Namaku Rindu

Namaku Rindu
Kemal menolong papa Nara


__ADS_3

Ibra dan Ridho sudah kembali ke rumah nya masing-masing. Kemal pun segera kembali ke rumah sakit setelah berhasil membeli pulsa dan minuman ringan di minimarket depan rumah sakit.


Ketika memasuki lobby rumah sakit, lagi-lagi ia bertemu dengan Nara.


"Nara!" panggil Kemal.


"Kak Kemal, kk belum pulang?" tanya Nara.


" hari ini giliran aku jaga Rindu. Kamu masih disini. gimana kondisi papa mu?" tanya Kemal.


Nara menghembuskan nafas berat.


"Papa kritis kak, papa membutuhkan donor darah." jawab Nara tertunduk.


"Sialnya golongan darah ku berbeda dengan papa, aku gak bisa menolong papa" Nara pun menangis


"Ishh jangan menangis. Lagipula usia mu juga terlalu dini jika pun golongan darah mu dan papamu sama" Kemal menepuk bahu Nara menguatkan batin pemuda tanggung itu.


"Memang apa golongan darah papamu?"tanya Kemal lagi.


"O kak. dari kami gak ada yang sama. bank darah pun kehabisan stok darah dengan golongan O" jawab Nara sedih.


"Boleh aku menjenguk papa mu?" ucap Kemal tiba-tiba.


"Tentu saja kak. Mari ke kamar papa."...


Mereka berdua pun melangkah menuju bangsal VIP perawatan Besari.


"Sudah kembali Ra"...


"Ia Tante. gimana papa?" tanya Nara.


"Belum ada perubahan Ra."


"Ini siapa Ra?"


"Kenalin Tante Mohra, ini kak Kemal. Kak Kemal ini Tante Mohra." ucap Nara.


Kemal pun menyalami tangan Tante Mohra.


"So, Tante tinggal dulu ya Ra. gak papa kan? Tante mau ngecek kondisi Gladys dulu" ucap Tante Mohra.


"Iya gak apa-apa Tante. Tante mau ku antar?" ucap Nara.


"Gak usah, kamarnya juga Deket sini kok. beda beberapa kamar saja." Tante Mohra tersenyum.


"Tiati ya Tan. salam sama Gladys. kalo ada apa-apa hubungi Nara aja Tan."


"Ok anak ganteng. kamu juga baik-baik, jangan nangis lagi. kasian papa."

__ADS_1


"Tante pergi dulu yaa. bye..." Tante Mohra pun meninggalkan ruangan Papa Besari.


"Ayo kak Kemal, sini" ajak Nara tepat di sisi brankar perawatan Besari.


Kemal mengiyakan. Ia pun berjalan mendekati brankar tersebut.


"Papa, papa bangun yaa. Tidurnya jangan kelamaan Pa. Oh iya ini ada yang datang Pa. kenalin ini kak Kemal Pa. Nara tadi ketemu kak Kemal di mushala. Kak Kemal disini juga sedang menjaga keluarga nya yang sedang tidur panjang kayak papa." Nara mengusap lembut punggung tangan Besari. Pria gagah itu terlihat lemah. Alat rekam jantung terpasang di dada nya. selang infus dan selang kateter pun tak luput dari tubuhnya.


"Hallo Om. nama saya Kemal." ucap Kemal lirih


Tak diduga. sejak tadi Kemal terkejut melihat wajah pria yang tengah terbaring di brankar itu. wajahnya mengingatkan nya pada seseorang. Mata, Hidung,bibir ya fitur wajahnya mirip dengan Rindu. Kemal pun memperhatikan wajah Nara. tak satupun fitur wajahnya maupun garis muka yang mirip dengan pria itu. berbeda sekali. Kemal pun melangkahkan kaki ke arah ujung brankar. ia ingin melihat siapa nama pria itu. biasanya data pasien tertulis di ujung brankar dekat kaki pasien, namun bemum sampai di ujung tiba-tiba elektrokardiograf menunjukkan tanda aktifitas jantung yang lebih cepat. Nara pun menjadi panik. Dengan sigap Kemal memanggil dokter. setibanya dokter dan beberapa perawat, Kemal dan Nara di minta untuk menunggu diluar.


"Ya Allah apalagi ini. Papa jangan tinggalin Nara." Nara menangis di depan pintu kamar Besari.


"Hush, jangan ngomong gitu Nara. Sebaiknya kamu doakan saja papa mu"Kemal menguatkan.


Tak lama dokter keluar.


"Bagaimana kondisi papa Dok?" tanya Nara.


"Papa mu kritis dan saat ini harus segera dilakukan transfusi." ucap sang dokter.


"Astaghfirullah." ucap Nara.


"Apa sudah dapat darahnya?" tanya sang dokter.


"Kita harus cepat mendapatkan pendonor." ucap sang dokter kembali.


"Biar aku saja. tolong cek kondisi saya Dok. golongan darah saya O." ucap Kemal penuh keyakinan. alih-alih senang, Nara malah terkejut.


"Kakak serius?" tanya Nara tak percaya yang dibalas anggukan oleh Kemal.


"Mari ikut saya " Dokter pun membawa Kemal ke ruang donor darah.


Tak lama Lidya datang. Nara menangis dipelukan sang mommy.


bangsal perawatan Gladys


"Tante..." panggil Gladys.


"Yes girls" sahut wanit bertubuh ramping itu.


"Gimana kondisi papanya Nara Tan?" tanya gadis itu.


"Masih belum siuman. Beliau membutuhkan donor darah Dys.Kasian banget kondisinya" sahut Tante Mohra.


"Ya Allah semoga om Besari segera mendapatkan donor darah. selamatkan Om Besari y Allah." doa Gladys


"Aamiiinnnn.." jawab Tante Mohra lirih.

__ADS_1


bangsal perawatan Besari


"Kak Kemal. udah kak?" tanya Nara panik.


"Udah Ra. tenang aja ya. sebentar lagi akan dilakukan transfusi untuk papa kamu. Kamu berdoa aja ya semoga papa cepet siuman dan keluar dari masa kritis nya." jawab Kemal.


"Ini pendonor darah itu boy?" tanya Lidya.


"Iya mommy. kenalin ini kak Kemal. ka, kenalin ini mommy aku." Nara memperkenalkan Kemal.


"Terimakasih ya nak Kemal. Alasan apa kamu mau mendonorkan darah untuk papa nya Nara?" tanya Lidya.


"Gak apa Tante. alasan kemanusiaan. saat ini sahabat saya pun sedang koma. rasanya bahagia jika ada yang membantu disaat seperti ini. semoga saja apa yang saya lakukan, akan dirasakan juga oleh sahabat saya. Saya hanya berharap papa Nara cepat sembuh. Dan kesembuhan yang sama pula untuk sahabat saya." jawab Nara dengan air mata yang terkumpul di ujung netranya


"Yaudah Ra, Tan saya pamit ya. harus balik ke atas. sudah terlalu lama saya pergi. " pamit Kemal.


"Sekali lagi makasih ya kak. oh iya kak. kk ada hape?" tanya Nara.


"Ada kok Ra" jawab Kemal bingung.


"Pinjem sebentar kak " Nara meminta.


"Ini" Kemal menyodorkan hape yang ada d saku celananya.


Terlihat Nara mengetik deretan angka-angka.


"Ini nomer HP Nara kak. kalo kk perlu apa-apa jangan sungkan ya" ucap Nara menunjukkan kontak telpon bertuliskan Naratama Gunawan.


"Ahsiaaapppp. ok deh balik dulu ya Ra."Kemal pun berlalu menuju ruang ICU


Ruang ICU


Tejo nampak khusyuk membaca Qur'an dari mushaf kecil miliknya. Pak Budi terlihat sedang memeluk Bu Inggit yang tertidur di dada nya. iya pasti Bu Inggit lelah menangis seharian ini. Bukan, tapi berhari-hari sudah wanita itu menumpahkan air mata karena kesedihan atas kondisi putri angkatnya.


"Assalamualaikum" salam Kemal.


"Wa'allaikumsallam" jawab Tejo dan Pak Budi.


"Lho Bapak pikir kamu ikut pulang nak Kemal?


"Nggak Pak. maaf baru kembali kesini. Tadi saya ketemu teman yang papa nya juga dirawat disini. Saya niatnya njenguk sebentar. Ternyata papa nya itu kritis dan membutuhkan donor darah."Kemal menjelaskan.


"Lalu?"Tanya Tejo.


"Qadarullah, golongan darah saya dan bapak itu sama. jadi yasudah saya donorkan darah saya untuk bapak itu. Semoga saja apa yang saya lakukan ini akan mendapat balasan dari Allah untuk Rindu." lanjut Kemal.


Mereka pun akhirnya kembali terdiam. Tejo melanjutkan membaca Kalam Illahi, Pak Budi masih setia menjaga Bu Inggit dan Kemal terduduk di kursi sebelah Tejo sambil memegang ponselnya.


"Naratama Gunawan. Gunawan ya, pasti ini nama belakang keluarga. berarti ini nama belakang bapak itu. Sedangkan nama belakang Rindu itu Besari. Ah mungkin perasaan ku saja yang terlalu mengkhawatirkan Rindu. Semoga pak Gunawan itu cepat sembuh" gumam Kemal sambil menatap kontak di hapenya.

__ADS_1


__ADS_2