
" Permisi suster, d luar ada ayah Rindu. boleh beliau masuk?" Bu Inggit ijin pada perawat di ruang ICU.
"Tentu saja Bu, silahkan. tapi maaf hanya boleh 1 orang saja yaa." jawab perawat bernametag Minati ramah.
"Baik sus, sebentar saya panggilkan beliau." Bu Inggit pun bergegas keluar menemui Pak Besari.
"Pak Besari, silahkan masuk. nanti akan d antar suster untuk memakai pakaian steril terlebih dahulu. baru di antar ke tempat Rindu." Bu Inggit mempersilahkan Pak Besari masuk.
Pak Besari pun masuk ke ruang ICU yang disambut senyum oleh suster Minati.
"Mari Pak, pake hand sanitizer dulu. lalu pakaian steril nya dikenakan." suster Minati ramah sembari menyodorkan pakaian dan penutup kepala berwarna hijau pada pak Besari.
Setelah rapi, suster Minati mengantarkan beliau ke tempat perawatan sang putri.
Semakin masuk ke ruang ICU, hawa semakin dingin, namun justru keringat mengucur dari dahi dan telapak tangan pak Besari. langkah demi langkah, semakin dekat dengan brankar putri nya, debaran jantung nya semakin kuat. Ada perasaan yang berkecamuk. perasaan bahagia, suka cita, sedih, kecewa,marah, bersalah semua lebur jadi satu saat ini.
"Silahkan pak, ini putri Bapak. kalau perlu apa-apa, saya ada di ruang yang tadi atau bapak bisa menekan tombol ini" terang suster Minati sembari menunjuk tombol dekat bagian atas brankar Rindu.
"Baik sus terimakasih" pak Besari mengangguk.
"Permisi pak" suster cantik itu meninggalkan ayah dan anak itu.
Selepas kepergian sang perawat, pak Besari menatap intens pada tubuh yang terkulai lemah di atas brankar. perlahan ia mendekat ke brankar. netra nya perlahan mengabsen putrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. pedih hatinya, melihat putri kesayangannya yang selama ini ia rindukan, berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
"Nduk, bangun Nak. ini Ayah Nduk." Besari perlahan menyentuh tangan putrinya yang dingin.
"Cemplon, bangun sayang. Ayah disini. Jangan bercanda lagi yok. Ayah janji gak akan membiarkan kamu pergi. bangun cah ayu" Besari menciumi punggung tangan putrinya dengan berurai air mata. di usap nya pipi sang putri dengan lembut.
Yen ing Tawang ono lintang, Cah Ayu
Aku ngenteni teka mu
Marang mego ing angkoso, nimas
Sun takokke pawartamu
Janji-janji aku eling, Cah Ayu
Sumedhot rasaning ati
__ADS_1
Lintang-lintang, ngiwi-iwi nimas
Tresnaku sundhul wiyati
Dek semono, janjiku disekseni
Mego kaltiko,kairing roso tresno asih
Yen ing tawang ono lintang, Cah Ayu
Rungokno tangis ing ati
Binarung swaraning ratri nimas
Ngenteni mbulan ndadari*....
Pak Besari melantunkan senandung yang dulu selalu ia nyanyikan untuk putri kecilnya. Memori nya membawa pada masa ketika Rindu kecil sedang bersedih, sedang tak enak hati,tantrum, Besari selalu menyanyikan lagu ini dan berhasil menenangkan serta mengembalikan senyum putri nya.
Airmata tumpah ruah dari pria bertubuh tegap ini. Entah seperti apa kacau nya isi hati pengusaha ternama ini. Bahkan harta yang melimpah,tak mampu membangunkan sang kesayangan.
"Y Allah, hamba mohon kembalikan putri hamba. sembuhkan lah ia y Rabb." Besari berdoa sembari menangkup tangan lemah putri nya. tanpa ia sadari, elektrokardiograf menunjukkan tanda aktifitas jantung Rindu yang meningkat. Seolah sang putri merespon kehadiran ayah yang selama ini ia nantikan.
"A....ya..h..." ketika suara itu terucap kembali, tubuh rindu seketika kejang.
"Y Allah, Nduk. Rindu! kenapa nak? ini Ayah" Besari terkejut.
"Suster.... suster! tolong anak saya suster!" teriak Besari membuat gaduh.
beberapa perawat serta dokter pun datang dan mengecek kondisi Rindu.
"Bapak mohon tunggu diluar ya. biarkan kami menangani putri bapak." ucap suster Minati.
"Tolong anak saya suster, dokter" Besari frustasi.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk putri Bapak. tolong bantu doa ya pak"
Besari pun bergegas keluar dari ruang ICU.
"Kenapa Om? Apa yang terjadi pada Rindu?" Ibra panik ketika melihat Besari keluar dari ruang ICU dengan kondisi yang kacau
__ADS_1
"Entahlah Bra, tadi Om seperti mendengar suara Rindu namun samar. tak lama dia kejang." jelas Besari dengan ekspresi frustasi
"Astaghfirullah...." suara semua orang
"Y Allah Rindu" Bu Inggit semakin histeris.
"Papa tenang yaa. semua pasti baik-baik saja. kita berdoa saja kepada Allah. " Nara menghampiri papa nya.
"Sebaiknya kita shalat dulu yu pa, sudah masuk waktu Isha" ajak Nara.
"Nara benar Om. sebaiknya kita shalat dan berdoa memohon kesembuhan untuk Rindu" bujuk Kemal.
Besari pun menuruti ucapan pemuda itu.
mereka menuju mushala.
"*Assalamualaikum warahmatullah... Assalamualaikum warahmatullah....."
" y Allah y Rahman ya Rahim. Hamba mohon sembuhkan lah putri hamba. kembalikan ia pada hamba y Rabb. ijinkan hamba menebus waktu yang telah terlewat bersama nya y Allah. hamba mohon pada Mu, Aamiiinnnn" doa Besari.
"Y Allah, Nara mohon, sembuhkan kak Rindu. bangunkan ia dari koma nya y Allah. Nara mohon, demi papa. Nara tau, kak Rindu adalah sumber kebahagiaan papa. Apapun yang membuat papa bahagia Nara akan melakukan apa saja. Nara mohon ya Allah, Aamiiinnnn" doa Nara.
"Ya Allah sang Maha Penyembuh. Hamba mohon angkatlah segala sakit Rindu. sehatkan jiwa raganya. kembalikan ia kepada kami y Allah. hamba tau bahwa mati itu pasti, tapi hamba mohon ijinkan Rindu merasakan kebahagiaan y Allah. hari ini setelah belasan tahun akhirnya Engkau pertemukan kembali Rindu dengan ayahnya, ijinkan mereka berbahagia y Allah, Rindu pantas untuk bahagia. kabulkan lah y Allah, Aamiiinnnn" doa Kemal*.
Setelah shalat, mereka bertiga kembali ke ruang ICU.
"Bagaimana keadaan Rindu? apa dokter sudah memberi kabar?" tanya Pak Besari.
"Belum ada Om. Dokter belum keluar" sahut Ibra.
"Oh iya Om, kenalkan ini Pak Budi. Pak Budi ini suami dari Bu Inggit. beliau adalah ketua RT di rumah Rindu dan Tante Erna. dan beliau juga yang selama ini sudah menolong Rindu seperti putrinya sendiri " jelas Ibra.
"Pak Budi, ini Om Amin Besari. Ayah kandung Rindu ."
"Akhirnya Allah menjawab doa kita semua. terimakasih pak Amin sudah datang." ucap pak Budi.
"Ini sudah menjadi Qadarullah pak. saya yang berterimakasih karena Bapak dan Ibu sudah berkenan menjaga putri saya. sekali lagi terimakasih banyak" ucap Besari menjabat tangan pak Budi.
"Keluarga Pasien Rindu ....".....
__ADS_1