
Setelah punggung Ibra tak nampak, Rindu melangkah menyusuri jalan gang. Pikiran nya melayang-layang tak tentu arah. Berspekulasi mengenai ayah dan ibunya. Hal ini sungguh menyiksa diri nya.
Bahkan, Rindu yang biasanya ramah menyapa tetangga sepanjang perjalanan menuju rumahnya, kini terdiam. Membuat para tetangga pun bingung pada sikap Rindu.
Akhirnya, setelah 15 menit berjalan menyusuri jalan gang Rin sudah sampai di depan rumahnya.
"Assalamualaikum.." Rindu mengucap salam. Baru saja ia masuk rumah, tetiba sebuah tamparan mendarat tepat d pipi kanannya.
"Plak.." tamparan nyaring yang meninggalkan jejak merah di pipi putih Rindu.
"Astaghfirullah, Ibu..." Seru Rindu terkejut lalu meringis memegangi pipinya yang panas kena tampar.
"Gak usah sok jadi anak baik yaa! belaga istighfar biar orang-orang tau nya kamu itu anak baik ha!!!" umpat sang ibu.
"Ada apa ini Bu? Rindu baru pulang, ibu sudah marah-marah. Apa salah Rindu Bu?" tanya Rindu menahan tangis.
" Ku sekolahkan kamu biar kelak tidak akan menyusahkan lagi. Tapi apa haaa?? Kamu malah kelayaban ke warnet kan!!! Pantas saja kamu sering pulang telat!" hardik sang ibu.
"Apalagi ini Bu? mana pernah Rindu main di warnet! Tiap hari Rindu hanya menghabiskan waktu di sekolah, tidak ada yang lain. Kok ibu tega menuduh Rindu. Yang ada Kasa Bu yang keluyuran di warnet. Tadi pulang sekolah Rindu melihat Kasa di warnet. Ketika Rindu tegur, justru Kasa malah marah kepada Rindu." jelas Rindu sembari terisak.
"Punya bukti apa Lo, bilang gw ke warnet? jangan lempar batu sembunyi tangan Lo! Lo yang bengal, malah fitnah gw!" suara Kasa lantang dari belakang punggung ibunya.
"Ayo kita ke warnet tadi, pasti penjaga warnet itu mengenali wajah Kasa Bu " seru Rindu.
"Plak..." sekali lagi tamparan mendarat di pipi Rindu.
" dasar anak pembawa sial! Setelah kau buat ayahmu mengkhianati aku, sekarang kau malah menjadi pemfitnah. kau fitnah anakku! Harusnya ku tinggal saja kau di sana bersama bapak mu dulu!
Minggat dari rumah ini, kau bukan anakku lagi, pergi!" umpat ibu Rindu menyeret Rindu keluar dari rumah. Lalu setelah itu Kasa melempar buku-buku, pakaian dan barang-barang Rindu keluar dari rumah. Setelah itu Kasa dan dan Erna masuk rumah serta membanting pintu keras dan menguncinya.
Rindu hanya terisak. Hatinya sungguh remuk. Badannya sakit, jiwanya terasa lebih sakit. Dia merasa lebih baik jika mengakhiri hidupnya saat ini juga. Tetangga yang melihat kondisi Rindu merasa iba.
"Nak, bereskan barang-barangmu. Mari ikut ibu." sebuah suara menghentikan tangis Rindu.
" Bu RT. Maaf yaa Bu sudah membuat gaduh." Rindu menoleh ke arah Bu RT.
"Sudah-sudah, mari nak ikut ibu. tidak enak di lihat tetangga yang lain." Bu RT membantu Rindu bangkit dan membereskan barang-barang yang berserakan. Dengan terpaksa, Rindu ikut ajakan Bu RT.
Setibanya di rumah Bu RT, beliau mengajak Rin masuk rumah. Menyuruh Rindu duduk dan meninggalkan Rin ke dapur. Rindu duduk dan tatapannya kembali kosong. Pikirannya berkelana tak tentu arah.Ia tak habis pikir, teganya Kasa memutar balikkan fakta dan menuduh Rindu. Teganya ibu menerima mentah-mentah perkataan Kasa tanpa bukti, bahkan Rin di usir dari rumah. Rin kini bingung dia harus tinggal dimana, sedangkan saat ini dia tidak punya uang.
" minum teh nya Rin." Bu RT membuyarkan lamunan Rin.
"terimakasih Bu." Rindu menyeruput secangkir teh.
__ADS_1
" sebenarnya apa yang terjadi nak?" tanya Bu RT.
Rindu pun menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa dirinya. Bu RT tidak terkejut akan hal itu. pasalnya, semenjak Erna pindah ke rumah yang menjadi wilayah pengawasan nya, sering terdengar Erna menghardik dan memukul Rindu. ya hanya Rindu, lain halnya dengan Angkasa. Erna terkenal sangat memanjakan anak lelaki nya itu. Sering tetangga menasehati Erna, tapi tak dihiraukan nya. Sebenarnya sudah sejak lama Bu RT yang bernama Bu Inggit ini ingin mengadopsi Rindu. selain karena iba, Bu Inggit dan suami memang tidak memiliki anak. Dulu mereka memiliki seorang anak perempuan, sayangnya anak itu meninggal pada usia 4 tahun karena epilepsi. Jika anak itu masih ada, usianya kurang lebih sebaya Rindu.
"Lalu sekarang bagaimana Nak? Apa rencanamu setelah ini?" tanya Bu Inggit.
"Entah Bu, saya juga bingung. Saya tidak punya uang. Saya pun tidak bekerja, karena saya masih sekolah. Saya tidak tahu apa ada sanak saudara dari pihak orangtua saya, karena ibu tidak pernah membahas hal itu semenjak pindah dari Surabaya Bu " jawab Rindu lirih.
"Nak, tinggallah disini bersama ibu. Disini ada kamar kok. Tinggallah selama engkau mau, anggap saja kami juga orangtua mu." pinta Bu Inggit.
"Maaf Bu, bukan saya menolak kebaikan ibu, tapi saya tidak enak Bu." Rindu tertunduk.
"Tidak apa-apa Nduk, ikutlah bersama kami. Jangan merasa tak enak hati. Anggaplah ini semua jalan dari Gusti Allah." suara pak RT masuk dalam rumah.
" Bapak sudah mengetahui semuanya. Tadi ketika dalam perjalanan pulang dari kantor kelurahan, ada beberapa warga yang menyampaikan berita yang terjadi pada mu Nduk.Tinggalah disini. Kami akan sangat senang jika kamu berkenan tinggal disini." lanjut pak RT yang bernama Pak Budi.
Setelah berpikir sejenak, Rindu akhirnya menarik napas dan menghembuskan nya perlahan.
"Baik pak,Bu, saya mau tinggal disini. Saya janji, saya akan mencari pekerjaan. Jika saya sudah dapat pekerjaan dan memiliki uang, saya akan pergi dari rumah Bapak dan Ibu." jawab Rindu.
"Tak perlu sungkan Nduk, tinggallah selama yang kau mau. Kalau perlu kami akan mengadopsi mu. Benarkan Bu?" Pak Budi meminta suara Bu Inggit.
" Tentu saja pak." sahut Bu Inggit.
" baiklah nak." sahut Bu Inggit.
" Terimakasih Bu, Pak. Sekali lagi terima kasih banyak." ucap Rindu seraya memeluk Bu Inggit. Lalu Bu Inggit mengantar Rindu ke sebuah kamar. Tak lama Bu Inggit keluar dari kamar, dan Rindu pun membereskan barang-barang nya. Karena lelah, Rindu tertidur di lantai kamar.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar..." adzan Maghrib berkumandang dari masjid Al Amin yang tak jauh dari rumah Bu RT)
"sudah magrib kenapa rindu belum juga keluar kamar ya? sebaiknya aku cek saja kamarnya." ucap Bu Inggit lalu berjalan ke kamar Rindu .
"tok.. tok..tok..." ( pintu kamar di ketuk)
"Rin, Rin.. Ayo kita shalat Maghrib dulu Nduk." suara Bu Inggit memanggil Rindu.
"Rin, sudah Maghrib Nduk." panggil Bu Inggit lagi.
karena tak ada jawaban juga, Bu Inggit pun membuka pintu kamar tersebut. alangkah terkejutnya ketika ia memasuki ruangan tersebut, Rindu tengah tergeletak di lantai.
" Ya Allah Rindu!" teriak Bu Inggit. Beliau lalu membalik tubuh gadis itu, Lebih terkejut lagi Bu Inggit merasakan suhu tubuh Rindu yang tinggi dan memar d pelipis nya.
"Ya Allah Rin, kenapa ini Nduk? keterlaluan ibumu itu. Tak punya hati kau Erna . jika memang Kau tak menginginkan Rindu, biar akan kuurus proses pengadopsian Rindu." geram Bu Inggit.
__ADS_1
"Tolong... Tolong... Pak..... Siapapun tolong..." teriak Bu Inggit meminta bantuan.
Tak berapa lama seorang wanita dan seorang pemuda masuk ke rumah yang cukup besar itu.
" Ya Allah Bu RT, ini kenapa?" tanya wanita paruh baya tersebut.
" Nek Danur, tolong Nek. ini Rindu panas sekali Nek, saya harus bawa ke rumah sakit. tolong cari bantuan atau panggilkan suami saya di masjid.cepat Nek" sahut Bu Inggit panik.
" Tejo, susul pak RT di masjid cepat!" perintah nel Danur pada cucu nya Tejo.
" Baik Nek" Tejo pun berlari menuju masjid, Lalu Nek Danur ke dapur untuk membuat kompres. Tak lama Nek Danur masuk ke kamar membawa baskom berisi air es dan handuk kecil.
"Bu RT, coba di kompres dulu neng nya." Nek Danur memberikan kompres pada Bu Inggit.
"Terimakasih Nek" sahut Bu Inggit lalu mengompres kepala Rindu.
Depan Masjid Al Amin
"Assalamualaikum pak RT." seorang pemuda terengah-engah menghampiri pak RT.
"Wa'allaikumsallam." jawab pak RT dan beberapa warga yang berada dekat pak RT.
"Ada apa Jo, kenapa kamu? seperti di kejar setan saja?" tanya Ustadz Lukman.
"Anu pak ustadz, pak RT. itu.. eh anu.." Tejo berusaha mengatur napas yang hampir habis.
" Tarik nafas, lalu buang perlahan. Katakan perlahan, ada apa kamu berlarian di waktu Maghrib begini Tejo." pak RT lembut.
"Itu pak, Bu RT.bu RT pingsan." Tejo yang panik salah bicara
"Astaghfirullah." seru Pak Budi dan warga lainnya.
Pak Budi dan warga bergegas berlari menuju rumah nya. Sesampainya di rumah pak Budi langsung berhambur ke dalam.
" Bu...!" teriak Pak Budi.
"Bapak... tolong pak." suara Bu Inggit sembari menangis.
"Astaghfirullah, Rindu! Bu ini kenapa Bu?" tanya pak Budi terkejut. Pasalnya tadi Tejo mengatakan bahwa istrinya yang pingsan.
"Gak tau Pak, tadi ibu mau ajak Rindu shalat Maghrib, tapi gak jawab-jawab. Pas ibu buka pintu Rindu di lantai pak.Badannya panas pak, ayo kita bawa ke RS pak..." Sahut Bu Inggit terus menangis.
Hai readers semua, maafkan jika masih banyak kekurangan dalam penulisan karya author yaa. Mohon dukungannya terhadap karya ini agar author semakin semangat dan berinovasi untuk jalan kisah Rindu Besari.
__ADS_1
salam sayang..