
tap..tap..tap..(suara langkah kaki keluar ruang ICU)
"Dokter, bagaimana keadaan Rindu? apakah ada perkembangan?" tanya pak Budi pada seorang dokter yang bernama Dr.Sinatria terlihat dari nametag nya.
"Mohon bantu doa yaa pak. Sabar dan selalu kuat, berikan semangad juga untuk pasien agar bisa segera keluar dari masa kritis nya." jawab dokter Sinatra.
"Baik kalau begitu saya permisi ya pak" beliau pun pamit meninggalkan pak Budi yang masih bersedih
Sudah 7 hari Rindu dipindahkan ke ruang ICU, namun belum juga ada tanda-tanda kondisinya membaik. Bahkan seringkali tetiba kondisinya justru semakin memburuk.
sudah 7 hari pula Kemal, Ridho dan Ibra bergantian membagi tugas menjaga Rindu bersama pak Budi dan Bu Inggit, mencari jejak ayah Rindu juga ditambah harus mencari kemana menghilangnya ibu dan adik Rindu.
Teman-teman sekolah pun silih berganti datang menjenguk Rindu. Mulai dari teman sekelas, teman se ekskul , bahkan teman yg hanya sekedar mengenal karena bersekolah di sekolah yang sama pun ikut menjenguk.
mereka berempati dan simpati pada Rindu. ya, Rindu yang mereka kenal memang adalah sosok gadis teladan.
,..................
" Bu, Sampe kapan sih kita tinggal disini" kapan balik ke rumah kita Bu? Kasa gak betah disini Bu" kasa terdengar merengek pada ibunya disela-sela waktu sarapan.
" Sa, dengerin ibu ya baik-baik, pertama ini tuh rumah kita, peninggalan orangtua ibu, eyang kamu! kedua kita gak akan lagi balik ke kontrakan itu, ketiga, ibu mohooonnn banget sama kamu Sa, berusahalah menjadi anak yang lebih baik, jangan hanya bisa merengek, merengek dan merengek terus! ibu capek Sa!" pertama kalinya Erna menatap anak lelaki kesayangan itu dengan tatapan yang tajam.
" ibu bentak Kasa? Bu aku bukan Rindu Bu, yang dimarahin ibu diem aja, yang di pukul ibu cuma bisa nangis! ibu sekarang bandingin aku sama si Rindu? " Angkasa justru membentak ibu nya.
" cukup Sa! ibu gak mau di debat! ibu juga gak mau lagi denger kamu sebut-sebut nama anak sialan itu."
"Bodo amat! gak peduli!" Angkasa membanting sendok ke piring dan akan meninggalkan meja makan.
" Angkasa!" hardik sang ibu dan hampir saja melayangkan tapak tangannya di pipi Kasa.. beruntung Erna masih bisa mengontrol sehingga hal itu tidak terjadi
__ADS_1
" Apa!? mau mukul? pukul ! pilih yang mana! kupikir ibu sayang sama aku, ternyata ibu itu cuma anggep kami sebagai samsak pelampiasan kemarahan ibu!" ucapan Kasa meninggi.
"Aku gak bego Bu kayak Rindu, yang mau aja tahan di caci, di hardik, di pukulin sama ibu! aku gak Sudi biarpun aku masih kelas 6 SD juga! aku bakal pergi dari sini! kalo ibu berani mukulin aku kayak ke Rindu, aku bakal laporin ibu ke polisi!" Angkasa berlari meninggalkan ibu nya yang mematung mendengar kata-kata anak kesayangan yang begitu ia manjakan.
"Angkasa... " suara Erna terdengar lirih dan pedih. tak terasa air mata menetes, sesaat kemudian ia teringat putrinya, Rindu. betapa 12 tahun terakhir amat sangat timpang kasih sayang yang ia berikan kepada kedua anaknya. Rindu yang ia kasari dengan buruk justru amat baik, sedangkan Angkasa yang begitu ia manjakan malah menjadi anak berperangai tak baik.
tiba-tiba ia sadar dari lamunannya ketika mendengar suara gaduh dari luar.
*ciiitttttt.......
braaakkkk..........
"Astaghfirullah!" suara orang-orang terkejut melihat kecelakaan dimana seorang anak tertabrak sepeda motor.
anehnya para warga yang melihat kejadian tersebut hanya menyaksikan tanpa berusaha menolong mereka.
"Allahuakbar! Kasaaaa!" pecah suara Erna ketika melihat yang menjadi korban kecelakaan adalah putra kesayangannya, Angkasa Besari. Darah segar mengalir dari kepala bocah itu.
"Tolong... Tolong.... bawa anak saya ke rumah sakit. tolong!" Erna berteriak meminta pertolongan. Bak sebuah mantra, suara Erna seperti menggerakaan orang_orang untuk mengangkat tubuh penuh darah tersebut. Mereka memberhentikan taxi dan memasukkan Kasa ke dalam taxi tersebut, disusul Erna yang masuk ke dalam taxi. Mereka pun melaju menuju rumah sakit.
Rumah Sakit Bakti Rahayu
20 menit kemudian taxi itu tiba di lobby rumah sakit Bakti Rahayu. Erna bergegas keluar dan meminta petugas medis mengangkat anaknya yang menjadi korban kecelakaan. Dengan sigap beberapa perawat datang dengan brankar. Setelah meletakan Angkasa, mereka mendorong brankar menuju ruang UGD.
"Kasa, nak.... bangun nak...." suara Erna lirih berjalan menelusuri lorong rumah sakit mengikuti brankar putra nya.
"Suster, tolong anak saya suster. selamatkan nyawanya."
tak berapa lama mereka sampai di depan ruang UGD.
__ADS_1
"Maaf, ibu hanya bisa mengantar pasien sampai disini saja. " seorang perawat menghentikan Erna.
"Tapi saya ibunya sus." Erna lirih.
" saya mengerti Bu, tapi sudah peraturan rumah sakit. harap ibu memahami nya. sebaiknya ibu tunggu disini dan bantu kami dengan doa agar putra ibu selamat." perawat itupun bergegas masuk meninggalkan Erna.
ketika pintu di tutup, Erna sontak ambruk, kaki nya seolah tak punya daya. kepala nya tertunduk, tangannya meremas rok di atas lutut nya. suara tangis yang tak terbendung lagi. airmata membanjiri seluruh wajahnya. pikirannya melayang kemana-mana. ia sungguh kecewa pada takdir, mengapa ia harus kehilangan banyak orang yang ia cintai. Suaminya yang mengkhianati, lalu Rindu dan kini Angkasa.
"Tidak, Rindu tidak pergi. justru aku yang telah mengusirnya! aku yang sudah menyiksanya selama 12 tahun ini! apakah ini balasan dari Tuhan padaki yang telah dzolim pada anak sebaik Rindu? " tetiba Erna tersadar dan terhenyak akan pikirannya sendiri.
"Tuhan, ampuni aku. ampuni aku yang telah begitu terpuruk selama 12 tahun ini. ampuni aku yang telah jahat pada Putri kandung ku sendiri. ampuni aku karena telah salah mendidik dan mengasuh Angkasa. aku mohon Tuhan, jangan ambil anakku" Erna menangis sejadi-jadinya.
40 menit berlalu, seorang dokter keluar dari ruang UGD. dokter itu mengedarkan pandangan seperti mencari seseorang, lalu pandangannya terhenti ketika melihat sosok wanita dengan pakaian yang penuh noda darah.
" Itu pasti ibu korban" gumam sang dokter. ia pun melangkah mendekati wanita yang sedang tertunduk di kursi panjang.
" maaf, apakah anda adalah ibu dari korban kecelakaan yang tadi masuk ruang UGD?" tanya dokter itu.
"Ah iya dokter, saya ibu nya Angkasa, bagaimana keadaan anak saya dok? dia baik-baik saja kan dok?" tanya Erna mencecar sang dokter.
"Hmm,, harap ibu yang kuat ya. kami sudah berusaha semaksimal yang kami bisa. namun Tuhan lebih menyayangi putra ibu." dokter menarik napas berat..
"maksud dokter? anak saya....?" Erna bergetar,tak mampu melanjutkan kata-katanya. dokter hanya mengangguk pelan. Tak lama terdengar suara roda brankar berjalan. Erna menengok ke arah brankar tersebut. terlihat sesosok jasad yang sudah d tutupi kain putih.
"Almarhum akan di bawa ke kamar jenazah untuk dimandikan Bu." suara dokter itu seperti petir yang menyambar jantung Erna.
seketika ia berlari ke arah brankar itu. dan berhenti tepat di sisi brankar tersebut. Perlahan ia menggerakkan tangan ke arah kain putih yang menutupi jasad tersebut. dengan sisa kekuatan yang ia miliki, ia angkat kain putih itu.
" tidaaaakkkkk. Kasaaaaaa! " Erna histeris, ia menangis meraung-raung memeluk jasad putra nya yang telah terbujur kaku
__ADS_1