My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)

My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)
46. Pulang


__ADS_3

Setelah cukup lama menikmati bulan madunya selama dua pekan, tuan Gunawan dan Lea memutuskan untuk kembali lagi ke tanah air.


Karena perjalanannya malam hari, membuat keduanya bisa istirahat sepanjang perjalanan. Jika Lea bisa memejamkan matanya dengan cepat, namun tidak dengan tuan Gunawan yang selalu terjaga sepanjang malam hanya untuk menatap wajah cantik Lea.


Walau sekuat apapun ia berusaha untuk terjaga, pada akhirnya ia kembali terlelap di samping istrinya sambil merasakan aroma bunga mawar pada dada istrinya seperti aroma terapi untuk dirinya.


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya pesawat mereka tiba juga di tanah air. Karena tiba di Indonesia juga masih malam, tuan Gunawan tidak tega membangunkan istrinya.


Duda satu anak ini, sangat hati-hati menggendong tubuh sang istri untuk turun dari pesawat menuju mobil yang sudah siap di samping pesawatnya.


"Selamat malam tuan!" sapa sopir pribadinya.


"Malam Heru!"


Tuan Gunawan masuk perlahan ke dalam mobil dan membaringkan tubuhnya Lea. Ia kembali menempelkan kepala Lea ke dada bidangnya agar gadis ini merasa nyaman.


Sopir pribadinya yang melihat tingkah tuan Gunawan pada istrinya barunya tersenyum geli karena tuan Gunawan tidak pernah memperlakukan istri pertamanya Irene seperti ia memperlakukan Lea saat ini.


"Apakah cinta tuanku lebih besar pada istrinya ini? hingga ia sangat hati-hati menjaga istrinya barunya." Batin pak Heru.


Mobil mewah itu bergerak perlahan menuju kediaman tuan Gunawan.


...----------------...


Pagi itu Lea menatap jarum jam yang sudah memasuki jam sembilan pagi. Lea tidak menyangka jika saat ini ia sudah berada di tempat yang baru yaitu rumah suaminya.


Kini ia sudah menjadi seorang istri dan berperan menjadi ibu sambung untuk putrinya Inggit.


Namun sesaat ia baru ingat semalam, saat tiba di kamar ini, suaminya sempat-sempatnya mengajak ia bercinta.


"Ya Tuhan badanku!"


Keluhnya sambil melirik ke samping, melihat wajah lelap sang suami yang semalaman menghajarnya tanpa kenal lelah.


Akhirnya kamu merasa kelelahan sendiri karena terlalu over dosis." Ucapnya lirih sambil memandang wajah lelah suaminya.


Lea beringsut dari kasurnya, menyibak selimut dan mematikan AC. Iapun membuka tirai jendela agar sinar masuk menembus jendela kamarnya.


Ia berdiri menatap lagi langit pagi yang cerah. Rimbunan pohon yang hampir setinggi dengan kamarnya terlihat sangat hijau dari atas balkon kamarnya.


"Selamat pagi cantik!" Tangan nakal Tuan Gunawan memeluk pinggang Lea yang memang masih polos berdiri membelakanginya.


"Sudah sayang!" Aku mau mau mandi badanku sangat lengket." Ujar Lea manja.

__ADS_1


"Ayo, kita mandi sama-sama sayang!" Tuan Gunawan menggendong tubuh istrinya membawanya kedalam kamar mandi.


"Aku hanya mau mandi tanpa bercinta." Lea memberi peringatan keras pada sang suami agar suaminya tidak memperlambat mandi mereka dengan sesi bercinta.


"Aku tahu kamu lapar sayang." Tuan Gunawan menyabuni tubuh Lea dengan penuh perasaan.


"Lakukan dengan cepat dan jangan meresapi setiap sentuhannya." Lagi-lagi Lea sangat cerewet pagi itu karena sekujur tubuhnya penuh dengan cetakan merah yang membekas di setiap ruas tubuhnya.


"Kamu terlalu menggemaskan sayang, jadi aku terus merindukanmu tanpa ingin berhenti memikirkan mu." Ujar tuan Gunawan makin menggoda.


"Mas Gun, bagian tubuhku yang lain belum di sabunin, kenapa hanya dibagian bawah situ saja yang mendapatkan perhatianmu? " Protes Lea namun di acuhkan oleh suaminya.


"Karena ini tempat yang paling eksklusif sayang, hingga aku tidak bisa mengalihkan tanganku ditempat lain." Acuh tuan Gunawan.


Suara tuan Gunawan makin berat dengan tangan yang terus bermuara di tempat sensitif milik istrinya.


Tuan Gunawan tidak bisa menahan keinginannya untuk tidak menyentuh tubuh indah Lea.


Iapun mengarahkan lagi senjata Laras panjangnya menukik lebih dalam pada tubuh sang istri.


Lenguhan panjang kembali terjadi. Lea tampak pasrah dan menikmati sentuhan suaminya yang tidak bisa membebaskan dirinya dari hasrat menggebu pada tubuhnya.


Sekitar sepuluh menit mereka menikmati morning se*s pagi itu. Lalu keduanya membersihkan diri dan berpakaian santai menuju meja makan untuk menikmati sarapan pagi.


"Mas Gun ini sangat perih sayang." Keluh Lea kesakitan.


"Apakah kamu mau aku gendong?" Tanya tuan Gunawan cemas.


"Tidak usah sayang!"


Lea menolak halus sambil tersenyum kepada para pelayannya yang menatap ke arah mereka.


"Selamat pagi Tuan, nyonya!"


"Pagi semuanya!"


Balas Lea menatap wajah para pelayan satu persatu.


Tuan Gunawan menarik kursi untuk Lea dan pelayan menarik kursi untuk Tuannya.


Karena tibanya Sabtu pagi, berarti hari ini jadwal anak-anak weekend di rumah.


"Sayang!" Nanti kita jemput Inggit di rumah kak Noah. Aku sangat kangen pada kedua gadis cantik itu." Ucap Lea sambil menikmati sarapan paginya.

__ADS_1


"Iya sayang, sekalian kita antar oleh-oleh untuk teteh Cinta dan kakakmu Noah." Ujar tuan Gunawan.


"Apakah saat ini, anak-anak itu sudah mengetahui kalau kita sudah menikah?" Tanya Lea.


"Entahlah sayang!" Ujar tuan Gunawan yang belum mengetahui hal itu.


"Baiklah. Aku akan menanyakan kakak Cinta tentang anak-anak."


Keduanya buru-buru menyelesaikan sarapan mereka. Tuan Gunawan mengambil oleh-oleh untuk keluarga istrinya sementara milik putrinya ia simpan di kamar mereka.


Pak Heru membantu memasukan oleh-oleh itu ke bagasi mobil dan siap mengantar pasutri ini ke mansion Tuan Noah.


Di kediaman Tuan Noah, pagi itu mereka sedikit bingung dengan Tante Lea yang sampai saat ini masih belum pulang juga ke rumah. Timbul rasa ingi tahu Honey hingga ia harus menyogok salah satu pelayannya yang memang muka duitan.


"Hallo bibi Elisa!


"Hallo nona muda!!"


"Apakah aku boleh tanya sesuatu padamu?"


"Mau tanya apa nona muda?"


"Ini tentang Tante Lea. Apakah kamu mengetahui sesuatu tentang Tante Lea?"


"Berapa nona Honey akan kasih untukku?"


"Jawab dulu pertanyaan ku, baru aku akan membayarmu." Ujar Honey.


"Kalau begitu lupakan saja mengorek informasi nona Lea padaku. Nona Honey bisa tanyakan langsung pada bundamu Cinta." Ujar bibi Eliza cuek.


"Dasar mata duitan!" Umpat Honey sambil merogoh kantong celananya mengambil uang seratus ribu yang ia selipkan untuk menyogok bibi Elisa.


"Honey!"


"Inggit!" Panggil Lea membuat kedua gadis itu seketika berbinar.


"Tante Leaaaa!!"


Teriak keduanya sambil berlari menghampiri Lea yang sedang merentangkan kedua tangannya menyambut dua bidadari nya. Ketiganya berpelukan melepaskan kerinduan.


"Tante Lea apa kabar? Tante Lea dari mana?" Tanya Honey sambil menangis.


Tidak lama muncul tuan Gunawan dari belakang membuat Inggit segera mengurai pelukannya pada Lea dan beralih menghampiri ayahnya.

__ADS_1


"Ayahhhh!"


Tuan Gunawan langsung menggendong putrinya dan menghadiahi ciuman bertubi-tubi pada kedua pipi putrinya.


__ADS_2