
"Eh.. sebentar-sebentar.. ini kok ayah pake baju hitam-hitam sih? pak Budi? Bu Inggit? kamu juga Mal, Dho? ada apa sih?? kauak mau k pemakaman aja" rindu berseloroh membuat seisi ruangan terdiam.
"Yah, ini kenapa sih sebenarnya? Rindu penasaran.
"Nduk, kamu yang sabar ya" ucap Besari menahan nafas berat.
" Ada apa Pa?" Nara pun turut penasaran.
"Boy, kamu juga yang kuat ya." Besari memindahkan posisi berdiri diantara Rindu dan brankar Nara.
"Sebenarnya ada apa sih Yah??" Rindu semakin gusar. Besari pun menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Nduk, ibu mu dan Angkasa ....." ucapan Besari terasa berat. tiba-tiba lidahnya kelu.
"Ada apa Yah? apa Ayah berhasil menurunkan ibu dan Kasa? dimana mereka Yah?? Rindu ingin bertemu." ucap Rindu antusias.
"Nduk, ibu mu telah berpulang ke Rahmatullah." Besari tak dapat menahan air mata yang telah ia tahan sejak tadi.
Bagai disambar petir d siang hari, Rindu merasa kepala nya berat seolah d hantam gada ribuan kali. Dan tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke lantai.
"Rinduuu!" teriak seisi ruangan.
"Kak... kakak...."....
"Hmm....dimana ini?" perlahan gadis cantik Putri pak Besari membuka matanya. Menyesuaikan cahaya yang menembus netranya yang terasa menyilaukan.
"Kakak...." ucap seorang pemuda tanggung mengusap pipi gadis itu
__ADS_1
"Kasa?" tanya Rindu berbinar tak percaya.
"Bangun kak, yuk ikut aku kak." ajak pemuda yang tak lain adalah Kasa, adiknya.
Tanpa pikir panjang, Rindu mengikuti adiknya yang tak lepas menggenggam erat tangannya. Mereka berpakaian putih-putih, melewati sebuah taman bunga yang sangat indah. Angin bertiup lembut menyibakan rambut panjang nya. Keduanya berlarian, bersenda gurau. Hal yang hampir dua belas tahun ini diharapkan oleh nya. Dapat bercengkrama layaknya adik dan kakak dengan adiknya semata wayang.
Mereka pun merebahkan tubuh di atas Padang rumput yang begitu hijau. kupu-kupu berterbangan, sungguh pemandangan yang bukan hanya menyejukkan mata, namun juga hati.
"Kakak..." Angkasa membuka percakapan.
"Iyaa dek..." jawab Rindu tanpa menoleh pada sumber suara.
"Kak, Kasa minta maaf yaa. selama ini Kasa banyak berlaku tak baik ke kakak. maafkan Kasa juga, karena Kasa, kakak f usir ibu. Kakak mau kan maafin Kasa." ucap pemuda itu. mendengar penuturan adiknya, Rindu langsung bangkit dan menatap ke arah adiknya.
"Udah yaa Sa, Kasa gak perlu minta maaf. tanpa perlu di minta pun, kakak sudah memaafkan Kasa. Kasa tau gak, hari ini kakak seneng banget karena untuk kali pertama nya mendengar kamu memanggil aku dengan sebutan kakak. dan itu sudah lebih dari cukup. Kasa janji yaa. akan terus nemenin kakak dan gak akan ninggalin kakak." ucap Rindu menggenggam tangan adiknya. Kasa hanya tersenyum.
"Ibu...." Rindu terpana melihat ibunya yang begitu cantik. menggunakan gaun berwarna putih, dan hijab wajah ibunya begitu berseri.
"Nduk, maafkan ibu yaa... selama ini kamu sudah menjadi korban dari kebodohan ibu. maafkan ibu yaa cemplon" ucap wanita itu menitikan air mata.
"Ssttt, udah Bu. gak usah di bahas lagi yaa.. ibu gak punya salah apa-apa kok sama Rindu. Rindu bahagia, akhirnya bisa meluk ibu juga Kasa kayak gini. Janji yaa Bu, kita akan selalu sama-sama. Rindu janji akan jadi orang sukses seperti ayah untuk membuat ibu bangga dan bahagia " ucap Rindu tulus.
Erna pun membantu putrinya bangkit. mereka bertiga bergandengan menyusuri taman bunga dengan hamparan rumput hijau yang luas. Banyak anak-anak kecil berlarian disana.
"Rin... bangun Rin...." samar terdengar suara.
"Nduk bangun, jangan tinggalin ayah... ya Allah Nduk...." ......
__ADS_1
" ya Allah gimana ini, Rindu....."....
"Bu, ibu denger gak sih kayak ada yang manggil-manggil aku?"Tanya Rindu. Erna hanya tersenyum.
"Dek, denger gak sih?? makin jelas lho suaranya. tapi siapa? trus darimana asal suaranya." tanya Rindu pada adiknya yang lagi-lagi hanya tersenyum seperti sang ibu.
Mereka bertiga terus melangkah dan tanpa sadar sudah keluar dari taman bunga itu. menuju ke arah cahaya putih yang begitu terang dan menyilaukan.
"Nduk, waktu nya sudah tiba. Ibu dan Kasa pamit. kamu baik-baik yaa plon. titip Ayah. sampaikan maaf ibu untuk ayah."Ucap Erna memeluk putrinya.
"Lhoh, ibu sama Kasa mau kemana?" tanya Rindu.
"Kakak, baik-baik yaa kak. Jangan lupakan Kasa. Kasa sayang kakak." ucap kasa memeluk kakaknya.
"Kalian mau kemana? jangan pergi. jangan tinggalin aku. Ibu... Kasa..... jangan tinggalin akuu....." Teriak Rindu melihat ibu dan adiknya melambaikan tangan. dan seolah ada sesuatu yang menariknya dengan kuat untuk semakin menjauh dari kedua orang yang ia sayangi.
"Nduk bangun Nduk." ucap Besari frustasi.
"Ya Allah bangun nak... gimana ini pak" Bu Inggit menangis meratap melihat ke arah pak Budi.
"Rin bangun Rin..."Kemal menyodorkan minyak kayu putih ke hidung gadis itu. Tejo dengan lembut mengusap dan memijit lembut tapak kaki Rindu sembari terus melantunkan Kalam Illahi.
"Jangan tinggalin aku, ibuuuuu" teriak Rindu tiba-tiba tersadar dengan peluh d sekujur tubuh nya.
"Ya Allah cemplon, akhirnya kamu sadar juga. Jangan kayak gini lagi ya nduk, jangan tinggalin ayah lagi. ayah bisa mati kalo kamu ninggalin ayah." Besari memeluk erat putrinya.
"Yah, ibu mana ?? Angkasa mana?? tadi Rindu sama ibu dan Angkasa! sekarang mereka kemana???" tanya Rindu pada Ayahnya.
__ADS_1
"Istighfar Nduk. istighfar. Ibu dan adikmu sudah gak ada. istighfar cah ayu." ucap pak Budi. Sedangkan Besari sudah tak mampu berkata-kata lagi.