
"ada aku, kamu tidak sendiri. jika ada keluh kesah, bicarakan padaku. aku akan selalu ada untukmu."ucapnya sembari menyeka air mata Rindu.
"Kenapa kamu baik padaku?" Rindu tertunduk lirih.
"Tentu saja aku peduli padamu. Karena kau adalah calon istri ku." ucap pemuda itu tersenyum.
"Haish, hentikan lelucon mu. Jangan lagi berkata demikian."Rindu membuang pandangannya ke arah danau dekat taman.
"Tatap mataku Rindu, apa kau lihat ada lelucon dari tatapan ku?" tanya pemuda itu ketika menarik bahu Rindu untuk mengarahkan pandangan pada dirinya.
"Ayolah, jangan bergurau. Jika kau benar putra Om Wardi pun, aku tak pernah mengetahui adanya perjodohan itu. Sedangkan hampir 12 tahun ayahku menghilang bagai di telan bumi. Jadi darimana logika perjodohan itu?" Rindu berusaha berpikir realistis.
Pemuda itu terdiam sejenak lalu menghembuskan nafas pelan. Tak berapa lama, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas punggungnya. ia mengeluarkan selembar foto yang terlihat lawas. Foto seorang anak lelaki berambut keriting berdampingan dengan gadis kecil berpipi gembul. Lalu pemuda yang tak lain adalah Ibra memberikan foto itu pada Rindu.
"Apa maksudmu?" tanya Rindu.
"Rin, itu foto kita kecil. coba kau tengok
di baliknya." jawab Ibra.
Rindu pun membalik foto tersebut, ternyata ada tulisan d balik foto itu.
Kelak kalian akan bersatu , seperti janji kami para orang tua kalian. Semoga Tuhan selalu menjaga kalian.
"nggak, ini gak mungkin. ini tulisan tangan ayah 🥺 kok bisa foto ini ada tulisan tangan ayah, sedangkan ayah sudah lama menghilang???" Rindu berkaca-kaca.
"Foto ini kan waktu aku dan ayahku datang ke rumah Dermaga raya Rin. Aku menerima foto ini 5 tahun lalu. Ketika itu ayahku kritis di RS." Ibra mulai bercerita.
"Kritis?" tanya Rindu.
"Iya, ayah ku mengidap kanker darah. Dan disaat beliau kritis, beliau menyerahkan foto ini padaku. Sebenarnya, ayah juga bingung ketika waktu itu ayahmu frustasi Rin" tukas Ibra.
"Wait, aku gak ngerti maksud kata-kata mu?" Rindu mulai tak habis pikir dengan kata-kata Ibra yang mengatakan bahwa ayahnya frustasi, sedangkan selama 12 tahun ini yang Rin tau ayahnya yang pergi meninggalkan dirinya beserta ibu dan adiknya.
__ADS_1
Ibra menjeda kalimat nya, iya kemudian menghembuskan nafas pelan. Berusaha menyusun kalimat yang tidak membuat Rin shock.
"Rin, apakah kamu tau, sebenarnya ibu mu lah yang pergi meninggalkan ayahmu?" tanya Ibra pelan.
"Apa? Jangan ngaco kamu Bra! itu gak benar!" seru Rindu menahan amarah.
"Tenang Rin. Ini yang aku ketahui. Ketika itu ayahmu datang kerumah ku menemui ayah. Wajahnya kacau sekali, tak nampak ketampanan yang dahulu pernah kulihat. Rambutnya keriting acak-acakan, pakaian nya gak karuan, wajahnya tak terurus. Aku mendengar dari balik pintu ruang keluarga ayahmu menangis Rin.Beliau menanyakan apakah ayahku mengetahui keberadaan kalian. Nyatanya ayahku justru terkejut. Ayah pun bertanya ada masalah apa. Dan ayahmu hanya menggeleng frustasi Rin. Bahkan Ayahmu sempat mendapat perawatan di RS." kenang Ibra.
"Astaghfirullah,ayah🥺... Sebenarnya ada apa ini? Kenapa hidupku jadi kacau begini" Rindu menangis lirih.
"12 tahun aku hidup dalam tekanan, aku bagai ayam yang di tinggalkan induknya. Setelah ayah menghilang, Sikap ibu sangat buruk padaku. Bahkan Kasa adikku, oh dia bagai musuh bebuyutan yang memendam kebencian padaku. Ibu tidak pernah mengatakan apapun padaku apa yang sebenarnya terjadi. Sering aku menanyakan perihal ayah kepada ibu. bukannya mendapat penjelasan, aku justru dipukuli, di caci maki bagai anak tiri." Rindu menangis histeris.
"Menangis lah Rin, menangis lah agar hati mu lega." Ibra mengusap punggung Rindu.
"Kenapa kenyataan hidup sepahit ini Bra?" Rindu terisak.
"Kamu kuat Rin, kamu adalah gadis tangguh. Jangan melemah karena hal ini. Aku akan selalu mendampingi untuk menguatkan mu Rin." ucap Ibra lembut.
" Setelah ayahku tiada, aku sempat tinggal bersama Om Besari di Surabaya. Lalu,ketika ibuku kembali dari Belanda ia mengajak ku untuk tinggal bersamanya. akhirnya aku ikut ibuku tinggal di Belanda. Dan baru beberapa Minggu ini aku kembali ke Indonesia. Aku pun mencari dirimu dan Om Besari. sialnya aku tak dapat melacak keberadaan beliau. Rumah Dermaga raya kosong. Tetangga sekitar mengatakan ayahmu pergi dan tak pernah kembali sekitar 2 tahun ini . ketika ku tanya kemana Om Besari pindah, tak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan nya. beruntung aku dapat menemukan jejak Tante Erna. Setelah aku mengetahui keberadaan mu, aku memutuskan untuk pindah sekolah di sekolah kita saat ini Rin." jelas Ibra.
"Om Wardi telah tiada?" Rindu terkejut.
"Iya Rin, ayahku meninggal karena kanker darah stadium akhir. bersyukur ketika itu ayahmu selalu mendampingi kami, bahkan sesudah ayahku tiadapun beliau menampung ku Rin.hingga akhirnya ibu ku kembali dari Belanda." jawab Ibra.
"Lalu dimana ayahku sekarang? apa ayahku sehat? oh Tuhan, bantu aku tunjukkan dimana ayahku." Rin menangis tersedu-sedu.
"Rin, percaya padaku. Aku akan membantu dan menemani mu untuk menemukan om Besari.Dan mengenai perjodohan kita..." Ibra mendadak kikuk.
"Bra, please jangan bahas itu saat ini. Karna urusan percintaan tidak pernah menjadi prioritas ku. Selama ini pendidikan lah yang menjadi prioritas ku. Tapi, ketika ada secercah harapan mengenai keberadaan ayah, prioritas ku kini adalah menemukan ayah." jelas Rindu.
"It's ok Rin. Aku akan menunggu mu. Dan akan selalu mendukungmu. Trust me."Ucap Ibra mantap.
"Terimakasih banyak Bra. Kau seperti oase d tengah Padang Sahara untukku saat ini. terimakasih" Rindu memegang erat tangan Ibra.
__ADS_1
"Sama-sama dear..." Ibra menyentuh ujung hidung Rindu.
Tanpa mereka sadari ada 3 orang gadis yang tengah mengawasi serta memotret mereka.
"Dasar ******, munafik!" Gloria geram.
"Sok cantik!" Andin menimpali.
"Tapi emang Rindu tuh cantik, smart, baik hati sih.." Nawang berceloteh yang spontan membuat Gloria dan Andin mendelik.
"Loe sebenarnya temen kita apa temen si Einstein girl sih Naw?" Gloria geram.
"Tau nih, gak jelas si Nawang! bikin kesel aja" Andin menimpali.
"Gw temen Kelen laah gays.. tapi gw kan orangnya jujur yakaannn." ucap Nawang.
"Terserah Lo deh! yang jelas gw bakal bikin cowok-cowok populer itu benci sama si munafik!" Gloria menyeringai.
" Aku turun disini aja Bra." ucap Rindu menunjuk sebuah gang pada Ibra yang mengemudi motor.
" Loh, rumah mu yang mana?" tanya Ibra.
" masuk k dalam gang." sahut Rindu.
" ok, aku anter k rumah ya." Ibra menstarter kembali motor sport nya.
" no, sorry Bra. kamu antar aku sampai sini aja yaa. Aku gak mau ibu murka, apa lagi mengetahui kamu adalah putra sahabat ayah." Rin menjelaskan.
" ok deh. aku paham. Yaudah, kamu hati-hati yaa dear." Ibra membukakan helm Rindu.
" ok thanks, kamu hati-hati yaa Bra. salam untuk ibu mu" ucap Rindu yang dibalas anggukan oleh Ibra. pemuda itu pun langsung melajukan kuda besi nya.
Setelah punggung Ibra tak nampak, Rindu melangkah menyusuri jalan gang. Dalam langkah nya, pikiran Rindu melayang layang tak tentu arah. berspekulasi tentang ayah dan ibu nya. Hal ini sungguh menyiksa nya.
__ADS_1