
"Apa maksudmu dengan mas Besari tidak menginginkan Rindu?" tanya Erna.
"Mas Amin sangat menginginkan memiliki seorang anak lelaki. Dia sangat sedih ketika harus menerima kenyataan bahwa anak pertama nya seorang anak perempuan. Ya meskipun kamu telah berhasil memberi keturunan laki-laki,tetap saja aku yang lebih dulu memberi keturunan laki-laki pada mas Amin." Jawab Lidya.
Apa? Jadi ini alasan mas Besari mengkhianati aku. Kamu penyebabnya. Dasar anak pembawa sial. Anak pembawa malapetaka. Kenapa bukan Angkasa yang lahir pertama, kenapa harus kamu Rin? Demi apapun, aku sangat membencimu anak pembawa sial.
"Baiklah, aku pamit dulu yaa mbk Er. Sudah terlalu lama aku disini. Jika nanti mas Amin pulang, titip salam padanya agar pulang juga ke rumah ku." ucap Lidya lalu berlalu meninggalkan rumah Amin Besari.
"Bu,ibu." Rindu kecil menggoyang-goyangkan tangan ibunya.
"Plak.." satu tamparan mendarat di pipi Rindu kecil.
"Ibu sakit, kenapa ibu tampar rindu?" suara Rindu kecil terisak sambil memegangi pipinya yang terasa nyeri.
Erna beranjak dari duduknya menuju kamar. setelah meletakan Angkasa bayi, Erna kembali ke ruang tamu. Dia menarik lengan Rindu ke kamar. Di pukul nya Rindu, d tarik rambutnya, dan gadis kecil itu hanya bisa menangis. Dia tak tahu, kesalahan apa yang dia perbuat sampai ibunya marah besar.
Setelah puas memukuli Rindu, Erna pergi ke kamar mandi, dia mengguyur tubuhnya yang masih berpakaian lengkap. Entah apa yang dirasakannya saat ini, hati nya berkecamuk. Sesal karna telah memukuli dan menghardik putrinya dengan membabi buta, namun ada luka yang menyakitkan mengingat perselingkuhan suaminya dan ternyata hanya karena alasan anak pertama mereka bukan anak lelaki.
Dua jam Erna dikamar mandi, setelah itu dia kembali ke kamar. Di lihatnya Rindu kecil tidur meringkuk d lantai, rambutnya acak-acakan, pipinya memar bekas tamparan, belum lagi pakaian yang sobek bekas tarikan tangannya. Erna sangat menyesal dan ingin memeluk Rindu, namun tetiba ia teringat Lidya dan perselingkuhan suaminya. Geram kembali merasuki hatinya.
Diliriknya jam dinding, menunjukan pukul 18:30, akhirnya dia mengemasi pakaiannya dan anak-anaknya, lalu membangunkan Rindu di suruhnya Rindu kecil mandi. Rindu pun bergegas ke kamar mandi, ia takut jika tak segera menuruti perintah ibunya, dia akan mendapat pukulan lagi.
Aku akan pergi dari rumah ini, aku akan pergi dari Surabaya. Aku tidak sanggup menanggung ini semua. Biarlah lebih baik kutinggalkan mas Besari. untuk apa aku bertahan dengan seorang pengkhianat? Biar ku bawa serta anak-anak ku. Meskipun aku membenci Rindu karna telah menyebabkan mas Besari mengkhianati aku, tapi dia adalah darah daging ku. Semoga ini adalah jalan keluar terbaik yang aku tempuh.
Setelah semuanya siap, Erna pun pergi ke stasiun Pasar Turi beserta kedua buah hatinya. Tak lupa ia membawa dokumen penting d dalam kopernya. Dengan naik becak dari rumah, Ibu dua anak ini pergi meninggalkan rumah dengan perasaan yang remuk tanpa penjelasan dari sang suami.
flashback off
"Mas Besari, kenapa kamu tega mas? Padahal aku sangat mencintaimu. kenapa tega kamu berkhianat hanya karna anak pertama kita seorang anak perempuan. Ku pikir kamu benar-benar menyayangi Rindu, ku pikir benar Rindu adalah belahan jiwa mu. Nyatanya, ah..."Erna menitikkan air mata sembari memandang foto lawas dirinya bersama suami dan kedua buah hatinya.
"Cemplon sayang, maaf kan ibu ya nak. maafkan karena ibu selalu melampirkan sakit hati ini padamu. Padahal sudah belasan tahun, tapi rasanya masih amat sakit Rin. Ibu gak sanggup harus melihat wajah mu. Rasanya dada ibu terbakar setiap menatap wajah mu Rin. selain wajahmu yang memang lebih mirip ayahmu, pun mengingatkan ibu tentang pengkhianatan ayahmu Rin. maafkan ibu." Erna menangis tersedu-sedu sambil memeluk foto lawas itu.
Di ruang UKS
kring..kring..kring..
"Hmm,sudah jam pulang sekolah. Sebaiknya aku segera pulang. Jika berlama-lama di sini dan telat sampai rumah, ibu pasti akan marah padaku." Rindu beranjak dari brankar.
kriek..
"Lhoh Rin, mau kemana?"tanya Kemal memasuki ruang UKS.
__ADS_1
"Eh Mal, mau pulang lah. Masa iya mau nginep disini."Jawab Rindu.
"Haish, orang tunggu dulu lah sebentar. ini aku bawain tas kamu. kuy kita balik, biar aku antar ke rumah."ucap Kemal mendekati Rindu.
"Gak usah Mal, ngerepotin aja. Aku bisa kok pulang sendiri. sans aja."jawab Rindu lagi.
"Hadeuuhhh, gak nurut-nurut kalo di bilangin. Udah deh daripada kenapa-kenapa di jalan biar aku antar kamu sampai rumah. masa iya kamu malu d antar pulang cowok setampan aku."Kemal menggoda.
"Haish, narsis sekali anda saudara Kemal Nugraha. yowis lah, kuy balik."jawab Rindu tak bisa menolak Kemal.
Mereka pun keluar dari ruang UKS dengan tangan Kemal yang terus menggandeng tangan Rindu. Tiba-tiba saja mereka terkejut karna ada yang berteriak memanggil nama Rindu.
"Rin.."
Rindu dan Kemal menghentikan langkahnya dan menengok kebelakang.
Rupanya Ridho yang memanggil.
"Kenapa Dho?" tanya Rindu.
"Mo kemana?" Ridho balik bertanya.
"Mau balik lah,aneh Lo!" Kemal menjawab.
"Lah, orang dia cewek gw, yaiyalah gw jawab!" bentak Kemal.
seketika rona merah terpancar dari pipi Rindu mendengar ocehan Kemal.
"kepedean Lo Kamal!" seru Ridho.
"Kemal, bukan Kamal!" Kemal mulai kesal.
"Udah yok ah kita pulang aja Rin, ngapain jadi ngeladenin si kupret ini!" Kemal kembali menggandeng tangan Rindu dan mengajaknya ke parkiran.
" Eh gw aja yang anter Rindu, kan gara² gw Rindu jadi celaka gini." Ridho mengikuti langkah Rindu dan Kemal.
" berisik Lo, udah pegi sono. ngeribetin aja." Kemal menghentikan langkahnya.
"Haish, udah ih jangan ribut. kayak pendemo aja. Udah Dho, aku dah gak apa-apa kok ini. biar aku pulang bareng Kemal aja. lagipula rumah ku dan Kemal searah, kalo rumah mu kan kita lawanan arah." jawab Rindu diplomatis.
disisi lain ada tiga anak perempuan yang memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Ish, pada kenapa sih cowok-cowok itu. Matanya pada kelilipan kali ya.. ngapain ngerebutin si Einstein girl, padahal gw gak kalah oke kok sama dia." ucap seorang gadis berambut pirang.
"Duh Gloria, emang Rindu tuh bintangnya sekolah kita kali. udah cakep, cerdas pula.gw yang berkacamata tebel gini aja kalah cerdas sm dia."ucap gadis berkacamata tebal pada gadis berambut pirang yang bernama Gloria.
"Hiihhh dasar culun,kok Lo malah banggain si Einstein girl sih! dasar beg*" Gloria geram.
"Tau nih si Nawang, aneh banget emang" gadis bermata sipit ikut menyudutkan gadis berkacamata tebal yang bernama Nawang.
"Ih, gw kan bicara fakta Din. nyatanya emang gak ada yang bisa nyaingin Rindu. bahkan kakak kelas kita yang menjadi bintang sekolah selama tiga tahun pun mengakui bahwa Rindu tuh luar biasa." jawab Nawang pada gadis sipit bernama Andin.
"Maksud Lo kak Fairuz? anak kelas XII IPA 1?" Gloria menyelidik.
"Yups, betul syekali."ucap Nawang.
"Ih tetep aja gw gak terima yaa cowok-cowok populer di sekolah pada ngerubungin si Einstein girl itu.gak rela gw." Gloria murka.
"Iyaa padahal gw lho yg udah naksir sm Ridho dr jaman SMP." ujar Andin membuat Gloria dan Nawang menengok kearah nya bersamaan.
"Lo berdua kenapa sih? aneh. emang bener gw naksir Ridho dari jaman SMP. gw kan satu sekolah sm doi."jelas Andin.
"Bagus deh Lo sukanya sm si Ridho, awas aja Lo suka sm si Kemal."ancam Gloria.
"Gak mungkin lah Glo, gw suka sm Kemal. Kemal kan pacarnya Rindu."jawab Andin.
"What?!" sahut Gloria dan Nawang bersamaan.
" Lah, satu sekolah juga tau kali gimana care nya Kemal ke Rindu. terus mereka hampir tiap ngapa-ngapain bareng. trus tadi pagi gw gak sengaja denger kalo Kemal ngomong ke mbk Heny kalo dia pacarnya Rindu." terang Andin.
"Mbk Heny anaknya Bu Hetty kantin gtu?" tanya Nawang penasaran.
"Yups." jawab Andin.
tiba-tiba mereka kembali dikejutkan oleh sebuah suara yang mendekati tiga orang yang sejak tadi mereka awasi.
"tunggu..!" teriak seseorang.
"Duh ada lagi" Ridho menggerutu.
"Biar aku yang antar Rindu pulang, dia calon istri ku." ucap Ibra.
"Duh maaf nih kak Ibra, bukannya saya mau kurang sopan dengan kk kelas, tapi sebaiknya kak Ibra jangan terlalu PD. bisa-bisanya bilang Rindu calon istri. saya denger Kemal ngaku jadi pacarnya Rindu aja gak terima, apalagi sm kak Ibra yang baru banget nih sekolah di sekolah ini." Ridho menengahi.
__ADS_1
"Stop it. udh ya, aku akan pulang sendiri. Kamu Dho, lebih baik kamu pulang karna kita beda arah. Mal, sorry banget, aku mau naik bis sekolah aja. dan anda, jangan lagi mengatakan bahwa saya calon istri anda. saya aja gak mengenal anda dengan baik.jadi please jangan membuat opini orang-orang menjadi tidak baik.oke!" Rindu pun berlalu meninggalkan ketiga pemuda itu.