My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)

My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)
25. KEMPING


__ADS_3

Danish tersentak mendengar pengakuan ibu kandungnya yang berbanding terbalik dengan pengakuan ayahnya selama ini.


Selama ini, ayahnya selalu menyudutkan ibunya hingga ia tidak bisa melihat cela kebaikan dalam diri ibunya hingga membuatnya menjadi sangat membenci ibu kandungnya.


"Percayalah kepadaku, nak! Aku lelah untuk terus-menerus bungkam setiap kali ingin menemuimu.


Sekarang ayahmu telah membayar semua kejahatan yang diperbuatnya selama ini, hingga membuat ibu bisa bernafas lega untuk bisa bertemu denganmu. Mungkin sudah saatnya kita bisa bertemu lagi, nak." Ucap Nyonya Raisya sambil menatap wajah tampan putranya.


Selama ini putranya tumbuh besar tanpa merasakan kasih sayang darinya hingga ia kehilangan jati dirinya dan menghabiskan waktunya dengan para wanita yang disukainya.


"Apakah kamu ingin tinggal dengan ibu?" Tanya nyonya Raisya penuh harap.


"Maafkan aku ibu! rasanya aku belum bisa menerima suami baru ibu. Danish butuh waktu untuk merenungi semua ini." Ucap Danish lalu meninggalkan ibunya.


Nyonya Rasya mengerti akan kegundahan hati putranya. Ia tidak bisa memaksakan putranya untuk menerima kenyataan bahwa ia sudah memiliki suami lagi.


Nyonya Rasya yang saat ini ingin menemui mantan suaminya Tuan Teguh di lapas tersebut dengan membawa lelaki itu makanan kesukaannya. Nyonya Rasya menunggu kedatangan Tuan Teguh yang sedikit kaget saat melihat mantan istrinya itu berani menemuinya di lapas tersebut.


"Mau apa kamu menemui ku? Apakah saat ini kamu senang melihat kejatuhan ku?" Sinis Tuan Teguh.


"Aku kira penjara bisa mengubah perilaku mu tapi, ternyata aku salah karena kamu masih tetap sama seperti dulu. Keras kepala dan egois." Semprot nyonya Rasya.


"Aku tidak butuh empati darimu, jadi jangan pernah memperlihatkan lagi wajahmu di hadapanku!" Ucap tuan Teguh lalu meninggalkan ruang pertemuan itu.


"Cih! Kau butuh aku tapi, kau mengingkarinya karena kau tidak ingin melihatku sedih." Gumam nyonya Raisya lirih.


Ibu dari Danish ini meninggalkan ruang pertemuan itu lalu kembali lagi ke mobilnya di mana suaminya dengan setia menunggunya. Sementara tuan Teguh menangis seorang diri di sudut kamar lapasnya.


Tiga bulan berlalu, di kediaman Tuan Noah, ibu Endang sangat senang bermain dengan Honey. Apa saja keinginan Honey, diturutin oleh ibunya Cinta ini.


Ia merasa sudah kerasan tinggal di rumah menantunya karena adanya Honey. Ia hanya bertemu dengan Honey setiap weekend. Makanya kesempatan berharga itu di manfaatkan oleh ibu Endang sebaik mungkin.


Pagi itu Honey mengajak neneknya itu untuk bertamasya di taman belakang di bawah pohon mangga. Keduanya menyiapkan bahan makanan untuk dibawa di perkemahan yang sudah di bangun sendiri oleh Tuan Noah untuk putri kecilnya itu.


Sementara ibu sambungnya Cinta membuat gimbab untuk putrinya karena Honey doyan dengan makanan Korea itu yang isinya sangat praktis. Selain gimbab masih ada makanan pendamping lainnya karena Honey akan menginap di dalam kemahnya bersama sang nenek.


Untuk itulah Tuan Noah membuat perkemahan itu senyaman mungkin untuk keduanya. Honey melarang kedua orangtuanya untuk ikut dalam acara mereka. Ibu Cinta sangat bahagia melihat ibunya mulai betah tinggal dengannya, berkat adanya Honey.


"Nenek. Kita akan menginap di sini selama dua hari dua malam." Pinta Honey dengan wajah serius.


"Boleh. Siapa takut." Ujar ibu Endang ikutan serius.


"Deal!"


"Deal!"


Keduanya menyiapkan makan siang mereka di perbekalan yang sudah di siapkan oleh ibunya Cinta.

__ADS_1


Cinta memakan makanan yang berbeda dengan ibu Endang. Ibu Endang di siapkan nasi Padang oleh putrinya. Keduanya menikmati makan siang mereka di dalam kemah.


Sementara di mansion, Cinta dan suaminya serta adik iparnya Lea makan siang di gazebo sambil memperhatikan Honey dan ibu Endang yang terlihat makin akrab.


"Sayang. Apakah kamu tidak kuatirkan mama jika tidur di luar dengan udara yang dingin di malam hari?" Tanya Tuan Noah kuatir.


"Bukankah, kamu sudah membuat tempat tidur keduanya lebih hangat untuk malam hari?"


"Iya sudah, tapi aku hanya tidak mau mama sampai jatuh sakit jika mengikuti kemauannya Honey." Timpal Tuan Noah.


"Nanti malam kalau mereka sudah tidur, kita akan mengintip. Lagi pula, Honey ingin dibuatkan api unggun agar lebih terkesan benaran kemping." Ucap Cinta.


"Bagaimana kalau nanti malam kita akan bertamu di tenda mereka saat api unggun sedang menyala. Pasti sangat seru." Ujar Lea.


"Baiklah. Itu rencana yang sangat adil untuk membuat suasana lebih hangat." Ujar Tuan Noah.


Kembali lagi ke perkemahan Honey. Usai makan siang lalu keduanya sholat dhuhur bersama. Keduanya sedang menonton film di ponsel milik Honey. Film drama anak-anak yang sangat sedih yang saat ini sedang digemari oleh banyak orang.


Cerita tentang seorang ayah yang penderita disabilitas yang dituduh memperkosa seorang anak kecil hingga ia dijebloskan di penjara.


Honey yang baru menonton film itu larut dalam kesedihan. Ia merasakan bagaimana hidup dengan seorang ayah tanpa seorang ibu.


"Nenek!"


"Hmm!"


Mendengar ungkapan Honey, ibu Endang makin mewek." Ya Allah Honey, nenek saja menonton itu sudah nggak kuat menahan sedih, sekarang kamu malah menambahkan lagi kehidupan kamu sebelumnya yang sangat kesepian tanpa kasih sayang ayah." Ujar ibu Endang lalu memeluk cucunya itu sambil menangis.


"Tapi aku sangat mencintai ayah nenek. Apapun alasannya saat dia tidak hadir dalam hidup Honey, aku yakin ayah sangat mencintaiku. Mungkin karena wajahku mirip dengan wajah ibuku, membuat ayah makin sedih jika dia menemaniku. Untuk itulah aku tidak begitu banyak mengeluh sekalipun aku sangat merindukan kehadiran ayah." Timpal Honey makin serak suaranya karena sangat sedih.


"Iya Honey, kehilangan orang yang sangat kita cintai membuat kita lupa bahwa kita masih punya keluarga yang lain yang harus kita urus. Nenek mengerti perasaan ayahmu saat kehilangan ibu kandungmu.


Karena nenek merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh ayahmu setelah nenek kehilangan suami nenek, ayah dari ibumu Cinta." Ujar ibu Endang makin terlihat sedih.


"Maafkan aku ya nenek, sudah membuatmu jadi sedih."


"Tidak apa sayang. Kalau orang yang sudah merasa kehilangan, lebih terasa saat dibahas kesedihan yang di alaminya." Timpal nenek Endang sambil membelai rambut panjang Honey.


"Benar sekali nenek. Semoga tidak ada lagi kesedihan yang akan menghampiri hidup kita."


"Aaamiin."


Ucap keduanya lalu melanjutkan lagi menonton film yang sama yang belum tuntas mereka nonton.


Di luar kemah, Tuan Noah yang sempat mendengar percakapan putri dan ibu mertuanya terlihat sedih. Ia juga tidak mengetahui film apa yang sedang di tonton oleh putrinya hingga menilai dirinya yang berbeda jauh dengan tokoh protagonis yang ada di dalam film tersebut.


"Apakah aku sosok ayah yang sangat buruk untuk putriku Honey? Betapa ia memendam rasa kecewanya kepadaku saat itu. Ya Allah, semoga aku bisa menebus kesalahanku karena sudah membuat putriku terluka karena keegoisanku atas kehilangan istriku." Gumam Tuan Noah lirih.

__ADS_1


Tuan Noah kembali lagi ke dalam mansion sambil merenungi perkataan putrinya Honey. Cinta melihat suaminya tiba-tiba murung, akhirnya mendekati Tuan Noah yang langsung bersandar di kepala tempat tidurnya.


"Sayang, ada apa? kenapa tiba-tiba murung?"


Tuan Noah menceritakan lagi kepada istrinya tentang apa yang baru saja ia dengar saat ingin melihat keadaan Honey dan ibu mertuanya. Cinta tersenyum kecut menanggapi keluhan suaminya pada putrinya Honey.


"Sayang. Akulah saksi dari setiap kesedihan putrimu yang saat itu hampir setiap waktu ia hanya memikirkan mu, merindukanmu dan bertanya tentangmu dalam kesendiriannya.


"Ia selalu bertanya mengapa kamu begini? mengapa kamu begitu? dan kami gurunya selalu memberikan pengertian kepadanya tentang kesibukanmu walaupun kami tidak tahu alasan pastinya mengapa kamu tidak pernah mengunjungi dia di asrama atau menjemputnya setiap kali ia harus pulang ke rumahnya untuk menghabiskan dua hari libur di rumah dengan keluarganya." Ucap Cinta.


"Aku tidak tahu, jika putriku punya memori buruk tentang ayahnya yang terlihat egois."


"Mumpung dia masih kecil, kamu bisa mengubah mimpi buruk itu menjadi sesuatu yang manis, sayang.


Sekarang jangan sedih lagi karena kita akan menjadi tamu kehormatan mereka nanti malam untuk menghadiri pesta api unggun. Sepertinya mereka nanti malam mau barbekyu."


"Wah, kita harus bawa buah tangan juga jika hendak bertamu." Ucap Tuan Noah sambil memikirkan apa yang pantas diberikan untuk putrinya.


Ketika malam tiba, tiga orang pelayan laki-laki sedang menyiapkan api unggun untuk Honey. Tiga orang pelayan perempuan menyiapkan daging stik dan ikan basah untuk di panggang keduanya sebagai makan malam.


Ketika sudah siap, selepas sholat isya, Tuan Noah bersama istri dan adiknya Lea mendatangi perkemahan putrinya. Melihat ketiganya datang, Honey melompat kegirangan.


"Apakah kalian sedang bertamu ke rumahku?" Tanya Honey sebagai tuan rumah dengan gaya khasnya sok dewasa.


"Tentu saja putriku! Apakah kami boleh ikut menikmati pesta barbeque?" Ini kami bawakan buah tangan untuk kalian." Ucap Tuan Noah sambil menyerahkan satu kotak coklat dan biskuit untuk putrinya.


"Silahkan duduk! anggap saja rumah sendiri." Ucap Honey hampir membuat Cinta dan Lea ingin ngakak saat itu juga.


Cinta dan Lea sibuk membantu Honey dan ibu Endang memanggang stik dan ikan. Sementara Tuan Noah asyik memetik gitar sambil berdendang.


Dalam waktu tiga puluh menit, makan malam mereka siap dihidangkan. Keluarga itu siap menikmati makanan itu sambil bercanda riang.


Honey sangat senang ayahnya kini tidak sendirian lagi karena ada ibu gurunya Cinta yang sudah menggantikan posisi ibu kandungnya yang sudah meninggal dunia.


Sekitar dua jam mereka bercengkrama saling mendendangkan lagu kesukaan mereka. Sekitar pukul sepuluh malam, Tuan Noah mengajak pulang istri dan adiknya pulang.


Tapi Lea ingin menginap di kemah bersama Honey dan ibu Endang. Honey merasa kemping nya kali ini lebih berwarna karena semua keluarganya berkumpul di tambah dua orang yang telah menjadi penting dalam hidupnya, yaitu ibu Cinta dan ibu Endang.


Pukul dua pagi, rupanya langit tidak lagi bersahabat dengan kesenangan Honey. Malam itu hujan lebat dan angin kencang cukup membuat perkemahan di landa terpaan angin yang berhembus kencang.


Karena kepintaran sang ayah yang memasang tenda itu cukup kokoh agar terhindar dari badai, membuat penghuni dalam kemah itu tetap terjaga dalam tidurnya.


Dua pelayan dan Tuan Noah segera menghampiri perkemahan Honey. Ia takut jika putrinya itu tiba-tiba saja bangun dan menangis mencarinya.


Rupanya saat Tuan Noah mengintip ke dalam kemah. Ketiganya tidur berdampingan saling berpelukan dengan selimut tebal yang menghangatkan tubuh ketiganya.


"Alhamdulillah, mereka malah tidur dengan tenang tanpa terganggu dengan suara gemuruh petir dan gledek sekalipun." Ujar Tuan Noah sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


Iapun kembali ke kamarnya karena keluar begitu saja tanpa memberitahu Cinta.


__ADS_2