Namaku Rindu

Namaku Rindu
Katakan Cinta (Part 1)


__ADS_3

"Kenapa hidupku seperti ini. kenapa orangtuaku harus memiliki pemikiran yang terlalu kolot di era saat ini." gumam Kemal ketika masuk ke dalam kamar.


"Meskipun bapak tidak mengijinkan, aku akan tetap meminta Rindu untuk menjadi pacarku besok. Sebaiknya aku mempersiapkan semuanya Sekarang." Kemal menuangkan cat air pada palet, kemudian mulai menggoreskan kuas yang telah di celup ke cat air pada kanvas di hadapannya.


"Mas Erik. sabar. Gak bisa kita menghadapi anak dengan emosi. jamannya sudah berubah Mas" Bunda berkata pada bapak.


"Ini yang terbaik untuk Kemal. Kita pun di didik seperti ini oleh orang tua kita Cinthya."


"Mas, zaman sudah berubah Mas. saat ini anak semakin kita kekang, semakin kita larang, maka akan semakin susah kita arahkan. yang ada nantinya dia akan semakin jauh dan membangkang."Bunda mencoba memberi penjelasan pada bapak.


"Sebaiknya kita ijinkan Al untuk berpacaran dengan Rindu Mas. Setau ku, Rindu adalah gadis yang baik, santun, cerdas. Aku yakin mereka akan dapat saling menjaga, saling memberi support, saling melengkapi." imbuh Bunda.


Pak Erik terdiam. Beliau berusaha mencerna kata-kata istrinya tersebut.


Berusaha menimbang, mencari solusi terbaik untuk putra semata wayangnya itu.


"Baik, aku akan mengijinkan mereka berpacaran. Dengan syarat." suara pak Erik terhenti.


"Syarat apa mas?" tanya bunda penasaran.


"Syarat bahwa prestasi mereka harus lebih baik minimal sampai semester ini. Aku gak mau ketika mereka berpacaran justru prestasi mereka menjadi anjlok. " jelas pak Erik.


"Kalau begitu mari kita sampaikan pada Kemal." Bunda dan Bapak pun bergegas menuju kamar Kemal.


tok..tok..tok...


"Masuk, gak di kunci." jawab Kemal malas


"Sedang apa Ngger?" tanya Bunda menghampiri putra kebanggaan nya itu.


"Melukis Bun." jawab Kemal seperlunya.


"Ini bukannya wajah Rindu ya?* tanya bunda ketika melihat lukisan setengah jadi karya putranya.


"Iyaa Bun" sahut Kemal.


"Cantik juga ya yang namanya Rindu itu. pantas anak bapak tergila-gila pada nya." komentar bapak.


"Memang dia gadis paling cantik di dunia ini Pak." sahut Kemal.


Tak ada lagi yang terucap. kedua orang tua itu fokus memandangi hasil karya Kemal hingga sang maestro merampungkan karyanya.


"Finish..." ucap Kemal dengan nada bahagia.


"Great job Al." suara Bapak mengejutkan Kemal.


"Lhoh, bapak sama bunda masih disini?" Kemal terkejut.


"Sapuan kuas mu semakin bagus ya Ngger." puji bunda melihat hasil karya putranya.

__ADS_1


"Ternyata betul ya Mas, sesuatu yang dibuat dengan menggunakan cinta itu hasilnya beda." ucap Bunda melirik suaminya.


Mendengar itu Erik hanya terdiam, entah apa yang sedang berkecamuk dalam benak nya. Tak lama ia menghela nafas berat.


"Al... Bapak izinkan kamu berpacaran dengan Rindu." ucap Erik.


"Serius Pak?" tanya Kemal tak percaya. Dia berusaha menyelidik tiap inchi dari raut wajah sang bapak. mencari kebenaran dari kata-kata yang baru saja ia dengar.


"Iyaa Le. Namun dengan syarat." ucqp Erik.


"Syarat?" tanya Kemal.


" kamu harus membuktikan pada bapak bahwa hubungan mu dan Rindu akan membuat kalian berdua semakin berprestasi. Paham kan maksud bapak." jelas Erik.


"Siap pak. Kemal janji. akan membuktikan ke bapak juga Bunda bahwa Kemal gak salah pilih. terimakasih Pak." ucap Kemal memeluk bapaknya.


Bunda tersenyum haru menyaksikan kedua pria yang amat ia sayangi dalam hidupnya saling berpelukan dan telah menurunkan ego masing-masing.


....................'''''''....................


Kediaman Besari


"Kakak.... Kakak...."Teriak Nara di depan kamar Rindu.


"Kakak....." masih tak ada jawaban.


"Kakak... Nara masuk yaa...." masih tak ada jawaban juga. akhirnya Nara memberanikan diri masuk ke kamar Rindu.


"Astaga kakak..." pekik Nara. Ia membalik tubuh kakaknya. Nampak wajah Rindu pucat, peluh memenuhi wajahnya. Bibirnya nampak gemetar.


"Ya Allah kakak kenapa lagi?" Nara pun akhirnya berlari mencari Besari.


"Papaaaaaa.... Papaaaaaa...." teriak Nara mengejutkan Besari yang sedang menunggu putra-putri nya di meja makan.


"Kenapa boy? kamu pagi-pagi sudah lari-larian gtu." ucap Besari.


"Paa, kakak Paa..." ucap Nara ngos-ngosan.


"Kenapa kakakmu?" tanya Besari panik.


"Kakak Paa. Kalak menggigil. Badannya panas banget." mendengar hal itu, Besari langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju kamar sang putri yang disusul Nara.


"Astaghfirullah, kamu kenapa Nduk?" tanya Besari ketika melihat kondisi putrinya.


" Mbokk... Mbok...." teriak Besari memanggil mbok Dharmi.


"Dalem Ndoro." mbok Dharmi tergopoh-gopoh menghampiri sang majikan di lantai 2.


"Mbok, ambil handuk kecil dan baskom berisi air es. Saya mau kompres Rindu." Mendengar titah Ndoro nya, mbok Dharmi bergegas menuju dapur dan mengambil barang yang di minta sang empunya rumah.

__ADS_1


"Raaa, kamu tolong telpon dokter Hadinata. Nomernya ada di meja kerja papa." Nara pun berlari ke ruang kerja papa nya setelah mendapat perintah.


"Ya Allah Rin, kamu kenapa lagi Nduk." tanya Besari memeluk erat putrinya.


"*Mal...Mal..." terdengar sayup-sayup suara Rindu.


"Apa kamu begini karena memikirkan soal Kemal Nduk?" gumam Besari dalam hati.


Tut...Tut...


"Hallo..." suara di seberang telepon*.


"Hallo pagi dokter. Saya Nara putra pak Amin Besari. Dengan Dokter Hadinata?" suara Nara bergetar.


"Iyaa saya, ada apa Nak?"


"Dok, tolong kerumah sekarang. Kakak saya sakit." ucap Nara.


"Baik, saya on the way sekarang." telepon terputus.


"Apa aku telepon kak Kemal juga ya?" pikir Nara masih memegang gagang telepon.


"Aku telepon aja lah. Gimana-gimana nya lihat aja nanti." Nara pun mendigit nomer telepon Kemal.


Tut...Tut...


"Assalamualaikum..."


"Kak Kemal.." suara Nara.


"Nara?"


"Ia kak. Kak Kemal, kak Rin sakit." Nara memulai pembicaraan.


"Apa? sakit? kemarin Rin baik-baik aja kok Raa."


"Kayaknya gara-gara abis ngomong sama papa deh kak." ucap Nara lugu.


"Maksudnya gimana Raa? Rin bertengkar dengan papamu? impossible."


"Gak kak, jadi kemarin sebenarnya Nara cuma godain kak Rindu ngomongin soal kak Kemal yang bilang kak Rindu itu calon pacar waktu kak Rindu koma. terus aku kan nanya masa kalian belum pacaran. Gara-gara itu kakak di panggil papa ke kamar." Nara menceritakan ikhwal yang terjadi semalam.


"Apa?? terus papa mu marah ke Rindu"


"Gak kak, tapi kayaknya papa ngelarang kak Rindu pacaran. Mau nya papa, kak Rindu fokus sekolah dulu." jelas Nara.


"*Jadi Om Besari pun berpikir hal yang sama dengan bapak ku."Gumam Kemal.


"Yaudah Ra, aku sepulang sekolah akan mampir ke rumah. sampaikan salam ku untuk Rindu juga papa mu. Aku mau berangkat sekolah dulu yaa Ra. Assalamualaikum." telepon terputus*.

__ADS_1


"Wa'allaikumsallam."Nara meletakkan gagang telepon nya.


__ADS_2