Namaku Rindu

Namaku Rindu
pemakaman Angkasa


__ADS_3

mohon maaf untuk readers sekalian, beberapa hari ini author sedang ada urusan sehingga tidak bisa fokus untuk melanjutkan kisah Rindu Besari.


InsyaaAllah author akan tetap terus berusaha update setiap harinya mengenai kisah ini.


mohon bantu dukungan, like,vote juga comment nya yaa. author sangat berterimakasih sekali atas dukungan kalian semua.


salam sayang.


......................


Gundukan tanah merah itu masih basah, taburan bunga juga masih nampak segar ketika satu per satu pelayat meninggalkan nya. Hanya tinggal dua orang saja, seorang pria sepuh bersorban dan seorang wanita yang tak hentinya menangis dan memanggil nama sang anak yang kini telah terkubur itu.


"Sudah lah Bu Erna, ikhlaskan kepergian ananda Kasa. jangan di tangisi berlarut-larut. Kasian almarhum, berat langkahnya" ucap pria bersorban.


"Kasaa..." suara Erna lirih.


"Mari Bu sebaiknya Bu Erna pulang" ajak pria sepuh itu lagi.


"Pak Kyai duluan saja. Saya disini saja. kasian Kasa disini sendirian. saya mau menemani Kasa saja" jawab Erna dengan tatapan kosong.


"Astaghfirullah, istighfar Bu. ibu tidak boleh seperti itu. jika ibu terus seperti ini, artinya ibu tidak sayang pada almarhum."


"Pak Kyai, saya sangat mencintai anak saya, tapi kenapa Tuhan ambil dia dengan cara yang menyakitkan? dulu juga saya sangat mencintai suami saya, tapi Tuhan juga mengambil nya dengan cara yang tak kalah menyakitkan!" Erna menangis, menumpahkan segala yang tersimpan disudut hatinya selama ini.


" Kenapa setiap yang saya cintai diambil dengan cara yang keji... kenapa pak Kyai?? duluuu sekali pun seperti itu. Papi saya pergi dengan cara yang tragis. Tak lama kemudian Mami saya. Apakah Tuhan begitu membenci saya hingga Ia memberi hukuman dengan cara seperti ini?" Erna tertunduk meratap d atas pusara sang putra


"Bu Erna, Allah itu ArRahman dan ArRahim. Jangan pernah ibu berpikir buruk tentang Allah. Bu, sejatinya hanya Ia yang kekal d muka bumi ini. Semua yang bernyawa pasti mati, kita hanya menunggu giliran saja. Dan segala yang terjadi di muka bumi ini pun atas kehendakNya. Tidak ada yang luput dari penglihatan Nya." Pak Kyai menarik napas dalam.


"Istighfar Bu Erna. Percayalah, Allah tidak akan menguji hambaNya melebihi dari batas kemampuan hambaNya tersebut. Bersabar lah Bu. Allah sangat menyayangi ibu dengan caraNya."....


"Sebaiknya kita pulang Bu Erna, sepertinya hari akan turun hujan. Saya yakin almarhum pun akan sedih jika ibunya seperti ini. Mari Bu." ajak Pak Kyai.

__ADS_1


Erna tertegun, menatap pilu pusara yang masih basah. Dan lagi menumpahkan air mata yang entah sudah berapa banyak nya.


"Sa... kamu yang tenang ya disana. Ibu janji akan sering mengunjungi mu. Ibu pamit yaa Sa. " Erna mengusap dan mencium nisan bertuliskan nama putra nya.


Akhirnya Erna melangkah menjauh dari makam sang putra, disusul pak Kyai.


"Bu Erna mari saya antar, kebetulan saya bawa mobil. Saya rasa sebentar lagi hujan akan turun. Langit nampak gelap Bu."Tawaran pak Kyai.


"Tidak usah repot-repot pak Kyai. Saya bisa sendiri. Lagi pula rumah saya dekat sini. Mari kyai Hasan." Erna pun berlalu meninggalkan Kyai Hasan. Pria bersorban itu hanya menatap wanita itu hingga punggung nya menghilang.


Di perjalanan pulang menuju rumah, Erna hanya melamun. Tiba-tiba saja hujan turun cukup deras. Erna terkejut, melihat kekanan kekiri. Akhirnya ia pun berteduh di depan sebuah toko.


"Yanda.. maaf yaa, Nara baru sempat menemui Yanda lagi. selain sibuk sekolah, Nara juga harus menjaga teman Nara di rumah sakit. kasian dia, sebatang kara. makanya Nara membantu menjaga nya." Nara mengusap nisan bertuliskan Gunawan Frederick.


"Gun, anak kita sekarang menjadi pemuda yang luar biasa. Kamu pasti bangga dari atas sana Gun." ucap Besari di samping Nara.


"Maafkan aku juga ya Gun baru sempat mengunjungi mu, akupun membantu Nara. tak mungkin aku membiarkan jagoan kita sendirian. Kamu tenang lah disana, aku usahakan akan sering mengunjungi mu."


"Andai saja Yanda masih disini...." tiba-tiba Nara meneteskan air mata.


" well sebaiknya kita pulang, langit gelap sekali. nampaknya akan hujan cukup deras." Besari mengajak Nara pulang.


"Ayo pa. Yanda Nara pulang dulu yaa.. " setelah berdoa dan mengusap nisan sang Yanda, Nara pun meninggalkan pusara tersebut di susul Besari.


Baru saja masuk kedalam mobil, hujan turun sangat deras.


"Untung ajaaa" Nara sumringah


"Kita beruntung gak basah kuyup." Besari menimpali.


"Ayo jalan pak." pak Supri pin melajukan mobil meninggalkan pemakaman.

__ADS_1


Ketika dalam perjalanan yang baru saja beberapa menit, pandangan Besari terhenti pada sosok seorang wanita yang berdiri di tengah hujan. Meskipun sudah 12 tahun lebih berlalu, matanya tak bisa melupakan wajah itu. Ya, meskipun sudah dimakan waktu, namun Besari masih mengenali nya.


"Stop pak" perintah Besari.


"Ada apa Pa?" tanya Nara terkejut.


Pak Supri yang terkejut pun mengerem mendadak, yang membuat mereka sedikit terguncang.


Namun ketika mobil berhenti, Besari terkejut karena sosok tadi telah menghilang.


"Apa aku berhalusinasi?" gumam nya dalam hati.


"Papa, are you okey?" tanya Nara perlahan.


"It's okay boy, papa hanya tadi sempat melihat seseorang. Tapi mungkin hanya mirip." tukas Besari.


"So, kita jalan sekarang?" Nara memastikan.


Besari hanya mengangguk. Pak Supri pun kembali menstarter mobil tersebut.


"Ibu itu..." Nara lirih ketika melihat wanita yang tempo hari bertabrakan dengannya di lorong rumah sakit.


"Ada apa boy?" tanya Besari.


"Itu pa, ibu yang waktu itu tabrakan SM aku d rumah sakit. papa ingat gak?" Nara menunjuk ke arah wanita itu yang sedang berteduh d depan sebuah toko.


Besari pun mengalihkan pandangan ke arah yang di tunjuk Nara. Betapa terkejutnya ia ketika ia justru lagi-lagi melihat sosok yang ia rindukan selama 12 tahun ini.


"Erna..."


"Apa pa?" ucap Nara bingung.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan sang putra, Besari langsung keluar dari mobil menerobos derasnya hujan.


"Papa....


__ADS_2