My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)

My Love For My Honey ( Cintaku Untuk Sayangku)
33. Secercah Harapan!


__ADS_3

Dokter Lisa dan timnya bertepuk tangan saat mereka berhasil mengembalikan kesadaran Cinta yang sempat kritis karena pendarahan akut.


Kini organ vital dalam tubuh Cinta mulai beraksi normal kembali. Jumlah akurasi yang terdapat di jari telunjuknya menunjukkan angka di atas normal. Grafik detak jantungnya juga mulai stabil.


"Terimakasih teman-teman! Akhirnya kita berhasil menyelamatkan pasien." Ujar dokter Lisa haru.


"Alhamdulillah dokter Lisa. Tidak sia-sia kita diskusi kasus ini setiap malam dan ternyata kerja keras kita tidak mengkhianati hasil." Ujar dokter Heru.


"Betul sekali dokter Heru, rasanya lelahku terbayar juga dengan keberhasilan kita malam ini." Ujar Dokter Ayu.


"Kalau begitu saya permisi dulu mau menemui walinya pasien nona Cinta." Ujar dokter Lisa.


"Silahkan dokter!" Ujar mereka serempak.


"Sekali lagi terimakasih teman-teman."


Ujar dokter Lisa yang tidak berhenti bersyukur kepada Allah sambil menyalami teman-temannya sebelum menemui Tuan Noah dan keluarganya.


Tim nya hanya mengangkat jempol untuk memberikan pujian kepada dokter Lisa yang berani mengambil resiko dengan penuh keyakinan bahwa ia bisa menyelamatkan kasusnya pasien Cinta.


Dokter Lisa segera keluar menemui keluarga pasien yang sedang menunggu dalam keadaan cemas namun terus berusaha berzikir.


Cek..lek


Tuan Noah tidak lagi memiliki harapan saat melihat wajah dokter Lisa yang tampak lelah dan menegang. Tapi dokter Lisa sedikit mengangguk sambil tersenyum samar. Rasa harunya tidak bisa ia sembunyikan saat bulir bening itu berhasil lolos juga.


Tuan Noah menghampiri dokter Lisa yang tersenyum padanya sambil menangis. Tuan Noah mengerti akan senyuman itu. Ia merasa sudah mendapatkan secercah harapan dari senyum dokter Lisa.


"Tuan Noah! Kita berhasil menyematkan Cintamu." Ucap dokter Lisa dengan suara serak.


"Benarkah Dokter? Cintaku tidak meninggalkan kami?" Tanya Tuan Noah lalu menggendong Honey yang ikut mendengarkan kabar bahagia itu.


"Apakah bundaku masih hidup?" Tanya Honey polos.


"Iya sayang!"


"Dia tidak berani meninggalkanmu." Ujar dokter Lisa.


"Ya Allah. Terimakasih atas karunia-Mu. Alhamdulillah." Cinta mengangkat kedua tangannya sambil menangis.


"Ayah! Bunda menempati janjinya. Dia tidak akan membuatku kesepian tanpa seorang ibu. Ayah terimakasih sudah memilih ibu Cinta sebagai ibu untuk Honey."


Honey mengecup kedua pipi ayahnya yang tidak berhenti menangis.

__ADS_1


"Apakah aku bisa bertemu dengan bundaku dokter?"


"Sebentar lagi akan dipindahkan di kamar inap." Ujar dokter Lisa lalu pamit kepada Tuan Noah kembali ke ruang operasi..


"Ayah! Sekarang kita hanya tunggu keajaiban Allah untuk adik bayi yang sedang kritis di ruang NIKU." Ujar Honey yang kembali sedih.


"Iya sayang! Kita harus yakin kalau Allah akan menolong adik bayi." Ujar Tuan Noah.


Lelaki dari dua anak ini menghubungi adiknya Lea yang sedang menunggu putranya di depan ruang NIKU.


Ia sendiri tidak bisa ke sana karena sedang menunggu Cinta yang sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang kamar inap.


"Lea! Bagaimana kabarnya baby?"


"Belum ada tanda-tanda kehidupan kak. Nafas Babynya masih melemah." Ujar Lea sedih.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun!" Ujar Tuan Noah pasrah.


"Bagaimana dengan kabar kak Cinta? Apakah masih kritis?"


"Alhamdulillah. Cinta bisa melewati masa kritisnya. Sekarang sedang proses pemindahan ke kamar inap." Ujar Tuan Noah.


"Oh iya kak! Tadi aku meminta mama Endang pulang ke mansion. Aldo yang mengantarnya pulang. Kelihatannya ibu Endang kelelahan. Lea takut kalau ibu Endang tiba-tiba jatuh sakit karena ia sangat tertekan melihat dua orang yang dicintainya sama-sama kritis." Ujar Lea.


"Kakak bisa saja! Lea tersipu malu mendapat pujian dari kakak satu-satunya itu.


Tidak lama Suster membuka kedua pintu kamar operasi selebar mungkin untuk memudahkan mereka mengeluarkan brangkar milik Cinta.


Bunyi roda brangkar mulai mendekati pintu keluar. Tuan Noah terlihat bahagia bersama putrinya Honey begitu melihat brangkar Cinta yang di dorong oleh dua orang Suster.


"Ayah! Itu bunda." Tunjuk Honey saat melihat bundanya yang masih menutup matanya.


"Yah, bunda belum siuman." Ujar Honey dengan nada kecewa.


"Itu karena masih pengaruh obat bius sayang." Ucap Tuan Noah dengan sabar.


"Apakah masih lama obat itu bisa pergi dari bunda?"


"Tergantung dosis yang diberikan oleh dokter sesuai yang butuhkan bunda saat melakukan operasi tadi."


Tuan Noah dan putrinya Honey mengikuti brangkar nya Cinta menuju pintu lift. Keduanya sudah tidak sabar menunggu Cinta membuka matanya.


Kamar VVIP yang dilengkapi dengan aroma terapi itu sangat luas dan rapi. Fasilitas di dalam nya sudah setara dengan kamar hotel.

__ADS_1


Honey tersenyum kepada ayahnya." Ayah! Apakah Honey boleh menginap di sini bersama ayah untuk menjaga bunda?" Tanya Honey yang sudah turun dari gendongan ayahnya.


"Boleh sayang!"


Kamar inap ini seperti hotel. Sepertinya orang yang sakit enggan untuk pulang ke rumahnya kalau kamar inap nya seperti ini." Ucap Honey.


Gadis kecil yang sebentar lagi berusia lima tahun ini merebahkan tubuhnya di kasur untuk keluarga pasien. Ia pun mengambil buah apel yang ada di atas meja makan.


"Tapi kamar Honey tidak dilengkapi dengan kulkas dan dapur untuk masak. Di kamar ini ada semua." Ujar Honey membuat ayahnya menarik nafas berat.


"Baiklah. Nanti kamar Honey ayah akan siapkan kulkas dan meja makan dan dapur kecil untuk Honey. " Ujar Tuan Noah menghibur putrinya.


"Benarkah ayah?" Honey memastikan janji ayahnya.


"Iya sayang. Yang penting saat ini kita utamakan dulu kesembuhan bunda dan adik bayi." Ujar Tuan Noah.


"Permisi Tuan! Kami tinggal dulu." Pamit dua suster usai merapikan Cinta dengan memasang beberapa peralatan medis di tubuh Cinta sesuai dengan kebutuhan ibu sambungnya Honey.


Honey mencium kedua pipi bundanya. Gadis itu duduk di sisi Cinta lalu mulai mengungkapkan perasaannya pada Cinta.


"Bunda! Bunda baru sehari berada di ruang operasi tapi Honey merasa sudah satu bulan tidak bertemu dengan bunda setahun."


Tuan Noah mengulum senyumnya. Iapun merasakan hal yang sama seperti putrinya.


"Cinta! Kami semua sangat merindukanmu. Cepatlah sadar sayang!" Bisik Tuan Noah sambil mencium kening istrinya.


"Ayah! Rasanya sangat sepi tanpa ada suara bunda. Biasanya bunda selalu bicara apa saja pada kita. Melihatnya terbaring sakit seperti ini, Honey tidak tega ayah." Ucap Honey kembali sedih.


"Apa yang kamu rasakan sama seperti yang ayah rasakan sayang. Tapi kita tidak bisa memaksa bunda untuk bangun kalau belum waktunya bunda sadar."


"Tapi Honey kangen ayah." Tangis Honey kembali pecah.


"Sayang!" Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu tidur. Ayah temanin yah!"


Honey mengangguk mematuhi perintah ayahnya. Ia tidak ingin menyusahkan ayahnya karena ayahnya terlihat lebih sedih dari pada dirinya. Honey berbaring sambil memeluk boneka beruang yang dibawanya selalu kalau mau menginap.


Honey membaca doa tidur dan istighfar beberapa kali lalu memejamkan matanya. Tuan Noah yang sedang melawan rasa ngantuk tetap tidak bisa mengajak kompromi dengan matanya memilih untuk tidur.


Sekitar sepuluh menit berlalu. Cinta mengerjapkan matanya. Seluruh tubuhnya seakan mau remuk redam. Iapun merasa tidak bisa bergerak karena perutnya yang baru habis di sesar.


"Auhhght! Perutku sangat perih." Batinnya sambil meringis kesakitan.


Cinta tidak bisa bangun dan ia hanya bisa melirik ke kiri dan ke kanan mencari sosok yang ingin ia lihat saat ini. Cinta merasa lega saat melihat sosok lelaki tampan yang saat ini sedang memeluk bidadari kecilnya.

__ADS_1


"Ya Allah! Apakah mereka sangat lelah menungguku seharian sehingga terlelap seperti itu." Batin Cinta.


__ADS_2