
"cemplon, maafkan ibu Nduk." ucapnya lirih.
ia pun berlari dari tempatnya berdiri. tak kuasa menahan airmata.
Hingga tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang di lorong RS.
Bugh...
" Aduh.. Eh maaf Bu" suara seorang pemuda tanggung.
" maaf nak ibu gak sengaja" sahut Erna.
" ibu nangis? apa ada yang sakit?" Nara mencoba memeriksa kondisi wanita itu.
" gak nak, ibu gak papa. kamu gak papa kan?" tanya Erna.
" saya baik saja Bu."
" kalo gtu ibu pergi dulu ya, sedang ada perlu. mari." Erna pun berlari meninggalkan Nara yg terpaku.
"Ibu itu kenapa ya? yang jatuh aku kenapa dia yang nangis? Eh tapi kok kayak pernah lihat ya, tapi dimana?" Nara membatin.
"Nara.."
"Eh papa" sahut Nara terkejut.
"Kok masih disini? nungguin papa ya? kan papa bilang, papa ke toilet sebentar. kamu duluan aja ke kamar Gladys." ucap Besari.
" gak pa, tadi Nara lagi jalan, terus ada ibu-ibu lari, nabrak Nara. Nara jatuh." terang Nara.
"Terus ada yang sakit?" tanya Besari panik
"Gak pa, Nara kan jagoan" jawabnya nyengir.
" hmm" Besari menggeleng kan kepala.
"Eh tapi tadi aneh deh pa. kan jatuh Nara, tapi masa ibu yang nabrak Nara yang nangis"
" kok bisa?" tanya Besari.
"Gak tau pa.." Nara mengangkat bahu
"Yaudah biarkan saja, ayo kita ke kamar Gladys. kasian dia sendirian." Besari mengajak Nara menuju kamar Gladys.
" tapi pa, Nara kayak pernah lihat ibu tadi. tapi dimana ya??" Nara berpikir keras
__ADS_1
" udah nanti aja di inget lagi" mereka pun melanjutkan langkahnya menuju bangsal perawatan Gladys.
note: Gladys seorang yatim yang di tinggal meninggal oleh ayahnya karena kanker darah. Ibu nya pergi setelah menikah dengan orang asing. dan tak pernah ada kabar berita. Gladys tinggal dan di asuh oleh tantenya ( adik dari mendiang ayahnya) yang bernama Tante Mohra. Karena memang Nara dan Gladys sudah berteman sejak TK, jadi mereka pun saling mengenal keluarga.
kebetulan Tante Mohra ada pekerjaan keluar kota selama sepuluh hari, sehingga ia menitipkan Gladys pada Nara dan papa nya. Maka dari itu, Nara di temani sang papa menjaga Gladys di RS.
kamar Gladys
"Kayaknya Gladys udah tidur pa." Nara berbisik.
"Yaudah biarin aja, mending kamu istirahat dulu aja boy di sofa. Papa mau cari angin dulu." ucap Besari.
" oke pa, Nara juga ngantuk. nanti gantian aja pa, kalo papa ngantuk bangunin Nara aja ya pa, hoam" ucap Nara yang lalu menguap.
"yasudah istirahat sana." Besari pun meninggalkan kamar Gladys.
ia berjalan menyusuri lorong RS. Angin malam berhembus lembut, menemani langkah Besari.
tiba-tiba, langkah nya terhenti pada sebuah kamar. ia, ini kamar yang tadi sore ia lewati.ia pun masuk ke dalam kamar.ia mengapa seorang gadis muda terbaring tak berdaya,dengan selang oksigen di hidung nya. alat pantau jantung pun bersuara disamping brankar. wajah gadis itu pucat. Besari tak dapat jelas melihat gadis itu, karena posisinya yang menyamping. Namun entah mengapa, dada Besari terasa nyeri, jantungny seolah memompa lebih cepat. Anehnya, elektrokardiograf di samping brankar pun bersuara lebih cepat, yang menunjukkan aktivitas jantung pasien yang lebih cepat. Besari yang menyadari hal itu, langsung keluar dari ruangan tersebut. Sedangkan, seseorang yang sedang menunggui si pasien terkejut, dan mengerjap seketika dari tidurnya. ia menekan tombol untuk memanggil dokter.
beberapa tim medis pun datang ke bangsal perawatan tersebut. Mereka sungguh terkejut dengan kondisi Rindu yang lagi-lagi collapse.
Pak Budi pun akhirnya keluar ruangan, wajahnya pucat, pikirannya kalut. bayangkan saja, baru beberapa saat ia melihat kondisi Rindu baik-baik saja, tetiba baru 10 menit ia memejamkan mata, kondisi Rindu kembali collapse.
20 menit kemudian dokter keluar dengan wajah panik.
"Maaf pak, kami harus memindahkan putri bapak ke ruang ICU karena kondisinya kembali kritis" dokter memberi tahu kabar itu dengan wajah muram.
"Tolong bantu doa ya pak." tak lama brankar itu di dorong dan membawa Rindu ke ruang perawatan intensif.
Dari kaca jendela ruang ICU, pak Budi bersedih melihat kondisi Rindu. Hatinya rekuk redam. betapa ia tak sanggup melihat Rindu yang tersiksa, dengan berbagai alat medis terpasang di hampir seluruh bagian tubuhnya. Di tambah dokter mengatakan hanya menunggu waktu dan mukjizat Tuhan. semakin membuat pak Budi kalut.
Malam itu juga Bu Inggit, Kemal, Ibra dan Ridho pun kembali ke RS menjaga Rindu. mereka semua berkumpul, takut terjadi hal buruk pada gadis yang mereka cintai.
Keesokan harinya, Ibra, Kemal dan Ridho pulang ke rumah masing-masing.
Setelah bersiap, mereka lalu berangkat sekolah.
tok.. tok..tok..
" permisi Bu," Kemal mengetuk pintu ruang guru.
" ia silahkan masuk" sahut seorang guru yang tak lain adalah Bu Febri.
" maaf Bu, saya cari Bu Wardah."
__ADS_1
"itu ada di mejanya."
" permisi ya Bu." Kemal melangkah menuju meja Bu Wardah denga. tubuh yang agak di bungkukan ketika melewati beberapa guru.
"Permisi Bu"
"Ada apa Mal" tanya bua Wardah.
"Maaf Bu, saya mau menyampaikan bahwa untuk beberapa waktu KEDEPAN Rindu tidak bisa bersekolah Bu" ujar Kemal.
" Loh memangnya kenapa?" tanya Bu Wardah terkejut.
Kemal memberikan surat keterangan dari RS, serta beberapa foto Rindu yang tengah kritis.
"Astaghfirullah, Rindu. kok bisa? lalu kenapa bukan orang tuanya yang mengabarkan?" Bu Wardah meneteskan air mata.
" Begini bu..." Kemal pun menceritakan kronologis kejadian yang menimpa Rindu.
Bu Wardah pun geram, lalu akhirnya ia menyuruh Kemal kembali ke kelas.
kring..kring..
jam istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan keluar. Pun dengan Ridho, Kemal dan Ibra. ada yang aneh dari mereka bertiga. kali ini mereka nampak kompak di satu meja yang sama di kantin Bu Hetty.
" jadi gimana? apa rencananya untuk melakukan misi penyelamatan Rindu?" tanya Ridho.
" Saya sudah menyuruh orang kepercayaan ibu saya untuk mencari keberadaan om Besari. nah, kita harus bisa membujuk Tante Erna agar mau menjenguk Rindu di RS. kita juga harus bergantian jaga Rin di sana. gak mungkin kan kita bertigaan terus tiap malam.apa kata dunia." ucap Ibra.
"Nah ini yang gak gw demen!" seru Ridho.
"maksudnya?" tanya Ibra.
" ngapain pake gantian? biar gw yang jaga d RS, loe yang cari papanya Rindu kak, nah Kemal yang bujuk mamanya Rindu." celetuk Ridho sambil mengunyah risol
"Sarap loe!" seru Kemal menoyor lengan Ridho.
"Loe pikir enak jaga d RS? bisa-bisa badan ambruk kalo dipaksakan. gw setuju sih sama ide kak Ibra, biar kita gantian aja. lagian ada Bu Inggit dan pak Budi juga kan" lanjut Kemal.
"So.." Ibra menatap dua adik kelasnya itu.
" yaudah deh, demi Rin Rin, gw setuju." sahut Ridho malas.
"deal" Kemal.
"Ok deal ya." sahut Ibra
__ADS_1
mereka pun melanjutkan makannya.