
Sekitar hampir satu pekan dirawat di rumah sakit, akhirnya Cinta dan bayinya sudah di perbolehkan pulang oleh dokter spesialis kandungan yaitu dokter Lisa dan dokter spesialis anak adalah dokter Risna.
Kebahagiaan kini menyelimuti keluarga besar Tuan Noah, walaupun istrinya Cinta belum seratus persen sembuh namun mereka masih punya harapan untuk hidup menua bersama.
Cinta dan suaminya masih ngobrol banyak dengan dokter Lisa yang sampai saat ini masih tidak percaya mereka bisa menyelamatkan pasien mereka yang sedang hamil besar dan mengidap penyakit tumor rahim yang sangat ganas.
Berkat keyakinan mereka pada sang Khalik, mereka bisa menyelamatkan Cinta dan bayinya.
"Nona Cinta! Kamu adalah salah satu pasien istimewa di rumah sakit ini yang telah menantang profesional kinerja kami sebagai dokter spesialis kandungan.
Rumah sakit ini jadi terkenal dan mulai dilirik oleh pasien dengan kasus yang sama sepertimu. Dan kabar baiknya Minggu depan kami di undang oleh universitas kedokteran di Amerika untuk mengadakan seminar di sana." Ujar dokter Lisa kegirangan.
"Alhamdulillah! Saya dan suami ikut senang dengan kabar baik ini. Saya jadi makin semangat untuk memperbaiki pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit lainnya." Ujar Cinta.
"Kalau begitu kami pamit dulu dokter Lisa. Terimakasih sudah sabar merawat aku selama masa kehamilan sampai proses melahirkan dengan berbagai resiko yang kalian ambil." Ujar Cinta penuh suka cita.
Keduanya bersalaman dan berjanji akan terus berkomunikasi sekedar menyambung silaturahim.
"Sampaikan salamku pada tim dokter yang sudah membantuku menyelamatkan hidupku dan putraku."
"Insya Allah. Nanti aku akan sampaikan nona Cinta . Selamat jalan."
Keduanya saling berpelukan dan Tuan Noah sudah lebih dulu menunggu di depan pintu kamar inap rumah sakit tersebut.
Ibu Endang menggendong cucunya. Sementara Honey ingij dekat dengan adik bayinya.
"Nenek! Apakah aku boleh menggendong adik bayi?"
"Nanti saja sayang kalau adiknya sudah agak besar, baru Honey bisa menggendongnya.
"Kenapa harus menunggunya besar? Justru tubuhnya sekecil ini, mudah bagiku untuk menggendongnya." Protes Honey dengan sok tahunya.
__ADS_1
"Karena leher adik bayi belum kuat untuk menopang kepalanya sendiri karena tulang bagian lehernya masih lunak. Kalau tidak hati-hati, maka lehernya akan mengalami cedera dan itu akan menyakiti adikmu." Nenek Endang memberi pengertian kepada cucu pertamanya itu.
"Ya ampun! Ternyata adik bayi sangat merepotkan orang dewasa. Cepatlah besar sayang, biar kakak Honey bisa merawatmu dengan baik." Ujar Honey so dewasa.
Kedua orangtuanya yang ingin ngakak hanya bisa mengulum senyum kecil.
"Alhamdulillah. Ternyata sekarang kakak Honey bisa diandalkan bunda untuk menjaga adik bayi." Ujar Cinta sambil mengusap lembut kepala putri sambungnya itu.
"Tapi kalau adiknya terlalu rewel, Honey tidak sanggup menanganinya." Keluh Honey manja.
"Lho! Kata Honey mau merawatnya, kenapa sekarang mengeluh." Timpal Tuan Noah menggoda putrinya.
"Aduh ayah! please deh! Tubuhku sekecil ini mana mungkin membawanya ke rumah sakit dan mengurusnya hingga sembuh." Ujar Honey makin membuat keluarganya terkekeh.
"Waduh, anak ayah sampai memikirkan hal yang berat seperti itu."
"Makanya itu ayah, mengapa Honey sangat takut saat bunda menjalani operasi pengangkatan tumor rahim itu yang akan membuat kita bisa kehilangan bunda." Perubahan wajah Honey yang tiba-tiba mendung membuat Cinta ikut menangis.
"Karena sampai saat ini, Honey belum bisa move on bunda. Bunda yang operasi tapi jantung kami yang hampir ikutan copot. Rasanya pingin kompak ikut mati bersama bunda." Ungkap Honey tulus.
"Sayang! Bunda tidak tahu apa yang terjadi saat bunda di operasi. Tapi, dalam tidurnya bunda, saat itu bunda sudah masuk ke suatu tempat yang sangat indah banget.
Rasanya bunda ingin tinggal di situ. Bunda melihat tempat itu seperti cerita negeri dongeng. Di mana para pelayan sangat cantik dan tampan. Tapi badan mereka masih kecil seperti Honey.
"Mereka menawarkan berbagai makanan, perhiasan, rumah berserta isinya bahkan rumah itu tidak ada seperti yang bunda temukan di dunia, lebih terlihat seperti Istana yang sangat megah.
"Terus bunda mau merima tawaran mereka?" Tanya Honey penasaran.
"Hampir saja bunda mau menerimanya karena terlihat sangat nyaman dan belum pernah bunda merasakan senyaman itu di dunia.
Tapi saat ingin masuk ke gerbang utama istana itu. Bunda mendengar kamu dan ayah memanggil bunda. Akhirnya bunda menengok ke belakang dan melihat kalian bertiga sedang memanggil bunda dari kejauhan.
__ADS_1
Dan tempat yang kalian pijak itu sangat gelap di sekitarnya. Hanya saja di atas kepala kalian ada cahaya yang terus mengikuti kalian membuat bunda baru sadar kalau tempat bunda ada bersama kalian." Ucap Cinta yang baru menceritakan mimpinya saat berada di meja operasi.
"Ya ampun! Pantas saja saat itu bunda kritis, berarti bunda sedang menuju pintu kematian." Ujar Honey polos sambil menepuk jidatnya.
"Bagaimana kamu bisa mengetahui kalau itu adalah pintu kematian?" Tanya Tante Lea.
"Saat Honey libur, Honey selalu baca komik tentang gerbang kematian. Tapi komiknya versi Islam jadi menceritakan bagaimana orang baik dan jahat masuk ke gerbang kematiannya." Ujar Honey dengan imajinasi akalnya.
"Cerita itu ada benarnya Honey, kadang Allah memperlihatkan surga untuk hambaNya saat menghadapi ambang kematian seperti istrinya Firaun yaitu ibunda Asia.
Saat itu Firaun menyiksa istrinya saat bunda Asia mengakui Tuhannya nabi Musa ialah Allah SWT. Di saat bunda Asia menatap ke atas langit ia melihat Allah sedang memperlihatkan istana untuknya yang terbuat dari mutiara. Ibunda Asia tersenyum puas dan setelah itu ia meninggal dunia." Ujar Cinta membuat Honey terpesona dengan kisah bunda Asia.
"Berarti intinya kita harus kuat mempertahankan keyakinan kita ya bunda supaya bisa dapat surga?"
"Tentunya di tunjang dengan ibadah fardhu terlebih dahulu seperti sholat, puasa Ramadhan, zakat, haji bagi yang mampu dan di atas semua itu harus Istiqomah ibadahnya." Timpal Cinta.
Tidak lama kemudian mobil mewah mereka sudah tiba di mansion, keluarga itu turun di sambut oleh beberapa orang pelayan.
Cinta berjalan perlahan di bantu oleh suaminya. Beruntunglah kamar mereka dipindahkan di lantai bawah memudahkan Cinta bisa bergerak leluasa dan tidak perlu harus naik turun tangga.
"Apakah kamu kuat jalan sampai ke kamar kita sayang?" Tanya Tuan Noah kuatir dengan keadaan istrinya yang berjalan sedikit sulit sambil meringis menahan jahitan pada perutnya.
"Kata dokter aku harus banyak berlatih berjalan sayang supaya otot perutku kembali kuat."
"Tapi kamu terlihat kepayahan saat melangkah. Aku gendong ya?"
"Tidak sayang! Aku tidak ingin bergantung terus kepadamu."
"Tidak apa sayang selagi aku mampu. Kalau sudah tua dan sakit-sakitan mana bisa menggendongmu lagi." Ledek Tuan Noah.
Keduanya terkekeh geli. Akhirnya Cinta masuk ke kamarnya dan kembali merebahkan tubuhnya.
__ADS_1