
" Rindu, maafkan ibu" ucapnya lirih disela tangisnya. Akhirnya Erna pun tertidur di tempat tidur Rindu sembari memeluk puisi dalam figura.
pemakaman karet Bivak
Dua orang pria memakai kemeja hitam lengan panjang, juga dengan celana panjang warna senada, lengkap pula dengan peci berdiri di hadapan sebuah pusara. Nampak pria yang satu jauh lebih muda menangis, bersimpuh sembari memeluk nisan yang bertuliskan Gunawan Frederick bin Hans William Frederick. Ya pemuda tanggung itu adalah putra semata wayang almarhum pemilik pusara yang belum sempat dilihatnya sekalipun karna Tuhan berkehendak lain.
Disisi sang pemuda, nampak sahabat almarhum, yang dengan legawa telah menjaga amanah almarhum selama lebih dari 12 tahun ini. Ya dia lah Amin Besari, yang harus kehilangan cintanya demi menjaga amanah sang sahabat.
"assalamualaikum Yanda, ini aku putramu. Naratama Gunawan. Namamu tersemat d belakang namaku Yanda." suara Nara lirih kemudian mengusap nisan sang Yanda.
" Yanda, maafkan Nara. maaf karena baru kali ini Nara mengunjungi Yanda. maafkan Nara yang durhaka ini Yanda." Nara tak kuasa membendung air mata nya. tangis nya pecah menyesali yang telah terjadi. menyesal karna setelah sekian lama telah banyak waktu yang terlewat. memang kematian Yanda nya adalah takdir Tuhan. tapi setidaknya jika ia mengetahui kenyataan yang sebenarnya lebih awal, ia akan banyak mendoakan almarhum. itulah yang membuat air matanya tak terbendung.
" Sudahlah Nara, jangan sesali yang telah lewat. Sekarang pesan papa, sering-sering lah nyekar ke makam Yanda, usahakan tiap selesai shalat doakan Yanda. banyak lah berbuat kebaikan, karna amalan yang tak terputus pahalanya antara seorang hamba ialah anak yang salih." Besari mengusap lembut punggung pemuda yang telah d anggap putra kandung nya itu.
" ia pa, Nara janji akan selalu mendoakan Yanda juga papa. Pa, terimakasih karena telah membuat Nara tak pernah kekurangan kasih sayang seorang ayah." Nara pun memeluk Besari.
" Yanda, terimakasih telah menghadirkan papa Amin sebagai dewa penolong dalam hidup Nara." batin Nara.
" mari nak, sudah sore sebaiknya kita segera pulang." ajak Besari.
"Baik pa." sahut Nara.
" Bismillahirrahmanirrahim. Robbigfirli wa liwaa lidhaya warham humaa kamaa rabbayaa nii sokhiroon. Aamiinn." doa Nara.
"Yanda, Nara pamit yaa. Yanda yang tenang disana. Nara janji akan rutin mengunjungi Yanda." Pamit Nara pada almarhum Yanda nya sembari mengusap nisan nya.
"Gun, aku pamit ya. semoga kamu tenang dan bahagia disana.aku berjanji akan selalu menjaga Naratama." ucap Besari.
"Ayo pa" Nara dan Besari pun beranjak menjauh meninggalkan pusara orang yang begitu berarti untuk mereka.
Setibanya di mobil, Pak Surip, supir pribadi Besari melajukan mobil.
"Nara pulang ke rumah papa kan?" tanya Besari.
" hmm, maaf pa. Nara pulang ke rumah mommy aja ya. kasian mommy sendirian.
tapi Nara janji akan selalu berkunjung ke rumah papa." ucap Nara agak bergetar
"Yasudah tidak apa-apa. papa terserah nyaman nya kamu saja." Besari menghembuskan nafas agak berat.
"Oh iya pa, Nara nanti berhenti di RS yang ada di depan sana ya pa." pinta Nara.
__ADS_1
"Loh kenapa? kamu sakit?" tanya Besari sambil menyentuh dahi Nara dengan punggung tangannya.
" ah nggak pa, Nara mau menjenguk teman yang sedang di opname. Kasian pa, dia seorang yatim. papa ny meninggal 3 tahun lalu akibat kanker darah stadium 4." terang Nara.
" siapa nama temanmu boy?" tanya Besari.
" Gladys pa." jawab Nara.
" oh jadi teman mu perempuan." goda Besari.
" ih papa kok gtu? Nara hanya berpikir, kalo ternyata kami punya kesamaan. sama-sama seorang yatim." netra Nara menatap jauh k luar jendela. sesaat kemudian seulas senyum mengembang di wajahnya kemudian menatap sang papa.
" Tapi Nara lebih beruntung, karena Nara memiliki seorang dewa yaitu papa." ucap Nara sambil tersenyum dan memeluk Besari.
" come on boy, don't cry. everything it's okay" Besari menepuk punggung jagoan kecilnya.
"Ndoro, Den Nara nyuwun sewu apa RS yang dimaksud RS Bina Sehati?"tanya pak Surip.
" iya betul pak." jawab Nara.
" kalau begitu sudah sampai den." pak Surip memberitahu bahwa mereka sudah tiba di RS tujuan Nara.
" oke boy, you too." membalas pelukan Nara.
"Makasih pak Surip. hati-hati bawa mobilnya yaa." pamit Nara pada pekerja Besari yang telah lama mengabdi kepada sang papa.
Pak Surip pun mengangguk, kemudian melajukan mobil putih milik tuannya.
Namun baru saja keluar gerbang RS, Besari menyuruh pak Surip untuk berhenti.
"Ada apa Ndoro? apa Ndoro baik-baik saja?" tanya pria paruh baya itu cemas.
"Tidak pak, hanya saja kenapa rasanya saya ingin ikut turun ya?" Besari merasakan hal aneh yang mengusik dalam hatinya.
"Den Nara pasti baik-baik saja Ndoro." pak Surip mencoba menenangkan.
" Bukan pak, saya bukan memikirkan Nara. tapi saya seperti merasa bahwa belahan jiwa saya ada d sana." ucap Besari masih menatap ke arah dalam RS.
"Maksud Ndoro Den ayu? saya rasa itu hanya perasaan Ndoro saja karena terlalu merisaukan dan merindukan den ayu." terka pak Surip.
"Entahlah pak." Besari masih bingung dengan perasaannya. Hingga tiba-tiba ada panggilan masuk.
__ADS_1
"....."
"Apa? kalian masih saja belum mendapatkan info apa-apa??!! keterlaluan ! Saya sudah muak mendengar kata-kata itu! cepat segera kamu temukan putri dan putra saya, atau ku buat hidup mu menderita!" ancam Besari ketika mendengar laporan dari anak buahnya. Kemudian ia memutuskan sambungan telepon nya.
"Kita kerumah pak." perintah Besari kepada pak Surip.
Pak Surip pun melanjutkan perjalanan ke rumah Besari.
RS Bina Sehati
"Hai Dis" sapa Nara pada sahabat nya itu.
"Eh hai Nara, kamu sedang apa disini?" tanya gadis yang wajahnya pusat serta kepala nya memakai penutup kepala.
" main Ludo! ya mau jenguk kamu lah, aneh!" Nara mendengus kesal.
"Duh jangan ngambek dong Nara, jadi gak enak aku. Kamu harusnya ngabarin dulu kalo mau jenguk aku. Jadi kan aku bisa siap-siap." ujar gadis itu sembari mengerucut bibirnya.
" maksudnya? " tanya Nara bingung.
" ia aku kan bisa sedikit dandan, seenggaknya kamu gak harus lihat mayat hidup gini kan" gadis itu tertunduk.
"Gladys, cukup!" Nara bicara sedikit tinggi. Seketika ia sadar telah membuat hati gadis itu ciut. Nara pun menghembuskan nafas pelan, menenangkan diri dan mulai mengatur kalimat yang tidak membuat luka hatinya.
" Dis, please. kamu gk boleh kyak gtu. kamu harus semangat. aku yakin kamu pasti sembuh." Nara menggenggam tangan Gladys.
" ayolah Nara, meskipun kita masih SMP tapi aku tahu pasti bahwa ketika seseorang terkena kanker, maka ujungnya ia hanya menunggu mati." ucapnya skeptis.
"Gladys, mati itu pasti. dan hanya Tuhan yang tau kapan tiap ciptaannya akan mati. itu semua hak prerogatif Nya." Nara menguatkan.
" Sudahlah Nara, tidak perlu menghibur ku. buktinya papiku meninggal karena kanker bukan? dan seperti sebuah kutukan, aku pun akan menyusulnya melalui perantara kanker ini." Gladys membuang pandangannya.
"Well, jadi percuma aku datang kesini jika akhirnya hanya membuat mu berkecil hati?" ucap Nara.
" oh no, you are my sunshine Nara. kehadiran seperti sebuah cahaya untukku. makasih yaa kamu masih mau menemani aku." ucap Gladys yang membuat pipi pucatnya bersemu merah.
tiba-tiba saja terdengar gaduh dari luar bangsal perawatan Gladys.
" Ada apa Dys? kok berisik ya diluar? " tanya Nara.
" biasanya ada yang sedang dalam keadaan gawat atau kritis Ra." sahut Gladys.
__ADS_1