My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)

My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)
12. Rekreasi Ke Puncak


__ADS_3

Honey berbicara dengan ayahnya di telepon. Gadis kecil ini menyampaikan kegiatan ekstrakurikuler sekolah mereka di akhir tahun untuk menyambut liburan. Awalnya Tuan Noah menolak permintaan putrinya.


Honey mengancam akan mogok makan jika ayahnya tidak mau menemaninya di puncak dan menggantikan dengan tantenya Lea.


"Ayah!" Tante Lea itu hanya tanteku, bukan orangtua kandungku. Ayahku hanya kamu, bukan yang lainnya. Jika ibuku masih hidup aku tidak akan merengek seperti pengemis dihadapanmu ayah.


Harusnya ayah mencekik aku sampai mati saat aku masih bayi, dengan begitu aku tidak akan merepotkan ayah dan mengusik kesibukan pekerjaan ayah." Ucap Honey sambil menahan tangisnya.


Degggg....


Baik ibu Cinta maupun ibu Cintya tersentak mendengar ucapan Honey yang menyayat hati. Siapapun yang mendengar ucapan gadis malang ini pasti ikut menangis.


Tuan Noah menarik nafas berat. Perkataan putrinya seakan menyiratkan banyak makna di dalamnya. Kalau dia terus memikirkan egonya, maka ia akan kehilangan putri satu-satunya yang menguatkan hidupnya saat ini setelah kehilangan istrinya.


"Ayah! Kenapa diam? apakah ayah ingin Honey mogok makan terus mati, begitu?"


"Ought! Jangan sayang!" Cegah Tuan Noah buru-buru.


"Lalu, bagaimana dengan permintaan Honey?"


"Baiklah! Ayah akan menemanimu tapi tidak dari awal berangkat, ayah akan menyusulmu ke sana." Ucap Tuan Noah.


"Baiklah! Tidak masalah, yang penting ayah hadir di momen bahagia Honey." Ucap Honey sambil menahan tawanya.


Gadis mungil itu melakukan tos dengan kepala sekolah dan ibu Cinta karena sudah berhasil mengelabui ayahnya.


"Sekali-kali kerjain ayah, tidak apakan kepala sekolah?" Tanya Honey sambil mengedipkan sebelah matanya pada kepala sekolah yang tercengang mendengar pertanyaannya.


"Hooh!" Ujar kepala sekolah sambil mengangguk.


Honey berjalan sambil berjingkrak dengan riang. Ibu Cinta segera tunduk hormat dan pamit dari hadapan kepala sekolah. Ia segera menyusul murid kesayangannya itu.


"Honey!" Panggil ibu Cinta membuat Honey menghentikan langkahnya.


"Apakah ibu Cinta ingin bertemu dengan ayahku?" Goda Honey sambil mengusap wajah ibu Cinta yang sedang berdiri sejajar dengan tingginya.


"Kamu adalah gadis pintar dan sangat nakal, sayang!" Ujar ibu Cinta sambil mencolek hidung mancung Honey.


"Selama ini, Honey selalu mengalah pada ayah, ibu Cinta. Setiap momen berharga milik Honey, selalu terlewatkan oleh ayah karena adanya Tante Lea yang bisa menggantikannya." Ucap Honey dengan wajah kembali sendu.


"Sayang! Kadang kita tidak mengerti dengan urusan orang dewasa yang sulit ia tinggalkan karena memiliki ikatan perjanjian sebelumnya. Jika melanggar konsekuensinya, maka akan berdampak dengan perusahaan ayahmu." Ujar ibu Cinta memberi pengertian kepada Honey.


"Tapi, kata Tante Lea, saat mami masih ada, ayah selalu memprioritaskan waktunya untuk mamiku. Tapi semua berubah saat mami meninggal membuat ayah merasa jiwanya ikut terkubur bersama jasad mami.

__ADS_1


Itu yang dikatakan oleh Tante Lea kepadaku. Itulah sebabnya aku berusaha memahami ayah, tapi semakin di pahami, ayahku makin tidak tahu diri." Ucap Honey mengundang tawa ibu Cinta.


"Kamu ini, bisa saja jawabnya." Ujar ibu Cinta lalu mengajak Honey ke kamarnya.


Di perusahaan Tuan Noah, pria tampan ini segera membatalkan semua jadwal pertemuannya dengan beberapa relasinya.


Asisten pribadinya Aldo siap menjadwalkan ulang janji temu dan meeting dengan perusahaan lain.


"Apakah nona muda ngambek lagi Tuan Noah?"


"Begitulah! Sekarang pakai ancam segala. Dan aku tidak bisa meremehkan ancaman itu." Ujar Tuan Noah sambil mengutak-atik laptop miliknya.


"Baiklah Tuan Noah!" Semoga acara anda bersama dengan nona muda berjalan lancar." Ucap Aldo lalu meninggalkan ruang kerja milik Tuan Noah.


...----------------...


Hari yang ditentukan telah tiba. Sekitar sepuluh bis di siapkan untuk mengangkut siswa dan wali mereka menuju puncak Bogor.


Setiap bis di dampingi dua guru. Sementara itu, ibu Cinta mengabsen ulang nama siswa guna memastikan kehadiran siswa beserta wali mereka.


Honey terpaksa duduk bertiga dengan kedua guru kesayangannya yaitu ibu Dea dan ibu Cinta.


Doa perjalanan siap dibacakan oleh siswa bersama dengan guru mereka. Bis rombongan mulai bergerak menyusuri jalanan ibu kota untuk mencapai jalan bebas hambatan.


Permainan itu berlangsung seru dengan menebak nama binatang dan buah dengan menyebutkan ciri-ciri kedua jenis makhluk hidup itu.


Tidak terasa, bis mereka sudah memasuki wilayah puncak. Anak-anak istirahat sesaat untuk menikmati panorama alam puncak.


Honey terlihat mengantuk. Sementara ibu Cinta mengatur anak-anak lainnya, Ibu Dea menjaga Honey.


"Anak-anak, setelah tiba di villa, tolong jangan memisahkan diri. dengan wali kalian. Dan ibu Cinta akan mengabsen lagi ketika memasuki villa masing-masing sesuai dengan kelompok yang sudah di tentukan." Ucap ibu Cinta tegas.


"Baik ibu Cinta." Ucap anak-anak serentak.


"Ibu Cinta! Putriku sedang tidur, apakah aku harus membangunkannya?" Tanya Nyonya Rafika.


"Tidak usah nyonya! Anda bisa menggendong Chika dan baringkan ke tempat tidurnya sesuai nama kelompok yang tertera di pintu kamar mereka masing-masing." Ucap ibu Cinta.


Tepat pukul satu siang bis itu tiba di villa puncak Bogor dekat dengan taman safari. Semua siswa sudah berada di kamar mereka masing-masing. Makan siang dibagikan perkotak pada masing-masing anggota.


Makan bersama akan di adakan nanti malam saat pembukaan acara kegiatan ekstrakurikuler akhir tahun itu.


Hingga malam tiba, Tuan Noah belum datang juga hingga makan malam usai. Putrinya Honey masih setia menunggu di depan villa, saat teman-temannya bercengkrama dengan kedua orangtua mereka.

__ADS_1


"Ibu Cinta!"


"Iya Honey!"


"Aku ingin tunggu ayah di gerbang utama villa ini." Pinta Honey manja.


"Tapi itu lumayan jauh lho sayang!"


"Tidak apa! daripada menunggu di sini membuat aku bosan."


"Baiklah. Kita jalan santai saja sambil melihat mobil ayah."


"Mobil ayahku terlalu banyak dan aku tidak menghafal semua nomor platnya."


"Setidaknya ayahmu mengenali putrinya yang cantik ini." Ucap ibu Cinta lembut.


Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan. Tekstur jalan yang menanjak membuat mereka harus kuat mendaki lalu jalan itu kembali menurun mengikuti bentukan tanah.


Honey duduk berjongkok sebentar karena sudah mulai lelah.


"Sini sayang, naiklah ke punggung ibu Cinta!"


"Jangan! Nanti ibu Cinta kelelahan." Tolak Honey tidak enak hati.


"Tidak apa, asalkan Honey bahagia, lagian sedikit lagi kita hampir tiba di gerbang utama villa ini." Ucap ibu Cinta bohong.


Pintu gerbang utama itu masih lumayan jauh, karena Tidak tega pada Honey, ia harus berbohong.


Perjalanan kembali diteruskan. Ibu Cinta berusaha kuat menggendong Honey yang sedang bercerita tentang ayahnya.


Tuan Noah yang melihat dua sosok yang di kenalnya, menepikan mobilnya sambil menyembunyikan klakson mobilnya.


"Itu ayah! tolong turunkan Honey ibu Cinta!"


"Ayahhhh!" Panggil Honey sambil menghampiri ayahnya yang sudah turun dari mobilnya.


Honey segera berlari menuju ayahnya. Sementara ibu Cinta meninggalkan keduanya sambil berlari menghindari Tuan Noah.


Entah mengapa hatinya masih merasa sangat sakit pada Tuan Noah yang tiba-tiba mendiamkan dirinya.


"Mengapa ibu Cinta kabur?" Tanya Tuan Noah dengan polosnya.


"Bukankah ayah yang tidak ingin melihatnya? Mengapa sekarang ayah malah balik bertanya?" Kesal Honey.

__ADS_1


Degggg...


__ADS_2