
kriiing...kriiing...kriiing ....
Bel pulang sekolah berbunyi. seluruh siswa bergegas pulang ke rumah masing-masing.
"Wa, kita jadi kan jenguk Rindu?" tanya Mega.
"Gw sih iyaa. Kalian mau bareng?" tanya Kemal.
"Yaudah kuy." seru Mega.
"Siapa aja yang mau jenguk Rindu?" tanya Kemal.
"Gw, Fau, sama Naomi aja sih." sahut Mega.
"Gw ikut yaa." ucap Fuad.
"Wa, sorry yaa gw gak bisa ikut. mau anter nyokap ke rumah sakit." sahut Rayan.
"Gak apa bro. salam aja buat nyokap." jawab Kemal.
"Gw cabut duluan yaa" Rayan pun meninggalkan kelas.
"Jadi kita berlima aja nih dari perwakilan kelas ya." ucap Kemal memastikan.
"Gw ikut!" seru Sonny.
"Mau ngapain Lo?" tanya Kemal.
"jenguk Rindu lah. masa main futsal." sahut Sonny enteng. Kemal terdiam. dadanya serasa bergemuruh. tangannya mengepal ingin rasanya mendaratkan satu bogem mentah ke wajah anak baru itu.
"Kenapa? gak boleh? emang ada larangan jenguk temen yang sakit?" suara Sonny membuat Kemal makin emosi
"Kuy berangkat!" Mega menggapai lengan Kemal lalu mengajaknya berjalan keluar kelas di susul Fuad, Fauzya, Naomi dan si biang masalah Sonny.
Tiba di lantai dasar, mereka sudah di tunggu Ridho dan Ibra.
"Lama amat lu Malih!" seru Ridho namun Kemal tak menjawab.
"Lah Lo ikut juga Abar?" tanya Ridho pada Sonny.
"Iyaa gw ikut. sorry nama gw Sonny, bukan Abar." sahut Sonny.
"Abar tuh Anak Baru " Fuad menjelaskan lalu pergi meninggalkan Sonny.
"Kayaknya anak ini punya gelagat kurang baik" gumam Ibra dalam hati.
Mereka pun menuju parkiran. Kemal membonceng Fuad. Ibra membonceng Naomi dan Ridho membonceng Fauzya. Sedangkan Sonny naik mobil yang dikemudikan drivernya.
__ADS_1
Mereka membelah jalanan ibukota seperti akan konvoi karena berjalan beriringan. 20 menit kemudian tibalah mereka di kediaman Besari.
Setelah memarkirkan kendaraan, mereka bergegas turun.
"Assalamualaikum..." ucap Kemal.
"Assalamualaikum...." salam dari yang lainnya bersamaan.
"Wa'allaikumsallam, eh temen-temen nya Den Ayu Rindu. Monggo masuk Den." mbok Dharmi yang membukakan pintu langsung mempersilahkan mereka masuk.
"Gimana keadaan Rindu mbok?" tanya Kemal pada mbok Dharmi.
"Den ayu demam, Den. Ini juga Ndoro Tuan dan Den Nara ada di kamar Den Ayu, menemani takut kejang lagi." jawab mbok Dharmi.
"Kasian yaa si Rin, kapan bahagia nya sih dia?" bisik Naomi pada Fauzya.
"Iyaa ih kasian gw, padahal si Rindu tuh anak baik, cerdas, gak sombong. Kenapa nasibnya gtu banget ya?"Fauzya menimpali ucapan Naomi pun dengan berbisik.
"Gw pikir setelah bangkit dari kematian, ketemu bokap nya dan berlimpah harta gini Rindu bakal happy, ternyata sekarang malah sakit lagi. gw takut si Rindu depresi deh." bisik Naomi lagi.
"Hushhhh! ngeghibah aja lu berdua!" hardik Fuad.
tok...tok... tok... ( mbok Dharmi mengetuk pintu kamar Rindu )
"Masuk ...".....
"Assalamualaikum...." salam mereka serempak.
"Wa'allaikumsallam..." jawab Besari dan Nara.
"Kak Kemal...." ucap Nara.
"Ibra..." ucap Besari. Mereka pun satu per satu menyalami punggung tangan Besari.
"Rindu sakit apa Yah?" tanya Ibra (FYI: setelah Rindu menolak perjodohan antara dirinya dan Ibra, Besari pun mengangkat Ibra menjadi putranya. Dan sejak saat itu, Ibra memanggil Besari dengan sebutan Ayah. ).
"Adikmu demam Bra. tadi jam 10:00 malah sempat kejang." jawab Besari menatap sendu pada putrinya.
"Kita bawa ke rumah sakit aja ya Yah." ajak Ibra.
"Tadi Ayah sudah memanggil dokter keluarga. Dan dokternya sudah datang tadi pagi." tanya Ibra.
"Dokter bilang apa Yah?" tanya Ibra lagi.
"Adikmu belum perlu dibawa ke rumah sakit. Hanya di tuliskan resep, jika 3 hari kondisinya belum membaik ataupun belum ada perusahaan baru di bawa ke rumah sakit." ucap Besari sedih.
"Malll... Kemallll...." terdengar sayup-sayup Rindu memanggil nama Kemal dalam tidurnya.
__ADS_1
"Mal sini!" perintah Ibra. Kemal pun mendekati Ibra dan Besari.
"Yah, nyuwun Ngapunten nggih. Bolehkah Kemal duduk di samping Rindu?" pinta Ibra pada Besari. Besari menatap lekat pada Kemal yang tak mengalihkan pandangannya dari Rindu sejak tadi baru masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Monggo" Besari pun beranjak dari posisi duduknya dan memberi tempat untuk Kemal duduk di samping Kepala Rindu.
"Permisi Om" ucap Kemal membungkuk kan badan.
"Maalll..."Masih terdengar suara Rindu memanggil Kemal.
"Rin, bangun Rin. sudah siang. Aku disini Rin. Ada teman-teman juga yang menjenguk mu." bisik Kemal sambil mengusap lembut puncak kepala Rindu.
"Dek, ayo bangun." ucap Ibra lembut.
"Kakak... bangun kak. Ada kak Kemal nih kak" ucap Nara.
Perlahan Rindu membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang menembus netranya. Alangkah bahagianya ia ketika wajah yang pertama kali ia lihat adalah wajah pemuda yang sejak tadi di sebut olehnya dalam kondisi tak sadar.
"Rin ..." ucap Kemal lembut.
"Mal..." terdengar suara Rindu serak.
"Rin, ini aku bawain buat kamu." Kemal memberikan sebuah kantor kain yang berisi sesuatu seperti papan.
Rindu menatap pada benda yang di sodorkan Kemal. "Ini apa Mal?"
"Kamu buka aja." ucap Kemal lembut.
"Rin, cepet sembuh yaa." ucap Naomi mendekati Rindu sambil menyodorkan parcel berisi buah-buahan yang tadi mereka beli sebelum sampai di rumah Rindu.
"Ya Allah, makasih yaa Nao. Kalian gak perlu repot-repot sih. besok juga aku sudah masuk sekolah lagi." Rindu bersender di kepala tempat tidur nya dan menerima bingkisan dari Naomi.
"Gak repot kok Rin, cuma buah. itu juga kita belinya patungan" sahut Fuad sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal membuat seisi ruangan tertawa.
"Rin, cepat sembuh yaa. ini aku bawakan obat herbal. tadi sebelum menjemput ku kesekolah, driver ku yang membelikannya di toko obat herbal." ucap Sonny menyodorkan paper bag pada Rindu.
"Makasih yaa Son." ucap Rindu. Melihat gelagat Sony, Nara terlihat tak senang.
"Rin, buka dong yang tadi di kasih Kemal. bawain apaan sih si Malih." ucap Ridho penasaran.
Rindu menatap tas kain yang masih ada di pangkuannya. Di sisi lain, Besari yang tadi berdiri di sisi lain ranjang Rindu memperhatikan tiap gerak gerik para muda mudi yang ada di kamar Putrinya, termasuk gerak gerik putrinya sendiri.
"Aku buka ya Mal." ucap Rindu pada Kemal. Kemal pun menjawab dengan sebuah anggukan lembut.
Perlahan Rindu membuka papan yang terbungkus kertas kado motif batik yang tadi berada di dalam tas kain berwarna ungu, warna favorit Rindu.
Betapa terkejutnya Rindu ketika melihat benda itu yang ternyata adalah sebuah lukisan. Ya lukisan wajah dirinya. Di sudut kanan bawah lukisan tersebut, terdapat kata-kata yang bertuliskan. " Me Amor, Rindu Prameswari Besari ".
__ADS_1