
"Apa?" suara pak Budi yang baru saja dari mushala bersama Tejo.
"Astaghfirullah.."Bu Inggit histeris.
"Apa kami bisa menemui nya dok?" tanya Nek Danur.
"Tentu saja boleh, setelah pasien di pindahkan ke ruang rawat kalian dapat menjenguk nya. Harap bersabar, jangan lupa selalu berdoa, agar Tuhan memberikan mukjizat nya untuk pasien segera sadar dari koma." ucap sang dokter yang kemudian berlalu meninggalkan mereka yang menangisi kondisi Rindu.
Di bangsal perawatan
"Nduk, ini Bu Inggit. Cepat sadar Nduk. ibu dan bapak menunggu mu Nduk." ucap Bu Inggit yang sejak Rindu di pindahkan ke ruang rawat tak lepas ia menggenggam tangan pucat gadis yang terbaring tak sadarkan diri itu.
" Rin, ayo bangun nak. Jangan kelamaan tidurnya yaa Nduk." pak Budi ikut memanggil Rindu yang berdiri di samping kanan Bu Inggit.
" Ya Allah kenapa begitu berat cobaan mu nak.Pak, apa bapak gak tau Rindu ini masih punya bapak atau gak?" tanya Bu Inggit pada pak RT.
" Mbuh Bu. seingat bapak, dulu ketika pindah Bu Erna bilang suaminya ada dinas luar kota dan jarang pulang. kala itu ia menunjukkan buku nikah dan kk dari kota asal nya dulu Bu. Tapi ya memang selama ia tinggal di lingkungan kita, bapak gak pernah tau seperti apa sosok ayahnya Rindu." jawab pak Budi.
"Trus kita harus gimana pak? ibu rasa juga percuma jika kita kabarkan pada si Erna mengenai kondisi Rindu. Pasti ia tidak peduli." ujar Bu Inggit.
" jangan su'udzon Bu. gak baik." pak Budi mengusap punggung istrinya yang terlihat sedih.
" pasti pak, ibu yakin andai kita datang dan sampaikan kalo Rindu koma, pasti ibu nya yang gendeng itu gak akan bergeming. " Bu Inggit geram.
" hush, istighfar Bu. ngomong nya lho." lagi pak Budi mengusap lembut punggung istrinya yang tengah kalut memikirkan kondisi Rindu yang saat ini terbaring dan entah kapan akan sadar.
" ibu gak su'udzon pak, ibu gak ngomong sembarangan. masih terbayang di mata pak gimana gadis ini diperlakukan pak. miris pak." Bu Inggit terisak.
" wis wis ojo malah nangis Bu. gak akan menyelesaikan masalah. Sebaiknya kita tetap mengabari Bu Erna. masalah ia gubris atau gak ya urusan dia. yg jelas kita sudah bertindak benar. Klo toh misalnya dia gak peduli dengan apa yang menimpa Rindu, yowis kan ada kita." pak Budi menenangkan istrinya.
" terserah bapak aja" Bu Inggit pasrah.
" Nek Danur, Tejo, ngapunten bisa minta tolong titip rindu sebentar. Saya dan ibu ada perlu sebentar. Oh iya ini nomer HP saya, jaga-jaga kalau ada terjadi sesuatu langsung ngebel aja nggih." pak Budi meminta ijin untuk pergi.
" Mangga pak RT, Bu RT. biar saya sm Tejo yang jagain si neng. sok atuh silahkan." ucap Nek Danur.
" Tenang saja Pak,Bu. saya akan menjaga dik Rindu." ucap Tejo.
" kalo gitu kami pamit dulu ya, assalamualaikum." Bu Inggit pamit yang di susul suaminya di belakang.
"Wa'allaikumsallam, hati-hati pak,Bu." sahut Nek Danur pun dengan Tejo.
" Nek, nenek istirahat aja ya di sofa itu. biar Tejo yang berjaga. Nanti kalau ada apa-apa, Tejo bangunin nenek." ucap Tejo lembut.
" yaudah Jang, titip nyak. Ninik istirahat sebentar." Nek Danur pun merebahkan tubuh renta nya di sofa panjang RS.
Rumah Erna
tok..tok..tok..
" Siapa yang namu jam segini sih?" mendengar suara pintu di ketuk, Erna pun melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 22:00.
" si anak pembawa sial kali bu.udah diemin aja. jangan di bukain Bu. biar tau rasa." sahut Angkasa yang sedang rebahan di lantai beralas karpet sambil nonton tv.
" ngapain dia bukannya pergi yang jauh pakek acara balik lagi kesini." geram Erna.
__ADS_1
tok..tok..tok..
tok.. tok..tok..
"Assalamualaikum.. permisi. Bu Erna." suara seorang wanita dari luar.
" eh bukan Rindu,Sa. siapa ya?" Erna terkejut mendengar ada yang mengucapkan salam.
" ih siapa ya Bu? gila aja namu jam segini! mau minta sumbangan apa ya?" Kasa terduduk.
" Assalamualaikum, Bu Erna.. Bu.." ucap wanita itu lagi.
" coba Sa buka pintu, tengok siapa yang datang?" perintah Erna yang tengah asyik menonton sinetron kesukaannya di TV.
" ah ibu, malah nyuruh Kasa. bukannya buka sendiri." Kasa menggerutu.
" ni anak kalo disuruh orang tua. yaudah gak bakal ibu kasih jajan lagi kamu!" ancam sang ibu.
" ih iya iya ini Kasa jalan." Kasa bergegas berjalan menuju pintu, karena takut ancaman ibunya.
"Wa'allaikumsallam, eh." Kasa terkejut ketika membuka pintu.
"Maaf nak, Bu Erna nya ada? maaf mengganggu malam begini." ucap wanita itu yang datang bersama seorang pria.
"Ada Bu RT, sebentar ya Bu." Kasa mundur selangkah dan menengok kebelakang.
" Ibu.., ada tamu.." teriak Kasa dari depan pintu rumah.
" Bocah bener-bener gak tau sopan santun. manggil orang tua teriak-teriak gtu. beda sekali dengan kk nya. entah kemana jalan pikiran Erna, bisa-bisanya ia menyia-nyiakan anak yang baik dan menganak emaskan anak tak tau adab ini" gumam Bu Inggit dalam hati.
" Bu RT" jawab Kasa tak bersuara.membuat Erna terkejut.
" Eh Bu RT, pak RT. tumben ada apa malam-malam kemari?" tanya Erna kikuk.
" malam Bu Erna, boleh kami masuk?" pak Budi menyela.
" Oh iya mari silahkan." Erna pun mempersilahkan kedua tamunya masuk. Kasa pun ngacir ke dalam ruang keluarga.
" Mari pak, Bu. sebentar ya saya buatkan minum." Erna beranjak ke dapur.
" tidak perlu Bu, kami buru-buru. bisa ibu duduk dulu." cegah pak Budi.
" oh baik pak. sebenarnya ada masalah apa ya Pak, Bu?" Erna duduk lalu menyampaikan rasa penasaran nya.
" Begini Bu, kami baru dari RS." pak Budi membuka suara.
" oh siapa yang sakit Pak? warga kampung sini kah? oh bapak mau minta urunan sumbangan ya?" oceh Erna.
" iya Bu. yang sakit itu warga kampung sini. anak perempuan ibu. Rindu!" jawab Bu Inggit yang sudah tak dapat lagi menahan amarahnya.
Sementara Erna sempat terkejut, lalu tanpa diduga justru melontarkan kata-kata yan membuat Bu Inggit dan pak Budi marah.
" Oalah dia toh. si anak pembawa sial itu. Loh apa urusannya sama saya?" tanya Erna.
" astaghfirullah Bu Erna, istighfar Bu. tarik ucapan ibu. ucapan itu doa Bu." pak Budi terkejut dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan Erna.
__ADS_1
" Lah saya bener toh pak RT. kalo si sialan itu sakit apa urusannya sama saya? tadi saya sudah usir dia. dia bukan lagi anak saya. capek saya harus menanggung kesialan gara-gara dia. Saran saya, sebaiknya bapak dan ibu gak perlu repot-repot mengurus si pembawa sial itu. nanti kalian akan ketempelan sial seperti saya. ucap Erna membuat Bu Inggit geram.
" keterlaluan sekali kau Erna, tidak punya hati kah kau sebagai ibu? saat ini putri mu sekarat, dia koma di RS!" Bu Inggit mengepalkan tangannya menahan luapan amarah di dadanya yang sedari tadi bergejolak.
" Istighfar Bu" pak Budi menahan bahu istrinya yang nampak naik turun menahan amarahnya.
" aduh udah deh Bu, saya udah muak sm anak itu. kalo perlu minta dokter untuk suntik mati dia aja! udah ya kalo gak ada yang penting, sudah malam saya mau istirahat." Erna mengusir Pak Budi dan Bu Inggit.
" keterlaluan kau Erna! ingat ucapan ku, suatu saat kau akan menyesal " Bu Inggit dan suami nya pun pergi dari rumah itu dengan amarah di dada.
" Rindu sakit Bu? koma? kok bisa? emang tadi ibu apain?" tanya Kasa menghampiri ibunya yang sedang mengunci pintu.
" ni anak ngagetin aja! biarin lah biar mati sekalian! udah gak usah bahas dia, kepala ibu sakit. Ayo tidur, sudah malam. besok kamu sekolah kan." Erna pun menyuruh anaknya masuk kamar lalu kemudian ia juga masuk ke kamarnya.
Ketika akan merebahkan tubuhnya, Erna merasa dadanya sesak. ia pun kemudian duduk.
" cemplon.." ucapnya lirih. iya sejujurnya Erna sangat khawatir pada keadaan Rindu, apalagi ia mendengar Rindu koma. sejuta tanya melintas di kepalanya. namun luka hatinya mendominasi, setan di dirinya merajai hatinya dan akhirnya memilih abai dengan kondisi Rindu.
Jam dinding menunjukan pukul 01:00, Erna masih tak dapat memejamkan mata. Kemudian ia memilih keluar kamar, dari pintu kamar netra nya menatap pintu kamar bertuliskan "ladies rooms".
iya itu adalah kamar putrinya, Rindu.
Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar itu, membuka pintu kamar dan masuk dua langkah. Pandangan menatap ke sekeliling kamar. Terbayang semua perbuatan buruk dan kejam nya pada Rindu. iya semenjak pindah ke Jakarta, tidak pernah sekalipun Erna memberikan kasih sayang layaknya ibu pada buah hatinya. yang ada ia justru menyiksa anak itu, ada saja hal yang membuat Erna punya alasan untuk menghardik, mencaci, mencubit, menampar, menjambak bahkan memukul Rindu. foto-foto yang menunjukkan prestasi Rindu di berbagai bidang pun tak membuat hatinya luluh. Ya sakit hati atas pengkhianatan suaminya membuat ia menjadi gelap hati dan gelap pikiran.
Tetiba, netra nya berhenti pada sebuah figura berisi puisi. Perlahan ia mendekati figura itu dan mengambilnya dari dinding.
Hatinya bagai di hantam gada yang sangat besar ketika membaca puisi karya Rindu
***Aku merindukan mu***
*mentari bisa berganti dengan sang rembulan.
hangat sang Surya bisa berganti dinginnya angin malam.
Tapi cintamu tak dapat terganti oleh apapun itu Surgaku .
Kau adalah malaikat tak bersayap ku.
Kau adalah pelita jiwaku.
Kau adalah separuh nafasku.
ibuku, cintaku, kekuatan ku.
Aku merindukan mu*.
***Rindu Prameswari Besari***
tanpa disadari , cairan bening meluncur dari mata wanita berkepala 4 itu.
Hatinya remuk, jiwanya porak poranda. Bagaimana bisa putri yang selama 12 tahun ini tidak menyimpan dendam padanya, justru malah masih menyimpan cinta yang tak berubah seperti 12 tahun silam.
namun lagi-lagi ego nya merajai hati. Ia tetap saja membenci seorang gadis yang tengah bertarung antara hidup dan mati.
" Rindu, maafkan ibu " bisiknya lirih di sela tangisnya. dan akhirnya ia tertidur di tempat tidur Rindu sembari memeluk puisi dalam figura.
__ADS_1