
"Ayah...." suara Rindu lirih hampir tak terdengar.
"Iyaa Nduk ini ayah" Besari mengangguk.
"Ayaaaahhhhh" Rindu menghambur memeluk ayahnya erat. pelukan yang tak mau ia bagi pada siapapun. pelukan yang ia nanti selama ini. penantian selama 12 tahun terbayar sudah, akhirnya Ayah Besari bertemu putri kesayangannya, Rindu.
"Sudah jangan menangis lagi. nanti kepala nya sakit. Ayah janji gak akan pernah meninggalkan Rindu lagi sampai kapanpun." ucap Besari dengan suara bergetar memeluk putrinya.
"Ayaahhh..." hanya itu kata yang terucap dari bibir kecil gadis itu. Entah lah, segala rasa melebur menjadi satu. yang ia tau ia hanya mau Ayah nya tak kemana-mana lagi.
"Berbahagialah kalian. bahagiakan putri kita mas Sari. jangan biarkan ia menderita lagi. maafkan ibu Nduk"......
Malam itu semua merasa penuh suka cita. Mereka pun pergi meninggalkan sepasang ayah dan anak yang telah lama terpisah. Besari pun naik ke brankar dan merebahkan tubuhnya di samping Rindu. mereka melepaskan kerinduan, berbagi cerita, tawa canda bersama hingga akhirnya gadis cantik berperawakan mirip sang ayah itu terlelap dengan lengan sang ayah menjadi bantalan. Besari pun melantunkan lagu kesukaan putrinya hingga ia yakin Rindu benar-benar terlelap.
Yen ing Tawang ono lintang, Cah Ayu
Aku ngenteni teka mu
Marang mego ing angkoso, nimas
Sun takokke pawartamu
Janji-janji aku eling, Cah Ayu
Sumedhot rasaning ati
Lintang-lintang, ngiwi-iwi nimas
Tresnaku sundhul wiyati
Dek semono, janjiku disekseni
Mego kaltiko,kairing roso tresno asih
Yen ing tawang ono lintang, Cah Ayu
Rungokno tangis ing ati
Binarung swaraning ratri nimas
Ngenteni mbulan ndadari*....
.....................
__ADS_1
sudah 4 hari setelah bangun dari koma, dokter baru saja mengontrol kondisi Rindu. meskipun kondisinya stabil, Rindu baru d perbolehkan pulang tiga hari lagi. Selama 4 hari pula Besari selalu berada disamping belahan jiwanya itu. Para pegawainya yang setiap hari datang untuk menyampaikan laporan pekerjaan perusahaan, atau membawakan keperluan pribadi Besari. Rindu selalu memperhatikan tiap pegawai ayahnya datang. ada rasa kagum dalam hatinya. ia pun bertekad ingin menjadi orang yang sukses seperti sang ayah.
"Baik kalau begitu Rindu sekarang istirahat dulu. nanti sekitar pukul 10:00 dilatih lagi berjalan-jalan keluar supaya otot-otot nya gak kaku." ucap Dokter Himawan.
"Baik dok" Rindu tersenyum simpul.
"Kalau begitu saya tinggal dulu, mari Pak" Dokter Himawan pun meninggalkan ruangan tersebut.
"Nduk, ayah pergi sebentar yaa. ada pekerjaan yang mendesak. Tapi sebentar lagi Nara akan kesini untuk menemani mu" ucap Besari mengusap lembut rambut hitam putrinya.
"Iyaa yah gak apa-apa. Ayah pergi aja, Rindu bisa kok sendiri." sahut Rindu.
"Bener?" ...
"Iyaa yah... lagian kayaknya Rindu mau tidur sebentar deh Yah. obat dari dokter bikin ngantuk." ucap sambil menutup mulut karna menguap.
"Yaudah kalo gtu istirahat dulu ya Nduk. Ayah tinggal ya, nanti secepatnya ayah balik lagi. Assalamualaikum" pamit Besari sambil mencium puncak kepala putrinya.
"Iyaa wa'allaikumsallam ayah.. tiati yaa yah" Besari pun bergegas meninggalkan ruangan. Dan seketika Rindu terlelap, mungkin efek dari obat yang diberikan dokter tadi.
"Baguslah kamu sudah pergi. Akhirnya ada kesempatan ku menghabisi anak kesayangan mu!" Lidya melangkah pelan masuk kedalam ruangan perawatan Rindu. ia pun mengambil pisau buah di atas nakas , dan mengambil kuda-kuda untuk menghunuskan nya ke dada Rindu. Rindu yang merasa ada kehadiran seseorang pun mengerjap.
"Astaghfirullah!" teriak Rindu dan tepat ia menahan tangan Lidya yang akan menusuk nya. sekuat tenaga ia mendorong wanita itu.
"Siapa kamu? kenapa kamu mau membunuhku?" tanya Rindu terkesiap.
"Aku adalah Lidya Maulida. aku adalah perempuan yang berhasil melenyapkan ibumu dari kehidupan mas Amin. dan sekarang giliran dirimu yang akan aku lenyapkan selamanya dari dunia ini" ucap Lidya lalu kembali menerjang Rindu.
"Tolong..... tolong...... tolong!" teriak Rindu yang berusaha menahan tangan Lidya yang hampir saja menancapkan pisau buah itu di jantungnya.
"Mommy!" teriak Nara.
Lidya terkejut dan menoleh, kesempatan itu Rindu gunakan untuk mendorong wanita itu kebelakang. Seketika ia mencabut selang infus dari tangannya dan berlari menghampiri Nara.
"Kakak gak kenapa-kenapa?" tanya Nara khawatir.
"Gak kok Ra, kk gak kenapa-kenapa" jawab Rindu.
"Ayo kita lari dari sini kak" ajak Nara.
baru saja akan melangkah tiba-tiba
"Aaarrrrgghhhh....." Nara mengerang kesakitan.
__ADS_1
" kami kenapa Ra???" Rindu terkejut ketika melihat pisau buah menancap d punggung adik sambungnya itu.
"Larii kak... cari pertolongan" perintah Nara.
"Gak Ra, kk gak akan ninggalin kamu" Rindu menangis
"Naraaaa" teriak Lidya yang baru menyadari ternyata pisau yang ia lempar salah sasaran.
Tak lama beberapa suster , dan security datang. security langsung meringkus Lidya. sedangkan Nara langsung dibawa ke UGD oleh para perawat.
Rindu pun mengikuti para perawat ke ruang UGD.
Ruang UGD
"Ya Allah, tolong selamatkan Nara. Nara memang bukan adik kandung ku. namun aku yakin Nara itu anak yang baik. tolong sembuhkan ia ya Allah" ucap Rindu sembari berjalan bolak balik dan meremas tangannya.
"Rin...."...
"Kemal...." mereka pun langsung berpelukan.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan??" tanya Kemal mengecek kondisi Rindu.
"Aku gak apa-apa, tapi Nara. Nara Mal..." Rindu menangis di pelukan Kemal.
"Keluarga Naratama Gunawan"....
"Gimana keadaan adik saya dok?" tanya Rindu.
"Nara kehilangan banyak darah dan butuh donor darah secepatnya." terang sang dokter.
"Apa golongan darahnya Dok? ambil saja darah saya." ucap Rindu.
"Golongan darah AB dan saat ini rumah sakit kehabisan stok golongan darah tersebut" terang sang dokter.
"Y Allah golongan darah saya O. gimana ini" Rindu mengusap wajah frustasi.
"Aku juga O, beberapa waktu lalu aku baru mendonorkan darah untuk Ayah Besari" ucap Kemal yang melihat Rindu menatap dirinya.
"Biar aku saja!"....
"Kak Ibra..." Rindu dan Kemal terhenyak.
"Ambil darah saya saja Dok, golongan darah saya AB" jelas Ibra.
__ADS_1
"Baik mari ikut saya." dokter dan Ibra bergegas meninggalkan Rindu dan Kemal