Namaku Rindu

Namaku Rindu
Ayah Besari bertemu Rindu (part4)end


__ADS_3

"Astaga, sudah ujian akhir nasional!? selama itu aku koma!?" Rindu terbelalak.


"Ishh gak Neneng. ujian akhir semester. kita masih kelas X kok, InsyaaAllah naik kelas XI. kamu kan koma cuma sebulan lebih. makanya kamu cepet sehat buat ulangan susulan."Kemal menahan tawa.


"Eh kirain aku koma sampe bertahun-tahun kayak yang di novel-novel gtu" Rindu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dari luar ruang perawatan, Besari tersenyum lega mendengar suara putrinya baik-baik saja


"Papa gak masuk kedalam? gak nemuin kak Rindu? kak Rindu pasti seneng banget ketemu papa." Nara membujuk papa nya.


"Gak lah Nara. Papa takut kalo kakakmu melihat papa, justru dia akan colapse dan koma lagi." Besari enggan.


"Papa gak boleh ngomong gtu. Nara yakin, papa itu belahan jiwa kak Rindu. buktinya aja sekian lama koma kak Rindu justru sadar ketika papa datang" Nara terus membujuk sang papa. Sungguh tulus pemuda ini. Tak ada pikiran buruk sama sekali. beda sekali dengan mommy nya.


"Rin, kamu inget gak kejadian terakhir sebelum kamu koma? kamu inget gak siapa yang bawa kamu?" tanya Kemal.


Rindu masih ingat semuanya. Namun tak mungkin Rindu harus menceritakan perlakuan buruk ibunya. biar bagaimanapun, Rindu sangat mencintai Erna, ibu nya.


"Aku lupa " jawabnya singkat, namun dengan gelagat yang aneh. Kemal, Ibra dan Ridho curiga melihat ekspresi wajah Rindu. Tak lama Pak Budi, Bu Inggit, Nek Danur dan Tejo masuk ke ruangan.


"Bu RT?" Rindu terkejut dan tersenyum.


"Rindu masih ingat ibu Nak?" Bu Inggit pun berhambur memeluk Rindu. airmata nya tumpah tak terbendung. Pak Budi pun menghampiri dan juga memeluk keduanya.


"Jangan sakit-sakit lagi Yo Nduk. kami gak sanggup melihat kondisimu seperti itu. Ibu bahkan sepanjang hari menangisi mu Cah Ayu" ucap Pak Budi seraya menitikkan air mata.


"Janji Yo Nduk jangan pernah tinggalkan kami" ucap Bu Inggit seraya terus menangis dan memeluk Rindu.


"Ya Allah jadi yang aku dengar selama koma itu benar, bukan mimpi. Suara Kemal, kak Ibra, Ridho. Mas Tejo yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, Bu Inggit yang selalu menangis , berdoa dan mengajak ku bicara seolah aku menimpali ucapannya. Pak Budi yang sering memijat kaki dan tanganku. guru-guru, teman-teman, para tetangga. itu semua nyata? lalu kenapa tak pernah ku dengar suara ibu dan Kasa? apa mereka benar-benar membuang kubdari kehidupannya?" Rindu membatin dan tak terasa air matanya berderai tak terbendung.


"Pak, Bu terimakasih karena sudah sangat peduli pada Rindu. kalian semua juga terima kasih banyak, Rindu gak bisa balas satu persatu kebaikan kalian. semoga Allah mengganjar dengan ribuan kebaikan untuk kalian."ucap Rindu seraya menatap satu persatu mereka yang ada di ruangan yang dibalas senyuman dan anggukan lembut oleh mereka.


"Bu, maaf apa ibu dan adik Rindu ada?" tanya Rindu lirih seolah takut didengar oleh yang lain.


"Kami sudah mencari Tante Erna dan Angkasa Rin, tapi nihil. bahkan pihak sekolah Angkasa pun tak mengetahui keberadaan Angkasa." jawab Ibra.


"Kak Ibra..." Rindu menatap pemuda itu nanar.

__ADS_1


"Kami udah tau semua Rin, kamu jangan sedih ya. ada kita semua disini yang sayang dan peduli sama kamu. kita ini juga keluarga kamu Rin." ucap Ridho membuat lagi-lagi air mata Rindu tak terbendung.


"Cup..cup... sudah Nduk jangan bersedih lagi ya. nanti kamu gak pulih-pulih kalo menangis seperti ini." Bu Inggit mengusap lembut bahu Rindu.


"Gak Bu, Rindu gak sedih. Rindu justru terharu karena kalian begitu sayang pada Rindu." ucap Rindu lirih.


"Karna kamu orang baik Cah Ayu" ucap pak Budi singkat.


"Semua terdengar nyata dan memang nyata. Lalu yang bersenandung Yen ing tawang ono lintang siapa? suara itu, ya itu suara ayah. Aku gak mungkin salah. itu suara Ayah" gumam Rindu.


"Pak, Bu maaf apakah selain kalian ada orang lain lagi yang ikut menjaga Rindu ketika koma?" tanya Rindu menatap intens kedua pasangan suami istri tersebut.


"Guru-guru, temen-temen sekolah, si Gloria and the gank juga jenguk kamu kok Rin." Ridho menjawab.


"Apa ada yang lain?"......


"Tetangga sekitar kita juga tak henti-hentinya mengunjungi kamu Nduk."Jawab Bu Inggit.


"Ada yang lain lagi??" Rindu mendesak.


Sejenak Rindu terdiam, kembali larut dalam lamunannya dan menghela nafas panjang.


"Sudahlah, mungkin itu imajinasi ku saja. Aku merasa ada yang bersenandung untuk ku. senadung yang sama yang selalu aku dengar ketika aku kecil dulu kak " jawab Rindu tertunduk tersenyum miris menahan air mata.


"Yen ing Tawang ono lintang, Cah Ayu


Aku ngenteni teka mu


Marang mego ing angkoso, nimas


Sun takokke pawartamu" Besari melangkah memasuki ruangan tersebut sembari bersenandung untuk putrinya.


"Janji-janji aku eling, Cah Ayu


Sumedhot rasaning ati


Lintang-lintang, ngiwi-iwi nimas

__ADS_1


Tresnaku sundhul wiyati" Besari telah berada dihadapan putrinya. Airmata nya tumpah, suara nya bergetar melanjutkan lagu kesukaan putrinya itu. Disisi lain, Rindu terpana ketika mendengar dan perlahan menatap pria bertubuh tegap yang menghampiri nya. Pria yang selama ini ia nantikan, ia rindukan. cinta pertama nya. Amin Besari, ayahnya.


"Dek semono, janjiku disekseni


Mego kaltiko,kairing roso tresno asih" Besari dan Rindu melanjutkan senandung itu. membuat yang lain tersentuh dan ikut menitikkan airmata.


"Yen ing tawang ono lintang, Cah Ayu


Rungokno tangis ing ati


Binarung swaraning ratri nimas


Ngenteni mbulan ndadari...." Tepat Besari berada di hadapan putrinya. tangan nya menangkup wajah ayu nan teduh itu. wajah yang merupakan replika dari wajahnya sendiri. wajah yang selama lebih dari dua belas tahun ia rindukan. tangannya kemudian lembut membelai rambut hitam putrinya.


"Ayah...." suara Rindu lirih hampir tam terdengar.


"Iya Nduk, ini ayah." Besari mengiyakan tanpa bisa menahan air mata nya.


"Ayaahhhhh" Rindu pun berhambur memeluk erat ayah nya. pelukan yang seolah tak ingin ia lepaskan. pelukan yang tak mau ia bagi kepada siapapun. Penantian dua belas tahun terbayar sudah. Ayah Besari akhirnya bertemu dengan putri kesayangannya, Rindu.


................


Oh.. tissue mana tissue.....🥲🤧


Author jadi ikutan melow nih dengan pertemuan Rindu dan ayah Besari....


Akhirnya setelah penantian dua belas tahun.


readers: udahan ya Thor? kan udah ketemu Rindu SM ayahnya?


author : maunya gimana???🤔


readers: lanjut dong Thor.. belum ketemu Bu Erna, belum terungkap kejahatan Lidya, terus Rindu akhirnya sama siapa? Kemal? Ridho apa Ibra? aaahhhh penasaraaaaan


author: boleh aja di uo, asal jangan lupa Like, Vote and Comment yaaa. klik Love juga biar dapet notifikasi dari Rindu ogheyyyy


readers: gtu dong Thor, sayaaaaaang author😘🤗

__ADS_1


__ADS_2