
*
*
*
Berly menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kaki kanan yang menompang di kaki kiri wanita itu mengambil remot di meja dan menyalakan televisi yang ada di ruangan Lionel tanpa menghiraukan jika Lionel akan terganggu dengan itu..
Lionel yang baru menyusul wanitanya langsung menggelengkan kepala melihat bagaimana Berly tanpa dosa tertawa dengan pandangan menatap ke arah telivisi..
" Baiklah lakukanlah apapun yang kamu." Mengusap kepala Berly sebelum akhirnya melangkah ke kursi kerjanya..
*
Satu jam berlalu Berly mulai bosan menonton televisi. Mata nya berputar melihat Lionel yang masih fokus dengan pekerjaan.. mendengus kesal. ia sungguh bosan, menyesal rasanya sudah ikut Lionel ke perusahaan.
Berly terus saja mendesah kasar di setiap ia bergerak.. Rasa bosan nya sudah tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata sampai di setiap menggerakkan tubuhnya rasanya begitu kesal..
Mendengar wanitanya terus menghela nafas kasar Lionel menjeda pekerjaan. Melirik kearah Berly yang saat ini sedang rebahan dengan kaki di sandaran sofa dan kepala yang menggelantung hampir menyentuh lantai.
" Aku mengabaikan nya karena pekerjaan Pastilah dia bosan. Sampai melakukan hal konyol seperti itu." Lionel berguman kemudian beranjak dari duduknya menghampiri Berly yang menggoyang kakinya yang berada di sandaran sofa...
Lionel menyelipkan tangannya di punggung Berly dan mengangkatnya supaya duduk dengan benar. " Punggung mu akan sakit jika kau rebahan dengan posisi seperti itu."
" Itu karena aku bosan!!" Sahut Berly ketus..
" Mau melakukan sessuatu supaya tidak bosan?," Ucap Lionel penuh arti..
__ADS_1
" Melakukan apa,?
Lionel mendekat bibirnya ke telinga Berly dan Berbisik. " Bercinta,"
Berly merinding mendengar bisikan dari Lionel. Matanya pun membola dengan sempurna. Dasar pria tak tahu diri! baru tiga jam yang lalu melakukan itu di kamar mandi dan sekarang mau meminta lagi di perusahaan. Dasar mesum gila!!
" Jangan terlalu berlebihan! Hal yang berlebihan tidaklah baik. kau bisa impoten dini!!" Ketusnya sembari mendorong tubuh Lionel menjauh..
" Jika kita melakukan itu kau tidak akan bosan lagi. Bagaimana?" Tanya Lionel sembari menaik turunkan alisnya..
" Ck... Dasar otak mesum." Meraup kasar wajah Lionel. Berly begitu gemas dengan kekasihnya itu..
" Bab!! Kau bisa merusak wajah tampan ku!! Kau bisa membelai wajahku alih alih meraupnya dengan kasar! " Protes Lionel...
" Aku lebih suka menganiaya mu dari pada membelai mu!! Kau akan lebih mesum jika di manja!" Sahut Berly semakin meremas kasar wajah Lionel.. Rasa bosan hilang sudah setelah menganiaya Lionel.
Ceklekk!!!
" Ehem!!!" Ellen Berdehem dengan keras supaya kehadiran dirinya di ketahui oleh dua manusia yang sedang saling berkelahi romantis itu.. bagaimana tidak disebut berkelahi romantis jika keduanya saling menyerang sembari tertawa dan yang lebih membuatnya kesal setengah mati adalah ketika Lionel menyingkap baju wanitanya mencium perut rata itu hingga menimbulkan suara keras.. ingin rasanya Ia mengambil toa dan berteriak di samping telinga dua orang itu...
" EHEM!!!" Untuk yang kedua kalinya Ellen Berdehem dan kali ini jauh lebih keras hingga tenggorakan terasa perih.. dan barulah Berly dan Lionel menghentikan perkelahian mereka. Melirik Ellen yang berdiri dengan wajah masam. Berly merapikan rambutnya dan bajunya yang sudah berantakan. Sementara Lionel menatap dingin pada sekertaris nya itu..
" Lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk keruangan ku!" Kata Lionel dingin.
" Aku sudah mengetuk berkali kali tapi Tuan tidak menyahut. Aku terpaksa masuk karena para Dewan sudah menunggu di ruang meeting." Sahut Ellen.. tidak terima di salahkan karena memang ia sudah mengetuk pintu beberapa kalia sebelum masuk.
" Tetap saja lain kali jangan masuk sebelum aku menyuruhmu!" Kata Lionel yang selalu ingin menang.
__ADS_1
" Baiklah." Jawab Ellen mengiyakan saja dari pada urusanya akan jauh berbelit-belit..
" Baby. Aku akan meeting sebentar.. Pesanlah makanan selagi menunggu ku." Kata Lionel mencium sekilas bibir Berly.
" Hmmm." Jawab Berly sembari melirik Ellen yang memasang wajah tak enak di pandang.. Berly terseyum samar melihat itu karena ia tahu Ellen mungkin menyukai Lionel..
" Sayang, Kau memiliki kamar pribadi di kantor tidak?, Aku capek ingin tidur sebentar saja." Berly berkata dengan manja. Ia sengaja melakukan itu supaya Ellen tahu jika Lionel hanya miliknya dan tidak berharap lebih pada Lionel lagi..
" Apa yang kau katakan tadi, Baby?," Berbalik badan Lionel menangkup kedua pipi Berly.
" Aku bertanya kau memiliki kamar pribadi tidak?," Ulang Berly..
" Bukan yang itu tentu ada kamar pribadi di ruangan ini tapi Kau tadi memanggil ku apa?,
" Sayang,?" Jawab Berly mengeryit.
" Coba katakan lagi?!
" Sayang.
" Again!!
" Sayang!
" One more Time?!
" Sayang sayang sayang sayang sayang!!! Sudah. kau puas!" Ucap Berly sedikit kesal dengan kehebohan Lionel. Memangnya apa spesial nya kata sayang hingga membuat pria itu begitu teropsesi.
__ADS_1
" Hmmm aku puas. panggil aku sayang mulai sekarang," Dahut Lionel lalu memanggut bibir Berly cukup lama walaupun masih ada Ellen di sana..
Ellen memalingkan wajahnya. Kali ini harapan sudah hilang ia juga tidak memiliki keberanian bersaing dengan Berly.. cantik? iya sangat cantik. Kaya? Jangan di tanya lagi. Di bandingkan dirinya yang hanya yatim piatu dan berprofesi sebagai sekertaris. Dirinya bukanlah apa apa jika bersaing dengan wanita itu... Dan yang utama adalah Lionel dengan Lionel mencintai Berly. Itu sudah menjadi pukulan telak bagi Ellen..