
"Cepat sadar ya Rinduku." Kemal menatap layar ponselnya, dan tak terasa air matanya menetes.
Ia pun bergegas kembali ke ruang ICU. Ketika hendak mengambil sepatu dari loker penyimpanan, tidak sengaja ia bertabrakan dengan seorang pemuda.
"Bugh.."
"Sorry" ucap Kemal.
"Maaf kak" ucap pemuda itu.
"Iyaa gak papa, aku kok yang salah. soalnya terburu buru mau kembali ke ruang ICU." ucap Kemal tak enak hati.
"Nara juga lagi buru-buru kak. papa lagi di UGD." jawab Nara sendu.
"Lho papa ny kenapa?"
"Tadi sepulang dari makam, papa tertabrak mobil. dan luka nya cukup parah."
"Astaghfirullah.. Kamu yang sabar ya dek semoga papa kamu baik-baik saja. oh iya kenalin namaku Kemal." Kemal berusaha menghibur Nara.
"Namaku Naratama kak. kk panggil aku Nara saja " Nara memperkenalkan diri.
" jangan panggil kak, nama aja. berasa tua nih hehehe" Kemal berseloroh.
" Lho emang kk kelas berapa? Nara sebentar lagi naik kelas 8 kak." tanya Nara.
"Aku sebentar lagi naik kelas 11 hii" Kemal nyengir.
"Waahhh gak sopan lah kak kalo aku manggil kk cuma nama saja. Papa bisa marah. Papa selalu mengajarkan Nara untuk sopan dan tau adab. meskipun lebih tua beda 1 hari pun, tetap harus sopan." Nara menjelaskan.
"Weizz, kayaknya papa kamu orang baik ya?"
__ADS_1
"Papa memang orang paling baik sedunia."
"Oh iya kak Kemal ngapain di rumah sakit? tadi katanya mau ke ruang ICU ya?" tanya Nara.
"Oh aku sedang menunggui calon pacarku yang sedang di opname di ruang ICU." jelas Kemal.
"Calon pacar?" Nara menggaruk kepala yang tak gatal.
"Hehehe iyaa, aku sebenarnya sudah lama bersahabat dengannya. Tapi sesungguhnya sudah lama aku menyukainya. Tapi aku takut untuk mengungkapkan perasaan ku. makanya sampai detik ini dia masih jadi calon pacar ku" Kemal berseloroh.
"Astoge, kak Kemal aya-aya wae" Nara tertawa.
"Memang kk itu sakit apa?"
"Saat ini dia koma. sakitnya sebetulnya gak parah. tapi dia seperti memendam luka batin, atau mungkin memendam kerinduan pada ayahnya."
"Oh ayahnya mening..."
"Kasihan sekali kk itu. Nama nya siapa kak?" tanya Nara.
"Rindu Bes..."
"Naraaa" terdengar suara seseorang memanggil Nara.
"Mommy panggil aku kak. oh iya sekali lagi kk semangat ya. salam untuk kak Rindu ya. semoga kak Rindu cepat bangun. dan segera bertemu ayahnya. ku tinggal dulu ya kak Kemal" Nara pamit.
"Oke Ra, semoga papa mu juga baik-baik saja. see you" mereka pun berpisah koridor.
"Gimana kondisi papa mom?" tanya Nara.
"Papa mu membutuhkan donor darah Ra. tadi dokter mengatakan papa mu kehilangan banyak darah." Lidya menangis menceritakan kondisi Besari.
__ADS_1
" Biar Nara yang mendonorkan darah untuk papa"
"Gak bisa Ra. golongan darahmu AB sedangkan papa O. Andai kita tau dimana keberadaan anak-anak papamu"
"Jadi sekarang kita harus gimana mom?" tanya Nara.
"Kita harus bergegas ke bank darah." tukas Lidya.
"Biar mommy yang kesana. kamu disini saja tunggu papa ok. kalo ada apa-apa langsung telpon mommy." perintah Lidya.
"Tapi mom...."
"Please Nara, kali ini aja jangan bantah omongan mommy oke." Lidya pun bergegas ke bank darah.
Nara kembali ke depan ruang UGD. ia duduk di kursi panjang menunggui papa nya yang sedang berjuang antara hidup dan mati.
Ruang ICU
"Kondisi pasien semakin melemah dok."
Dokter pun kembali memeriksa kondisi pasien yang sedang koma itu. Terlihat sangat menyakitkan. seluruh tubuhnya d pasangi alat-alat medis. seolah hidupnya hanya bergantung pada alat-alat tersebut. detak jantung nya pun semakin melemah.
"Kita harus memberi tahu keluarga pasien." dokter pun bergegas keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana kondisi Rindu dok?" tanya Bu Inggit.
"Mohon maaf Bu, dengan berat hati harus saya katakan bahwa kondisi pasien semakin memburuk. bahkan semakin melemah."
"Gak mungkin dokter!" Kemal yang baru tiba dari mushala menjadi histeris.
"Tolong selamatkan anak saya dok" Bu Inggit menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Kami sudah berusaha semaksimal kami Bu. Sekarang kita hanya tinggal menunggu tangan Tuhan bekerja. Semoga ada keajaiban. " dokter pun meninggalkan Bu Inggit dan Kemal.