
Matahari sudah pulang ke peraduan kala adzan Isha berkumandang.
Besari mengajak putra putrinya untuk menunaikan shalat.
Selesai shalat mereka berkumpul di ruang makan, menikmati hidangan makan malam yang telah disajikan oleh mbok Dharmi.
"Hmm.... harum banget...." Aroma ayam bakar madu menggugah selera Nara.
"Ayo mari kita makan. Nara, pimpin doa" ucap Besari.
" siap Paa. Allahumma baarik laanaa fiimaa razaqtanaa wa qinaa 'adzaa ban-naar." Nara melafazkan doa makan.
"Aamiiinnnn...." suara Besari dan Rindu mengamini doa tersebut.
"Waahhh sedaaappp..." ucap Nara ketika mengigit satu gigitan ayam bakar.
"Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan" ucap Rindu.
"Sudah ayo makan, gak baik bicara ketika makan" Nasehat Besari.
Mereka menikmati santap malamnya.
Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Ayah mau es campur tak?" tanya Rindu.
"Rin mau beli es campur?" Besari balik bertanya.
"Rin sudah beli yah tadi pulang dari toko buku. Ayah mau ?" jelas Rindu.
"Papa doang kak?" Nara merajuk.
"Iyaa ada buat kamu juga Raa." sahut Rindu.
"Aseekkk...." Nara sumringah.
Rindu pun ke dapur untuk mengambil es campur yang ia beli tadi dari dalam kulkas. Menuang tiap bungkus kedalam mangkuk, meletakan nya di nampan dan membawanya ke ruang keluarga.
"Wiihhh seger banget! Manis nya pas" seru Nara.
"Iyaa tidak terlalu manis, manis nya pas" sahut Besari.
"Tadi beli apa saja di toko buku?" tanya Besari pada Rindu.
__ADS_1
"Tadi Rin cari buku tambahan biologi sama fisika Yah. buku ini juga referensi dari guru Rin di sekolah." jawab Rindu.
"Sudah dapat?" tanya Besari lagi.
"Alhamdulillah sudah Yah. tadi juga sempet Rin baca-baca dan buku nya bagus banget Yah. Materi nya cukup lengkap, soal-soal nya pun lumayan." terang Rindu.
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu. Kemal juga beli buku yang sama?" tanya Besari lagi.
"Uhuk...uhukk...."Nara tersedak es campur ketika mendengar nama Kemal di sebut-sebut.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Besari.
"Makanya pelan-pelan dong raa..." ucap Rindu memberi minum air putih pada adiknya.
"Jadi kak Rin pergi sama kak Kemal?" tanya Nara menyelidik.
"Iyaa, udah ijin ayah kok" jawab Rindu.
"Cieee ngedate nih yeee." goda Nara.
"Apasih Naraaaaa." Rindu kesal.
"Emang kamu sama Kemal pacaran Nduk?" tanya Besari tiba-tiba membuat Rindu membulatkan matanya.
Rindu diam tak tau harus menjawab apa. Saat ini memang mereka sangat akrab dan dekat, dan jika mau jujur, selalu ada Kemal di hatinya. Namun, sampai detik ini Kemal tidak pernah menyatakan perasaan nya.
"Jadi kak Kemal belum nembak kakak???" tanya Nara tak percaya.
"Apasih Naraaaaa ih!" Rindu benar-benar kesal.
"Serius sih kak. soalnya dulu pas pertama kali kenal kak Kemal itu, Nara kan ketemu di mushala RS. waktu itu kakak koma papa juga kritis." cerita Nara.
"Trus??" tanya Rindu penasaran.
"Iyaa kan Nara sedih banget waktu itu sampe nangis. Nara lihat kak Kemal juga nangis. Kita saling cerita deh, aku sedih karna papa kecelakaan dan butuh donor. sedangkan kak Kemal sedih karena calon pacarnya koma dan sedang kritis pula." Nara mencetak semua nya pada Rindu.
"Uhuk...uhuk...." kini Rindu yang tersedak ketika minum air putih.
"Pelan-pelan kak...." ucap Nara mengusap punggung Rindu.
"Jadi kalian sekarang pacaran Nduk?" tanya Besari.
"Gak yah... Kemal juga gak pernah ngomong apa-apa" sahut Rindu terdengar kecewa.
__ADS_1
"Kok aneh yaa. masa giliran kakak udah sehat kak Kemal gak cinta lagi??" ucapan Nara membuat Rindu melotot menatap nya tajam.
"Apa sih raaa, anak kecil ngomong cinta-cintaan!" Rindu meninggi.
"Nanti Nara tanya kak Kemal ah.... " goda Nara.
"Ayaaahhh, Nara tuh" .....
"Hahaha....." Nara malah tertawa mendengar Kakak nya merajuk.
"Nara, gak boleh gitu sama kakak." Besari menengahi.
"Iyaa Paa " Nara tertunduk.
"Nduk, ikut ayah sebentar." ajak Besari.
Rindu pun ikut perintah ayahnya.
Mereka menuju kamar tidur Besari.
"Sini Nduk." ucap Besari menepuk sofa di sebelah nya duduk agar putrinya duduk di samping nya.
"Nduk, kamu tau kan ayah sangat menyayangi mu?" Rindu mengangguk.
"Hati Ayah hancur hampir 13 tahun lalu ketika ayah kembali ke rumah kita di Surabaya kalian sudah gk ada.
Saat itu ayah rasanya mau mati saja. Ibu mu menghilang tanpa jejak. Ayah cari kalian kemana-mana tapi tak ketemu juga. Ayah hidup tapi serasa mati selama ini. Ayah gak sanggup kehilangan kalian, terlebih dirimu cah ayu." Besari menitikkan air mata.
"Bisa bertemu dan berkumpul lagi bersama mu itu merupakan hadiah dari Gusti Allah yang luar biasa untuk Ayah. Ayah berharap bisa bersama dengan putri ayah lebih lama lagi ".....
"Ayah ingin memberikan segala hal yang terbaik untuk mu. untuk menebus kesalahan ayah selama ini."....
"Ayah ndak melarang jika kamu ingin berpacaran, namun pikirkan baik-baik. Ayah mau segala yang terbaik untuk mu Nduk. Ayah yakin kamu mengerti maksud ayah kan?" Besari menyampaikan isi hatinya yang terdalam kepada putri semata wayangnya itu.
Rindu terdiam, ia memperhatikan dengan seksama wajah ayahnya. wajah yang begitu tegas namun juga begitu teduh. Ya wajah yang selalu penuh cinta untuk dirinya. Rindu tak mungkin mengecewakan ayahnya.
"Nggih Yah, Rindu mengerti ." ucap gadis itu lirih tertunduk. Besari pun memeluk erat putrinya.
.......................
Jam dinding menunjukan pukul 00:05, sudah sangat larut. namun pemilik kamar tidur dengan warna dinding ungu muda itu belum juga mampu memejamkan mata.
"Ternyata hidupku rumit sekali." ucap Rindu menghela nafas.
__ADS_1
"Ku pikir setelah bertemu ayah semua nya akan menjadi sempurna dan baik-baik saja. ternyata ada lagi babak baru dalam hidupku." matanya mulai meneteskan air mata.
"Ah lagi pula mana mungkin Kemal menyukaiku! aku hanya teman dimatanya. hayo lah Rin, move on." akhirnya karena lelah , Rindu tertidur.