
Honey dan Inggit merasa heran kenapa Tante Lea dan tuan Gunawan datang bersamaan.
"Tante Lea!"
"Hmm!"
"Apakah Tante Lea dan paman Gunawan sudah menikah?" Tanya Honey penasaran.
"Iya ayah. Apakah ayah sudah memilih Tante Lea menjadi ibu sambung untuk Inggit?" Tanya Inggit semangat.
"Menurutmu orang seperti apa Tante Lea?" Tanya tuan Gunawan meminta pendapat putrinya tentang istri barunya itu.
"Tante Lea itu penyayang, baik hati, empatinya tinggi, asyik dan bisa menempatkan dirinya seperti yang kita inginkan.
Itu seperti, ibu kepada anak, kakak kepada adik, teman terhadap teman dan saudara terhadap saudara, adik terhadap kakak dan ipar terhadap ipar yang penting dari samua itu Tante Lea mempunyai jiwa yang besar karena mengorbankan waktu masa mudahnya untuk merawat sahabatku Honey. Itu yang di katakan Honey ayah. itulah sebabnya mengapa Inggit berharap jika Tante Lea bisa menjadi ibu sambungnya Inggit." Ujar Inggit tanpa Jedah membuat Lea saat ini sudah meleleh air matanya.
Tuan Noah dan Cinta ikut terharu dengan penuturan Inggit tentang Lea.
"Sayang! Harapan kamu untuk bisa memiliki Tante Lea sebagai ibumu, sudah ayah penuhi dan sekarang ibumu itu sudah tinggal bersama kita." Ujar tuan Gunawan membuat kedua gadis kecil itu berteriak histeris sambil memeluk tubuh Lea.
"Benarkah Tante Lea sekarang sudah menjadi ibu sambungnya Inggit?" Tanya Honey haru.
"Benar sayang!" Ujar Lea sambil mengusap air matanya Honey.
"Mamaaa!"
Inggit langsung memeluk Lea sambil menangis. Begitu pula Lea ikut menangis.
"Terimakasih Tante Lea mau menjadi mamaku. Insya Allah, Inggit tidak akan membuat mama Lea sakit hati pada Inggit. Semoga mama selalu sehat agar bisa mendampingi ayah." Ucap Inggit.
Tuan Gunawan memeluk dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya kini.
Honey menghampiri ayah dan bundanya yang sedang memanggilnya. Gadis ini memeluk ayahnya karena sudah mengijinkan Tante Lea menjadi ibu sambungnya Inggit, sahabatnya kini.
"Ayah! Terimakasih sudah mengijinkan Tante Lea menikah dengan paman Gunawan. Sekarang Inggit sudah menjadi saudaraku." Ujar Honey lalu mencium pipi ayahnya, Tuan Noah.
__ADS_1
Tidak lama sopir pribadi tuan Gunawan membawa oleh-oleh di untuk keluarga Tuan Noah.
Lea sibuk menceritakan pengalamannya selama berbulan madu di Paris Perancis pada kakak iparnya Cinta.
Sementara itu Tuan Noah dan tuan Gunawan ngobrol masalah perusahaan mereka masing-masing yang saat ini sedang berkembang pesat.
Honey sibuk membuka hadiahnya dari sang Tante berupa gaun, sepatu, tas sekolah dan mainan. Keluarga itu menghabiskan waktu hingga sore.
Ketika Lea ingin mengajak Inggit pulang ke rumah, gadis ini menolak dan meminta Minggu depan saja ia akan pulang karena tidak ingin menganggu kedua orangtuanya yang sedang menikmati keindahan bulan madu. Akhirnya keduanya langsung pamit pulang kembali ke mansion tuan Gunawan.
"Mama! Semoga mama cepat hamil ya dan memberikan adik bayi untuk Inggit seperti Honey. " Pinta Inggit polos.
"Insya Allah sayang. Tapi janji Minggu depan kamu pulang ke rumah kita ya. Biar entar gantian Honey menginap di rumah kita, bagaimana Honey?"
"Benarkah? Wah keren, Honey nanti kita bisa main di rumah pohon milikku. Kita bisa kemping di rumah pohonku." Ucap Inggit girang.
Keduanya sangat senang dan tidak sabar menunggu Minggu depan.
Pasutri itu kembali ke kediaman mereka setelah urusan mereka selesai.
Sesuai janji Inggit untuk pulang ke rumahnya lagi bersama sahabatnya Honey. Tanpa basa-basi kedua sahabat ini sudah masuk ke kamar Inggit yang sangat luas dan rapi.
Inggit juga memiliki satu ekor kucing yang bernama Mia. Kucing itu seakan sangat rindu pada majikannya hingga menggesekkan tubuhnya pada Inggit.
Honey ini kamarku dan kita bisa melakukan apapun di kamar ini. kalau mau berenang, ada kolam renang khusus untuk aku di samping kamarku.
Dan itu rumah pohonnya di sana. Apakah kamu ingin melihatnya?" Tanya Inggit.
"Nanti saja Inggit, kita baru pulang sekolah dan masih lelah sebaiknya kita tidur atau nonton film kartun kesukaan kita." Ujar Honey sambil menggendong Mia yang sedang mendekatinya.
"Baiklah terserah padamu saja yang penting aku sudah memberitahukan kepadamu tempat -tempat favorit aku di dalam rumah ini dan di luarnya juga." Ujar Inggit.
"Honey, Inggit! Kalian sedang apa?" Tanya Lea yang sudah bergabung dengan kedua gadis kecil ini..
"Kami ingin menonton film Tante Lea sambil makan makanan ini." Ucap Honey seraya memperlihatkan banyak makanan di atas tempat tidurnya Inggit.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, Tante tinggal dulu, kalian bisa panggil Tante kalau butuh sesuatu." Ucap Lea sambil mengusap kepala kedua bocah ini.
"Siap Tante!" Tawa keduanya bahagia.
Lea kembali menemui suaminya di kamar mereka. Tuan Gunawan sedang sibuk membalas email para relasinya. Lea juga ikut membuka ponselnya karena tidak ingin menganggu sang suami yang sedang serius bekerja.
Sudah seminggu ini tuan Gunawan kembali lagi ke aktivitas sebagai seorang CEO perusahaan yang bergerak di maskapai penerbangan.
"Apakah perlu bantuan sayang?" Tanya Lea ketika melihat kedua alis suaminya saling bertautan.
"Tidak ada sayang! Terimakasih. Aku bisa mengatasinya dengan mudah. Tapi Minggu depan aku ada pertemuan di Australia, apakah kamu mau ikut?" Tanya tuan Gunawan.
"Kalau tidak ada Inggit, untuk apa aku ada di rumah sendirian, mendingan ikut mas ke Austria." Ujar Lea senang.
"Tapi sampai di sana, tidak boleh ke mana-mana selama aku ada pertemuan. Bagaimana? Apakah kamu setuju dengan permintaanku?"
"Tentu saja sayang, aku janji akan tunggu di hotel kalau mas Gunawan sedang kerja.
"Tapi Lea, mungkin kita akan keliling dunia karena pekerjaanku, tapi kalau tiba-tiba kamu hamil aku tidak akan meninggalkanmu hingga kamu melahirkan."
"Iya sayang! Tidak apa, itu sudah resiko aku sebagai istri kamu." Ujar Lea paham.
"Tolong nanti jangan banyak mengeluh, tapi kalau kamu mau ikut aku kemanapun tidak masalah."
"Pantas saja sekolah milik Honey dan Inggit itu dipenuhi anak-anak konglomerat, ternyata ini kenyataan bahwa kalian itu sama-sama orang sibuk." Ujar Lea.
"Iya sayang. Dulu ibunya Inggit juga punya perusahaan, walaupun ini sedang di urus oleh asistennya dan itu juga aku harus tetap mengawasi perusahaan miliknya.
Mungkin karena kelelahan dan juga faktor makanan membuat ia tiba-tiba terkena kanker stadium empat dan itu sangat membuat aku syok.
Kalau bisa, aku mohon kamu tidak usah bekerja, biar fokus mengurus aku dan Inggit dan juga calon bayi kita nanti kalau dia sudah hadir." Ujar tuan Gunawan lalu menghampiri istrinya yang sudah memakai lengerie transparan yang sedang menggoda imannya.
"Apakah ini salah satu caramu agar aku berhenti bekerja dan melihatmu seorang?"
"Hmm!"
__ADS_1