My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)

My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)
38. KESEPIAN


__ADS_3

Sudah hampir dua pekan, Inggit tidak ingin masuk sekolah. Ia hanya menghabiskan waktunya di rumah bersama kucing kesayangannya. Tuan Gunawan juga tidak ingin ke perusahaan, semuanya ia serahkan kepada asistennya yang mengurusnya.


Honey hanya menatap kosong tempat tidur Inggit yang ada di seberang tempat tidurnya.


"Apakah saat ini kamu masih tidak ingin meninggalkan kesedihanmu sama sekali, Inggit? biar kamu mengurung dirimu selamanya di rumahmu, ibumu tidak akan hidup lagi Inggit." Gumam Honey lirih.


"Honey! Kenapa kamu tidak tidur?" Tanya Siren.


"Aku kangen sama Inggit." Ujar Honey sendu.


Semua temannya yang lain menghampiri Honey dan duduk di tempat tidur Honey dan di depan tempat tidurnya Inggit.


"Apakah Inggit sangat sedih saat kehilangan ibunya?" Tanya Siren.


"Itu pasti Siren. Aku memang tidak begitu mengenal ibuku saat beliau meninggal tapi aku merasakan kehampaan setiap kali pulang ke rumah tidak punya ibu.


Saat aku berkunjung ke tempat pariwisata dan melihat ada yang sedang manja dengan ibunya saat meminta sesuatu, itu juga sangat menggangguku. Aku selalu merasa sesak saat aku ingin bicara dengan ibuku hanya mengatakan aku sangat mencintainya itupun setahun sekali saat ziarah bersama ayah dan Tanteku." Ujar Honey.


"Berarti sangat berat bagi Inggit kehilangan ibunya saat ia sudah memiliki banyak kenangan bersama ibunya." Ujar Zahwa.


"Makanya kalian yang masih punya ibu, harus lebih menyayangi ibu kalian dan banyak berdoa agar kalian ditemani sampai kalian dewasa." Nasehat Honey tulus.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu ku untuk selalu membuat ibuku tersenyum." Ujar Sarah haru.


"Aku juga!"


"Aku juga!"


Honey merentangkan kedua tangannya agar teman-temannya memeluknya. Semuanya menangis bersama karena merasakan bagaimana perasaan Inggit saat ini yang telah kehilangan ibunya.


Ibu Cintya dan guru lainnya yang ingin memeriksa keadaan siswa terlihat haru menyaksikan secara diam-diam adegan mengharukan itu.


"Oh Honey! Dua tahu cara untuk membuat teman-temannya mencintai ibu mereka. Anak pintar. Pantas saja ibu Cinta langsung jatuh cinta padanya dan mau menerima pinangan Tuan Noah." Ujar ibu Dea.


"Alhamdulillah. Kita punya murid-murid yang mengagumkan. Satu temannya yang berduka bisa mengubah pandangan mereka tentang pentingnya seorang ibu. Semoga setelah Inggit, tidak ada lagi duka yang sama yang dirasakan oleh siswa lainnya." Ujar ibu Cintya sambil menyeka air matanya.


"Lebih baik kita tinggalkan mereka, lagi pula besok mereka akan weekend." Lanjut ibu Cintya.


"Baik Bu."


Ibu Amanda menutup lagi pintu kamar anak-anak dengan rapat.


Sementara di dalam sana Honey dan teman-temannya sudah kembali ke tempat tidur mereka masing-masing dan mulai membaca doa sebelum berangkat tidur.


Honey tersenyum dan mengucapkan banyak syukur kepada di Allah karena telah menggantikan ibu kandungnya yang telah meninggal dunia dengan ibu Cinta yang sangat penyayang.


Anak-anak itu sudah masuk ke alam mimpi mereka.


...----------------...


Keesokan harinya, ketika dijemput ayahnya Tuan Noah, Honey meminta ayahnya untuk mampir ke rumah Inggit.


"Ayah!"


"Hmm!"


"Apakah kita bisa mampir ke tempatnya Inggit sebentar?"


"Lho! bukankah Inggit tadi juga sekolah, kenapa masih ingin bertemu dengannya?" Tanya Tuan Noah merasa heran.


"Sampai saat ini, Inggit belum masuk asrama sejak ibunya tiada, ayah." Ujar Honey sedih.

__ADS_1


"Astaga! Apakah ayahnya tidak mengantarkan ia ke sekolah?" Tanya Tuan Noah pada putrinya.


"Itulah sebabnya Honey ingin mencari tahu sendiri informasinya ayah."


"Baiklah. Kita akan mencoba mencari tahu keadaan mereka." Tuan Noah mendukung permintaan putrinya.


Setibanya di depan pintu pagar mansion milik Inggit, pagar itu langsung dibuka oleh penjaga. Tuan Noah masuk dengan mobilnya ke dalam dan parkir di halaman rumah tuan Gunawan.


Rumah besar itu seperti kuburan. Tidak ada kegiatan apapun di dalamnya dan tinggal beberapa pelayan yang masih bertahan di dalam sana untuk melayani tuan Gunawan dan putrinya Inggit.


"Apakah tuan Gunawan ada di rumah?"


"Ada tuan! Beliau sedang duduk di depan kolam renang." Ujar kepala pelayan.


"Apakah saya dan putri saya boleh bertemu dengan tuan Gunawan dan putrinya Inggit?"


"Silahkan duduk dulu tuan! Saya harus menanyakan dulu pada keduanya." Ujar kepala pelayan itu hati-hati.


"Terimakasih!"


Tuan Noah memangku putrinya Honey sambil menatap foto keluarga milik tuan Gunawan.


"Ayah!"


"Iya sayang."


"Kalau diijinkan, aku ingin mengajak Inggit menginap di rumah kita. Bolehkah?"


"Boleh sayang, yang penting Inggit diijinkan ayahnya untuk menginap di rumah kita.


"Honeyyyy..!" Panggil Inggit sangat senang melihat kedatangan teman baiknya itu.


Tidak lama tuan Gunawan juga menghampiri Tuan Noah yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Tuan Noah!"


"Tuan Gunawan!"


Keduanya berpelukan dan di saat itu, tuan Gunawan merasa Tuan Noah lebih peduli padanya dan mau menjenguknya saat ia masih belum move on dari kematian istrinya. Sementara kolega dan sahabatnya yang lain pada menjauh.


"Bagaimana, masih sedih?" Tanya Tuan Noah tanpa basa-basi.


"Huhhf! Tuan Gunawan menghembuskan nafasnya berat.


"Sangat sakit Tuan Noah! Rasanya jiwaku ikut terkubur bersama jasad istriku." Ungkap tuan Gunawan apa adanya.


"Aku mengerti tuan Gunawan tapi kita juga harus memikirkan masa depan putri kita yang butuh perhatian. Pendidikannya jadi terganggu dan kehidupan sosialnya menjadi kurang sehat.


Kalau di ijinkan, boleh aku membawa Inggit menginap di rumahku? mungkin dengan banyak bercerita dengan Honey, ia akan terhibur." Ujar Tuan Noah.


"Apakah tidak merepotkan keluarga kalian? lagi pula Tuan Noah sendiri punya bayi, aku takut Inggit akan menyusahkan nyonya Cinta di sana." Ujar tuan tidak enak hati.


"Di rumahku ada ibu mertua dan adikku Lea jadi banyak orang dewasa di dalam rumahku yang akan menjaga Inggit dan Honey." imbuh Tuan Noah.


"Baiklah Tuan Noah! Terimakasih atas kebaikan anda. Salam untuk keluarga."


"Ayah!" Apakah Inggit boleh menginap di rumah Honey? Honey meminta Inggit menginap di rumahnya."


"Boleh sayang! Tapi dengan satu syarat, kamu tidak boleh menyusahkan Keluarga sahabatmu Honey." Ujar tuan Gunawan.


"Terimakasih ayah! Inggit sayang ayah. Ayah tidak apakan Inggit tinggal?"

__ADS_1


"Insya Allah, ayah tidak akan macam-macam di rumah." Ujar tuan Gunawan meyakinkan putrinya.


Pelayan sudah menyiapkan koper untuk Inggit karena akan menginap selama dua hari. Tuan Noah memasukkan koper milik Inggit di dalam bagasi mobilnya.


Tuan Gunawan melepaskan kepergian sang putri bersama sahabatnya Honey. Sesaat Inggit melupakan kesedihannya. Ia sangat senang mendengar Honey yang selalu bicara hal yang lucu dan itu membuatnya terus tertawa.


"Honey! sepertinya kamu punya bakat ngelawak deh. Dari tadi aku tertawa terus mendengarkan ocehan kamu yang sangat lucu." Ujar Inggit cekikikan.


"Benarkah? Kalau begitu aku akan daftar sebagai peserta pertama untuk mengikuti audisi ngelawak." Ujar Honey antusias.


Tidak terasa mereka sudah tiba di rumah Honey. Jarak tempuh rumah Honey dengan rumah Inggit hanya memakan waktu 20 menit. Honey segera turun bersama Inggit. Gadis ini kembali menjadi pendiam saat berhadapan dengan keluarga Honey. Walaupun begitu ia tidak asing lagi dengan keluarga Honey. Selain ibu Cinta yang pernah menjadi mantan gurunya, ia juga sangat mengenal Tante Lea. Hanya ibu Endang yang baru ia temui.


"Kenalkan ini nenek aku, ibu kandungnya ibu Cinta." Ucap Honey.


"Nenek! Ini temanku Inggit, dia akan menginap di sini." Ucap Honey.


Inggit menyalami ibu Endang dan ibu Endang mengusap kepala Honey.


"Hei sayang, Inggit! selamat datang di kediaman Honey! sambut Cinta pada Inggit yang tersenyum samar pada mantan gurunya.


"Maaf ibu Cinta! Apakah Inggit boleh menginap di sini?" Tanya Inggit ragu-ragu.


"Tentu boleh sayang! Anggap saja rumah sendiri ya. Ibu senang kalian dekat dan saling berbagi kesedihan dan kesenangan." Ucap ibu Cinta hangat.


"Ayo Inggit kita ke kamar aku!" Ajak Honey sambil menggandeng tangan Inggit.


Pelayan membawa koper Inggit ke dalam kamar Honey. Cinta mencium punggung tangan suaminya.


"Apakah kalian sengaja ke rumahnya Inggit ?" Tanya Cinta.


"Iya sayang. Rupanya gadis itu sudah dua Minggu tidak masuk sekolah. Dan ketika tiba di rumahnya, semuanya terlihat sangat menyedihkan.


Inggit terlihat tak terurus dan penampilan ayahnya dengan jambang yang lebat dan rambut awut-awutan. Mata keduanya sama-sama sembab dan bengkak.


Ketika Honey meminta ijin padaku untuk membawa Inggit untuk menginap di sini, aku langsung setuju." Ucap Tuan Noah.


"Ya Allah! Kasihan sekali Inggit dan ayahnya tuan Gunawan. Apakah dulu kamu seperti itu juga sayang?" Tanya Cinta sambil membuka dasi dan sepatu suaminya.


"Karena aku ada di posisi yang sama dengan tuan Gunawan, makanya aku hanya bisa melakukan hal yang meringankan bebannya saja sayang dengan mengajak putrinya menginap."


"Semoga tuan Gunawan tidak berbuat aneh-aneh saat sendirian di rumahnya." Timpal Cinta.


"Aku sudah meminta pelayan untuk mengawasi tuan Gunawan untuk tidak berbuat nekat di saat pikirannya kalut."


"Ya Allah, sayang! Berapa lama kamu bisa move on untuk bisa memperbaiki hidupmu lagi, sayang?"


"Saat aku pertama kali melihat seorang gadis yang menuduhku seorang penculik dan rela memberikan ponselnya padaku asal tidak membawa pergi muridnya." Sindir Tuan Noah membuat istrinya tersipu malu.


"Kamu bisa saja."


"Benar sayang! jika aku tidak bertemu dengan dirimu, aku tidak tahu cara untuk merubah kehidupanku untuk melihat lagi indahnya dunia ini.


"Terimakasih Noah! Karena sudah memilih aku untuk menjadi ibunya Honey." Ujar Cinta sambil menatap wajah tampan suaminya.


"Kadang Allah mengambil sesuatu yang kita anggap sangat berharga dalam hidup kita, ternyata Allah ingin memberikan lagi yang terbaik untukku.


Seorang gadis tulen yang sangat cantik dan sangat tulus dalam memberikan perhatian dan cintanya pada putriku Honey.


Cinta untuk sayang, my love for my Honey." Ujar Tuan Noah tersenyum manis pada sang istri.


Tangannya lebih mengeratkan untuk memeluk sang istri dan memagut bibir ranum Cinta penuh kasih. Keduanya melakukan pemanasan terlebih dahulu sore itu hingga menuju ke permainan panas.

__ADS_1


__ADS_2