuatku pingsan kemarin. Dasar lelaki nggak sopan!" Umpat Lea sambil cemberut.
"Kalau nggak dilihat, sayangkan mubasir." Goda tuan Gunawan makin membuat wajah Lea sudah seperti tomat saat ini.
Lea mengalihkan pandangannya ke samping karena tidak berani menatap wajah tampan ayah dari satu anak ini. Tuan Gunawan menarik dagu Lea untuk menatapnya.
"Lea!"
Tatap aku sayang! Apakah kamu mencintaiku?"
Tuan Gunawan ingin memastikan perasaan Lea kepadanya..
Lagi-lagi Lea hanya mengangguk. Tuan Gunawan memperhatikan bibir sensual milik Lea. Ia ingin merasakan bibir kenyal seorang gadis perawan.
__ADS_1
Lea memejamkan matanya. Membiarkan tuan Gunawan memagut bibirnya. Lea merasakan sentuhan pertama kali bibir lelaki pada bibirnya karena sebelumnya ia tidak pernah mengijinkan kekasihnya yang dulu untuk menciumnya karena lelaki itu tidak serius dengannya.
Tapi dengan tuan Gunawan, ia yakin kalau jodohnya adalah duda satu anak ini. Lama keduanya saling menyesap kan bibir mereka dan saling menautkan lidah untuk bertukar saliva.
Entah sejak kapan, Lea sudah duduk di pangkuan tuan Gunawan agar bisa berciuman dengan lebih agresif. Lea bisa menyesuaikan permainan lidah mereka yang terasa hangat dan memabukkan.
"Lea!"
Suara berat milik tuan Gunawan yang sudah bercampur syahwat saat ini.
"Apakah kamu ingin melakukannya?" Tanya tuan Gunawan terlebih dahulu untuk meminta ijin pada pemilik tubuh.
"Jika dengan cara hamil, hubungan kita akan direstui kakak ku, kenapa kita tidak melakukannya saja?" Ujar Lea pasrah.
"Apakah kamu tidak menyesal sayang?" Tanya tuan Gunawan dengan suara makin tercekat.
Alih-alih untuk menjawab pertanyaan sang kekasih, Lea nekat membuka kausnya hingga memperlihatkan sepasang Squishi yang menjadi aset berharganya.
Bagai kucing kelaparan, tuan Gunawan melahap aset itu dengan naluri kelelakiannya.
Walaupun Lea terlihat pasrah dan ingin memberikan segalanya untuk kekasihnya, namun tuan Gunawan tidak ingin memanfaatkan kelemahan Lea.
"Aku akan melakukannya saat sudah mendapatkanmu dengan halal. Aku tidak mau mengkhianati kakakmu, Tuan Noah, Lea. Aku tidak ingin mendapatkan kebencian nya.
Kita hanya bisa melakukan sebatas ini saja." Ucap tuan Gunawan sudah mampu mengendalikan dirinya lagi.
Ia membantu Lea memakai kembali bera milik Lea dan kaos gadis itu.
"Bagaimana kalau kakakku tetap menolakmu?"
"Kita kawin lari."
"Bagaimana kalau mengurungku dan tidak boleh kita bertemu lagi?"
"Katakan kepadanya kalau kita sudah tidur bersama, dengan begitu dia akan menyetujui hubungan kita."
"Bukankah tadi kamu tidak ingin melakukannya? karena tidak ingin mengkhianatinya, sekarang kenapa harus berbohong?"
"Berbohong demi kebaikan tidak apa Lea. Setidaknya kita tidak benar-benar melakukannya."
"Kenapa tidak mau? apa bedanya hari ini dan nanti?"
"Yang halal itu lebih nikmat daripada seperti kucing yang sedang maling makanan dan itu tidak membuatnya tenang untuk menikmati makanan hasil curiannya. Ia akan makan tapi sambil melirik kiri kanan takut pemiliknya datang." Terang tuan Gunawan.
Honey mengerti dengan ucapan kekasihnya tapi, gadis itu masih candu dengan ciuman dahsyat seorang duda tampan ini.
"Kalau ciuman saja tidak apakan?"
"Apakah kamu menyukainya, sayang?"
"Hmm!"
Keduanya kembali tenggelam dalam ciuman hangat itu. Namun tidak seagresif tadi karena sudah melibatkan naluri mereka sebagai manusia normal yang membutuhkan perlakuan lebih dalam percintaan.
Sementara di mansion milik Tuan Noah, Cinta baru sadar kalau sejak tadi ia tidak melihat adik iparnya Lea.
"Mama! Apakah mama melihat Lea?"
"Tadi habis terima telepon dari suamimu lalu marah-marah nggak jelas gitu." Ujar ibu Endang.
"Marah..? Kenapa Lea tiba-tiba marah? Selama ini hubungan kakak adik itu baik-baik saja, kenapa tiba-tiba marah? apa yang terjadi?" Tanya Cinta bingung.
"Entahlah sayang!"
"Maaf nyonya muda! Tadi nona Lea pergi dengan tuan Gunawan, ayah dari nona Inggit." Ujar bibi Lusy.
"Hahh..? sejak kapan keduanya bisa akrab dan apa hubungannya dengan semua ini?" Tanya Cinta makin merasa bingung.
"Sebaiknya, kamu tanya suamimu saja Cinta, mungkin dua tahu sesuatu." Ujar ibu Endang memberi solusi.
"Iya, mama benar lebih baik aku menghubungi Noah."
"Ada apa sayang? kenapa kamu mau menghubungi aku, hmm?" Tuan Noah sudah berada di balik punggung istrinya membuat cint9 tersentak.
"Astaga! Kamu bikin kaget saja." Kesal Cinta.
"Kamu lagi cari siapa?"
"Jelas cari adikmu Lea. Dari pagi hingga sore ini Lea tidak terlihat di rumah dan kata bibi Lusy, Lea pergi dengan Tuan Gunawan." Ujar Cinta membuat Tuan Noah langsung terperanjat di tempatnya.
Deggggg...
__ADS_1