
Tuan Gunawan berlari cepat menuju kamar inap milik istrinya...
Wajah panik itu nampak pucat melihat sang istri yang saat ini tidak sadarkan diri.
"Ada apa dengan istriku, dokter? saat aku tinggal dia baik-baik saja, kenapa tiba-tiba drop seperti ini?"
"Rasa syok nya yang membuat ia mengalami trauma berat, Tuan Gunawan. Sebaiknya, temani istri anda karena kami kuatir akan terjadi sesuatu padanya..
"Sesuatu bagaimana dokter? tolong jangan menakuti aku. Aku sudah cukup tertekan dengan peristiwa penembakan tadi pada istriku, kenapa dokter malah menambah lagi berita yang tidak enak aku dengar." Protes Tuan Gunawan.
"Maafkan kami Tuan Gunawan! Kami hanya ingin melakukan yang terbaik untuk istri anda. Tolong, jangan lagi meninggalkannya karena nona Lea sepertinya lebih nyaman berada di sisi anda."
"Baiklah dokter. Semoga istriku segera siuman. Dia hanya pingsan bukan sakrat." Ujar Tuan Gunawan lalu meminta tim dokter untuk meninggalkan mereka berdua.
Dokter tidak ingin lagi berdebat dengan wali dari pasiennya. Ia hanya ingin pasiennya Lea bisa melewati masa kritisnya.
"Dasar suami aneh! sudah tahu istrinya saat ini sedang kritis, kenapa tiba-tiba saja dia datang dan membuat semuanya terlihat tenang." Umpat dokter Nicole.
"Biarkan saja dia menangani istrinya sendiri. Biasanya kontak batin antara pasangan bisa membawa lagi istrinya dari kematian." Ujar suster Beatrix.
__ADS_1
Tuan Gunawan menatap wajah pucat Lea yang kini sedang kritis.
"Lea! Apakah tidak cukup satu istriku membuatku gila karena kehilangannya, mengapa kamu ingin membuat aku kembali terluka saat kamu datang menyembuhkan luka itu?" Ungkap Tuan Gunawan sambil berurai air mata.
Ia begitu takut mengetahui kenyataan bahwa istri keduanya ini akan menyusul istri pertamanya. Walaupun Lea tidak mengalami keguguran karena syok berat, namun Lea yang tidak siap mental saat peluru itu hampir menembus perutnya namun ia bisa menghindari tembakan itu hingga peluru itu melesat dan mengenai lengannya.
Kini mimpi buruk itu menyapa lagi dalam tidurnya Lea, hingga gadis ini terlihat gelisah.
Tuan Gunawan menepuk pelan pipi istrinya agar Lea bias segera sadar.
"Lea, sayang! bangun, kamu pasti sedang mimpi buruk, bukan? Tolong jangan menakuti aku dengan keadaanmu dengan lelucon seperti ini!" Tukas Tuan Gunawan makin histeris kala kea mulai mengigau ketakutan.
"Kami tidak akan menganggu mu tapi serahkan dulu bayi kembarmu!"
"Jangan... Tolong jangan ambil bayiku, aku sangat mencintai bayi kembarku." Racau Lea membuat Tuan Gunawan mengusap wajahnya frustasi.
"Lea, bangun sayang! Kamu sedang mimpi buruk." Ujar Tuan Gunawan di kuping istrinya.
Mendengar suara seseorang dalam mimpinya, Lea tersentak kaget.
__ADS_1
"Kami akan membebaskan kamu tapi kamu harus memberikan bayimu pada kami." Ucap dua pria dengan mengenakan baju putih.
"Mas Gunawannnn..!" Pekik Lea sambil berlari menjauhi dua lelaki tinggi besar itu.
"Lea...! Bangun sayang.. buka matamu."
Kali ini Tuan Gunawan berkata keras di kuping istrinya agar Lea mau mendengarkan suaranya.
Lea mengerjapkan matanya perlahan sambil mencari sumber suara Tuan Gunawan yang ini ada di depannya.
"Mas Gun...!" Panggil Lea sambil menangis.
"Iya sayang!"
"Apakah bayiku baik-baik saja?"
"Iya sayang! Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa sadar. Ujar suaminya dengan hati lega.
"Mas Gun! Aku mau pulang...hiks .hiks...! Rengek Lea manja.
__ADS_1