
Setelah berjuang melawan penyakit kanker yang bersarang di tubuhnya, akhirnya nyonya Irene mulai menyerah dan pamit kepada keluarganya.
Inggit berdiri disamping ibunya yang sudah menarik nafas tersendat. Wajah pucat dengan pipi tirus namun guratan kecantikan masih tersisa di sana. Senyumnya mengembang walaupun terkesan dipaksakan.
Ia menatap wajah cantik putrinya dengan tatapan sendu.
"Inggit! Jaga ayah ya sayang!" Ucap ibunya terbata-bata.
"Jangan pergi mami!" Tangis Inggit pecah.
"Ibu sudah berusaha bertahan sayang, tapi Allah tidak ingin ibu hidup menemanimu sampai kamu tumbuh dewasa."
"Inggit akan merasa kesepian mami."
"Ada ayah yang akan menemani Inggit."
"Ayah tidak akan melakukan tugasnya sebagai ayah sama seperti ayahnya Honey saat Honey kehilangan ibunya." Ujar Inggit terlihat protes.
Ayahnya hanya menggeleng lemah seakan ia mengatakan kalau ia bisa menjadi ayah yang dibutuhkan oleh putrinya Inggit.
"Percayalah kepada ayah Inggit!" Ayah tidak akan membuatmu kesepian." Ujar nyonya Irene sambil menutup matanya karena waktunya mau hampir habis.
Hembusan nafas terakhirnya mulai terasa dengan senyum tenang sambil mengucapkan kalimat tasbih sebagai ucapan terakhirnya.
"Mami...mami...mami!" Panggil Inggit dengan suara serak.
Tuan Gunawan memeluk putrinya yang terlihat syok." Sayang! mami sudah pergi."
"Tidak!"
Inggit mendekati dada ibunya ingin merasakan detak jantung ibunya. " Mami! Apakah kamu tidak kasihan padaku?" Tanya Inggit sambil mengguncang bahu ibunya.
"Sayang! Biarkan mami pergi dengan tenang!" Tuan Gunawan menutup wajah istrinya dengan selimut.
__ADS_1
"Tidaakkkkk...mamiiii!"
Teriak Inggit histeris. Gadis malang ini berontak dalam pelukan ayahnya. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan bernasib sama dengan temannya Honey.
"Mami! Kenapa harus meninggalkan aku ketika temanku Honey mendapatkan kembali kebahagiaannya." Ucapnya dengan lirih.
Kedua orangtua ibunya mengambil gadis ini dari gendongan ayahnya yang terlihat tidak sanggup menahan kesedihannya.
Selang berapa jam, kediaman orangtuanya Inggit sudah oenuh dengan para pelayat yang datang dan pergi silih berganti. Tidak terkecuali Honey dengan kedua orangtuanya yang ingin menyampaikan duka secara langsung pada Inggit dan ayahnya.
Inggit langsung menangis histeris saat Honey memeluk temannya itu untuk memberikan kekuatan pada Inggit yang sedang berduka.
"Honey! Apakah begini rasanya kehilangan seorang ibu?" tanya Inggit terdengar parau.
"Tidak ada yang lebih menyakitkan di dunia ini disaat kita kehilangan seorang ibu, Inggit." Ujar Honey seraya mengusap air mata Inggit dengan tangan kecilnya.
"Mungkin inikah balasan Tuhan untukku karena telah menghinamu dulu?"
"Tidak seperti itu Inggit! Tanpa kamu menghina aku, Tuhan tetap mengambil mami kamu karena ajalnya sudah tiba. Siapa kita menghalangi kehendak Allah pada hambaNya yang ia ingin jemput untuk pulang kembali ke pangkuannya." Ucap Honey.
Begitu pula ayahnya Tuan Noah, yang saat ini menguatkan hati tuan Gunawan agar bisa menerima kenyataan saat kehilangan istri yang paling ia cintai.
"Tuan Gunawan! Saat ini, aku yakin anda tidak ingin mendengarkan nasehat dari siapapun karena aku pernah berada di posisi anda.
Tapi, aku hanya ingin katakan jika suatu nanti Allah akan menggantikan kesedihanmu dengan sesuatu yang lebih baik." Ucap Tuan Noah.
"Kebetulan anda mendapatkan istri anda yang sesuai dengan keinginan putri anda Honey, lalu bagaimana denganku Tuan Noah? Mungkin setiap perjalanan manusia tidak selamanya mulus bukan? karena semuanya masih dalam genggaman Allah." Ujar tuan Gunawan.
"Allah tahu apa yang kita butuhkan, bukan terletak pada apa yang kita inginkan. Jika kembalikan ujian ini kepada Allah, sesungguhnya Allah tidak pernah ingkar janji." Tukas Tuan Noah.
Glekkkk...
Tuan Gunawan merasa sangat malu karena ucapan bodohnya telah meragukan janji Allah pada hambaNya yang mau bersabar.
__ADS_1
"Maafkan aku Tuan Noah! saat ini pikiranku sedang sumpek. Bagaimana bisa aku menyikapi setiap nasehat bijak dari anda, Tuan Noah."
"Aku mengerti tuan Gunawan. Kalau begitu kami pamit dulu. Lain kali, jika ada butuh teman untuk curhat, aku siap mendengarkan keluhan mu. Kebetulan aku adalah pendengar yang baik." Ujar Tuan Noah seraya menyalami tuan Gunawan.
Keluarga Tuan Noah pamit pulang pada tuan Gunawan dan putrinya Inggit. Mereka berjanji akan datang lagi mengikuti proses pemakaman jenasah almarhumah ibunya Inggit.
...---------------- ...
Tanah kuburan itu sudah membentuk gundukan tanah yang diatasnya sudah ditaburi bunga dan juga hiasan rangkaian bunga mawar dan lainnya menguasai pusara itu.
Tangis Inggit dan ayahnya tidak dapat terbendung kala untaian doa yang dipanjatkan oleh salah satu ustadz untuk sang ibu tercinta.
Tuan Gunawan hampir limbung di tempatnya berdiri karena tidak kuat menahan kesedihannya. Begitu pula dengan putrinya Inggit hanya bisa menatap kepergian sang ibu.
Beruntunglah, pagi itu Tuan Noah dan keluarganya menemani keluarga yang berduka itu. Tuan Noah merangkul pundak tuan Gunawan agar lelaki tampan ini tidak mudah jatuh.
Ibu Cinta dan Honey berdiri disampingnya Inggit yang masih saja terisak. Honey mengusap punggung temannya itu tanpa ingin berkata apapun.
"Honey! Aku pulang ke rumah tidak lagi melihat wajah cantik ibuku. Aku tidak bisa lagi menemaninya memasak dan membuat kue setiap kali aku pulang weekend." Ucap Inggit sambil terisak.
"Apakah tidak ada orang lain selain ayah dan para pelayanmu?" Tanya Honey.
"Ayahku anak tunggal dan ibuku memiliki kakak laki-lakinya tapi tinggal di Amerika. Paman aku itu sudah berkeluarga. Nanti malam mungkin baru tiba di Indonesia bersama keluarganya." Ucap Inggit.
"Ya Allah, aku kira, aku adalah seorang putri yang paling kesepian saat tidak ada ibuku, walaupun begitu aku masih punya Tante Lea yang siap menemaniku saat aku dilanda kesedihan karena ibuku seorang yatim piatu yang tidak punya saudara.
Ternyata kamu yang paling menderita daripada aku. Insya Allah, ayahmu pasti mendapatkan ibu hebat untukmu, seperti ayahku mendapatkan ibu Cinta untukku." Ujar Honey menghibur.
"Siapa bilang setiap ibu sambung itu baik Honey? Mungkin saja kebetulan nasibmu beruntung hingga ayahmu bisa mendapatkan 8bu Cinta yang sangat sabar dan penyayang. Lagi pula kamu pantas mendapatkan ibu Cintya Honey karena kamu juga anak yang baik, tidak seperti aku yang suka iseng dan nakal." Ujar Inggit merendahkan dirinya pada Honey.
"Kalau begitu, mulai sekarang rubah sikapmu menjadi sosok anak yang penurut agar kamu bisa mendapatkan ibu sambung yang baik seperti aku yang mendapatkan ibu Cinta." Ujar Hindu menasehati sahabatnya.
"Mohon doanya Honey agar ayahku segera mencari 8bu sambung untukku karena aku tergantung bagaimana perasaan ayahku pada gadis yang akan dinikahinya." Ujar Inggit sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
Keluarga itu akhirnya pisah ditempat parkir dan kembali ke rumah mereka masing-masing.