
"Stop it. Dho kamu mending balik ya karna kita beda arah. Mal, maaf banget aku mau naik bus sekolah aja. dan anda, tolong berhenti mengatakan saya calon istri anda. jangan membuat orang-orang berasumsi yang tidak baik." Rindu pun berlalu meninggalkan ketiga pemuda itu
"Yes, gw punya ide" Gloria menyeringai.
"Ide apa Glo?" tanya Nawang dan Andin bersamaan.
"Lo liat gak sih kk kelas yg rambutnya keriting itu. apa kalian gak denger kalo kk itu bilang kalo si Einstein girl calon istri nya. gw bisa manfaatin dia untuk jauhin cewek itu dari Kemal." Gloria tersenyum penuh kemenangan.
"Duh jangan aneh-aneh deh Glo." Andin cemas.
"Iyaa Glo, lagian kyk gak ada cowok lain aja sih." ucap Nawang.
"Udah lah gals, kalian tenang aja oke.ini urusan gw." Gloria tersenyum licik
Rindu melangkah menyusuri jalan menuju halte, sesampainya di halte ia duduk dan menunggu bis ke arah rumahnya.
Sembari menunggu bus, Rindu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya.
"Yah, ayah dimana sih? sudah hampir 12 tahun ayah gak ada kabar. Rindu kangen yah." Rindu menatap foto seorang pria yg menggendong anak perempuan berpipi gembul.
"Sudah banyak hal berat yang Rindu hadapi sendiri yah. Rindu lelah yah. Ibu selalu kasar pada Rindu, Kasa pun tidak pernah sopan pada Rindu. Rindu butuh ayah, cuma ayah yang sayang sama Rindu. tapi kenapa ayah tinggalin Rindu selama hampir 12 tahun ini yah?" Rindu menangis sembari memeluk foto lawasnya bersama sang ayah.
tak lama bis pun datang, Rindu pun naik bis dan duduk di sisi dekat jendela. Tak lama ia tertidur bersandar di jendela bus.
Rumah mewah kawasan Jagakarsa
Seorang pria paruh baya menatap lekat ke sebuah foto lawas. Di foto itu terlihat seorang pria menggendong seorang anak kecil perempuan, dan ada foto seorang wanita yang duduk di kursi sambil menimang bayi lelaki gembul yang menggemaskan.
"Dimana kalian?" suaranya bergetar menahan tangis.
"Teganya kamu Er pergi meninggalkan aku dengan membawa serta buah hati kita. Hampir 12 tahun Er, kamu menghilang tanpa jejak.Aku rindu Er, tidak kah kau tau betapa aku tersiksa begini. Apa salahku Er?" Air mata lolos dari pelupuk mata pria itu.
"Rindu, Angkasa, y Allah seperti apa wajah kalian sekarang nak? Ayah sangat merindukan kalian." suaranya terisak.
Ya dialah Amin Besari, lelaki yang ditinggalkan oleh istrinya yang cemburu karna pengakuan seorang wanita bernama Lidya Maulida.
tok..tok..tok..
"Masuk.."Suara pak Besari.
"Maaf ndoro, ada nyonya Lidya dan den Nara d ruang tamu." ucap asisten rumah tangga d kediaman Besari.
"Baiklah. Terimakasih mbok Dharmi. saya akan segera menemui mereka." ucap pak Besari sembari menyeka air mata dan meletakkan kembali foto lawas keluarganya.
"Nggih ndoro." mbok Dharmi keluar dari kamar pak Besari.
"Mom, papa kok lama banget sih?" ucap seorang pemuda tanggung berwajah tampan.
"Udah lah Nara, kamu tunggu disini saja yaa. sebentar lagi pasti papa keluar."ucap Lidya menenangkan putra semata wayangnya.
"Ada apa kalian kemari?" suara pak Besari mengejutkan ibu dan anak tersebut.
"Mas Amin, apakabar mas?"sapa Lidya.
"Papa, Nara kangen Pa..." ucap Nara menghampiri pak Besari kemudian menyalami tangan pria yang ia panggil papa itu.
"Mas, kami merindukan mu mas. Apa tidak bisa kita kembali bersama mas?" ucap Lidya sendu.
"Nara, tolong tinggalkan aku dan mamamu. kami ingin bicara sebentar."suara pak Besari terdengar berat.
"Ok Pa.."Nara melangkah gontai.
"Mas Amin, tolong mas cabut ucapan talak mu mas. Aku mohon ini demi Nara." Lidya bergetar.
"Hentikan ucapan mu Lidya. Aku sudah salah mengambil sikap 12 tahun yang lalu. Seharusnya tak ku iyakan ketika Almarhum Gunawan memintaku untuk menikahimu dan menjaga anak kalian layaknya putra ku sendiri. Karna ternyata justru itu semua penghancur kebahagiaan rumah tangga ku." suara pak Besari begitu terdengar sangat terluka.
__ADS_1
"Apa maksud ucapan mu mas?" Lidya mencoba mengorek kebenaran dari ucapan pak Besari.
"Jangan lagi berpura-pura Lidya.Aku sudah mengetahui semuanya. Aku telah menyewa seseorang untuk mencari dimana istri dan kedua buah hatiku. Akupun mencari tahu penyebab kepergian Erna. ternyata kau lah penyebabnya!"Hardik pak Besari.
"Apa maksudmu mas? Aku gak mengerti!" Lidya berteriak.
"Kamu kan yang datang ke rumahku di Surabaya. Dan setelah itu, istri dan anak²ku pergi dari rumah kami di Surabaya." ucap pak Besari.
"Tolong jujur padaku Lidya, sebenarnya apa yang kau katakan pada istriku, hingga dia pergi membawa serta kedua buah hati kami"pinta pak Besari.
Dibalik ruang tamu, ternyata Nara sejak tadi mencuri dengar percakapan kedua orangtuanya.
"Maksudnya apa sih? papa punya istri lain selain mommy?Jadi apa maksudnya?" Nara penasaran.
"Maafkan aku mas Amin. Maafkan aku yang ingin memiliki mu seutuhnya. Semua ini kulakukan karena aku tak ingin Naratama tumbuh tanpa seorang ayah." Lidya terisak.
"Apa maksudmu Lidya? Bukankah kamu tau alasan ku menikahimu setelah kematian Gunawan karena ingin menyelamatkan Naratama sesuai pesan almarhum Gunawan padaku, lalu apa maksud kata-kata mu barusan??"pak Besari mencecar.
"Aku tau mas, Kau sangat mencintai mbk Erna terlebih anak-anak mu. Aku tau, kamu juga sangat menyayangi anakmu Rindu. Aku cemburu mas, aku iri. Aku tidak rela melihat kebahagiaan mbk Erna dan anak-anakmu. Aku takut suatu saat kau akan meninggalkan aku dan Nara." Lidya terisak.
"Lalu untuk apa kau datang ke Surabaya? apa yang kau katakan pada Erna?" suara pak Besari meninggi.
"Aku katakan bahwa aku istrimu, ku katakan Naratama putra kita. ku katakan pula pada mbk Erna dan Rindu bahwa kau tak menginginkan Rindu, kau menikahiku karena ingin anak lelaki dan aku berhasil memberi mu keturunan laki-laki." Lidya semakin terisak.
"Astaga, Lidya. keterlaluan kau. jadi ini balasan mu kepada ku? kau hancurkan rumah tangga ku, kau buat istri dan anak-anakku pergi dari hidupku. Hati mu sungguh hitam Lidya." hardik pak Besari.
"Maafkan aku mas, aku pikir setelah kepergian mbk Erna kau bisa menerimaku sebagai seutuhnya istrimu. Ternyata aku salah, setelah 10 tahun berumah tangga pun kau tak pernah sekalipun menyentuhku, meskipun ku tau kasih sayang mu tulus untuk Nara. Aku menyesal mas, sungguh aku sangat menyesal mas Amin. Maafkan aku" Lidya kini sesenggukan, air mata tak terbendung.
"Aarrgghhhh..."teriak pak Besari yang hampir melayangkan tangannya kepada Lidya.
"Papa... jangan Pa..." Nara terisak di kaki pak Besari.
"Maafkan mommy Pa, jika papa marah, pukul saja Nara Pa, jangan mommy" remaja tanggung itu memeluk erat kaki pak Besari.
"Nara sungguh kecewa, kenapa mommy melakukan semua ini? kasihan papa mom. Sungguh Nara akan lebih bahagia jika mengetahui hal yang sebenarnya dari awal." Nara terisak menatap mommy nya.
"Nara, bangun nak. Jangan berkata kasar pada mommy mu. Ia melakukan semua ini karena teramat sayang padamu. Dan sungguh, meskipun papa bukan papa kandung mu, papa sangat menyayangi mu Nara."pak Besari membantu Nara berdiri dan memeluk pemuda tanggung itu.
flashback Jakarta, 1 Januari 1993
ngiung..ngiung .ngiung ..(suara sirine ambulance)
Dua brankar keluar dari dua buah ambulance. Mereka adalah sepasang suami istri yang menjadi korban kecelakaan. Tim medis membawa pasangan suami istri itu menuju UGD.
"Suster Diana, ini barang-barang milik korban, tolong di cek barang kali ada keluarga yang bisa dihubungi."seru seorang perawat kepada rekannya sembari memberikan ponsel,dompet dan barang lainnya.
"Baik suster Maya." suster Diana pun mengecek barang-barang tersebut.
"coba kuhubungi nomer ini." suster Diana menatap layar ponsel dan menghubungi nomer tersebut lewat telpon rumah sakit.
Tut..Tut..
"hallo.." suara d seberang telpon.
"selamat malam, apa benar anda Tuan Amin Besari, kerabat dari Tuan Gunawan Frederick?" suara suster Diana.
"oh iya saya sendiri, anda siapa ya?" tanya Besari.
"Kami dari RS Cahaya Medika,mengabarkan bahwa kerabat anda Tuan Gunawan Frederick dan istrinya mengalami kecelakaan. Dan sekarang kondisinya kritis"ucap suster Diana.
"astaga, benar kah itu? apa ini RS di Jakarta?" tanya Besari.
"Benar Tuan." jawab suster Diana.
"Baik suster, tolong tangani Gunawan dan istrinya. saya segera ke Jakarta. saat ini saya berada d Surabaya. tolong lakukan upaya apapun untuk menyelamatkan mereka."Besari cemas.
__ADS_1
"Baik pak." suster Diana mengakhiri sambungan telepon.
*Aku harus segera ke Jakarta. oh sebaiknya aku telpon ke rumah dulu, karna tak sempat lagi jika harus pulang dulu.
Tut..Tut..
"assalamualaikum.." suara sebrang telepon*.
"wa'allaikumsallam, Bu ini ayah." ucap Besari.
"oh ada apa yah" tanya Erna.
"Bu, aku pamit ada pekerjaan d Jakarta. titip anak-anak yaa. maaf gak bisa pulang dulu, karna ini urusan mendadak dan mendesak." Besari menjelaskan pada istrinya.
"oh gitu yah, baiklah.ayah hati-hati yaa.. tolong kabari jika sudah sampai Jakarta."
"Baik Bu, titip anak-ya Bu. Assalamualaikum."
"wa'allaikumsallam..." telepon terputus
Besari muda pun memesan taxi dan bergegas menuju bandara Juanda. Tiga puluh menit kemudian ia sampai dan memesan tiket ke Jakarta. Tak lama ia sudah masuk dalam pesawat, dan pesawat pun lepas landas.
Sembilan puluh menit kemudian ,Besari telah tiba di Soekarno Hatta. Keluar bandara, dia menaiki taxi menuju RS Cahaya Medika. Tiba di RS, Besari menanyakan keberadaan sahabat nya di meja resepsionis.
"Saya kerabat dari Gunawan Frederick, dimana beliau di rawat?" tanya Besari pada seorang resepsionis.
"Beliau masih d ruang UGD pak. ruangan sebelah sana." seorang perawat menunjukan lokasi ruang UGD dengan ibu jari nya kepada Besari.
"Baik, trimakasih sus." Besari pun melangkahkan kaki ke depan ruang UGD.
Tiga puluh menit berselang, tiba-tiba keluar seorang dokter.
"keluarga pasien Gunawan Frederick." suara dokter lelaki berusia sekitar 40 tahun.
"Saya dokter, bagaimana kondisi Gunawan?" Besari menghampiri dokter tersebut.
"Kami sudah berusaha semampu kami untuk menyelamatkan keluarga anda. Saat ini kondisi pasien Gunawan memburuk pak, bahkan beliau tengah koma." ujar sang dokter.
"Astaghfirullah, Gun. Lalu bagaimana kondisi istrinya dok?" tanya Besari lirih.
"Untuk pasien Lidya, beliau mengalami luka yang cukup parah. Namun beruntung kandungan nya baik baik saja, saya rasa ini mukjizat. Malaikat melindungi bayi dalam kandungan tersebut. prediksi saya, beberapa hari lagi bayi itu akan lahir ke dunia." terang sang dokter.
"Baiklah kalau begitu dok, apa bisa saya menemui Gunawan?" tanya Besari.
"Boleh pak, sebentar pasien akan dipindahkan ke ruang rawat." jelas sang dokter.
"Terimakasih dok." ucap Besari.
Menunggu Gunawan di pindahkan ke ruang rawat, Besari pun menghubungi istrinya.
*Tut..Tut..Tut..
"assalamualaikum" suara gadis kecil di seberang telpon*.
"Wa'allaikumsallam, cemplon." suara Besari.
"ayah... dimana? kok belum pulang? apa benar kata ibu ayah ke Jakarta?" celoteh Rindu kecil.
"Duh kekasih hati ayah, kesayangan ayah.Maaf yaa ayah ada tugas mendadak ke Jakarta. nanti kalo tugas ayah selesai, ayah akan segera pulang ke Surabaya. oh iyaa ibu sm dedek Kasa mana Rin?" ucap Besari.
"ibu lagi ngelonin dedek Kasa yah. Tadi ibu yang suruh rindu angkat telepon. kata ibu, kalo ayah mau ngobrol sama ibu besok lagi aja. soalnya ibu capek, dedek Kasa rewel seharian yah." ujar gadis kecil berkulit putih itu.
"Baiklah kalau begitu, Rin juga bobok yaa.. titip peluk cium untuk dedek Kasa juga ibu yaa Rin sayang."Besari berpesan.
"Dadahh ayah, ayah juga jangan capek-capek yaa kerjanya. Rindu saya g ayah. assalamualaikum ayah." Rindu kecil menutup telponnya.
__ADS_1