
Assalamualaikum readers sayang 🤗
Aihhhh Alhamdulillah Namaku Rindu sudah memasuki chapter 20 nih d penghujung September.
Sedih sebetulnya karna perjalanan Rindu tak seceria bulan September. Tapi namanya juga kehidupan, pasti banyak naik dan turunnya. Begitupun perjalanan Rindu Besari.
Gimana? Readers masih penasaran dengan kisahnya?
kalo gtu jangan lupa untuk Like, Vote dan Comment nya yaa supaya Author makin semangad untuk berkisah mengenai Rindu.
Doakan yaa semoga Rindu dan pak Besari segera pulih.
jangan lupa klik Love untuk mendapatkan notifikasi dari novel Namaku Rindu.
Happy reading......
Salam Sayang...... 🥰
..................................
"Erna....."
"Er........."
"Sepertinya ada yang memanggil ku?" gumamnya.
Erna pun menengok ke belakang di tengah derasnya hujan. Namun tak nampak sumber suara yang memanggil namanya.
"Ah mungkin perasaan ku saja" gumamnya dalam hati.
Erna pun melanjutkan langkah menuju rumah.
"Eh ada apa tuh?" Erna penasaran melihat ada kerumunan warga. Tak lama melintas sebuah mobil.
"Ada apa itu pak?" tanya Erna pada seorang bapak yang melintas.
"Baru saja terjadi kecelakaan Bu." terang bapak tersebut.
__ADS_1
"Kecelakaan?" tanya Erna penasaran.
"Iya Bu. barusan sih saya lihat korban nya itu lari seperti mengejar seseorang, tiba-tiba mobil datang dari arah sana dengan kecepatan tinggi. Akhirnya bapak itu tertabrak" lanjut bapak itu lagi.
"Y Allah.." Erna menutup mulutnya.
"Sebaiknya ibu hati-hati ya. kondisi hujan deras begini pasti rawan kecelakaan. jarak pandang menjadi kurang jelas." saran bapak itu.
"Baik pak, terimakasih. kalau begitu saya pulang dulu. Mari" Erna berpamitan dan di balas anggukan kepala oleh bapak tadi.
Setibanya di rumah, Erna segera membersihkan diri dan berganti pakaian.
Ia duduk di depan tivi sambil menyeruput segelas coklat hangat.
"Sepi sekali." ...
"Y Allah, andai bisa ku putar waktu. ingin rasanya agar Angkasa tetap berada disini. Ingin rasanya tetap bersama mas Sari." gumam Erna.
"Mas Sari? apa kabarmu? apa kamu masih bersama pelakor itu?" Erna menghembuskan nafas berat.
"Berita malam ini di awali dengan kabar duka dari pengusaha sukses Amin Besari. Beliau dikabarkan mengalami kecelakaan sore ini. Belum jelas penyebab kecelakaan. Pihak keluarga hanya menyampaikan bahwa saat ini Tuan Amin Besari sedang membutuhkan donor darah golongan O. sampai saat ini belum terkonfirmasi kondisi Pengusaha sukses tersebut.
"Demikian sekilas warta, sampai bertemu 1 jam mendatang. Selamat malam."
"Apa? mas Sari kecelakaan? jangan-jangan...."
"Perempuan itu? dia perempuan yang ke rumah waktu itu kan?? ia benar namanya Lidya. tapi kenapa disitu tertulis kerabat Amin Besari? bukan istri?" Erna menghambur dalam pikirannya sendiri.
"Apa sebenarnya yang terjadi 12 tahun lampau? kalau ternyata perempuan itu bukan siapa-siapa mas Sari, alangkah bodohnya aku telah menyiksa Rindu dan sekarang harus kehilangan Kasa. Dan sialnya aku justru harus meninggalkan suami yang sangat aku cintai." Erna semakin gelisah, pikiran nya berkecamuk. Tak terasa air mata berlinang membasahi wajahnya.
Ruang ICU RS Bina Sehati
"Nak Rindu, ibu mohon sadarlah nak. Bangun cah ayu. Masih banyak disini yang menyayangimu Nduk. Teman-teman mu pun sedang berusaha mencari dimana keberadaan ayahmu. Bapak juga sedang mencari kemana ibu dan adikmu pergi. Ayo Nduk, bangun. bukankah bulan depan kamu ujian kenaikan kelas sayang. Ayo Nduk, bangun" ucap Bu Inggit lirih sembari mencium tangan Rindu yang terasa dingin.
"Jadi gimana nih kak? kalo kondisi Rindu terus drop, bisa-bisa..." Ridho bersuara.
"Jangan ngawur kamu Dho! Rindu pasti sembuh. Kita harus cepat menemukan kedua orangtuanya. entah itu om Besari ataupun Tante Erna. pokoknya kita harus segera menemukan mereka!" seru Ibra.
__ADS_1
"Trus udah sejauh mana perkembangan nya kak?? apa sudah ada titik terang dimana keberadaan ayah ataupun ibunya Rindu?" tanya Kemal.
"Orang suruhan ku baru memberi info kalau ada sedikit petunjuk. Ada yang pernah melihat om Besari d daerah Jagakarsa. Mereka masih menyelidiki nya." terang Ibra.
"Itu perkembangan baik. semoga ayah Rindu cepat ditemukan. lalu mengenai ibu dan adik Rindu?" lanjut Kemal
" entahlah, aku berusaha mencari mereka tapi gelap." jawab Ibra sambil menggelengkan kepala pelan.
" Aku mencari informasi ke sekolah adiknya Rindu. Tapi pihak mereka pun tidak mengetahui keberadaan Tante Erna dan Angkasa. Aneh sih menurut ku. namun aku tetap akan berusaha mencari mereka ." ucap Ibra penuh keyakinan.
Bu Inggit keluar dari ruang ICU. Matanya bengkak, wajahnya sembab menandakan ia baru saja menangis. Tentu saja, hati mana yang akan rela melihat seseorang yang dikasihi menderita seperti yang di alami Rindu.
"Bu, gimana kondisi Rindu? Apa ada perubahan?" tanya Ibra.
Bu Inggit hanya menjawab dengan gelengan kepala dan kembali menangis. Refleks Kemal pun memeluk Bu Inggit dan mengusap punggungnya.
"Ibu yang sabar ya, percayalah Rindu itu gadis yang kuat. Kita hanya perlu yakin dan berdoa agar Rindu segera pulang." Kemal menenangkan Bu Inggit.
"Apa sudah ada titik terang mengenai keberadaan Bu Erna nak?" tanya Bu Inggit.
Ketiga pemuda itu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Dan lagi Bu Inggit menangis.
"Ibu gak habis pikir, terbuat dari apa hatinya Bu Erna? teganya ia memperlakukan Rindu seperti ini. ibu saja yang bukan siapa-siapa nya merasa sakit nak. andai boleh di tukar, lebih baik ibu yang ada di dalam sana" Bu Inggit kembali menangis.
"Tenang ya Bu, istighfar. "Kemal kembali menguatkan Bu Inggit.
Tak lama Pak Budi dan Tejo tiba di rumah sakit. Hari ini giliran Kemal yang menjaga Rindu menemani kedua orang itu. Setelah berbincang singkat, tak lama kemudian Ridho dan Ibra pamit pulang.
" Kami pamit dulu ya Pak Bu." ucap Ibra
"Insyaallah kita pasti kesini lagi."ucap Ridho.
"Ia hati-hati di jalan ya nak Ridho, nak Ibra." Jawab pak Budi, sedangkan Bu Inggit hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Saya keluar sebentar ya Pak, mau beli pulsa juga nih" ijin Kemal.
"Silahkan nak Kemal." sahut pak Budi.
__ADS_1
Ketiga pemuda itu akhirnya berjalan menuju pintu keluar rumah sakit