My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)

My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)
16. Sakit


__ADS_3

Seharian itu, Cinta tidak ingin balik ke rumahnya. Ibunya mengira, jika cinta kembali lagi ke tempat kegiatan yang diadakan di sekolahnya. Sementara itu, keluarga besar Danish sudah berada di rumah Cinta untuk menagih janji mendiang pak Rahmat yang akan menikahkan putrinya dengan Danish, teman bisnisnya.


"Maaf Endang! Bagaimana dengan pernikahan kedua anak kita, apakah Cinta sudah di beri tahu tentang perjanjian utang piutang ini?" Tanya tuan Teguh.


"Maaf Tuan! Putriku sudah mengetahuinya, tapi saat ini keluarga kami sedang berduka, kemungkinan Cinta belum bisa memberikan jawabannya secepatnya." Ucap ibu Endang terlihat tenang.


"Kalian tidak punya pilihan. Jawaban kalian hanya menerima, bukan menolak." Ucap tuan Teguh dengan wajah angkuh.


"Tolong beri kami waktu! Sekitar seminggu lagi, mungkin putri saya akan memberikan jawabannya."


"Jika dalam satu Minggu tidak ada jawaban, maka tanah itu akan menjadi milik kami dan utang suamimu akan menjadi dua kali lipat bunganya." Ucap Tuan teguh lalu meninggalkan rumah ibu Endang.


"Astagfirullah! Kenapa orang itu tidak punya hati sama sekali, hingga mengancam ku dengan hutangku." Bu Cinta menutup pintu rumahnya karena sudah mulai sepi dari tamu yang di wara Wiri ke rumahnya untuk menyampaikan ucapan dukacita.


"Cinta, ke mana kamu nak? Kenapa ponselmu di matikan? apakah kamu tidak ingin memenuhi permintaan ayahmu?" Tanya ibu Endang lirih sambil memegang foto keluarganya.


Malam makin beranjak larut, dengan hujan di luar sana makin deras seakan tidak ingin berhenti. Berita banjir mulai di liput dari berbagai wilayah kota Bandung.


Sedari tadi Cinta belum bangun juga, padahal gadis itu belum makan malam. Tidak lama terdengar racauan dari mulut gadis itu.


"Ayah! Aku tidak ingin menikah dengan Danish, ayah! Aku akan membayar hutang ayah dan merebut kembali sertifikat tanah ayah dari mereka.


Ayah, aku sudah punya kekasih, aku sangat mencintainya ayah. Tolong jangan paksa aku menikah dengan rentenir itu!"


Tidak lama terdengar tangis Cinta. Tuan Noah yang berada di sebelahnya, mencoba membangunkan Cinta dengan menepuk pelan pipi mulus gadis itu. Saat disentuh pipi Cinta, ternyata gadis itu sudah mulai demam.


"Astaga! Tubuh Cinta sangat panas. Aduh, bagaimana ini?" Hujan deras begini, mana mau dokter datang ke hotel ini" Keluh Tuan Noah sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Jalan satu-satunya untuk meredakan demam kekasihnya adalah menyatukan tubuh mereka. Tuan Noah membuka piyama tidurnya dan menanggalkan piyama milik Cinta. Mau tidak mau, ia melihat lekuk tubuh dengan aset berharga milik Cinta.

__ADS_1


"Cinta, apakah aku boleh melakukannya malam ini denganmu, sayang? aku sudah tidak kuat menahan diriku sedari tadi, namun sayang saat ini kamu malah demam. Kau membuat aku hampir gila, sayang."


Tangan Tuan Noah mengusap lembut tempat berharga milik Cinta. Lagi-lagi, ia harus melawan libidonya yang makin merangsang kelelakiannya. Tuan Noah buru-buru menepis pikiran jahatnya dari benaknya.


"Tidak! Aku bukan maling, aku harus mendapatkan perhatian Cinta dengan cara terhormat." Ucapnya lirih.


Tuan Noah memeluk erat tubuh Cinta, agar panas tubuh Cinta berpindah kepadanya. Tubuh lembut dengan kulit halus mulus, menyatu dengan kulitnya, membuat Tuan Noah menarik nafasnya berkali-kali.


Lambat laun, iapun ikut tertidur sambil memeluk kekasihnya Cinta. Tubuh keduanya yang memang lelah karena dari semalam sudah kurang tidur, ditambah dengan musibah yang terjadi pada keluarga Cinta.


...----------------...


Azan subuh berkumandang lirih dari kejauhan menyadarkan Cinta yang merasakan tubuhnya berada dalam dekapan seseorang.


Iapun mengerjapkan matanya dan mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan milik Tuan Noah yang masih terpejam matanya dengan nafas yang mengalun teratur.


Cinta bergerak perlahan agar terbebas dari pelukan tangan kekar Tuan Noah pada tubuhnya. Merasakan ada pergerakan, Tuan Noah ikut membuka matanya dan melihat wajah cantik sang kekasih memandangnya dengan wajah tenang namun masih tersimpan kepedihan.


"Hmm!"


"Benarkah?"


"Iya, bukan kamu yang menawarkannya padaku?"


"Iya, tapi aku melakukannya karena uang, bukan karena cinta. Sekarang tolong bayar aku!" Ucap Cinta menahan kepedihannya.


"Berapa yang kamu butuhkan?"


"Tiga miliar."

__ADS_1


"Apa yang terjadi sebenarnya pada keluargamu? Bolehkah aku mengetahuinya?"


"Ayahku terlilit hutang dengan teman bisnisnya hingga menggadaikan sertifikat tanah milik kami yang merupakan warisan Kakekku untuknya.


Uang itu dirampok saat beliau belum sempat memanfaatkannya untuk mulai bisnis. Itulah pertama kali ayah mendadak kena serangan jantung." Ucap Cinta sambil menahan tangisnya.


"Apakah karena utang itu, ayahmu ingin kamu menikah dengan pilihan ayahmu agar serifikat tanah itu kembali?"


Cinta mengangguk pelan dalam dekapan kekasihnya.


"Tenanglah, aku akan melunasi hutang ayahmu, tapi sebelumnya itu kita harus menikah secepatnya karena aku tidak sanggup lagi menahan diri untuk menyentuhmu." Ucap Tuan Noah membuat Cinta tercekat.


"Jadi, kita belum melakukannya?" Tanyanya hendak bangkit, namun tubuhnya di tahan oleh Tuan Noah.


"Jangan bangkit atau aku akan memperkosamu! aku tidak ingin melihat tubuh polos mu terpampang di depanku. Biar aku yang bangkit duluan. Ucap Tuan Noah lalu meraih celananya untuk dipakai kembali.


Cinta tersenyum lega, walaupun Tuan Noah sudah melihat dan memeluk tubuhnya, setidaknya dia masih berada di zona aman.


Tuan Noah masuk ke kamar mandi dan membiarkan Cinta mengenakan lagi piyama tidurnya.


Selang dua jam kemudian, Tuan Noah mengajak Cinta untuk sarapan pagi di restoran hotel.


Keduanya membahas apa yang menjadi Cinta nekat menjual kesuciannya kepada kekasihnya sendiri yaitu Tuan Noah.


"Sayang! Habis sarapan, kita ke KUA untuk menikah setelah itu kita urus urusan hutang piutang keluargamu. Dengan begitu, teman bisnis ayahmu tidak lagi memaksamu untuk menikah dengan putranya karena kamu sudah menjadi milikku." Ucap Tuan Noah membuat Cinta sangat terharu.


"Terimakasih Noah, aku tidak tahu jika aku tidak bertemu denganmu, apa yang akan terjadi pada hidupku selanjutnya. Takdir begitu cepat mempertemukan kita hingga aku tidak jatuh pada pada lubang neraka yang digali oleh keluargaku untuk menebus utang mereka." Ucap Cinta lirih.


"Mungkin sudah saatnya aku dipertemukan denganmu, hingga aku tidak bisa berpaling dari persona mu, di tambah lagi aku sudah melihat semuanya milikmu walaupun aku tidak menyentuhmu." Goda Tuan Noah membuat Cinta tersipu malu dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Terimakasih Noah untuk semua hal yang akan kamu tempuh nantinya dan sekaligus menikahi aku hari ini. Tapi bagaimana dengan ibuku, apakah ibuku tidak boleh tahu kita menikah dan tanpa minta ijin padanya terlebih dahulu?" Tanya Cinta cemas.


"Aku bukannya kurangajar menikahimu diam-diam. Masalahnya situasimu yang tidak mendukung untuk itu. Biarkan kita menikah terlebih dahulu, sesudah itu kita baru menghadapi ibumu." Ucap Tuan Noah.


__ADS_2