
*
*
*
*
Berly memasuki Mansionnya tanpa menyapa siapapun. Matanya pun terlihat membengkak akibat menangis selama berada di pesawat..
Saat itu semua penghuni rumah sedang makan pagi mereka cukup kaget dan bertanya tanya dengan kepulangan Berly yang dirasa terlalu cepat. Bukankah kemarin baru pergi ke san Fransisco untuk menyusul Lionel?. Apa mungkin Pekerjaan Lionel selesai lebih cepat dari jadwal..
" Sweetie. Kenapa sudah pulang,? Apa kau pulang bersama, Lionel?" Tanya Matthew.
" Sorry, Dad. Aku lelah." Jawab Berly sambil berlalu ke lantai atas.. Ia tidak mood untuk membicarakan masalah ini dengan keluarganya apalagi masalah ini begitu sensitif lagi pula ia juga belum mendengar penjelasan dari sisi Lionel.
Matthew menatap Ben sang putra. " Ada apa dengannya,?"
Ben mengangkat bahunya sembari menggeleng karena ia juga tidak tahu kenapa adiknya tampak berbeda.
" Mommy akan melihatnya." Flora beranjak dari duduknya berniat memeriksa putrinya...
" Mom." Lula istri Ben menahan tangan mertuanya. Wanita yang sedang hamil itu menggeleng kan kepalanya..
" Biarkan aku yang berbicara dengannya." Ucap Lula.
Flora mengangguk dan kembali duduk membiarkan sang menantu yang melihat keadaan keadaan Berly..
Lula kemudian menaiki tangga menuju kamar Berly.. wanita itu mengetuk pintu berkali kali.
" Aku lelah bisakah membiarkan ku sendiri?!" Teriak Berly dari dalam karena ketukan pintu terus terdengar dan itu menganggunya apalagi suasana hatinya begitu kacau.
" Ber. Ini kakak. Bolehkah kakak masuk?" Ucap Lula dengan suaranya yang lembut...
__ADS_1
" Kak. Aku sedang tidak ingin berbicara bisakah kakak membiarkan ku sendiri?," Sahut Berly dengan suaranya yang terdengar serak karena wanita itu diam diam sedang menangis di balik selimut tebalnya..
" Biarkan kakak masuk atau kakak akan memanggil daddy dan kak Ben untuk mendobrak pintu!" Ia mendengar suara berly yang serak seperti sedang menangis karena itulah ia memaksa untuk masuk kedalam.. karena Berly bukan tipe wanita yang cengeng bahkan selama ia menjadi kekasih dan menikah dengan Ben satu kalipun dirinya belum pernah melihat Berly menangis..
Ceklekk!!
Pintu terbuka dan Lula langsung masuk kedalam kamar adik iparnya tidak lupa Lula kembali menutup pintunya supaya lebih leluasa berbica dengan Berly..
Lula mendekati ranjang dan disana Berly kembali menenggelamkan tubuhnya setelah membukakan pintu untuknya.
" Ada apa,? Tidak biasanya kau seperti ini,?" Lula mendudukkan tubuhnya di samping ranjang tangan nya terulur untuk menarik selimut yang menutupi wajah Berly..
" Kak. Please!" Lirih Berly sembari memegang erat selimut supaya tetap menutupi wajahnya yang mungkin sudah bengkak karena menangis.
Srek!!
Lula menarik dengan keras dan membuang selimut itu kesamping.. " Bicaralah apa yang terjadi? Katanya kau menyusul Lionel tapi belum juga satu hari kau sudah kembali dengan keadaan menangis. Katakan apa Lionel memukulmu?" Tanya Lula..
Berly menggeleng dan isakan semakin keras terdengar..
" Apa kau memergokinya selingkuh,?"
" Tidak kak.." Sahut Berly lirih..
" Lalu apa? Kau tidak seperti Berly yang ku kenal. Kemana sikap bar bar mu menghilang hm?" Dengan lembut Lula mengusap air nata di pipi Berly .
Berly langsung memasang wajah kesal ketika ingatannya kembali pada saat menghajar Lionel semalam..
" Tenagaku habis hingga tidak ada lagi energi untuk bertindak bar bar setelah menghajar Lionel sampai masuk rumah sakit." Ujar Berly .
" What? Apa maksudmu?.. kenapa kau menghajar, Lionel,?" Tanya Lula dengan mata terbelalak..
" Itu harga yang harus di bayarnya setelah membuat hatiku panas." Sahut Berly.
__ADS_1
" Oh my!! Separah apa kau menghajarnya,?" Tanya Lula yang masih tidak habis pikir memangnya separah apa kesalahan Lionel hingga membuat Berly menghajarnya..
Berly tampak mengingat ingat bagaimana keadaan Lionel semalam setelah yang jatuh pingsan setelah ia pukuli.. " mungkin bisa membuatnya tak sadarkan diri semalam penuh."
" Astaga!! His family will be furious with you, Berly. Remember Lionel was born into an unusual family." Ucap Lula mengingatkan..
" I know it. but I can't help but beat him because Lionel almost made love to his secretary." Sahut Berly mencebiikan bibirnya..
" Oh my!! Pria itu lebih pantas kau tikam sampai mati kalau begitu!" Pekik Lula. Wanita hamil itu jadi ikut emosi dan membenarkan tindakan Berly setelah mendengar penjelasan adik iparnya .
Berly mengangguk semangat karena Lula akhirnya memahaminya. Berly seakan lupa dengan rasa sakit hatinya. " Aku akan melakukan serangan susulan setelah pria itu keluar dari rumah sakit!" Sahut Berly dengan menggebu..
" Jangan kasih ampun seorang penghianat!" Ucap Lula sembari mengadu tinjuan tangannya. Perkataan Lula seperti menyiram minyak dalam api yang membuat Berly semakin membara ingin menghajar Lionel kembali..
*
*
*
Sementara itu di salah satu rumah sakit di san Fransisco.. suara tawa seorang wanita dan pria menggelegar di salah satu ruang rawat VVIP..
Orang itu adalah saudara kembar Lionel. Leo . Leon dan Mommynya Krystal yang datang setelah mendapat telepon dari pihak rumah sakit..
" Berhentilah tertawa!! Apa kalian tidak merasa simpati padaku?! Sudah bak bak belur dan kekasih ku pun kabur!!" Ucap Lionel kesal pengucapan pria itupun tidak terlalu jelas karena mulutnya susah untuk di gerakan tidak hanya itu wajahnya pun penuh dengan perban...
" Salah sendiri kau begitu bodoh!! Hingga terjebak dengan cara murahan seperti itu... Malu dengan status CEO mu itu! Untung Berly masih menyisakan nyawa jika aku yang jadi Berly sudah ku gorok junior mu!!" Sahut Leo sembari menahan tawa...
" Mana aku tahu jika Ellen akan melakukan itu.. dia itu sahabat istrimu jadi aku juga tidak memikirkan wanita itu akan bertindak nekat." Sahut Lionel.
Ya Lionel sudah tahu jika Ellen membiusnya setelah menyuruh Leon kakak keduanya untuk menyelediki di club itu. Leon berhasil membuka mulut bartender yang di suap oleh Ellen..
Leo mengusap wajahnya kasar. Ini menjadi rumit. Bagaimana jika nanti Megan tahu jika sahabatnya telah berusaha menjebak Lionel.. bagaimana pun keputusan ada di Megan mau di bawa kemana pertemanan mereka nantinya..
__ADS_1
" Lalu apa yang akan kau lakukan pada Ellen,?"
" Apa yang bisa kulakukan,? Aku tidak bisa menyeret wanita itu ke penjara aku masih menghormati istrimu bagaimana pun Ellen telah bersama Megan sejak dulu.. aku hanya ingin dia tidak bekerja lagi di perusahaan ku." Sahut Lionel. Sekarang yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana cara bisa menjelaskan semuanya pada Berly.. entah apa yang dipikirkan kekasihnya saat ini yang pasti ia tidak ingin berpisah dengannya apapun yang terjadi...