
Seorang gadis di atas sebuah brankar d dorong oleh beberapa perawat, bau obat-obatan jelas kentara di Indra penciuman. Disisi belakang nampak Bu Inggit, Pak Budi, Nek Danur dan cucunya Tejo mengiringi hingga sampai di ruangan bertulis UGD.
"Maaf, keluarga hanya boleh mengantar sampai sini. Kami akan segera menangani pasien." ucap seorang perawat.
"Pak, bagaimana ini Pak? y Allah Rindu.." Bu Inggit menitikan air mata.
"Tenang Bu, kita doakan saja semoga Rindu baik-baik saja." Pak Budi berusaha menenangkan istrinya.
"Tenang ya Bu RT, sebaiknya kita shalat dulu lalu berdoa untuk kesehatan si neng." Nek Danur mengajak untuk shalat.
" iya Bu, Nek Danur benar. kita gantian saja shalat nya. ibu duluan sm Nek Danur, setelah itu ayah sm nak Tejo. kalo kita sama-sama, takutnya ada perawat yang mencari." saran Pak Budi.
"Yowis Pak, ibu duluan Yo." Bu Inggit mengiyakan.
"Mari Nek, kita shalat duluan." ajak Bu Inggit kepada Nek Danur.
"Mangga Bu RT." sahut Nek Danur. mereka pun menuju mushala RS. setelah mengambil wudhu, mereka segera menunaikan shalat.
"Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah..." Bu Inggit mengucap salam pada rakaat terakhir shalat nya.
"Ya Allah, hamba mohon sembuhkan lah Rindu. Angkat sakitnya, gantikan dengan kesehatan, kesembuhan dan kebahagiaan y Allah. Kasihanilah Rindu ya Allah. Andai bisa, aku rela jika harus menukar kesembuhan nya dengan nyawaku. Hamba mohon y Allah." doa Bu Inggit sambil berderai air mata.
selesai berdoa, Bu Inggit masih terdiam di atas sajadah, air mata terus mengalir membasahi wajahnya. Melihat hal itu,Nek Danur pun menghampiri nya.
" Sudahlah Bu RT, jangan terlampau berlarut dalam kesedihan. Kita hanya bisa berdoa semoga si neng Rindu segera sembuh." ucap Nek Danur menenangkan Bu Inggit.
"Entahlah Nek, rasanya sangat pedih, menyakitkan melihat kondisinya tadi seolah dia adalah putriku sendiri." sahut Bu Inggit bergetar.
" mungkin karena usia almarhumah sebaya dengan si neng Bu RT,makanya Bu RT merasakan hal itu, punten Bu RT 🙏." Nek Danur menerka.
"Entahlah Nek" sahut Bu Inggit dengan tatapan kosong.
Mereka pun beranjak dari mushala menuju ruang UGD. sesampainya depan ruang UGD, nampak Pak Budi yang mondar mandir sambil sesekali memegang dahinya. Ada pula Tejo yang duduk di kursi putih panjang sambil membaca Qur'an dari mushaf kecil di tangannya.
"Pak." panggil Bu Inggit.
"Ibu sudah shalat nya?"tanya Pak Budi.
"sudah Pak. Pak, gimana kondisi Rindu? apa sudah ada kabar?" tanya Bu Inggit.
" Belum ada Bu. Bapak juga cemas Bu." sahut pak Budi.
" Y Allah, yasudah sebaiknya bapak shalat dulu ya. ajak juga nak Tejo sekalian. biar ibu yang jaga disini." ucap Bu Inggit.
" Baik Bu, bapak shalat dulu ya." pamit pak Budi.
" Nak Tejo, ayo kita shalat dulu." ajak pak Budi.
" Baik pak, mari." Tejo mengangguk. Kedua pria beda generasi itupun beranjak menuju mushala.
Kediaman Besari di Jakarta
prank... (suara benda pecah belah jatuh dan hancur seketika)
"Rindu.." ucap Besari ketika tak sengaja tangannya menjatuhkan gelas dari atas nakas tempat tidur nya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, ada apa ndoro?" tanya mbk Dharmi yang datang karena mendengar suara gelas pecah.
"Ah ini saya tak sengaja menyenggol gelas mbok. Maaf ya, bisa tolong bereskan mbok?" sahut Besari.
"Baik ndoro." mbok Dharmi pun membereskan beling pecahan gelas. Ketika tengah membersihkan beling, mbok Dharmi memperhatikan air muka sang majikan, dengan mengumpulkan keberanian ia pun dengan hati-hati bertanya kepada tuannya.
"Nyuwun sewu Ndoro, sepertinya ada yang sedang mengganggu hati Ndoro?" tanya mbok Dharmi.
"Entahlah mbok, dadaku seketika terasa nyeri. Aku merindukan belahan jiwaku mbok, Rindu " jawab Besari lirih.
"Apakah Ndoro belum juga mendapat titik terang kemana Ndoro ayu membawa serta den ayu dan den bagus pergi 12 tahun silam?" tanya mbok Dharmi.
Besari hanya menggeleng. Netra menatap jauh dari balik jendela, pikirannya melayang-layang tak tentu arah.
"Erna, mengapa kau tega meninggalkan aku. Tega kau membawa serta Rindu. hmm" Besari menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
"sing sabar Ndoro. Pasti sekarang den ayu sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Saya ingat ketika dulu Ndoro bei (Ayah Besari) menimang-nimang cucu pertama nya yang sangat ayu, lucu menggemaskan. Saya yakin den ayu adalah wanita kuat. Saya selalu mendoakan semoga Ndoro dapat segera bertemu dan berkumpul dengan Ndoro ayu serta den ayu dan den bagus." mbk Dharmi tulus, lalu meninggalkan Besari di kamarnya.
"Cemplon, dimana kamu Nduk? Ayah merindukan mu Nduk? bagaimana kehidupanmu selama 12 tahun ini? Apakah kau tak merindukan ayah ? Sudah hampir seluruh bagian Surabaya, Malang, Pacitan ayah telusuri, namun tak jua ada jejak mu. y Allah Er, kemana kamu bersembunyi?" Besari menangis terduduk di pinggir tempat tidur.
"Mbok, papa dimana?" tanya Nara.
"Eh den Nara. Ndoro ada di kamar nya." sahut mbok Dharmi sambil menunjuk ke arah kamar dengan ibu jari.
"Papa lagi apa mbok? terus itu gelas kenapa?" tanya Nara penasaran.
"Sepertinya kondisi Ndoro sedang tidak baik-baik saja den. Ndoro muda merindukan keluarga nya. Nyuwun Ngapunten den, maksud si mbok Ndoro muda merindukan den ayu" terang mbok Dharmi.
" Tadi tidak sengaja Ndoro menyenggol gelas hingga jatuh dan pecah." lanjut wanita yang sudah memasuki usia sepuh itu.
"Den Nara ini lucu, darimana si mbok tau keberadaan den ayu? kalau si mbok tau, sejak dari dulu si mbok akan memberitahukan kepada Ndoro muda." jawab mbok Dharmi tersenyum.
"Eh iyaa ya mbok, hehehe" Nara terkekeh.
"Wis den , sebaiknya den Nara berperilaku yang baik, yang santun, belajar dengan sungguh-sungguh, jangan lupa mendoakan den ayu dan den bagus agar mereka semua dalam perlindungan Tuhan. Semoga mereka bisa segera bertemu dan berkumpul lagi bersama ayahnya." ucap mbok Dharmi yang tak terasa meneteskan air mata.
" Nara pasti akan selalu berdoa mbok, Nara juga akan berperilaku baik agar papa juga bangga pada Nara. ya meskipun Nara sudah mengetahui bahwa papa bukanlah papa kandung Nara, tapi yang Nara tau papalah yang selalu ada di sisi Nara dalam kondisi apapun. Nara sayang papa Besari." ucap Naratama tulus.
Akhirnya Nara pun memutuskan pergi dari dapur dan ingin menemui papanya. Belum sampai di kamar sang papa, Nara justru berpapasan dengan Besari di depan ruang keluarga.
"Hai boy." sapa Besari.
"Hai pa, papa apakabar?" tanya Nara. Memang setelah 10 tahun pernikahan dengan Lidya, Besari akhirnya mengetahui bahwa Lidya yang terakhir datang ke rumah Dermaga raya sebelum akhirnya Erna pergi. Namun saat itu, Besari tak mau membahasnya karna memikirkan Naratama. Namun, Besari memilih untuk mengakhiri pernikahan nya dengan Lidya, sejak saat itu Lidya mengajak Naratama pulang ke rumah peninggalan Gunawan. Sedangkan rumah yang ditempati bersama Besari lalu dijual, uangnya d masukan deposito guna biaya pendidikan Nara. Dan Besari memilih tinggal di salah satu rumah peninggalan orang tuanya.
"Alhamdulillah papa baik, kamu sendiri gimana Nak?" tanya Besari.
"Alhamdulillah seperti yang papa lihat. Oh iya pa, hmm papa ada waktu luang?" tanya Nara berhati-hati.
"Tentu saja, ada apa boy?" tanya Besari.
"Gk apa-apa, Nara cuma kangen mau ngobrol sm papa aja." sahut Nara kembali berhati-hati.
"Come on, kamu kayak sama siapa aja. yausudah ayo kita ke ruang keluarga." ajak sang papa.
"Oke pa." sahut Nara, mereka berdua pun menuju ruang keluarga.Melihat majikannya menuju ruang keluarga, mbok Dharmi pun membuatkan minuman dan cemilan kegemaran majikan nya itu.
__ADS_1
Tiba di ruang keluarga, Nara duduk berhadapan dengan sang papa. Tak lama mbok Dharmi menyuguhkan minuman dan makanan ringan. Setelah itu, mbok Dharmi pun meninggalkan kedua majikan nya tersebut.
"Pa." panggil Nara.
"Hmm.." sahut Besari yang tengah menyeruput wedang jahe buatan mbok Dharmi.
"Are you okey?" tanya Nara berhati-hati.
"Of course boy, why?" sahut Besari.
"Apa papa tidak membenci mommy dan Nara?" kembali Nara bertanya dengan sangat hati-hati. tatapan nya juga lekat memperhatikan air muka pria yang sangat ia hormati.
"Nara, apapun yang telah terjadi antara papa, keluarga papa, mommy,Yanda dan juga kita semua itu adalah takdir boy. tidak ada yang bisa lari dari takdir. kita manusia hanya mampu merencanakan lalu berusaha dan berdoa agar rencana itu terlaksana. Masalah terealisasi atau tidak, itu semua hak prerogatif Gusti Allah. Kita manusia hanya mampu berpasrah dan yakin bahwa segala yang Ia berikan memiliki makna dan hikmah. Tidak ada satu hal di dunia ini sia-sia boy. jadi jangan lagi kamu berpikir bahwa papa membenci kalian. Karena kalian adalah bagian lain yang berharga dalam hidup papa, karena Yanda telah menitipkan kalian pada papa." ujar Besari lembut, di tiap katanya terdapat ketulusan yang membuat dada seorang remaja tanggung berdesir. entah perasaan apa itu. yang jelas ada rasa yang besar dari hatinya untuk pria yang sejak ia lahir selalu mendampingi nya itu.
"Papa, you are my Hero. love you pa" Nara menghambur ke pelukan Besari dan menangis sejadi-jadinya.
"Hei, come on. don't cry. semua akan baik-baik saja ok, papa selamanya akan tetap menjadi papamu. dan kau tetap akan menjadi little boy yang selalu papa banggakan." ucap Besari tulus sambil mengacak puncak kepala putra sahabat nya itu.
"Pa, bolehkah Nara bertanya?"
"Of course"
"Pa, seperti apa wajah papa kandung Nara?" tanya Nara.
Besari pun bangkit dari duduknya, ia melangkah menuju sebuah lemari. Ketika ia membukanya, lalu mengeluarkan sebuah album foto. Besari pun kembali duduk dan mulai membuka album itu di dekat Nara.
"Ini foto papa muda bersama 2 sahabat papa. yang ini namanya Gustav Mawardi, dan yang ini bernama Gunawan Frederick." Besari menunjuk sebuah foto yang menampilkan tiga pemuda sedang tertawa saling berhadapan menggunakan toga wisuda.
"Gunawan? Sama seperti nama ku, apakah ini foto papa kandung Nara pa?" tanya Nara memperhatikan foto tersebut.
Sesaat kemudian Besari mengangguk.
"Jika saja Gun masih ada, kamu tak kan memanggil mommy dengan sebutan itu, tapi bunda. Dan kau akan memanggil papamu Yanda. Namun seperti yang papa bilang, Tuhan berkehendak lain. Yanda mu meninggal dalam sebuah insiden kecelakaan yang sebelumnya Yanda mu koma selama beberapa hari boy." ucap Besari menerawang.
"Boy, maukah kamu mengunjungi Yanda mu?" tanya Besari.
"Tentu saja pa, Nara ingin menemui nya."
"Baiklah, besok ikut papa ya."
"Seriously pa? thank you papa, Nara sayang papa." Nara berbinar mendengar ucapan papa nya.
RS Bina Sehati
"Keluarga pasien Rindu" (suara seseorang)
" Ya dokter,saya keluarganya. Bagaimana kondisi anak saya dok?" seru Bu Inggit cemas.
"Kepala nya seperti terbentur beberapa kali sehingga ada luka menggumpal di dalam kepalanya Bu. tapi begitu, sebenarnya luka tersebut tidak akan berdampak seburuk ini pada Putri ibu. Sepertinya ada luka psikis yang sangat membuat jiwanya tidak baik-baik saja Bu. dan mohon maaf sekali saat ini putri ibu dalam keadaan koma." jelas sang dokter.
"Apa ?" suara pak Budi yang baru saja sampai dari mushala bersama Tejo.
"Astaghfirullah." Bu Inggit histeris.
" apa kami bisa menemui nya dok?" tanya Nek Danur.
__ADS_1
" tentu saja setelah pasien di pindahkan ke ruang rawat. Harap ibu dan bapak bersabar. Jangan putus berdoa pada Tuhan agar Ia memberi mukjizat agar putri bapak dan ibu segera sadar " ucap sang dokter yang kemudian berlalu meninggalkan mereka yang sedang menangisi keadaan Rindu.