Namaku Rindu

Namaku Rindu
Kemal meminta restu Bapak


__ADS_3

"Assalamualaikum...." Kemal memasuki rumahnya.


"Wa'allaikumsallam... sudah pulang Ngger..." jawab seorang wanita berparas teduh.


"Nggih Bun."


"Kok sore banget Le?" tanya wanita itu.


" kan tadi pagi Al sudah ijin bunda mau ke toko buku. nih dapet ngeborong" jawab Kemal nyengir sembari menyodorkan barang belanjaannya.


"Itu alat lukis Al?" tanya bunda.


"Nggih Bun" jawab Kemal.


" Bun, Kemal ke kamar dulu ya." pamit Kemal pada bundanya.


"Lekas bersih-bersih Ngger. sebentar lagi masuk waktu shalat." pesan bunda.


Masuk kamar, kemal meletakan barang belanjaannya, lalu duduk di pinggir ranjang.


"Besok harus berjalan sesuai rencana. Malam ini semua harus rampung. Ya Allah mudahkanlah semua rencana ku. Aamiiinnnn." bisik Kemal dalam hati.


Tak lama ia pun bergegas membersihkan diri.


Tak lama adzan Maghrib berkumandang, ia pun menuju mushala dekat rumah untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib.


Selesai shalat, Kemal segera pulang ke rumah.


"Assalamualaikum..." Kemal mengucap salam.


"Wa'allaikumsallam..." jawab Bapak Kemal.


"Ayah sudah pulang?" tanya Kemal sembari menyalami punggung tangan Bapaknya.


"Pas tadi kamu jalan ke musholla" jawab Bapaknya.


"Sudah pulang Al, ayo ganti pakaian terus kita makan. bunda sudah siapin makan malam" perintah bunda.


"Siap Bun..." Kemal bergegas ke kamar, 5 menit kemudian ia telah bergabung di ruang makan.


"Al, gimana keadaan temenmu itu?" tanya Bapak pada putranya di sela santap malam.


"Alhamdulillah baik Pak. sekarang sudah sehat. sudah sekolah pula." jawab Kemal.


"Syukurlah, bunda ikut senang mendengar nya." imbuh Bunda.


"Bun, menurut Bunda. Rindu gimana?" tiba-tiba pertanyaan aneh lolos dari mulut Kemal yang masih asyik mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Rindu itu anaknya cantik, santun, ramah, apalagi dia juga juara umum di sekolah kan. kalo dia anak bunda, pasti bunda akan sangat bangga padanya." jawab Bunda jujur.


"Bun, kalo Al nembak Rindu. Bunda setuju gak?" tanya Kemal pelan.


"Uhuk...uhuk..." bapak tersedak.


"Pelan-pelan pak..." ucap Kemal menepuk-nepuk pelan punggung bapaknya.


"Pelan toh mas ..." ucap Bunda memberikan air minum.


"Kamu mau pacaran Al?" tanya bapak tiba-tiba.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Kemal mematung tak dapat berkata apa-apa.


Suasana ruang makan pun seketika sunyi.


"ehemm.." bunda berdehem.


"Ayo lanjutkan makan nya. Nanti di lanjut ngobrol di ruang keluarga sambil menikmati es teler yang di belikan Kemal tadi." bunda berusaha mencairkan suasana.


10 menit kemudian, acara makan malam telah usai. Ibu beranjak ke dapur lalu di susul Kemal.


"Bi.. tolong bereskan meja makan yaa." perintah bunda pada bi leha, asisten rumah tangga di kediaman Nugraha.


"Baik nyonya." bi Leha pun bergegas membereskan meja makan.


"Perasaan mu saja itu cah Bagus." jawab Bunda lembut.


"Bun, Kemal sayang banget sama Rindu. boleh yaa Kemal berpacaran dengan Rindu." Kemal mohon ijin pada ibunya.


Mungkin ini adalah hal konyol di era saat ini. Dimana banyak muda-mudi yang sering berganti pacar. Namun berbeda dengan Kemal dan Rindu, keduanya belum pernah berpacaran sekalipun.


Dengan latar belakang yang berbeda, mereka tetap fokus dengan pendidikan.


Kemal Aldiaz Nugraha, adalah putra semata wayang dari Erik Nugraha dan Chintya Abdullah.


Erik dan Chintya menikah karena perjodohan antara kedua orangtua mereka. Erik muda dan Chintya muda pun sama sekali belum pernah berpacaran sebelum nya. Karena atas didikan orang tua mereka pula, mereka hanya fokus di pendidikan dan karier.


Setelah memiliki putra, Erik pun menerapkan pola asuh yang serupa dengan yang ia dapat dulu dari kedua orang tua nya, sehingga Kemal jarang memiliki teman untuk sekedar bermain atau nongkrong.


Kemal menghabiskan waktunya untuk belajar dan mengejar prestasi.


Dan karena itu pula lah akhirnya ia bertemu Rindu di suatu perlombaan cerdas cermat antar SD ketika mereka sama-sama duduk di kelas 6 SD.


"Al, apakah Al bisa menjelaskan ke Bunda jika kelak Al berpacaran dengan Rindu, tidak akan mempengaruhi Al dalam tatanan kehidupan?" tanya bunda.


"Bund, berat banget sih. Al kan cuma pacaran Bun. bukan mau nikah sama Rindu." jawab Kemal frustasi.

__ADS_1


"Jadi sama Rindu gak serius?? kalau begitu hanya untuk main-main?? gak untuk serius??" tanya Bunda skeptis.


"Ya Allah Bunda, gak gitu. Al tuh sayang banget sama Rindu Bun. Al tuh gak mau ada yang deketin atau ganggu atau jahatin Rindu. makanya Al mau jadi pacar Rindu. lagi pula Al yakin, setelah itu Al dan Rindu akan semakin rajin dan bersemangat dalam belajar." jelas Kemal.


"Yakin? kamu bisa jamin tidak akan terjerumus ke dalam pergaulan yang menyesatkan? Kemal, Bapak dan Bunda itu di besarkan dengan sistem yang hampir sama dengan orangtua kami masing-masing. Mereka menjaga kami agar tidak terjerumus dalam hal yang akan kami sesali di kemudian hari. Dan saat ini, hal yang sama kami terapkan pada mu, karena kami menginginkan hal yang terbaik untuk mu. apalagi kamu itu anak kami satu-satunya. Kamu paham kan maksud bapak dan bunda?" terang bunda dengan lembut.


"Lalu apakah Kemal akan menjadi bujang lapuk?" tanya Kemal dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Tidak begitu konsepnya Ngger. Kami akan memilihkan jodoh yang paling tepat untuk mu di saat yang tepat pula." jawab Bunda.


"Kalau begitu nikahkan saja Kemal dan Rindu. itu akan jauh lebih baik kan Bun? kami juga terhindar dari dosa yang bapak dan bunda takutkan." ide nyeleneh nan brilian meluncur dari mulut pemuda tampan itu.


"Astaghfirullah mas Erik, anakmu angel banget toh Yo" ucap Bunda mengelus dada.


"Sabar Bunda..." goda Kemal dengan senyuman semanis bayi.


"Kemal akan berusaha meyakinkan bapak, kalau pilihan Kemal gak salah." Kemal pun beranjak dari dapur untuk menemui bapak nya.


"Pak..." panggil Kemal.


"Sini Al.. duduk sini. Mana Bunda? katanya mau bawakan es teler?" tanya bapak.


"Es teler sudah siap...." seru Bunda membawa nampan berisi es teler ke ruang keluarga.


"Sini Bun, Kemal bantu." Kemal mengambil alih nampan yang penuh h dengan mangkuk berisi es teler juga gelas berisi air mineral.


" Ayo pak di coba. seger deh." ajak Kemal.


Mereka pun mulai menikmati es teler tersebut. Namun pandangan Kemal tak lepas dari bapaknya. ia memperhatikan air muka pria yang begitu ia hormati.


Berusaha mencari celah untuk menyampaikan niatannya.


"Enak Al, manisnya pas. beli dimana ini?" tanya bapak.


"Ini di depan toko buku MEDIATAMA pak. di tukang es langganan Rindu. Rindu yang rekomendasi es teler ini." Kemal berusaha mencuri perhatian bapaknya.


"Oh, pintar juga gadis itu." sahut pak Erik.


"Pak. tolong ijinkan Al untuk berpacaran dengan Rindu ya Pak." tiba-tiba entah datang dari mana keberanian itu muncul.


"Astaghfirullah, masih membahas hal itu juga Al." pekik bapak.


"Al janji Pak, kami gak akan salah jalan. kami akan sama-sama mengejar prestasi untuk mencapai cita-cita kami Pak. Pak, Kemal butuh Rindu untuk menjadi penyemangat pak. Kemal mohon pak." Kemal memberi argumen yang sekiranya dapat mengetuk hati sang bapak.


"Al, pacaran itu hanya membawa mudharat. nanti kamu bisa terjerumus dalam hal yang tidak terpuji." suara pak Erik meninggi.


"Bapak gak pernah ngertiin Al!" Kemal pun meninggalkan ruang keluarga dengan kekecewaan.

__ADS_1


__ADS_2